HIGHLIGHT CERPEN

Para Penjaga Ilmu

19 Mar 2017 | 12:33 Diperbarui : 19 Mar 2017 | 12:37 Dibaca : Komentar : Nilai :


Empat orang yang memakai rompi hitam berjalan cepat ke arah pintu kantor sekolahku. Dua orang dari mereka memegang kamera dan dua orang lainnya membawa catatan kecil beserta pulpen. 

Sebenarnya ada apa?

Staf-staf sekolah yang baru keluar dari kantor, langsung dikerumuni oleh orang-orang tadi. Mereka bertubi-tubi menanyakan sesuatu. Staf sekolah tampak gelagapan menjawat setiap pertanyaannya.

Semua siswa yang ada di lapangan, berlarian ingin tahu. Sedangkan aku masih bertahan di pinggir lapangan.

Pluk! Seseorang menepuk pundakku dari belakang.

Aku menengok kaget.

"Eh, Pak Sugiman. Ada apa pak?"

"Ayo ikuti saya!" Pak Sugiman langsung melangkahkan kakinya, menjauh dari lapangan. 

Ia kemudian berlari melewati kelas dan lorong aula sekolah.

"Memangnya ada apa pak?" tanyaku sambil berlari mengikuti pergerakan Pak Sugiman yang cepat. Tapi ia tidak menjawab pertanyaanku.

Pak Sugiman adalah penjaga sekolahku yang baru beberapa bulan bertugas. Aku tidak kenal dekat dengannya. Ia selalu muncul dan hilang tiba-tiba. Tapi, semenjak ia resmi menjabat sebagai penjaga sekolah, tidak ada lagi murid-murid yang melompati tembok saat jam pelajaran berlangsung. Sekolah menjadi aman dan kondusif. Karena ia selalu memergoki mereka yang coba-coba melompat. Pergerakannya yang cepat itu seperti tokoh superhero: The Flash.

Aku kalang kabut mengimbangi kecepatan larinya.

Seketika ia memperlambat kecepatan larinya. Lalu berbelok masuk ke ruangan kelasku. Ternyata, di dalam kelas sudah ada dua orang temanku: Budi dan Wati.

"Sebenarnya ada apa pak?" tanyaku masih penasaran.

"Ceritanya panjang. Silakan kamu duduk dulu."

Aku mengiyakan permintaannya.

"Jadi begini, suasana di sekolah sedang kacau."

"Maksudnya apa pak? kacau gimana? Saya gak ngerti." tanya Budi yang tampak antusias. 

"Sekolah kita mengalami masalah ...."

"Eh eh, masalah apa pak?!" Wati yang latah sedikit kaget.

"Sejak tahun 2013, struktur kepengurusan di sekolah ini menjadi kacau. Ada pihak yang ingin berkuasa. Kalian pasti tahu kan, kalau penjaga sekolah di sini sudah enam kali diganti tanpa alasan yang jelas?"

"Lalu, apa tujuan orang-orang tadi datang ke sekolah kita?" tanya Budi makin antusias.

"Hmm ... sepertinya mereka tahu tentang masalah ini."

Aku hanya terdiam, bingung, dengan arah pembicaraan Pak Sugiman. Aku paling tidak suka dengan masalah seperti ini.

"Besok, pasti saya menjadi penjaga sekolah ketujuh yang dikeluarkan oleh pihak sekolah. Karena, kemarin saya bicara langsung kepada pihak sekolah tentang ketidaksetujuan saya dengan kebijakannya, yang akan memberlakukan biaya SPP tiga kali lipat lebih tinggi." jelas Pak Sugiman.

"Belakangan ini, proses pembelajaran di sini memang tidak berjalan lancar Pak." Budi menimpali sambil mencerna inti permasalahannya.

"Itu yang saya maksud. Kalian anak-anak yang pintar. Saya hanya ingin berpesan. Apapun yang terjadi nanti, kalian harus tetap rajin belajar. Mulai besok, kemungkinan proses belajar mengajar akan tersendat."

Pak Sugiman melirik jam di tangannya.

"Maaf ya, saya tidak bisa lama-lama." ucap Pak Sugiman dengan wajah rusuh.

Teeeeet .... Bel masuk berbunyi. Pak Sugiman bergegas keluar kelas.


Semua murid berbondong-bondong pulang. Empat orang yang memakai rompi hitam tadi masih berkumpul di dekat gerbang. Raut wajahnya muram. Sepertinya mereka belum puas dengan jawaban-jawaban yang didapatkannya. 

Aku tidak melihat keberadaan Pak Sugiman. Ah, ia selalu saja mengilang tiba-tiba. Tapi, jam segini, biasanya ia selalu stand by di samping gerbang untuk menutup gerbangnya. Kulihat pintu kantor juga masih tertutup rapat. Sementara kelas-kelas dan lorong-lorong sekolah tampak lengang. Tidak ada suara-suara murid. Hanya terdengar suara gemericik air mancur di depan kantor.

Aku iseng melihat keadaan di dalam kantor melalui kaca jendela yang sedikit terbuka. Semua staf sekolah duduk rapi di kursinya masing-masing. Suasananya tenang sekaligus tegang. Tiba-tiba salah seorang staf berdiri dan melempar kursinya. Ruangan pun menjadi riuh. Aku masih tidak mengerti apa yang terjadi. Orang-orang yang memakai rompi beranjak dari gerbang menuju ruangan kantor. Aku harus mencari tahu masalah yang sebenarnya.

Perkataan Pak Sugiman tadi membuatku penasaran. Aku, Budi dan Wati berniat pergi mencari rumahnya. Ingin menggali informasi lebih banyak.. 

Berkat petunjuk dari Bibi Kantin, kami bertiga berhasil menemukan lokasi rumah Pak Sugiman, yang kebetulan tidak terlalu jauh dari sekolah.


Kami bertiga memantau situasi sekitar. Berharap tidak ada orang-orang yang memakai rompi hitam. Pandangan kami tertuju pada satu rumah. Menurutku alamatnya benar. Ciri-ciri rumahnya juga benar. Dengan cat temboknya yang berwarna putih kusam. Dan ada sebatang pohon mangga yang berdiri tegak di depan rumahnya. Tapi banyak orang yang membaca buku di sana. Ada yang membaca di teras, ada juga yang membaca di kursi kayu panjang. Rumah itu mirip seperti perpustakaan. Ah, aku makin penasaran dengan Pak Sugiman.

Di dekat pintu masuk rumahnya, tampak Pak Sugiman sedang duduk bersandar ke tembok. Di depannya ada beberapa orang yang sedang mendengarkannya berbicara. Tangannya memegang kamus tebal Oxford Advance Dictionary.

"Assalamu'alaikum, Pak Sugiman."

"Wa'alaikumsalam. Eh, kalian. Kenapa bisa ada di sini?" 

"Maafkan kami pak telah lancang membuntuti bapak, sampai ke perpustakaan ini. Eh eh, maksudnya rumah bapak." jawab Wati latah lagi.  

"Iya. Tidak apa-apa. Beginilah keadaan rumah saya."

Tiap sisi rumahnya disesaki rak-rak buku berukuran besar yang berjejer rapi, yang berisi berbagai macam buku bacaan. Persis seperti perpustakaan.

"Rumah bapak keren." ucap Budi yang antusias memperhatikan sekeliling rumah.

"Terima kasih Bud. Ini adalah rumah, sekaligus tempat belajar untuk siapa saja yang ingin belajar secara cuma-cuma. Buku-buku yang ada di sini saya kumpulkan sejak SMP. "

Orang-orang yang sedang ngobrol dengan Pak Sugiman pamit pulang. Sekarang tersisa kami berempat di dalam rumahnya.

"Mereka itu siapa pak?" tanyaku penasaran.

"Mereka mahasiswa Jurusan Sastra Inggris. Sudah 2 bulan mereka belajar dengan saya, di sini."

"Maksudnya, bapak mengajar Bahasa Inggris di sini?" tanyaku ragu-ragu.

"Ya, kurang lebih begitu. Hanya ini kemampuan yang saya miliki."

"Oh, kalau boleh tahu bapak pernah kuliah atau ...."

"Saya pernah kuliah di juruan Pendidikan Bahasa Inggris."

"Tapi kenapa bapak bisa menjadi penjaga sekolah?" tanyaku makin penasaran.

"Hmm ... sebenarnya, saya pernah menjadi pengajar di sekolah kalian. Tapi setelah orang itu datang, saya dilengserkan secara tidak hormat. Setelah itu saya melamar kembali menjadi penjaga sekolah, dan diterima. Saya hanya ingin membuat semua murid belajar dengan baik. Meskipun peran saya hanya sebagai penjaga sekolah. Toh, setiap pekerjaan yang halal itu baik. Actually, eduaction is my passion."

Aku, Budi dan Wati hanya menggeleng takjub. Telebih lagi Budi, yang tampak antusias ingin belajar Bahasa Inggris kepada Pak Sugiman.

"Orang itu? Maksudnya siapa pak?" tanya Budi dengan tatapan antusiasnya.

"Nanti juga kalian tahu. Cepat atau lambat, sekolah itu akan disita karena hutangnya sudah membengkak, sementara biaya sekolahnya malah diselewengkan oleh orang itu."

Suasana hening sejenak.

"Bagaimana dengan situasi di sekolah? Apakah sudah aman?" tanya Pak Sugiman.

"Situasinya belum aman. Malah tambah kacau." jawabku bingung.

Beberapa saat kemudian, terdengar suara gaduh dari luar rumah. Orang-orang yang memakai rompi hitam tadi sudah berdiri di depan rumah Pak Sugiman.

"Andi, Budi dan Wati, untuk sementara waktu, saya titipkan rumah perpustakaan ini kepada kalian. Dulu, saya sempat menerima amplop dari pihak sekolah. Saat itu saya tidak tahu isinya berasal dari mana. Saya ingin kalian mengajar di sini. Menggantikan saya."

"Eh Eh, tapi pak ...." 

Pak Sugiman berdiri, lalu pergi keluar dengan gontai.

Orang-orang yang memakai rompi hitam itu tampak gencar melontarkan pertanyaan demi pertanyaan kepada Pak Sugiman.

Setelah beberapa pertanyaan diajukan, Pak Sugiman pergi bersama mereka, entah ke mana.

Aku hendak menghampirinya. Tapi, tangannya menahanku. Terpaksa aku membiarkannya pergi bersama keempat orang itu. Entahlah apa yang akan terjadi dengan Pak Sugiman.

"Jadi, kita harus menggantikan Pak Sugiman mengajar di sini?" tanya Budi dan Wati serempak.

Aku hanya diam. Bingung harus menjawab apa. Tiba-tiba aku teringat satu kutipan dari Ki Hadjar Dewantara yang katanya, "Setiap orang menjadi guru. Setiap rumah menjadi sekolah."

Apakah ini yang dimaksud Ki Hadjar Dewantara? Tapi, bukankah itu hanyalah kata-kata kiasan? Apa yang bisa kuperbuat sekarang? Apa mungkin aku mengajar di sini? Bagaimana jika sekolahku benar-benar akan disita? 

Aku hanyalah anak ingusan berusia 13 tahun yang mulai beranjak dewasa. Pemahaman tentang pendidikan yang ada di benakku hanyalah tentang belajar dan belajar. Dan, sekolah adalah tempat yang bisa memudahkanku untuk belajar. Itu saja. Bagiku, belajar adalah hak setiap orang dari sabang sampai merauke. Dari anak-anak sampai nenek dan kakek. Dari yang berduit sampai yang (maaf) bokek. Sesederhana itu. Semuanya layak mendapatkan ilmu. Semuanya berhak menjadi penjaga ilmu. Namun, masalah yang terjadi lebih kompleks.  Otakku tidak sanggup memahaminya. Kenapa menuntut ilmu bisa jadi serumit ini?

Bagaimanapun juga, kami bertiga harus melanjutkan perjuangan Pak Sugiman. Menjadi penjaga ilmu.

Dan inilah kami: para penjaga ilmu.

Yasier Fadilah

/yasierfadilah

TERVERIFIKASI

Seorang penulis amatir yang masih belajar meramu kata-kata.
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.