HIGHLIGHT PUISI

Bisikan Hujan

11 Apr 2017 | 22:30 Diperbarui : 11 Apr 2017 | 23:19 Dibaca : Komentar : Nilai :


Ketika malam rindui embun

Dibawah naungan kalla

Berteman se-rasi bintang

Dalam gugusan yang semakin terpendar

Kadang, tangis itu tersimpan senyum

Dan kadang, senyum itu tersimpan tangis

Lalu, biarlah tangis menjadi saksi indahnya senyum

Dan senyum menjadi saksi kepiluan tangis

  

Rembulan, hujan dan mentari tiba-tiba timbul

Dengan satu asa menuju rindu

Berbisik tanpa mengusik

Mengusik tanpa menyelidik

Biarkan hati kita menuju kandungan yang satu

Tanpa sekat, tanpa tercekat

Hingga ke tempat terindah

Bernama surga

Jangan jadikan pekat menjadi penat

Penat menjadi karat, Biarkan kita terikat





Penat menjadi karat. Biarkan kita selalu terikatan sinarnya,

Hingga bias sinar mentari.

Meski ia tak pernah tahu

Di senja mana akan bersua


Mungkin, kalla sedang berdiskusi di ujung nafas

Membuat aku, kamu, menjadi satu

Lalu,

Rembulan, hujan dan mentari tiba-tiba timbul

DenRembulan, hujan dan mentari tiba-tiba timbul

Dengan satu asa menuju rindu

Berbisik tanpa mengusik

Mengusik tanpa menyelidik

Biarkan hati kita menuju kandungan yang satu

Tanpa sekat, tanpa tercekat

Hingga ke tempat terindah

Bernama surga


Jangan jadikan pekat menjadi penat,

Penat menjadi karat. Biarkan kita selalu terikatgan satu asa menuju rindu

Berbisik tanpa mengusik

Bisikan hujanMengusik tanpa menyelidik

Biarkan hati kita menuju kandungan yang satu

Tanpa sekat, tanpa tercekat

Hingga ke tempat terindah

Bernama surga


Jangan jadikan pekat menjadi penat,

Penat menjadi karat. Biarkan kita selalu terikat

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.