HIGHLIGHT CERPEN

Bunda Sendiri

20 Mar 2017 | 16:22 Diperbarui : 20 Mar 2017 | 17:12 Dibaca : Komentar : Nilai :

  Butiran embun menari diantara aku dan dirinya, ditemani oleh cahaya api lampu minyak tua. Dirinya, yang biasa ku panggil Bunda adalah seorang yang kuat dalam segala hal. Wajah keriput dan rambut putihnya menambah pesona dalam dirinya. Hati dan fisiknya kuat menangkal kesedihan yang dialami selama ini. Oh, Bunda betapa sempurnanya dirimu.

   Pada hari itu diriku membantu beliau menggarap sawah. Jalanan sawah yang berlumpur nan licin serta gelapnya sepertiga malam membuat kami berhati-hati dalam menjelajahi sawah ini. Cangkul, bibit, dan peralatan yang lain telah tersedia, Aku dan Bunda segera memulainya. Peluh kasih Bunda mengalir deras dari dahi keriputnya. Aku adalah seseorang yang lahir dari keluarga yang serba kekurangan. Hanya Aku, Bunda, dan adik perempuanku dirumah, sedangkan Ayah meninggalkan kami dan hidup bersama istrinya yang baru. Meski beliau masih memberikan nafkah namun semua itu tak mencukupi untuk makan sehari-hari.

   Alhamdulillah ya Tuhan,selesai sudah semua pekerjaan ini. Tenggorokanku mulai merengek meminta air, kuteguk satu botol air untuk menenangkannya. Setelah sang surya terbit Aku dan Bunda memutuskan untuk kembali ke Istana Bambu disebrang sungai kecil itu. Jalan bebatuan mengiringi kami di setiap langkah, burung-burung seolah menyapa kami dengan ramah. Setiba di rumah ku basuh kaki dan tanganku. Kemudian, kami bertiga menikmati sarapan nasi tak lupa garamnya. Ku syukuri semua yang telah diberi-Nya pada keluargaku, karena selain kami pasti ada seseorang yang tak bisa makan walaupun sehari saja. Masyallah,betapa nikmatnya semua ini bagiku.

   Hari ini adalah hari libur sekolah, maka Aku dan Adik pergi ke sungai untuk mencari santapan makan siang nanti. Sedangkan Bunda istirahat sejenak mengencangkan tulang-tulang rapuhnya. Sungai keruh itu kini menjadi sumber pencaharian kami selama ini. Hanya udang dan ikan-ikan kecil yang dapat berenang disana. 

Alhamdulillah, dua ekor ikan ini mungkin cukup untuk hari ini. Dalam perjalanan menuju rumah, sebuah mobil hitam berhenti di depan kami. Orang-orang berbadan besar itu menghampiri kami dan tiba-tiba memelukku dan adikku. Telah kucoba untuk melawan, namun apalah daya anak berbadan kurus ini. “Bunda, disini gelap aku tak dapat membuka mata dan mulutku. Bunda, tolong kami, kami berjanji tidak akan nakal lagi” aku tak tahu mereka akan membawa kami kemana.

   Aku merasakan mobil ini berhenti, mereka membawa kami keluar. Aku mendengar suara seseorang yang tak asing bagiku. Ayah, itu suara Ayah orang yang selama ini ku rindukan.

“Ayah, itukah engkau? Kami merindukan dirimu, Ayah tolong lepaskan kami”

“Maafkan ayah, Nak! Ayah juga sangat merindukan kalian berdua, sekarang kalian dapat hidup bersama ayah selamanya” pungkasnya sambil tersenyum.

“Bersama Bunda? Bunda disini Ayah?”

“Kalian akan bersama Ayah tanpa Bunda, kalian disini akan hidup dengan Bunda dan saudara yang baru”

“Tidak, Aku ingin bersama Bunda. Aku ingin pulang, yah!”

Tanpa basa-basi aku bersama adikku mencoba lari dari Ayah, air mata kami tak dapat dibendung. Dengan kaki kecil nan lemah ini ku coba berlari menjauhi Ayah. Hingga petang mulai datang bersama bintang, kami tetap mencari jalan untuk pulang ke rumah. Ku lihat mobil itu lagi, mengapa mereka terus mengintai diriku dan adikku? Kaki ini lelah dibuatnya, namun pada akhirnya kami yang harus mengalah. Dengan segala keadaan aku harus dapat membiarkan Bunda sendiri kali ini.

Bunda… maafkan kami yang durhaka ini, kami telah membiarkan Bunda kedinginan mala mini. Aku tahu kau pasti resah dan gelisah karena kepergian kami. Bunda… terima kasih atas segala kasih saying yang telah Bunda berikan kepada aku dan adik, semoga Tuhan selalu menjaga Bunda selamanya.

Oh Tuhan, tolong jaga Bunda kami… Aku percaya Engkau lah yang Maha Mengetahui dan Maha Menjaga hamba-hamba Mu. Ya Tuhan, tolong maafkan semua kesalahan yang kami perbuat kepada Bunda. Ya Tuhan, tolong jangan biarkan Bunda Sendiri.

Ayah… tolong jangan paksa kami bertemu dengan Bunda, tidak kah Ayah merasa belas kasihan kepadanya? Ayah kami akan menuruti apa yang kau katakan, asalkan jangan pisahkan Kami berdua dengan Bunda. Ayah kami menyayangimu dengan sepenuh hati, namun tidak begini caranya.

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.