NOVEL

Serial : Andaru Wijaya [47]

21 Apr 2017 | 11:56 Diperbarui : 06 May 2017 | 08:24 Dibaca : Komentar : Nilai :
aw-58f98f396e7e61a20a134e8d.jpg

Seri 46 / Sebelumnya

Seri : 48 / Selanjutnya

Seri 1 / Awal

Cahaya Mentari kembali bersinar cerah pagi itu. Dirumah Nyi Widati ibu dari Kuntara, tampak wanita paruh baya itu duduk termenung di pendapa. Nyi Widati memang bisa dibilang awet muda, diusia yang sudah tidak muda lagi,wajahnya masih tampak segar. Tidak heran jika sepeninggal suaminya ia sempat menikah dua kali. Walaupun kedua laki-laki yang pernah menikahinya tidak lain hanya mengharapkan harta kekayaan warisan suaminya saja.

Dari pintu regol terlihat lelaki berpakaian rapi, dengan baju beskap dan blangkon berjalan menuju pendapa. Sesekali, lelaki yang usianya sepuluh tahun lebih tua dari Nyi Widati itu, menghisap dalam tembakau cangklongnya.

“Oh Suradilaga sudah datang rupanya,” desis Nyi Widati.

Lelaki tua yang berpakaian rapi itu ternyata Ki Suradilaga, seorang bangsawan dari Bligo. Orang yang selama ini bekerjasama merawat lembu Nyi Widati, yang dalam keadaan terakhir mengalami kerugian.

“Permisi Nyi Widati!” sapa Ki Suradilaga.

“Selamat datang Ki Suradilaga!” sahut Nyi Widati.

Setelah dipersilahkan duduk dan disuguhkan minuman, Ki Suradilaga berkata, “ada apa sebenarnya Nyi? Nyi Widati memerlukan aku berkunjung kesini,” kata Ki Suradilaga sambil memandang Nyi Widati tak berkedip.

Nyi Widati sengaja melemparkan pandangannya ke halaman pendapa, karena tingkah Suradilaga yang kurang berkenan itu. “Ki Suradilaga!” kata Nyi Widati kemudian. “Aku mengundangmu kesini untuk membicarakan lembu yang aku titipkan padamu, aku ingin mengambil sisanya.”

“Kenapa Nyi? Apakah itu artinya Nyi Widati memutuskan kerjasama yang selama ini terjalin?”

“Bukan begitu maksudku,” kata Nyi Widati. “Aku memerlukannya untuk menebus anak Ki Demang Sorenggana yang ditawan.”

“Apa untungnya bagi Nyi Widati? Membebaskan orang yang tidak ada hubungan keluarga dengan Nyi Widati!”

Nyi Widati menarik napas panjang, “Kuntara mencintai anak gadis demang itu! Aku tak ingin ia kecewa.”

Ki Suradilaga mengangguk-angguk, “baiklah, lembumu yang tersisa dua ekor itu, akan aku antar kesini esok pagi.”

“Lima ekor Ki!” potong Nyi Widati dengan cepat.

Ki Suradilaga agak terkejut, “apa maksudmu menyebut lima ekor Nyi?”

“Ya, yang tiga ekor aku akan berhutang kepadamu!” sahut Nyi Widati.

Ki Suradilaga lalu menyalakan cerutunya, sambil seolah berpikir. Matanya menatap langit-langit pendapa, sambil menghisap dalam tembakau cangklongnya.

“Begini Nyi! Bukan maksudmu tidak mau meminjamkan hutang berupa lembu kepadamu. Tetapi kau pun tahu, bahwa aku adalah seorang Blantik! Aku membutuhkan modal yang tidak sedikit untuk menjalankan usahaku. Oleh sebab itu, aku membutuhkan pertukaran uang yang cepat dalam hal jual beli!” Ki Suradilaga berhenti bicara sejenak.

“Lalu apakah Nyi Widati bisa mengganti hutang itu dengan cepat?” katanya lagi.

Nyi Widati menarik napas panjang, betapa rumit hal yang harus ia hadapi. “Aku akan menggantinya dengan hasil kebunku Ki Suradilaga!”

“Aku mengerti Nyi. Tetapi itu membutuhkan 2 sampai 3 tahun, untuk mendapatkan harga senilai dengan 3 ekor lembu itu.”

Nyi Widati terdiam. Ia seperti mengalami jalan buntu untuk mendapatkan sisa tebusan yang harus disediakan. Wajahnya mendadak menjadi muram.

Ki Suradilaga yang menyaksikan itu, mencoba mencari jalan keluar lain. “Nyi Widati!” katanya sareh. “Aku berusaha mencari jalan terbaik. Bagaimana kalau 3 ekor lembu itu, di tukar dengan sawah ladang milikmu?”

Nyi Widati terkejut, kemudian katanya, “tidak Ki Suradilaga! Sawah ladang peninggalan suamiku adalah masa depan Kuntara. Aku tidak akan menjualnya walau barang sejengkal!”

Merasa tidak menemui titik temu, Suradilaga pun akhirnya enggan melanjutkan pembicaraan. “Sudahlah Nyi, aku permisi! Aku rasa, aku tidak bisa membantumu dalam hal kesulitanmu kali ini. Lembumu yang dua ekor itu, akan aku antarkan esok!” ujar Ki Suradilaga kesal, lalu bangkit dari tempat duduknya.

“Tunggu!” sahut Nyi Widati, sambil menarik lengan Ki Suradilaga yang akan berdiri. Ki Suradilaga yang mendapat sentuhan tangan Nyi Widati berdesir hatinya. Dipandanginya jemari halus yang menarik lengannya itu, tatapannya terus menyambar dari lengan sampai wajah Nyi Widati.

Nyi Widati yang sesaat kemudian tersadar bahwa dirinya diperhatikan, menarik lengannya. Ki Suradilaga pun urung bangkit dari duduknya, sambil tersenyum dia berkata, “Ada apa lagi Nyi? Aku sudah mencarikan jalan yang terbaik, tetapi kau menolaknya juga!”

Nyi Widati yang tampak cemas karena takut tidak bisa menyediakan tebusan itu, berusaha meyakinkan Ki Suradilaga. “Jangan dengan sawah dan ladang itu jaminannya Ki! Bagaimana kalau dengan rumah ini saja?”

“Rumahmu ini tidak menghasilkan apa-apa, ketimbang sawah dan pategalan milikmu! Rumah ini memang cukup besar tetapi sudah terhitung bangunan yang tua, karena sepeninggal suamimu kau tak merawatnya dengan baik.”

“Tolonglah Ki!” kata Nyi Widati yang tampak mulai putus asa.

Mata liar Ki Suradilaga kembali mengamati gerak-gerik Nyi Widati. Terselip juga niat buruk di dalam hatinya.

“Baik Nyi Widati! Aku terima rumah ini sebagai jaminan, tetapi dengan satu syarat!”

“Apa itu Ki?” sahut Nyi Widati dengan cepat.

Lelaki tua itu menghisap dalam tembakau cangklongnya, sambil memicingkan matanya ia menjawab, “jika dalam satu pekan setelah pertukaran itu kau tidak bisa mengembalikan hutang yang kau pinjam. Rumah ini akan aku sita bersama satu orang penghuninya!”

Nyi Widati lagi-lagi terkejut, “apa maksudmu dengan satu orang penghuninya?”

Lagi-lagi mata liar Suradilaga memandang tubuh padat Nyi Widati. “Kau Nyi..! kaulah yang aku maksud,  kau harus mau menikah denganku!”

Bagai petir ditengah hari Nyi Widati wajahnya memerah, ternyata dibalik bantuan itu, Ki Suradilaga mengharapkan pamrih yang berlebihan.

“Kau menyinggung harga diriku Suradilaga! Berkacalah pada dirimu, kau sudah memiliki beberapa istri.”

Ki Suradilaga telinganya panas mendengar perkataan Nyi Widati, “apa bedanya dengan dirimu? Kau pun sudah beberapa kali menikah!”

“Sekarang terserah kepadamu, aku tidak akan memaksamu! Lihatlah pategalan milikmu, sepeninggal suamimu tidak lagi membuahkan hasil yang memuaskan. Kau butuh seorang lelaki yang dapat mengurusnya,” ujar Ki Suradilaga yang hampir hilang kesabaran.

Nyi Widati menundukkan kepala. Ia tidak sampai hati membuat Kuntara kecewa, jika ia tidak mampu menyediakan tebusan itu.

Akhirnya dengan berat hati ia berkata, “baiklah Ki Suradilaga aku sepakat! Jika dalam satu pekan hutang itu belum aku bayar kepadamu, aku turuti permintaanmu.”

Ki Suradilaga berdesir hatinya, mendengar Nyi Widati menyanggupi syarat hutang-piutang itu. Mendadak matanya kembali memandang Nyi Widati yang tertunduk dan berkaca-kaca.

“Jadi kau mau menikah denganku?” tanya Suradilaga memastikan. Matanya bagaikan singa lapar yang siap melahap tiap jengkal tubuh Nyi Widati. Nyi Widati sendiri tidak menjawab, hanya air matanya saja yang meleleh dipipinya.

“Baiklah! Besok aku akan mengirim orang untuk mengantarkan 5 ekor lembu. Sekarang aku permisi pulang,” kata Suradilaga sambil bangkit dari duduknya.

Setelah melintas tlundak pendapa, wajahnya sumringah dan tersenyum-senyum.

“Aku mendapatkan dua sekaligus!” ia bergumam. Aku dapat hartanya, sekaligus pemiliknya.”

Ia mengangguk-angguk, sambil terus berjalan menuju regol. Ketika diregol ia sempat berpapasan dengan Kuntara anak Nyi Widati. Walaupun beradu pandang tetapi tak sepatah kata pun keluar dari mulut mereka berdua. Ki Suradilaga pun akhirnya terus berjalan keluar regol.

Kuntara yang selama ini tidak senang dengan polah Ki Suradilaga hanya menggerutu saja, “mau apa tua bangka itu kerumahku?”

tri prabowo

/tawangi

Engineer PLC, lagi belajar nulis, Hobi Cersil, sejarah.
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.