CERPEN

Kejahatan Terindah Dalam Hidupku

26 Mar 2016 | 21:59 Diperbarui : 09 Nov 2016 | 14:43 Dibaca : Komentar : Nilai :

sumber gambar pixabay.com

Sulit untuk dilupakan, tetapi lebih sulit untuk melupakanmu. Cerita ini mungkin tak akan pernah kulupakan. JIka kuingat waktu SMA dulu, aku ingin seisi alam ini memaklumi kesalahanku. Kelas XI IPA yang berada di sebelah utara perpustakaan menjadi perantara perkenalan kita. Sejak saat itulah cerita kita dimulai.

"Kamu cantik sekali, aku suka."

Terang-terangan saja aku mengatakan itu di depan teman-teman. Mereka yang belum mengenalku kaget, bahkan ada yang berlagak menantang, mungkin merasa kalah jantan. Aku senang. Begitu seharusnya sebagai lelaki, pikirku waktu itu. Aku sudah jadi pemenang diantara mereka, walau mungkin aku bukan yang paling tampan.

Ternyata memang bukan hanya aku yang menilaimu paling cantik. Teman sekelas, bahkan cowok satu sekolahan menyukaimu. Aku pun tak henti mencari ide untuk melakukan sesuatu yang istimewa, agar aku menjadi yang istimewa bagimu, atau paling tidak engkau merasa diistimewakan olehku. Sebagai anak muda, waktu itu, aku merasa yakin sekali, aku bisa.

Di kelas aku selalu berebut bangku di dekatmu. Teman-teman kita tahu itu, pun juga kau. Dan kau tahu tidak ada yang bisa mendahuluiku kan. Aku selalu duduk di sampingmu atau di depanmu. Setiap bel istirahat berdering aku pasti mengikutimu. Kau selalu ke perpustakaan dan aku pun jadi terbiasa masuk gedung yang kau sebut gudang ilmu itu. Kau cantik dan pintar. Kau sungguh luar biasa.

"Nia, aku suka sama kamu."

Tulisan itu kutulis di sampul bukuku dan selalu kusempatkan memanggilmu dan menunjukkanya setiap kita baru duduk atau hendak bel istirahat atau bel pulang. Kau tampak tak suka. Tetapi aku tidak menyerah. Kau tahu aku angkuh. Tidak akan kuberi kesempatan yang lain mendekatimu. Teman-teman mengejekku. Mereka menilaiku telah gagal karena hingga kita naik kelas XII kau belum juga kudapatkan. Mereka melihatku bagai pengemis yang tak tahu malu. "Ngaca donk, biar tidak kecewa," komentar beberapa teman. Dan kau tahu itu. Kau diam saja. Mungkin kau kira aku akan menyerah, tapi tidak.

Tiga bulan kita di kelas XII, saat ujian mid semester, aku benar-benar tidak bisa menahan perasaanku. Aku tidak bisa lagi membiarkan cinta tergantung, dan saat bel pulang, waktu guru penjaga keluar, seakan dunia gelap dan hanya dirimu yang terlihat. Aku berdiri di pintu mencegatmu, sambil kutekukkan lutut, "Aku sangat mencintaimu, Nia. Tegakah kau membiarkanku terus begini...?!" Aku mendengar beberapa teman bersorak, tapi setengah sadar kudengar. Aku terus membujukmu hingga tak sadar kucium kakimu.

Sore itu aku sedang duduk di sebelah rumah sambil menggendong kucingku. Seakan dunia tak henti berguncang. Vina teman dekatmu datang dan memberikan surat itu. "Terima kasih, Nia, kau terima aku." Seakan tak ada lelaki yang lebih bahagia dari aku waktu itu. Dan jalinan cinta kita dimulai. Cerita cinta romantis. Setelah lulus SMA kau sepakat kita kuliah di kampus yang sama, fakultas yang sama pula, agar kita bisa satu kelas lagi. Kau setia, dan semua orang sudah tahu aku.

***

Mungkin semua orang menganggap kita adalah pasangan paling romantis. Tetapi tidak dengan ayahmu. Kau dijodohkan, dipaksa menikah dengan lelaki yang sudah mapan hidupnya. Padahal kita sudah hampir lulus. Kau menangis, tapi kita tak berdaya. Kubujuk kau agar menolak dengan keras, tapi seakan kau menyerah. Dan kau menikah dengannya. Ya, itu mungkin lebih baik, daripada memilih mati. Mungkin kau kira aku menyerah, mungkin kau lupa bagaimana usahaku mendapatkanmu. Aku mencari cara untuk merebutmu kembali.

Saat malam pertamamu bersamanya, semalaman aku merenung di depan kontrakan. "Feri," Lukman menyapaku. "Kok belum tidur?" Dia memang tak banyak tahu urusan teman, termasuk urusan perasaanku. Tetapi aku cerita saja padanya. "Perjodohan paksa?!" tanyanya agak ngotot.

Aku heran dengan sikapnya, aneh saja, jadi sok peduli teman. "Kenapa?!" tanyaku dengan nada agak marah.

"Itu tidak syah. Banyak orang tidak paham hukum."

Lukman membacakan beberapa hadits dan penjelasan beberapa ulamak. Penjelasan itu seperti cahaya penunjuk jalan. Dan aku merasa sebagai pihak yang benar dan marah. Bagai pahlawan pembela kebenaran aku hendak ke rumahmu. Ingin kubunuh suamimu. "Feri tunggu...!!" Zuhdi mencegahku. "Aku tahu kau marah. Tetapi jangan bodoh kawan. Kau lelaki cerdas." Aku memandangnya dengan amarah. "Kau bisa membalas sakit hatimu, kau bisa mendapatkan wanita yang jauh lebih cantik darinya. Kau tahu keahlianku kan?" Bujuknya. Aku tidak pernah tertarik dengan hal begituan, tetapi jiwaku sedang dipenuhi amrah. Aku pun sepakat. Memanfaatkan kemampuannya menurutku akan lebih dahsyat pembalasanku.

Tetapi, ternyata caranya juga tak gampang. Butuh waktu. Aku pun menjalani prosesnya. Tiga bulan lamanya. Seakan aku tak sadar. Dendam besarlah yang kuhayalkan. Hingga kudengar kau hamil, dan aku sudah cukup mahir ilmu hitam yang ia ajarkan. Kata orang itu ilmu hitam. Kata Zuhdi bukan. Pernikahnmu tidak syah, begitu kata Lukman.

Malam itu aku ke rumahmu dengan telanjang bulat dan membawa dua paku yang sudah dibacain mantra. Nekat aku pakukan dua paku itu ke tembok gerbang rumahmu. Sayang, aku sangat mencintaimu, semua kulakukan demi cinta kita. Aku berhasil, dan seperti wanita gila cinta kau datang ke kontrakanku mengemis cinta. Kubawa kau kabur. Tidak ada yang tahu keberadaan kita hingga kau melahirkan. Dan kau pun tidak tahu tentang ilmu hitam itu.

Suamimu menikah lagi dan kuberanikan diri melamarmu. Mengajakmu menemui orang tuamu dan mengakui kesalahan. Kau pun minta suamimu menceraikanmu. Kisahmu selesai dengannya. Cerita ini tak akan pernah kulupakan. Kelima anak kita sudah pada dewasa. Semoga diri ini tak pernah dan tidak akan pernah menyakitimu, sayang. Aku akan terus menyayangimu hingga akhir hayat kita.

baca juga: Wanita Cantik di Warung Bambu

Sunardi

/sunardiharussukses

Asal Bondowoso, Kota Tape. Sedang belajar hidup. Blog pribadi www.thelandstory.com dan www.educationte.com
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.