CERPEN

Miauw !

20 Apr 2017 | 21:37 Diperbarui : 20 Apr 2017 | 23:03 Dibaca : Komentar : Nilai :

Miauw !  Miauw !  Miauw !  Miauw !  Miauw !

Mia turun dari tempat tidur dan beranjak keluar kamar. Nampak ibu sedang mengintip keluar dari jendela ruang tamu.

“Kucing siapa sih Bu ?”

Ibu mengangkat bahu.

“Ibu juga nggak tahu. Sejak subuh tadi dia mengeong-ngeong terus di depan pagar kita. Kayaknya sih kucing liar.  Mungkin ditinggal sama ibunya. Masih kecil banget tuh.”

Mia ikut mengintip di balik bahu ibu.

“O iya iiih. Kecil banget. Kasihan Bu. Coba Mia lihat ah,” Mia bergegas membuka pintu depan. Udara dingin menerpa wajahnya yang masih sembab.

Mia berjongkok di depan pagar.

Miauw !  Miauw !  Miauw !  Miauw !

Anak kucing kecil itu terlihat gemetar dan lemah sekali. Ia terus mengeong sambil meringkuk dengan kepala terkulai ke depan menyentuh aspal. Tubuhnya kurus dan bulunya kotor.

Mia mengusap kepalanya dengan lembut. Kucing itu berjengit kaget dan berhenti mengeong.  Kemudian menoleh ke kanan dan ke kiri seperti bingung dan takut.

Oh.  Rupanya mata si kucing tidak bisa melihat.

Mia mengangkat kucing itu dan membawanya masuk ke halaman.

“Bu, dia nggak bisa lihat nih. Matanya tertutup kotoran .”

“Ya ampun kasihan. Coba aja dibersihkan kalau kamu ada waktu. Ibu ambil susu dulu ,” kata ibu sambil berbalik masuk ke dalam rumah.

Mia meletakkan anak kucing itu di lantai dan mengamatinya. Warnanya bulunya abu-abu bergaris-garis hitam.  Mirip dengan jenis kucing yang jadi bintang iklan makanan kucing di TV itu.

Ibu keluar lagi membawa secawan kecil susu putih, beberapa lembar tissue dan sebuah bantal duduk bekas yang sudah tak terpakai.

“Ini ada bantal bekas. Dipakai aja. Kasihan dia kedinginan kalau tidur di lantai. Dan ini tissue untuk membersihkan matanya. Jangan lupa nanti kamu cuci tangan setelah selesai. Maaf ya Ibu nggak bisa bantu. Hari Minggu begini. Ibu banyak kerjaan.”

“Iya Bu, nggak apa-apa. Biar Mia aja. ”

 

Mia meletakkan kucing itu di atas bantal. Kemudian meletakkan cawan susu di depannya.

“Nih Pus, minum. Minum nih… ini susu… ayo minum … ini susu…. enak lho….”

Si kucing yang baru saja berganti nama menjadi Pus itu hanya diam.

Mia mengangkat cawan dan mengulurkannya sampai setitik susu menempel di hidung Si Pus.

Barulah Si Pus mulai bereaksi. Mengendus-ngendus dan menjilat-jilat.

Lalu perlahan tapi pasti ia mulai meminum susunya dengan lahap.

“Enak ya ? Kasihan kamu.  Kelaparan ya,” kata Mia iba.

Setelah cawan susu kosong, Mia mengambil selembar tissue dan mulai membersihkan mata Si Pus yang dipenuhi oleh kotoran tebal. Sebagian kotorannya sudah berkerak di seluruh bagian kelopak mata  dan bahkan menutupi  bola matanya.

Agak menjijikkan sih.  Tapi rasa kasihan Mia jauh lebih besar.

 

Seharian itu Mia sibuk mengurus Si Pus.  

Semakin siang, kondisi Pus terlihat semakin membaik. Ia mulai bisa menegakkan kaki dan berjalan tertatih-tatih kesana kemari.

Setiap beberapa jam sekali Mia keluar untuk memberi susu dan membersihkan matanya.  Lucunya, setiap Mia baru saja melangkah keluar kamar menuju ke pintu depan, Si Pus sudah mengeong-ngeong sambil mendongak ke arah pintu. Dan saat pintu terbuka, ia mengeong semakin kencang dan melonjak-lonjak di kaki Mia.  

Sepertinya ia sudah merasa sangat akrab dengan Mia. Mia juga merasa sangat senang. Dan berpikir besok akan minta ijin ibu untuk memelihara Si Pus.

 

Malam itu Mia sibuk mengerjakan PR matematika untuk esok hari.

Soal-soalnya rumit sekali. Mia menyesal kurang memperhatikan waktu Pak Guru menjelaskan rumusnya kemarin di kelas.

 

Miauw !  Miauw !  Miauw !  Miauw !  Miauw !  Miauw !

Nanti ya Pus. Aku sibuk, jawab Mia dalam hati.

Miauw !  Miauw !  Miauw !  Miauw !  Miauw !

Duuh, berisik …

Miauw !  Miauw !  Miauw ! Miauw !  Miauw !

Ck … jadi nggak bisa konsentrasi nih …

Miauw !  Miauw !  Miauw ! Miauw !  Miauw !

Iyaaa, nantiiii.

Miauw !  Miauw !  Miauw ! Miauw !  Miauw !

“Duuuhhh ... berisik !” teriak Mia tertahan.  

 

Sampai saatnya tidur, Si Pus masih terus saja mengeong-ngeong.

Mia mengintip keluar lewat jendela. Dilihatnya susu yang disiapkannya di mangkuk sejak sore tadi masih banyak.

Miauw !  Miauw !  Miauw !  Miauw !  Miauw !  

Mungkin Si Pus kedinginan. Tetapi seharusnya dia sudah cukup hangat dengan alas bantal itu. Lalu kenapa dia tetap saja mengeong-ngeong seperti itu ya ?

Akhirnya Mia pergi tidur dengan telinga disumpal kapas.

 

***

 

Esok paginya saat keluar rumah, Mia langsung ingin muntah.

Bau kotoran si Pus menyebar di seluruh halaman. Kotorannya pun kotoran basah.

Si Pus melonjak-lonjak dan mengeong-ngeong di kakinya.

Mia cemberut menatap Si Pus.

Gara-gara kamu, aku jadi harus membersihkan semuanya sebelum berangkat sekolah, omel Mia dalam hati.

Bikin repot saja.

Jijik pula.  

 

Sambil menyiapkan tas sekolah, Mia berpikir.  Sepertinya ia harus membawa Si Pus pergi dari rumah dan meninggalkannya di jalan sembari berangkat ke sekolah.

Sebenarnya sih kasihan.

Tapi  Mia merasa tidak sanggup mengurusnya. Selain waktu luangnya terbatas, ternyata repot juga mengurus binatang peliharaan. Harus membersihkan badannya, kotorannya, dan memberi makan terus-terusan.

Lagipula Si Pus sekarang kan sudah lebih sehat. Pasti dia sudah bisa cari makan sendiri.

 

Selesai mandi, Mia mengambil sebuah kotak kardus bekas air mineral dari gudang, dan sebuah selimut tua yang sudah butut. Kemudian mengambil mangkuk plastik besar dari dalam lemari dan sekotak susu putih dari lemari es. Di meja ada sepotong roti keju yang biasa disediakan ibu untuk bekal Mia sekolah. Dibawanya sekalian.

Saat Mia berangkat, ayah sudah pergi ke kantor. Ibu sibuk di dapur seperti biasa. Catering ibu sedang banyak pesanan untuk perkantoran.

Mia melangkah pelan menyusuri jalan sepi yang biasa dilewatinya untuk ke sekolah. Si Pus terlihat sangat nyaman dalam pelukan Mia dan tidak mengeong sama sekali.

Berarti benar, dia kedinginan tadi malam. Atau sekedar ingin dipeluk saja.

 

Lalu Mia menemukan tempat yang tepat.

Setelah meyakinkan diri tidak ada orang yang melihat, ia menurunkan kardus dari  gendongan dan meletakkannya di bawah sebuah pohon kecil rindang. Pus mengeong pelan sambil mendongak menatap Mia dengan wajah sedih seolah tahu apa yang hendak dilakukan Mia.

Mia menuang susu ke dalam mangkuk plastik dan membuka kemasan roti kemudian meletakkannya di dalam kardus.

“Maaf ya Pus. Soalnya aku nggak bisa ngurus kamu. Nih aku bawain susu dan roti ya. Kalau susu sudah habis, kamu makan rotinya. Sambil belajar cari makan sendiri  ya.”

Dan Mia meninggalkan Si Pus sendirian.

 

Pulang sekolah, Mia pura-pura tidak tahu waktu ibu menanyakan kemana Pus pergi.

Mungkin dia sudah bertemu dengan ibunya, jawab Mia asal saja.

 

 

Malam hari.  Saat waktu tidur tiba.

 

Miauw !  Miauw !  Miauw !  Miauw !  Miauw !

Mia langsung terbangun. 

Lho ? Si Pus datang lagi ?

Padahal ia sudah meninggalkannya jauh-jauh.  Tapi kok dia bisa kembali kesini yah.  Hebat sekali penciumannya.

Mia keluar dari kamar dan melihat ke halaman.

Si Pus mengeong sambil memandang tepat ke arah jendela tempat  Mia mengintip. Padahal kaca jendela ini gelap. Biasanya orang tidak bisa melihat ke dalam dari arah luar. Tapi Pus seolah tahu ada Mia sedang melihat keluar dari balik jendela.

Mia bingung. Kalau keluar sekarang, nanti Si Pus jadi manja dan merasa diberi kesempatan. Padahal ia sudah mengurungkan niat untuk memeliharanya.  Akhirnya Mia memutuskan untuk tidak membuka pintu dan membiarkannya saja.

Mungkin susu dan rotinya sudah habis.  Tadi pulang sekolah Mia memang tidak melewati jalan yang sama sehingga tidak tahu bagaimana kondisi si Pus.

Ia berniat besok pagi akan membawakan susu dan roti lagi sembari berjalan ke sekolah.

 

***

 

Mia sampai di tempat ia meninggalkan Si Pus di bawah pohon.

Kok nggak ada ? Kardusnya juga hilang.

Mia mencari kesana kemari.

Tidak jauh dari situ ia melihat seorang pemulung sedang duduk di rerumputan sambil makan sesuatu. Mia mendekatinya hendak bertanya.

Setelah dekat,  Mia melihat sang pemulung ternyata sedang makan roti. Roti dengan kemasan bertuliskan MiCat. Mia Catering. Roti produksi catering ibunya. Dan roti itu tidak dijual bebas. Hanya untuk pelanggan catering.

Kurang ajar nih pemulung, pikir Mia kesal. Makan roti punya Si Pus. Pantas saja semalam Si Pus datang lagi. Dia pasti lapar.

“Pak, lihat anak kucing kecil nggak ? Bulunya abu-abu bergaris-garis hitam. Kemarin ada di sini.”

Pemulung itu menatap Mia sejenak sambil melahap potongan besar  terakhir rotinya, lalu berdiri dan membuang plastik roti ke dalam tempat sampah di dekat situ.

Mia tercengang. Rupanya pemulung itu duduk di atas lembaran kardus air mineral yang Mia bawa kemarin dengan dialasi selimut butut. Mangkuk plastik tergeletak di sebelahnya.

Keterlaluan orang ini, Mia bertambah kesal.

“Tuh. Disitu,” jawab si pemulung setelah mulutnya kosong.

Mia menoleh ke arah yang ditunjuk. Tidak ada kucing satupun.

“Dimana Pak ?”

Pemulung itu beranjak beberapa langkah dan menunjuk.

Ke sebuah gundukan kecil di tanah.

“Nih. Saya kubur disini kemarin siang. Waktu saya lewat, dia sudah mati.”

Mia terperanjat.

“Hah … ? M… mati ?”

“Iya. Mati. Kedinginan mungkin. Kalau sekecil itu sih seharusnya masih kemana-mana dengan induknya.”

 

 

Mia berjalan ke sekolah dengan lemas.

Si Pus mati ?  Sejak kemarin siang ?  Berarti tidak lama setelah Mia meninggalkannya.

Maafkan aku ya Pus, Mia sedikit terisak.

Eh … tapi … kalau Si Pus sudah mati kemarin siang, lalu tadi malam itu, siapa yang datang kerumah ?

Iih … takut !

 

Sepulang sekolah, karena tak tahan akhirnya Mia bercerita ke ibu.

 

Ibu dengan bijaksana mengatakan kalau Mia tidak bersalah. Toh kucing itu tadinya memang bukan milik mereka.  Dan Mia sudah berbuat semampunya dalam membantu Si Pus untuk sehat kembali. Memberi makan dan tempat tidur, lalu membersihkan matanya sampai bisa melihat lagi.  Dan ibu juga merasa yakin yang Mia lihat kemarin malam itu anak kucing lain dengan warna bulu mirip Si Pus yang kebetulan tersesat masuk ke halaman rumah.  Tetapi kalaupun memang benar Si Pus yang datang kembali kemarin malam, mungkin ia hanya ingin mengucapkan terimakasih pada Mia karena sudah berbaik hati menolongnya di akhir hidupnya.

 

Malamnya setelah selesai mengerjakan PR yang jumlahnya banyak, Mia langsung beranjak tidur.

 

 

Miauw !  Miauw !  Miauw !  Miauw !

Mia membuka mata.  Si … Pus ?

Miauw  !  Miauw !  Miauw !  Miauw !

Kedengarannya … dekat sekali ?

Miauw  !  Miauw !  Miauw !  Miauw !

Di depan pintu kamar ??

Miauw  !  Miauw !  Miauw !  Miauw !

Bagaimana kalau … ibu salah ?

Miauw  !  Miauw !  Miauw !  Miauw !

Bagaimana kalau … Si Pus datang kesini bukan untuk mengucapkan terimakasih ?

Miauw  !  Miauw !  Miauw !  Miauw !

Melainkan  untuk …  

Miauw  !  Miauw !  Miauw !  Miauw !

Balas dendam karena … dibuang ?

Miauw  !  Miauw !  Miauw ! Miauw  !  Miauw !  Miaaaaoouuuuw !

 

END.

yuhana kusumaningrum

/yuhanakusumaningrum

TERVERIFIKASI

^,^
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.