CERPEN

Delusi di Bawah Pohon Meranggas

17 Feb 2017 | 13:55 Diperbarui : 17 Feb 2017 | 13:22 Dibaca : Komentar : Rating :

Gemerisik dedaunan pepohonan meranggas itu terdengar berisik bagiku, sekalipun terdengar seperti rintihan. Semula kututup telingaku tetapi semilir angin yang bertiup semakin lama semakin mengusik hatiku

"Tidak mungkin!! Bagaimana mungkin bersatu?! Aku terlanjur menikahinya!!" Suara dari celah pepohonan meranggas terdengar sedih

Aku mencari sumber suara. Tidak seorangpun kulihat. Hanya pepohonan meranggas dan semilir angin pagi saja. Aku melangkahkan kaki, menginjak tanah becek di pinggiran hutan. Tetes-tetes air berjatuhan dari dedaunan pepohonan meranggas di sekelilingku. Setelah hujan deras semalam ditambah matahari belum menampakkan diri seutuhnya, dingin teramat menggigit. Tubuhku menggigil. Kukancing jaket. Udara dingin membuat aku ingin membatalkan rencana mencari kayu bakar. Aku masih ingin terbuai mimpi di atas kasur kapuk di gubukku tetapi kuurungkan niatku. Kayu bakar di gubukku sudah habis bahkan di atas tungku hanya tersisa bekas pembakaran semalam saja.

"Tapi aku mohon..Hiduplah bersamaku" Kembali terdengar suara.. Aku terkesima. Rintihan pilu. Suara penuh kerinduan. Aku menggeleng-gelengkan kepala. Setelah jauh mencari, aku tidak menemukan sumber suara. Kugigit bibir. Aku menundukkan kepala.

Suara gemerisik dedaunan pepohonan meranggas kembali terdengar. Saat itulah baru kusadari suara rintih penuh kerinduan itu dari dasar hatiku sendiri. Berasal dari rintih pilu kekasihku tiga hari yang lalu.

"Bagaimana kita bisa bersatu? Aku takut!!" Keluhku tiga hari yang lalu.

"Ikutlah bersamaku"

Mungkin karena aku merasa kepedihan yang sama, kata yang diucapkannya terdengar bernada lirih. Kata yang membuat hatiku terasa sakit, selalu terngiang-ngiang di hatiku

Sepotong kayu bakarpun belum kudapat. Ranting-ranting pepohonan meranggas terlalu basah hingga tak satupun dari reranting pepohonan meranggas itu patah. Aku mencari tanah yang sekiranya kering agar aku tidak kebasahan saat aku duduk, tetapi aku hanya menemukan tanah-tanah becek saja. Aku mengurungkan niatku mencari kayu bakar. Sekalipun tanah-tanah masih becek, aku tetap duduk juga di tanah becek beralas kain sarung.

Di bawah pepohonan meranggas aku menangis. Menyesal atas kebodohanku. Demi lelaki tampan dari desa sebelah aku meninggalkan kekasihku. Kebetulan pula saat itu aku dan kekasihku sedang bertengkar hebat. Manis bujuk rayu laki-laki yang sekarang menjadi suamiku begitu memukau hati. Aku terlena. Pada saat itu pula kekasihku pergi ke kota, meninggalkan diriku dalam keadaan marah. Setelah menikah baru aku sadari siapa suamiku yang sebenarnya. Lelaki pemabuk dan terlalu ringan tangan. Bahkan ketika aku hamil entah sudah berapakali tangannya mendarat di pipi dan tubuhku

Kekasihku pulang ke desa tiga hari yang lalu. Menemui aku di tepi hutan ini. Airmataku menetes lagi. Kusentuh dedaunan basah yang berserakan di sekelilingku

"Bagaimana aku meninggalkannya? Benihnya sudah tertanam di rahimku. Lagipula dia lelaki berangasan. Aku takut kamu diapa-apakannya"

Saat itu kekasihku hanya diam. Kepalanya tertunduk dalam. Pelan kekasihku melangkahkan kaki. Sebelum pergi jauh kekasihku membalikkan badan, menatapi diriku sedemikian rupa.

"Hiduplah bersamanya sampai kamu melahirkan. Setelah itu aku akan  menjemput kamu. Di sini, di tempat pertama-kali aku menyatakan cinta pada kamu"

Tiupan angin pagi membuai diriku. Aku terlena dalam mimpi. Mimpi sepasang tangan yang terjulur ke arahku. Tangan kekasihku.

Silau matahari menyadarkan diriku. Kukucek-kucek mataku pelan. Kurasakan punggungku basah. Aku terkesima saat aku ingin beranjak. Pohon tempat kutumpangkan punggungku ternyata pohon tempat aku dan kekasihku memadu kasih waktu dulu. Masih jelas terlihat sayatan pisau kekasihku tertera di kulit pohon

Terpahat namaku dan nama kekasihku. Masih terlihat jelas pahatannya.

Kembali kukucek-kucek mataku. Kutatapi sekitar. Rupanya matahari mulai tinggi. Perlahan aku berdiri lalu beranjak dari tempat itu. Melangkah meniggalkan gemerlap impianku barusan.

Malang, 11 Oktober 2016.

juliana tondang

/tondang

Aku perempuan tak elok. penghalang binar matamu, tetapi aku tak sudi kau olok. Semoga kau tahu!!
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.