CERPEN

Sekadar Saja Tidaklah Cukup

20 Mar 2017 | 15:48 Diperbarui : 20 Mar 2017 | 15:56 Dibaca : Komentar : Nilai :

Pengumuman kelulusan sudah di depan mata. Esok, akuakan menerima hasil dari apa yang sudah aku perjuangkan sejak tiga tahun lalu.Malam sudah semakin larut, dan aku masih terjaga memandangi gemerlap kejora dibibir jendela kamarku. Mencoba memanggil ingatan lamaku tentang segala yangpernah terjadi selama enam semester di masa putih biru. Tidak ada satu punkejadian yang membuatku terkesan. Kelas dan penduduknya yang bahkan tidakberubah dari kelas 7 hingga kelas 9 membuat hidupku begitu abu-abu. Menghadapihal yang konstan selama itu, tentu membosankan. Secepatnya aku akanmenenggelamkan ingatan itu, dan menggantinya dengan ingatan yang baru.

Tapi, yang aku khawatirkan saat ini adalah apakah akubisa memiliki teman dekat di masa putih abu-abuku? Apakah aku bisa membuka diriuntuk bergabung dengan teman-teman yang lain? Apakah, apakah, apakah... Semuaitu terus berputar di kepalaku. Begitu banyak pertanyaan yang muncul hingga akumerasa cukup untuk berpikir tentang hal yang bahkan belum terjadi. Akumemutuskan untuk merebahkan badanku di kasur dan tenggelam dalam mimpi begitusaja.

***

“Zee… Zee… Bangun kak, sudah jam setengah lima. Ayosalat subuh!”

Terdengar suara yang tak asing lagi dari ruangsebelah. Iya, itu suara bapak. Bapak sudah bagaikan alarm pengingat segalaaktivitas keluarga, terutama salat. Aku selalu diajarkan untuk melakukan segalasesuatu tepat waktu. Jadi, segala sesuatu yang keluarga kami lakukan sudahterusun sedemikian rupa agar berjalan lancar.

Terlebih lagi, semenjak aku SMA, keluarga kami sudahtidak mempekerjakan asisten rumah tangga. Alasan klasik yang bapak lontarkanadalah karena aku perempuan yang mulai beranjak dewasa, aku harus belajar untukpeduli dan bertanggung jawab atas semua barang-barang dan keperluanku. Padahal,aku adalah salah satu siswa di SMA favorit kotaku. Tentu saja, tugas sekolahyang aku miliki itu seperti hujan yang tak kunjung reda. Namun, bapak tetapsaja tidak menerima keluh kesahku; tentang aku yang harus menyelesaikan tugas-tugaskusaat akhir pekan hingga aku merasa lelah dan kerepotan membereskan kamarku,mencuci pakaianku, melakukan banyak hal seperti menyapu dan mengepel seisirumah.

Beda cerita dengan bapak, ibu adalah orang yang selaluberada di pihakku ketika bapak menanggap aku salah. Walau memang tidak begituberpengaruh karena bapak pasti tidak gentar memberikan wejangan-wejangansupernya saat aku salah. Tetapi setidaknya, ibu selalu mempersilakanku untukbersandar di bahunya, mendengar segala keluh kesahku, menghapus tangisku,menenangkanku ketika aku terisak kapanpun aku mau. Ibu jugalah orang yangbersedia untuk menjadi jembatan komunikasiku dan bapak ketika aku sudahmenyerah menegosiasikan segala sesuatu dengan bapak.

**

Halte yang kutuju sudah terlihat. Aku bersiap untukmenuruni bus yang sudah kutumpangi dari depan komplek perumahanku. Tiba-tiba,ada seorang pemuda yang mengenakan seragam putih abu-abu dilapisi jaket birudengan resleting setengah terbuka menepuk pundakku. Sontak aku mengedarkanpandangan sinis kepadanya.

“Zizan Laudza Wibowo ya?” Tanyanya dengan suara yang nge-bass dantampang sok gentle.

“Iya... Kamu siapa ya?” Aku balik bertanya.

“Turun dulu. Nanti aku jelaskan.” Balasnya lagi.

Kami pun turun dari bus dan duduk di bangku halte.Kemudian aku menatapnya sembari mengingat siapa dia. Tiada satu pun nama yangcocok dengan wajah-wajah yang ada di ingatanku. Hingga dia membuka resletingjaketya dan menunjukkanku name tagnyakepadaku. Tertulis disana ‘Arnendi Zidan Al Fatih’.

“Masih ingat aku?” Tanyanya dengan nada yang cukupmengejek.

He…He… Iya.SMA di mana sekarang?” Jawabku dengan tampang tak bersalah.

“Sama kaya kamu. Aku di X-MIPA-2. Kelas kitaberdampingan. Aku tahu kamu di X-MIPA-1, tapi belum ada waktu yang tepat untukmengobrol saja sebenarnya.” Jelasnya.

“Kamu sekarang lebih ekspresif ya, tak seperti duluwaktu SD. Apapun yang terjadi, mukamu datar, pasang tampang jutek dan jarangbanget mau tertawa. Ayo sambil jalan!" Sambungnya lagi.

Obrolan kami berlanjut hingga di depan kelasku dan kamipun berpisah karena kelas kami memang berbeda. Aku tak menyangka aku adalahsosok yang mengesankan bagi teman lama seperti Nendi. Aku bahkan tidak lagimengingat wajahnya. Walaupun dia sudah menunjukkan name tag-nya, sebenarnya aku masih tak mengingat siapadia. Aku baru menyadari siapa dia ketika dia mendeskripsikan gelagatku saat SD,aku hanya menyimpulkan, berarti dia teman SD ku. Sederhana.

Ketika aku meletakkan tasku di meja, dan baru sajaduduk di kursiku, tiba-tiba, Elia Kania Maheswari, teman sebangku sekaligus siratu gosip di kelas, menarik jilbab yang aku kenakan dan duduk di kursikebesarannya.

“Kamu jalan bareng sama siapa? Gebetan baruya Zee? Ganteng kok Zee, tapi kamu kok bisa udah dapat gebetan? Perasaan, kamu belum cerita apa-apa sama aku.Aku mau kenalan sama dia Zee. Nanti istirahat kita dating ke kelasnya ya.” Cerocosnya

“Bukan El. Begini, tadi sewaktu di bus…” Jelaskupanjang lebar kepada Elia.

“Oh seperti itu.” Pungkasnya dengan nada yang puas.

Pembicaraanku dengan Elia berakhir ketika ibu gurusuper garang yang mengajar kami matematika masuk ke kelas. Kelas heningseketika. Selama dua jam pelajaran itu, kelas hanya di penuhi dengan suaralantangnya yang memekakkan telinga.

***

Sepulang sekolah, aku dan Elia memutuskan untuk ketoko buku di salah satu pusat perbelanjaan di dekat SMA ku. Ketika kami sampaidi gerbang keluar, tiba-tiba Elia menarik tas seorang siswa. Saat siswa itumembalikkan badannya, dia langsung meengajak Elia megobrol di samping possatpam. Seketika itu, Elia juga menarik tanganku untuk mengikutinya. Akumencoba melirik nametag siswa itu. Tertulis di sana ‘Moza Althair Dipetra’. Namayang cukup langka untuk di miliki memang.

“Ayo Zee. Kita barengan sama dia sekalian ya. Dia nanti barengan temansekelasnya juga.” Celetuk Elia tanpa bersalah.

“Ya sudah, mau bagaimana lagi. Sudah terlanjur.”Jawabku ketus.

“Jangan marah Zee. Sini kalian kenalan dulu.” TambahElia.

“Hai, aku Althair. Panggil saja Air.” Sapanya denganmengulurkan tangan.

“Zizan. Panggil saja Zee.” Jawabku dengan tersenyum,sambil kujabat  tangannya.

“Tunggu sebentar ya El, Zee, aku hubungi temanku dulu.Sepertinya dia masih di perpustakaan mencari penerbit buku yang mau dia beli.”Pinta Air dengan lembut.

Tak lama setelah Air menghubungi temannya, muculsesosok laki-laki yang tak asing bagiku. Itu seperti Nendi, gumamku. Laki-lakiitu berlari menghampiri kami di pos satpam dan tebakanku benar, itu Nendi.Tanpa mengobrol panjang lebar, Air langsung mengajak kami untuk berjalan menujupusat perbelanjaan yang kami tuju.

***

Semenjak hangout pertama itu, kami menjadi seringberkumpul, bermain bersama, mengobrol kesana kemari, mengerjakan tugas bersama,pergi ke kantin bersama, berbagi cerita, dan banyak hal lagi yang kita lakukanbersama. Bahkan, Air pernah mengantarkanku pulang menggunakan mobilnya ketikakami menjadi panitia suatu acara di sekolah karena sudah larut malam. Tidaksampai di situ, dia juga mengajakku makan di restoran cepat saji karena diatahu aku belum makan sejak siang. Dia juga tidak sungkan mengajakku pergiberdua ketika Elia dan Nendi menolak ajakannya. Memang ajakannya itu kuranglogis, karena dia mengajak kami untuk menemaninya berbelanja baju di pameranpakaian distro yang di gelar di stadion. Tapi, bagiku itu hal yang lucu karenalaki-laki yang hobi berbelanja satu ini memiliki selera tinggi dalam memilihsegala sesuatu.

Nendi dan Elia juga semakin sering mengunjungi rumahkudi akhir pekan untuk membahas lagu yang mereka ciptakan untuk dinyanyikan oleh band mereka.Entah mengapa, mereka menganggap aku adalah orang yang puitis, sehingga seringkali mereka meminta pendapatku tentang pemilihan kata yang akan dituliskansebagai lirik lagu.

Semua ini terkesan bukan kebetulan semata. Aku danElia teman sekelas di kelas X. Aku dan Nendi adalah teman lama. Begitu jugadengan Air dan Nendi, mereka berteman dekat di kelas X. Air dan Elia jugaberteman sejak mereka SMP, dan kenyataan yang terjadi sekarang kami sudah kelasXI dan menjadi teman dekat. Keajaiban Tuhan yang patut aku syukuri lagi adalahkami menjadi sekelas sekarang.

**

Di tengah kebahagianku memiliki dunia baru di masaputih abu-abu, aku tetaplah anak bapak dan ibuku. Aku tetaplah anak yang harusmematuhi perintah orang tuaku. Aku tetaplah anak yang harus menjalankan segalakewajiban yang sudah di tetapkan kepadaku. Aku tetap menyapu, mengepel, danmembantu ibu membereskan rumah kapan pun ibu minta. Aku tidak mungkin menolakpermintaan tolong ibu yang sangat lembut itu, sekalipun ada setumpuk pekerjaansekolah yang menungguku.

Hingga suatu malam bapak yang kini menjadi wakilkepala sekolah menjadi sering pulang senja. Melihat keadaan rumah yangberantakan, ternyata memancing kemarahan beliau. Apalagi, beliau melihat akududuk seperti tak bersalah di kursi belakang sambil memegang ponsel. Tiba-tibasaja beliau mengebomku dengan serentetan pertanyaan,

“Tugas sekolahnya sudah selesai kak? Santai banget.Itu di dalam ponsel ada apanya? Asik banget. Ibu lagi masak untuk makan malamlihat? Malah enak-enakan mainan. Kakak sudah salat magrib belum? Itu ruangdepan berantakan, bapak lihat isinya barangmu semua, sudah selesai di pakaibelum sebenarnya? Kalau sudah engga dipakai, sini biar bapak bakar.”

Kata-kata yang keluar dari mulut bapak, seolahmenghujamku. Tanpa berpikir panjang, kuletakkan ponselku di kursi dan akuberdiri,

“Iya pak.” Jawabku tanpa ekspresi. Sebenarnya, akumenahan air mata yang rasanya sudah mau meloncat keluar. Aku pun bingungpertayaan dan perintah bapak yang mana yang aku iyakan.

Setelah makan malam, aku langsung masuk ke kamar danmenangis terisak sejadi-jadinya. Aku menenggelamkan kepalaku ke bantal. Mencobamembungkam mulutku agar suara tangisku tak terdengar. Ingin rasanya membantahbapak, tapi memang aku juga bersalah. Tidak membantah, tetapi aku juga tidaksepenuhnya bersalah. Aku juga lelah, tapi apa daya aku hanya bisa menyimpankekalutanku sendiri. Ingin rasanya membuka mulut untuk sekedar mengeluh, tetapiitu akan menunjukkan betapa lemahnya aku menghadapi hidupku sendiri.

Aku tenggelam dalam lamunanku; setelah hampir duatahun aku di masa putih abu-abu ini, aku melihat berbagai hidup selain hidupkusendiri. Air. Dia bebas membawa mobil sendiri kemanapun dia mau. Dia bebasmembeli apapun yang dia suka, tanpa menunggu waktu yang lama untuk mengumpulkanuang terlebih dahulu. Nendi. Hidupnya bebas seperti burung. Dia bisa duduk lamadi café tanpa khawatir tentang uang untukmembayarnya. Bahkan, ia tidak khawatir akan dimarahi oleh orang tuanya ketikapulang larut malam. Elia. Tidak ada aturan yang mengikatnya di rumah. Dia bebasberlaku seperti apa saja dirumahnya sendiri. Meskipun dia seumuran denganku,dia tidak pernah di tuntut untuk mengerjakan berbagai pekerjaan rumahsepertiku. Semua itu karena siapa? Tentu saja karena orang tua. "Ah,andaikan orang tuaku seperti orang tua mereka!" Hardikku.

***

Di penghujung kelas XI ini, Nendi dan Elia bertengkarhebat entah karena apa. Yang aku tau, mereka memiliki perselisihan di band yang sudah mereka bentuk sejak kelas Xsemester awal. Sebenarnya, band mereka cukup popular di kalangan anak SMAkotaku. Mereka sering menjuarai kompetisi di regional maupun nasional. Namun ditengah kegemilangan yang sudah mereka raih, justru mereka memutuskan untukmembubarkan diri.

Nendi dan Air bahkan tak pernah mengajak aku bicara.Aku yang tak tau apa-apa seakan di tarik ke pusaran masalah mereka. Air yangaku pikir tidak terlibat secara langsung pun tiba-tiba menjadi dingin danbertingkah seperti tidak terima jikalau Elia melakukan ‘itu’ ke Nendi dan band nya.Hingga saat ini, ‘itu’ yang dilakukan oleh Elia ke Nendi pun aku tidak tahu.Karena ketika aku mencoba menanyai Elia, dia selalu menjawab disertai nadatinggi yang tidak mengenakkan untuk di dengar. “Sudah lupakan saja. Pengecuttetap pengecut. Aku tidak mau berteman dengan laki-laki cemen macam dia!’’Kata-kata itu sungguh membuatku ingin memaki Elia tepat di depan wajahnya.Setelah apa yang sudah kami lewati bersama, dengan mudahnya dia memutuskanhubungan secara sepihak seperti itu. Sedangkan di keadaan yang seperti ini takmungkin aku menanyai Nendi ataupun Air yang bahkan melirikku saja tak mau.Sudah ku coba untuk menanyai beberapa teman band mereka,namun tiada satupun yang mau membahas hal ‘itu’.

Siang ini tak seperti siang siang biasanya. Kamiber-empat biasanya mengobrol di bawah pohon beringin dekat lapangan basketbersama. Sedangkan siang ini aku hanya pergi berdua dengan Elia ke perpustakaandengan perasaan dan pikiran yang  sedang sangat kacau. Kuhitung-hitungsudah 10 hari lebih aku dan Elia tidak bicara dengan Nendi dan Air. Saat akudan Elia menuju perpustakaan, aku melihat Nendi dan Air duduk di tangga buntudekat laboratorium kimia. Tanpa berpikir panjang, kutarik tangan Elia ke tempatNendi dan Air berada. Elia pun tidak kuasa menolakku karena badanku yang mungilmemang tidak sebanding dengan tenaga yang aku miliki. Nendi dan Air tercengangdengan kedatangan kami yang tak bisa mereka elakkan lagi. Aku pun langsungmengutarakan semua yang sudah bergemelut dikepalaku,

“Sebenarnya ada apa dengan kalian? Aku tidak pernahmengerti apa yang terjadi dengan kalian. Aku bahkan tidak mendapat penjelasanapapun tentang masalah ini. Sudahlah, kalian bukan anak kecil lagi yang harussaling mendiamkan ketika sedang marah. Bukan masalah besar atau kecil, bukanmasalah siapa yang benar dan siapa yang salah, bukan masalah kamu El, denganNendi. Tapi ini masalah kita! Aku yang bahkan seperti orang bodoh yang tidaktahu apapun kalian tarik ke permasalahan ini seolah aku juga pelakunya! Adakahsalah satu dari kalian yang mau menjelaskan tentang ini di depan kita? Akuyakin semua ini hanya salah paham.”

“Ini bukan soal salah paham, karena aku dan Nendi tahuapa yang terjadi sebenarnya. Andaikan kamu tahu, kamu pun pasti berpihak kepadakami.” Jawab Air.

“Begini Zee, biar aku luruskan. Sebenarnya, lagu yangsudah aku, kamu, dan El buat bersama di rumahmu beberapa waktu yang lalu belumpernah kami nyanyikan di band kami. Setiap kali aku tanya kemana perginya laguitu kepada El, dia pasti menjawab dengan berbagai alasan. Aku mencoba tidakkhawatir tentang apapun. Toh, kami juga memiliki banyak lagu lain yang bisakami nyanyikan. Lalu, pada suatu sore aku dan Air sedang pergi ke studio musikdekat rumah Air. 

Kami akan menyewa satu ruang studio, tetapi ternyata semuaruang sudah penuh. Kuputuskan untuk menunggu di depan salah satu ruang studio.Setelah aku mendengar lagu yang sedang mereka mainkan, aku sadar itu adalahlagu yang pernah kita garap Zee. Aku memberanikan diri untuk masuk dan bertanyakepada mereka, bagaimana bisa mereka mendapatkan lagu itu, dan ternyata Elialah yang menjual lagu itu kepada mereka beberapa minggu sebelumnya. 

Tentu sajaaku tersinggung, maka dari itu, sore itu kami pergi ke rumah Elia dan kamiberdebat panjang. Karena aku sudah tidak bisa menahan emosiku karena kata-katapedasnya yang terus menghujamku seakan aku yang salah, aku menamparnya dan kamipergi dari rumah itu secepat yang kami bisa. Aku sebenarnya mau menjelaskansemua ini padamu. Tapi, aku yakin orang licik satu ini pasti sudahmendoktrinmu. Ya sudah, tak perlu di perpanjang lagi, kita punya hidup yangharus kita selesaikan sendiri-sendiri.” Tegas Nendi.

“Ya, memang kita punya hidup sendiri-sendiri dan kitaperlu menyelesaikannya sendiri-sendiri!” Balasku kepada Nendi. Aku pun berlarisecepat yang aku bisa dengan air mata yang sudah terlanjur jatuh ke pipi ku.Aku tidak tahu apa lagi yang terjadi di sana. Yang ada dipikiranku saat inihanyalah ‘Kita sudah tidak satu jalan’.

**

Jam digital di kamarku sudah menunjukkan pukul 02:23dan aku belum bisa memenjamkan mata. Aku sedang tidak khawatir akan bangunkesiangan atau apapun itu, karena untuk 10 hari kedepan aku libur karena kelasXII sedang Ujian Akhir Sekolah. Aku bisa leluasa membantu ibu kapan pun akumau. Aku juga bisa mengerjakan tugas kapan pun aku sempat.

Satu-satu nya alasan mengapa aku belum bisa memejamkanmata adalah tentang kami. Ya, ini tentang aku, Nendi, Air, dan Elia. Aku sudahmencoba untuk melupakan sejenak kejadian tadi siang. Aku sudah berusaha untuktidak memikirkan perkataan Nendi di tangga tadi. Tetapi apalah daya, terus sajapikiranku tertuju dengan hal-hal itu. Hingga dingin yang terasa begitu menusuk,memaksaku untuk beranjak dari tempat tidur dan pergi ke kamar kecil untuk buangair. Ketika aku keluar dari kamarku, aku mendengar ada suara tangisan dariruang salat sebelah kamarku. Tanpa kusangka itu adalah suara bapak dan ibu yangsedang salat tahajjud. 

Kakiku membeku seakan tak bisa digerakkan. Aku mendengarsetiap doa yang mereka panjatkan untukku. Mereka menangis tersedu, hanya untuk memohonkanampun dan memintakan perlindungan untukku. Bahkan hingga aku sebesar ini, akutidak pernah mendoakan mereka sampai seperti itu. Ah, durhakanya aku! Inginrasanya memeluk mereka dan mengadukan keluh kesahku. Namun, tak mungkin. Merekasedang khusyu’ berdoa kepada Rabb kami. Hingga aku putuskan untuk ke toiletdengan air mata yang sudah mengalir deras dari mataku. Aku berusaha mempercepatlangkahku saat kembali ke kamar, dan yang aku pikirkan saat ini bukan lagimasalahku dengan kawan-kawan sepermainanku, tetapi tentang bapak dan ibu.

Seringkali aku membandingkan orang tuaku dengan orangtua teman-temanku. Tentang semua yang sudah orang tuaku tetapkan kepadaku.Tentang beberapa hal yang mereka wajibkan kepadaku. Kini, aku sadar, itubukanlah beban melainkan latihan. Aku berpikir, mungkin orang tua lain bisamemberikan banyak uang kepada anak-anaknya, membebaskan mereka, dan memberikanberbagai materi secara berlimpah. Namun, belum tentu di tengah kesibukan orangtua orang tua itu, mereka masih sempat mendoakan anak-anaknya di sepertigamalam terakhir seperti yang orang tuaku lakukan. Bahkan, orang tuaku sudahmemikirkan masa depanku ketika mereka membiasakanku untuk bangun pagi buta danmelakukan segala pekerjaan rumah. Semua itu mereka lakukansemata-mata karena mereka berpikir aku adalah wanita yang akan menjadi ibu. Sejauhitu orang tuaku berpikir dan aku malah membangkangnya.

****

Semenjak kejadian malam itu, aku mencoba merubahsikapku, merubah cara berpikirku, dan merubah kebiasaanku. Aku tak pernahmerasa terbebani lagi atas pekerjaan rumah yang memang ditugaskan kepadaku.Sekarang aku percaya, suatu hari nanti aku akan mengerti hikmah dari semua inidan mensyukuri apa yang telah orang tuaku ajarkan. Karena orang tua tetaplahorang tua. Mereka memberikan kasih sayangnya tidak selalu dengan kemanjaan dankenikmatan, tapi bisa dengan pelajaran yang tidak sekolah ajarkan. Karena kasihsayang orang tua bukan sekadar kasih sayang yang dapat didefinisikan denganangka dan uang.

Hari-hari di sekolahku pun kini semakin membaik.Jalinan pertemananku dengan Air dan Nendi sudah berangsur memulih, terlepasdari bagaimana perasaan mereka kepada Elia, aku tidak peduli. Aku dengan Eliapun sudah baik-baik saja. Aku juga berusaha untuk memperluas relasiku dengan siapapun.Teman dekat? Semua teman menjadi dekat saat ini. Aku meyakini bahwa kedekatandalam pertemanan bukan diukur dari seberapa sering kita bersama dan sekadarmenghabiskan waktu. Bukan juga seberapa dekat jarak rumah atau sudah berapalama kita saling mengenal. Tapi kedekatan itu terjalin ketika kita memilikivisi dan cara berpikir yang sejalan, tidak penting seberapa sering kita bermainbersama atau sekadar tertawa bersama. Karena pertemanan juga butuh loyalitasdan kepercayaan.

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.