NOVEL

Serial: Andaru Wijaya [46]

18 Apr 2017 | 13:09 Diperbarui : 21 Apr 2017 | 13:08 Dibaca : Komentar : Nilai :
Dok.pribadi

Seri 45 / Sebelumnya

Seri 47 / Selanjutnya

Seri 1 / Awal

Sementara itu di kademangan. Ludra yang baru datang, diserbu pertanyaan oleh beberapa bebahu dan pemudakademangan.

“Darimana saja kau Ludra!” tanya Danuarta dengan nada tinggi.

“Sabar Danuarta, biarlah dia mengatur napasnya dulu sebelum bercerita,” ujar Ki Demang dengan sareh.

Danuarta pun menuruti perkataan pamannya itu, padahal rasa penasaran sudah tak tertahankan lagi denganmenghilangnya Ludra, berbarengan dengan ditawannya Gendis dan Andaru Wijaya.

“Mohon maaf sebelumnya pada semua yang hadir disini, karena aku telah membuat kalian khawatir.”

“Aku sengaja mengikuti rombongan perampok yang menawan Gendis dan Wijaya. Bagaimana pun juga baik Gendisatau pun Wijaya adalah sahabatku.”

Ki Demang yang terkejut mendengar nama anaknya disebut, berkata, “bagaimana nasib Gendis anakku?”

“Gendis ditawan disarang gerombolan itu, Ki Demang. Tetapi mudah-mudahan tidak terjadi apa-apa dengannya, sampai kita mampu membebaskannya.”

Ki Jagabaya ikut berbicara, “Bagaimana dengan Wijaya?”

Ludra pun teringat pesan Wijaya untuk merahasiakan keberadaannya. “Wijaya dilempar ke jurang sungai Praga, akutidak tahu nasib selanjutnya. Karena aku tidak berani bertindak menghadapi kawanan perampok yang bengis itu. Aku hanya mengendap-endap mengikuti iring-iringan perampok itu, sampai tepi jurang dimana Andaru Wijayadilemparkan.”

Semua menegang dan membisu mendengar cerita yang dibeberkan Ludra. Ki Demang Sorenggana pun terlihatgelisah.

“Kasihan pemuda itu, ia mengorbankan dirinya demi anakku,” desah Ki Demang.

Ki Jagabaya, Ki Bekel dan Ki Baruna pun merasa prihatin atas kabar itu. Andaru Wijaya yang selama ini telah akrabdengan penduduk Kembojan karena usahanya sebagai pengrajin gerabah itu, kini ditimpa kemalangan.

Tetapi kemudian Ki Jagabaya mengangguk-angguk dan berkata, “mudah-mudahan Wijaya diberi keselamatan.”

Saat suasana pendapa itu membeku, terlihat seorang pengawal kademangan berlari tergopoh-gopoh ke pendapa.

“Ada apa Mantingan?” tanya Danuarta.

“Ada yang melepaskan anak panah ke gardu penjagaan!” jawab Mantingan.

“Apakah ada yang terluka? Dan siapa orang itu!” kata Danuarta lalu bangkit dari duduknya.

“Tidak ada yang terluka, anak panah itu menancap di tiang Gardu, dan terdapat sebuah rontal,” ujar Mantingansambil menyodorkan sebuah rontal kepada Danuarta.

Danuarta menyerahkan rontal itu kepada Ki Jagabaya. Ki Jagabaya lalu membacanya, dan dari raut wajahnyaterpancar kecemasan.

“Apa isi rontal itu Ki Jagabaya?” kata Ki Demang tak sabar.

“Saat purnama naik beberapa hari lagi, kita harus segera menyerahkan tebusan itu!”

“Dan acara penyerahan itu, sedianya akan dilakukan di bulak panjang!” berkata Ki Jagabaya.

Ki Demang menundukkan kepala dalam-dalam, seperti berputus asa mendengar isi lontar yang dibacakan Ki Jagabaya.

Ki Bekel yang ikut merasakan kesulitan Ki Demang berkata, “apakah Ki Demang sudah mempunyai 10 ekor lembu yang dipersyaratkan itu?”

“Belum Ki Bekel, aku hanya mempunyai 5 ekor lembu saja,” jawab Ki Demang.

“Apakah kita perlu menukar sisanya dengan persediaan lumbung padi kademangan?” kata Ki Bekel.

“Tidak perlu Ki Bekel! Itu adalah milik rakyat kademangan, yang dibutuhkan disaat-saat mendesak. Aku tidak maumencampur adukkan kepentingan pribadiku dengan kepentingan rakyatku.”

Semuanya terdiam, seperti berpikir mencari jalan keluar yang terbaik, tanpa merendahkan harga diri Ki Demang.

Kuntara yang sedari tadi terdiam mencoba mengutarakan pendapat, “mohon maaf Ki Demang, seandainya akuboleh berbicara.”

“Silahkan Kuntara, apa yang ingin kau sampaikan,” tanya Ki Demang.

“Kalau Ki Demang tidak keberatan, aku bersedia menyediakan 5 ekor lembu sisanya.”

Ki Demang menarik napas panjang. Katanya, “aku sangat berterimakasih atas niat baikmu Kuntara. Tetapi ini bukanbeban yang dibebankan kepadamu. Aku tidak ingin menyusahkan ibumu dengan perkara ini.”

“Tidak Ki Demang!” sahut Kuntara. “Aku sudah membicarakan pada ibuku dan dia tidak berkeberatan.”

“Tetapi aku akan menjadi berhutang budi padamu.”

“Kalau Ki Demang tidak mapan dengan bantuan yang aku ajukan, Ki Demang dapat mengembalikan bantuan itusuatu saat,” ujar Kuntara.

Ki Demang termenung sesaat, ia menimbang-nimbang usulan Kuntara untuk membantunya. Akhirnya dengan berathati ia pun mengambil keputusan.

“Baiklah Kuntara! Aku terima bantuan itu. Semoga aku cepat dapat mengembalikannya.”

“Ah tidak perlu seperti itu, yang terpenting Retnagendis selamat terlebih dulu. Setelah itu baru kita pikirkanpengembaliannya.”

Ki Demang dan semua yang hadir mengangguk-angguk. Seolah merasa lega atas kesepakatan yang dicapai antara Ki Demang dan Kuntara.

Dalam pada itu di gubuk tempat Wijaya bermalam. Diam-diam Sadewa datang dan berbincang dengan Wijaya.

“Silahkan Sadewa! Kau mengejutkanku,” ujar Wijaya, sambil membuka lebar pintu gubuknya.

Mereka berdua pun duduk di amben bambu yang ada di dalam bilik.

“Kedatanganku kesini adalah untuk meningkatkan ilmumu, kalau kau tidak keberatan. Karena aku telahmenyeretmu ke dalam tugas negara, maka aku merasa perlu menambahkan ilmuku yang tak seberapa ini.”

“Ah jangan begitu Sadewa! Aku sangat berterimakasih atas niat baikmu. Aku juga belum seberapa bila dibandingkandenganmu, meskipun aku belum melihat secara langsung caramu berkelahi, tetapi saat kau pernah melumpuhkanlawanku dengan menotok bagian tubuhnya, itu cukup membuktikan.”

“Baiklah jangan menunda lagi! Nanti saat purnama naik, aku dengar pertukaran tebusan itu akan dilaksanakan di bulak panjang.”

Keduanya lalu menuju halaman gubuk itu. Tidak menunggu lama, Sadewa langsung mengeluarkan jurus-jurusnya. Andaru Wijaya pun tak ketinggalan ia mengeluarkan segenap kemampuannya, tenaga dalamnya yang hampir mapanmembuat gerakannya lincah.

Sadewa sendiri seperti tak menjejak bumi, gerakannya cepat dan membadai. Andaru Wijaya berkali-kali surutkebelakang, tetapi beberapa saat ia dapat membendung serangan itu dan tak bergeser dari tempatnya berpijak.

Jika diperhatikan dengan seksama, Sadewa berada diatas tingkatan Andaru Wijaya, walau tidak terlampau jauh. Terlihat satu dua kali Andaru Wijaya bersusah payah mempertahankan diri dari gempuran Sadewa.

Ketika ayam jantan mulai berkokok, akhirnya latihan itu disudahi. Keduanya tampak mengatur pernapasan setelahtenaga mereka terkuras.

“Hari ini cukup Wijaya! Malam-malam berikutnya sebelum purnama aku akan datang!”

“Terimakasih Sadewa! Aku akan menunggu!”

Sadewa langsung menuruni bukit kecil itu dan hilang dibalik kabut pagi. Wijaya sendiri tampak beristirahat sejenaksambil mengingat-ingat jurus yang diperagakan Sadewa.


 

tri prabowo

/tawangi

Engineer PLC, lagi belajar nulis, Hobi Cersil, sejarah.
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.