CERPEN

Ayahku Benci Gadis Tionghoa

09 Nov 2016 | 07:47 Diperbarui : 28 Feb 2016 | 01:07 Dibaca : Komentar : Rating :

"Jika kamu tidak mau nurut ayah, silahkan, ayah tidak melarang. Dan silahkan pergi dari sini...!!"

Rian diam saja. Ibunya tampak sangat bingung dan cemas. Sesekali Rian memandang wajahnya, seakan berharap ada solusi darinya, tapi tak ada. Kini tinggal kebisuan. Semua terdiam. Wajah sang ayah tampak berapi-api terbakar amarah. Hanya detak jam yang berani bersuara. Seakan mereka sedang tertindih beban sangat berat. Berat untuk beranjak.

Ayah Rian segera angkat kaki menuju pintu samping rumah dan berdiri di sana. Rian mendekati ibunya. "Dia sopan, Bu. Bahasa Maduranya fasih, sopan tutur katanya. Bahkan lebih sopan bahasanya dibanding Rian." Ibunya tersenyum tapi disertai tetesan air mata. "Keluarganya juga begitu. Dia patuh dan hormat pada yang lebih tua." Hanya tatapan penuh harap yang ia dapatkan. Wanita yang telah membesarkannya itu tak punya kuasa.

Malam semakin larut. Ayah Rian sudah di kamarnya. Ibunya pun menemaninya. Rian masih termangu menatap jendela kamarnya. Tidak ia tutup kelambu jendelanya. Daunan di luar melambai-lambai ditiup angin. Sesekali terlihat burung malam terbang. Ia teringat almarhum kakeknya. Beliau yang mengajarkan bahasa madura halus, bahasa yang sopan, pada Rian. "Jangan seperti anak nakal yang bahasanya kasar," nasehatnya. Kalau saja kakeknya masih ada, pikirnya, pasti beliau senang Rian dekat dengan orang tionghoa yang pandai sekali berbahasa madura halus.

Berbicara menggunakan bahasa madura yang halus dengan orang tua membuatnya merasa sangat dihormat. Tidak semua orang fasih berbahasa madura halus. Tetapi tidak dengan ayah Rian. Sesopan apapun bahasanya, ia tetap tidak suka. Seakan ia sangat dendam pada orang tionghoa. Padahal, leluhur Rian, termasuk ayahnya, bukan penduduk asli tanah jawa. Mereka keturunan orang madura yang menetap di tanah jawa. Sama seperti orang tionghoa yang hidup di negeri ini.

"Mereka itu sama dengan penjajah...!!"

Rian kaget mendengar suara ayahnya dari kamarnya. Rupanya ayah ibunya belum tidur, masih membahas hubungannya dengan gadis tionghoa.

"Lihat toko-toko di jalan, banyak perusahaan milik mereka. Bangsa kita dijadikan babu dan diperlakukan dengan tidak manusiawi. Aku sendiri pernah kerja jadi babunya cina bangsat...!!"

Rian diam saja. Badannya gemetar. Malam sudah larut. Sudah waktunya tidur, tapi karenanya ayah ibunya jadi tidak bisa tidur. Bahkan mereka seolah mau bertengkar. Rian merasa bersalah, merasa berdosa.

"Apa tidak ada wanita lain yang lebih cantik dari anak cina itu?!"

Ketenangan malam terusik. Rian yang membuat ulah. Seandainya Rian mau nurut, semuanya beres, dan ibunya bisa tidur nyenyak. Tetapi tak mudah melupakan kenangan bersama kekasih yang sudah lama menjalin hubungan cinta. Bagi Rian, belum pernah ia temui wanita sebaik dia. Berpisah dengannya seakan membuat Rianberstatus duda yang hatinya sudah tak murni, sudah terhuni bayangan sosok bidadari piihan hatinya.

***

Malam sudah berlalu. Sudah cukup jauh Rian meninggalkan kampung halamannya. Hanya pesan yang ia tinggalkan untuk ayah, "Maaf, saya tidak mau mengusik ketenangan hidup ayah dan ibu. Doa Rian akan terus mengalir untuk ayah dan ibu. Maafkan Rian. Suatu saat nanti, semoga Tuhan mengizinkan, Rian akan kembali."

Sambil memandangi pohonan di tepian jalan lewat jendela bus, Rian terkenang kekasihnya. Masih ia ingat terakhir bersamanya, "Aku juga bukan orang berharta, Mas. Orang tuaku yang kaya. Kita mulai hidup bersama, berjuang bersama," katanya pada Rian. Padahal, orang tuanya saudagar kaya, punya perusahaan dimana-mana. Mobil mewah, rumah megah. Tetapi Rian sangat diterima dengan baik oleh keluarganya meski hidup Rian belum mapan. 

Rian sangat ingin mempertahankan hubungannya, tapi itu menyakitkan bagi ayahnya. Pergi jauh seakan menjadi satu-satunya jalan keluar bagi Rian.

Andrian teman kecil Rian sudah lama bekerja di Surabaya sekarang. Rian mencoba tanya kerjaan padanya lewat kontak BBM. "Datang aja dulu ke sini, sementara tinggal sama aku," kata Andrian.

Jam 8 pagi ia tiba di terminal bungurasih. Ia segera menghubungi Andrian, mengabarkan bahwa ia sudah tiba. Tak lama kemudian Andrian menghampirinya, "Ayo," ajak Andrian. Sudah lumayan gemuk badannya. Betapa terkejutnya Rian, ternyata Andrian bawa mobil mewah.

"Udah kaya kau...!!" seru Rian.

"Ya, syukurlah. Rejeki tidak kemana. Kamu? Bagaimana kabar gadis tionghoa itu? Belum kau nikahi dia?"

"Itu dia. Nanti aku ceritakan."

***

Halaman rumah Andrian luas sekali, seperti kebun binatang. Sejak kecil dia memang suka binatang. Beragam hewan peliharaan ia pelihara di rumah mewahnya. "Tidak kesepian kau, banyak hewan di sini," kata Rian. Beruntung sekali Andrian, istrinya juga cantik.

"Kamu kan laki-laki, tidak perlu restu orang tua untuk menikah."

"Dia wanita baik-baik dan hidup bersama keluarganya. Tidak mungkin orang tuanya mengijinkannya menikah dengan pria yang tidak direstui orang tuanya."

"Sudah kau ceritakan padanya?"

"Iya."

"Keluarganya juga sudah tahu kondisimu?"

"Entahlah... Kalau dia cerita, tentu mereka tahu."

Andrian mempersilahkan Rian untuk tinggal di rumahnya. Nanti kalau Rian sudah bekerja bisa kontrak rumah. Andrian langsung tanya-tanya teman dan kenalannya, barangkali ada lowongan kerja. "Tunggu kabar dari teman-temanku." Rian tinggal di kamar yang berada di samping kanan bagian belakang rumah Andrian. Dulu ruangan tersebut digunakan sebagai tempat akuarium, tapi sekarang kosong. 

"Dulu kamu suka mainin anak kucing sampek mati, sekarang kamu kaya dengan bisnis hewan kesayangan."

Andrian tertawa. "Masa lalu. Masa kecil memang begitu. Bulan depan saya mau buka cabang pet shop lagi di Gresik, sama warung makan lesehan juga."

"Hebat kau."

"Kalau kamu mau, jagain petshopku saja. Tidak takut sama tikus kan?"

"HahahHahahaha... Tidak lah. Ada-ada aja kamu ini."

***

Sepi sekali siang ini. Biasanya ada pedagang es krim yang bergantian lewat. Biasanya anak-anak tetangga ramai bermain. Beruntung ada banyak hewan yang membuat rumah Andrian lumayan rame. "Kuenya dimakan, Mas," istri Andrian menyuguhi Rian kue.

"Iya, Mbak," sahutnya dari luar.

Istri Andrian membawa kuenya keluar. Ada meja di situ. Ia letakkan di situ. "Aku taruk sini ya mas."

Rian tersenyum. "Makasih, Mbak."

"Kerasan tinggal di sini, Mas?"

"Lumayan kerasan."

"Surabaya panas, Mas. Makanya AC tidak pernah tak matiin." Ia ambil kuenya. "Ayo, dimakan. Tidak usah malu-malu. Ini ambil," ia sedikit memaksa Rian untuk menikmati kuenya. 

Rian mengambilnya.

"Tidak usah malu-malu," katanya sambil melangka ke dalam.

Matahari semakin meninggi. Suasananya membuat Rian ngantuk. Begitulah pengangguran, inginnya tidur saja. Ia sandarkan kepalanya pada sandaran kursi. Rasa ngantuknya semakin jadi. Ada seekor kucing mendekatinya. Ia gendong. Lucunya kucing tersebut. Ia teringat masa kecilnya bersama Andrian. Pernah Andrian mainan anak kucing tapi lupa tidak memberinya makan hingga akhirnya mati di kamarnya.

Kucing tersebut melompat dan lari masuk rumah. Rian mengejarnya, masih ingin menggendongnya. Tetapi, ia melihat kamar Andrian terbuka dan ada istrinya sedang berbusana minim di dalam. Rian terkejut dan tercengang. Kaget. Ia ingin lari, tapi kakinya malah melangkah mendekat. Seakan ia lupa ingatan dikuasai hasrat.

Istri Andrian menyambutnya dengan senyum.

 

Baca Juga Cinta Tak Mensyaratkan Harta

Sumber gambar: pixabay

Sunardi

/sunardiharussukses

Asal Bondowoso, Kota Tape. Sedang belajar hidup. Blog pribadi www.thelandstory.com dan www.educationte.com
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.