HIGHLIGHT CERPEN

Puisi| Pertemuan

17 Feb 2017 | 09:21 Diperbarui : 25 Feb 2017 | 12:04 Dibaca : Komentar : Nilai :
dok. petaniadv.com


Dan pertemuan itu terjadi lagi, di sini. Di tempat yang sama. Dengan seorang wanita yang sama: pipi menggembung, bibir bak lukisan simetris dilukis naturalis dan rambut panjang kucir kuda. Bedanya tak kuselipkan kembang liar di telinganya.  

“Aku pengin naik gunung itu lagi ....”

“Masih kuat, Ta?”

“Kalau berdua denganmu.”

“Aaah ...”

“Pabila aku tak kuat, kaubisa menggandengku.”

“Ndak sebaliknya?”

Aku tersenyum. Kakinya kusenggol dengan jempolku yang selalu telanjang. Tak pernah bersepatu. Ah, bukankah ini seperti dulu-dulu? Sepatu gunung.  Saat kami berdua ke sana, tak jauh dari pandangan mata kami.

Rangagem sepatu, to?”

Ia tersenyum. Pipi gembungnya memerah.

“Mbuh yo. Aku ndak sengaja, tadi baru turun dari mobil ...ke sini dan kenapa bisa ketemu awakmu di sini, Ta.”

“Kita berjodoh.”

Ia menggeleng.

“Ya, jodoh untuk kita bertemu di sini. Titi sebagai peserta loka karya, aku ....”

“Ya, ya. Kamu wartawan ibukota. Seperti cita-citamu. Dan meninggalkanku di sini. Di daerah.”

Aku tak langsung menjawab. Lalu aku menawarkan untuk minum meneguk bersama teh hangat di daerah pegunungan yang sejuk hawanya. Sama seperti dulu aku dan Titi merambah gunung tak besar di hadapan kami sekarang dari sebuah resto alam.

“Kamu masih seperti yang dulu ....”

“Kayak lagu lama saja kau hafal bener.”

Aku tertawa.

“Itu bukan lagu kita, kan?”

Ia menggeleng dan tak bersedia menatap ke arahku. Pura-pura menyeruput teh di cangkir kembang merah indah, meski bukan mawar. Dan pipinya kian memerah. Entah karena pertanyaanku atau karena teh. Mungkin keduanya.

“Awakmu sukses, yo. Jenengmu ....”

“Halaaaaah!”

“Lho, aku ngikuti, kok.”

Aku menelan ludah. Sebagai pelarian, aku tertohok. Apa yang dikatakan Titi benar adanya. Dari seorang wanita yang tak pernah bohong selama kuliah bersama dan kerap duduk berdua. Terutama setelah ia bermain bola voli dan menjadi pusat perhatian semua mahasiswa di kampus kami tak jauh dari pusat kota.

“Sssst. Ta, duduk sini, sama aku...”

“Kenapa?”

“Yo, mambu, to. Bar voli ndak mandi langsung kuliah. Mana ndak mbawa pewangi kelek.”

Kerap aku bingung. Aku mau saja. Juga Titi mau saja. Ketika aku main voli, dan ia bersedia bergabung. Dan tak ada yang keberatan meski ia wanita dalam latihan atau sekadar mengisi waktu sebelum kuliah malam hari. Ia menjadi pengumpan bola yang baik. Ia memang pemain tingkat provinsi dalam sebuah Klub terkenal.

Aku tak ksatria, bisikku. Aku meninggalkan kota tak jauh dari pegunungan ini ke ibukota untuk mengejar hasratku menjadi kuli tinta.

“Coba tulisanku yang mana yang kaubaca?”

Rasah. Terlalu hafal aku akan kata-kata dan kalimatmu.”

“O.”

“Meski awakmu saat menulis olahraga ....”

“Event nasional bola voli....”

“Nyebut pemain tinggi putih, pipi menggembung, rambut panjang dikepang ....”

Aku menarik kepala menyandarkan punggung, dan secara otomatis kakiku bergerak terangkat dan sempat menyentuh betisnya.

“Itu ....Titi.”

Mbuh!” ia melengos.

“Bener.”

“Kenapa mesti ...ah!”

“Karena kamu memang seperti itu. Dan aku seperti menemukanmu pada dia, pemain dari Klub ....”

Titi menggigit bibir bawahnya. Matanya ke depan ke arahku tapi tak menajam ke bola mataku. Seperti tadi, seperti sebelumnya.

“Minta teh pocinya lagi, Mbak ....” kataku saat melintas seorang wanita berparas Jawa dan berpakaian amat khas rok terusan batik bermotif Parangrusak.

“Ya, Mas. Satu ....”

“Titi juga satu ....”

“Mbak Titi ...?” ia menoleh ke arah Titi.

Titi tersenyum. Menggeleng.

“Cukup, Dik Prapti ...Mas Ta kemawon, nggih.”

Aku mengernyitkan kening.

“Ti kenal?” tanyaku ketika Prapti wanita ayu itu berlalu.

“Kalau di sini, aku cukup terkenal.”

Aku tendang betisnya.

Titi melotot ke arahku dengan mimik lucu.

“Kamu sering ke sini, ya?”

Ia memejamkan mata. Tak menjawab tak menatapku. Beberala lama. Membuatku bisa melihat pipinya yang gembung itu.

“Hayo ....ngaku. Jangan suka bohong seperti Presiden kita yang lalu.”

Ia balas menendang kakiku. Untung itu adegan di bawah meja dari sebuah resto di daerah pegunungan di depan mata kami. Tak ada yang melihat.

“Aku ke sini, sering untuk melepas penat.”

“Cuma itu?”

“Juga melihat gunung di depan. Di mana seorang Sonata mengusulkan nama pencinta alam kampus kita pertama mendaki ....”

Cleguk!

“Namanya ...ya, khas kosa katamu, to Ta?”

Aku manggut-manggut.

“Cuma itu?”

Titi menggeleng.

“Aku edan karena awakmu, Ta. Mbakyuku sampai ndak percaya. Titi malam-malam mendaki gunung, dan memakai sepatu gunung pada hari-hari berikutnya ke kampus.”

Aku membekap mulutku sendiri. Membenarkan kata-kata Titi sekaligus tak bisa untuk mengkanter.

“Malah, malam itu seorang gadis berambut panjang meminta seorang laki-laki membelakangi untuk aku melepas baju ingin mandi kecil di sebuah aliran sungai jernih....”

Aku masih diam. Masih tak bisa menjawab.

“Ternyata ia lelaki yang tidak memanfaatkan, menurutiku dan tak menoleh ke belakang.”

Aku menyisir rambutku dengan jari-jemariku. Menahan nafas yang naik-turun. 

“Yang kedua, setelah menjelang esok hingga di sekitar sini, ia memintaku untuk berhenti sebentar. Dan segera berjalan ke kiri, ‘Ojo nengok-nengok’. Aku pun menuruti. Termasuk ketika diminta memejamkan mata. Aku berasa aneh. Tapi kuturuti. Hingga ada harum bunga entah yang menyelip di telinga kiriku. Belum aku membuka mata karena kebingungan, sebuah kecupan di kembang itu. Ya, di kembang itu. Meski ...aku ingin ada ciuman di pipiku.”

Aku menggigit bibirku sendiri. Memejamkan mata. Membiarkan angin gunung menerpa lembut. Dan membiarkan ia menepuk-nepuk bahuku. Lalu turun dan menarik tanganku sampai kemudian jari-jemariku didekatkan ke dirinya yang beralih ke kursi kayu sisi kananku.

“Jari-jari ini, seperti kemarin saja ...memetikkan bunga liar entah dan diselipkan di telingaku.”

Ia berdiri, dan berjalan menuju kantor resto bergandeng kasir. Lalu ....ah!

“Banyak bunga seperti ini di daerah sini kalau pagi, persis seperti bunga dulu ...” sebutnya ketika berbalik dan berdiri di depanku.

Aku menelan ludah lebih banyak. Meski sudah berulangkali kulakukan ketika Titi menggedorku dalam pertemuan tak terduga ini.

“Aku sama teman-teman peserta lain, kumpul dulu.”

Aku melihat dua orang melambai-lambai ke arah kami.

“Nanti potret aku yang cantik, ya Ta?”

Aku menatapnya.

“Ndak usah dituliskan di media terkenalmu ....”

Aku mengangguk. Kalau  puisi? Ah, aku tak yakin. Karena aku masih saja duduk di kursi kayu jati cokelat tua. Hanya pandanganku ke arah sana, sebuah gundukan raksasa. Sebuah gunung yang masih tegak seperti yang dulu: Telomoyo.

***

Angkasapuri, 17 Februari 17

Keterangan (Bahasa Jawa):

Ra ngagem                          : tak memakai

Mbuh yo                              : tak tahu

Jenengmu                           : namamu

Mambu                               : berbau

Kelek                                  : ketek

Ta Kemawon, nggih            : dia saja, ya

Ojo nengok-nengok            : jangan menengok

Thamrin Sonata

/thamrin-sonata

TERVERIFIKASI

Freelance writer
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.