PUISI

Puisi | Dua Pendahulu

20 Apr 2017 | 10:52 Diperbarui : 20 Apr 2017 | 11:11 Dibaca : Komentar : Nilai :

Lautan yang hening dan berombak

Lautan yang berkawan dan bermusuh

Lautan yang mengaram, menenggelam, dan mengantar

Lautan yang mengguntur panjangnya masa dunia

Lautan yang berkurung gelombang hawa


Berdatanglah angin kemarau

Hembuslah layar-layar itu berlalulalang ke utara

Menuju bandar-bandar tanah India, China, dan Arab

Kisahkan kepulauan khatulistiwa pada rakyat negeri-negeri di tanah itu

Kembalilah saat angin menyapamu

Untuk berlayar menuju kepulauan khatulistiwa


Datanglah angin penghujan

Kibarkan layar-layar kapal

Berdirilah di depan wahai saudagar

Saatnya menuju selatan

Bandar-bandar Suwarnadwipa dan Jawadwipa berdiam menanti


Di tanah pesisir Suwarnadwipa, sang maharaja Kedatuan Sriwijaya bertakhta

Empat abad bergelimang ombak samudera

Inilah sang penguasa lautan barat Nusantara.

Sriwijaya bermegah ribuan armada.


Abad ketiga belas takluklah panji-panji Mongol di Jawadwipa

Pasukan Khan tergopoh di hadapan  Kertaradjasa Jayawardhana

43 tahun berlalu, gelegar Amukti Palapa menggenta angkasa

Bumi Majapahit mahadahsyat tergema sang mahapatih


Dua pendahulu dalam goresan-goresan batu

Sebuah Kisah kesatuan pertama dan kesatuan kedua

Bergeloralah nanti di alam abad ke dua puluh

Dalam tujaman peluru bangsa meneer

Yogaswara F. Buwana

/yogaswarafb

TERVERIFIKASI

Yogaswara Fajar Buwana ialah seorang mahasiswa Ilmu Sejarah di Universitas Negeri Malang,. Saat ini, ia juga memegang amanah sebagai senator di Komisi III Dewan Perwakilan Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial.
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.