PUISI

Nama Saya Abdurrahman

21 Mar 2017 | 09:34 Diperbarui : 21 Mar 2017 | 10:03 Dibaca : Komentar : Nilai :

Ibu lupa mencatat hari, bulan, tanggal dan tahun.
tapi yang jelas katanya: Aku dilahirkan tepat saat
Abdurrahman berdiri mengenakan kaus oblong,
celana (kolor) dan melambai-lambaikan tangan
di beranda istana negara itu.

Kata ibu, waktu itu aku menangis sejadi-jadinya
sementara orang-orang di sekitarku tersenyum bahagia.

Ibu juga heran ketika melahirkanku,
katanya melahirkanku tidaklah repot
seperti ibu dilahirkan atau melahirkan yang lain

Sebelum jarum jam meleset dari angka dua belas,
ibu lekas memberiku nama, dengan nama Abdurrahman
agar namaku terselip dan abadi dalam sejarah.

Nama saya Abdurrahman
saya sekarang berumur enam belas tahun,
dan sesuatau telah memisahkanku darinya (ibu).

Menanyaka kabar adalah awal dari setiapkali ibu mengirim pesan
atau menghubungiku, meski kadang ibu juga sering membagi keluhnya padaku:
“Nak, ibu repot tanpamu”


(2017)


Tajullail Dasuqi M

/tajullail

TERVERIFIKASI

Tajullail anak kelima dari tujuh bersaudara dari pasangan Dasuqi Muhammad dengan Siti Khusna, ia dilahirkan di Sampang pada 07 Maret 1992. Ia adalah alumnus PP. Raudlatul ‘Ulum Arrahmaniyah (RUA) Pramian Sreseh Sampang. Karyanya banyak diterbitkan dalam antologi puisi, antara lain: Embun Nikmat (Aquarium & Delusi 1000 Penyair Terpilih Nusantara), Ibu dan Hari Pernikahanku (Kumpulan Puisi dan Quote Kehidupan), Bulan Juni di Pagi Hari (Parade Puisi), Sajak Bulan Januarai (Revolusi Pena Khatulistiwa), Senjaku Bernyanyi (Kumpulan Puisi Ibu) dll. Saat ini masih aktif dalam dunia penulisan. Sedang menyusun naskah sehimpun puisi.
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.