CERPEN

Cerpen | Tetangga Kamar

17 Feb 2017 | 05:45 Diperbarui : 17 Feb 2017 | 06:46 Dibaca : Komentar : Nilai :

Kami tinggal serumah. Kamarnya persis di sebelah kamar saya, hanyaberbatas tripleks. Kamar saya memiliki pintu dengan tirai berwarna putih takberenda. Kiriman ibu setelah dua minggu berada di sini. Sedang miliknya tidak adadaun pintu. Cuma tirai berwarna merah dengan renda putih di tiap tepinya. Kamarsaya selalu harum. Entah kamar dia.

Dua bulan berjalan, saya jadi tahu kebiasaan-kebiasaan dia.Beberapa di antaranya sama, yang lain tidak. Seperti kebiasaan dia tidur ketikamalam telah larut dan kebiasaan saya yang susah tidur jika belum tengah malam. Bedanyasaya rutin bangun persis setelah azan subuh. Sedang dia akan terus tidur danhanya mau bangun setelah saya selesai berpakaian, atau menyapu.

Usai minum, saya senantiasa meletakkan gelas di sebelahdispenser. Dia menyimpannya di depan, dengan mulut gelas merapat pada meja. 

Saya tekun masuk kamar setelah azan isya berakhir. Tidakbegitu dengannya. Dia baru akan masuk rumah jika sudah mengantuk dan bersiapuntuk tidur—setelah sebelumnya mengunci pintu belakang yang sering lupa sayatutup.  

Usai digunakan, saya menyimpan kunci rumah di atas mejadispenser. Lalu, apabila ingin menggunakan lagi, sering kali saya harusmencarinya bukan di tempat semula melainkan di dinding. Dia pastimenggantungnya di sana. 

Keluar rumah pertama kali setiappaginya selalu adalah saya. Tentu saja setelah menyapu lantai—tidak termasuklantai kamar dia. Dan masuk rumah terakhir kali setiap malamnya senantiasaadalah dia. Tentu saja setelah merapikan sandal-sandal di teras—termasuk sandalmilik saya. Saya mengetahuinya setelah setiap pagi pasti menemukansandal-sandal yang tertata rapi di bawah kursi teras rumah kami.

Dia kuat bercerita dan saya haruskuat-kuat mendengarkan cerita dia. Suatu hari dia pernah bercerita tentangtikus di rumah yang masuk ke dalam kelambunya. Dia tidak bisa menangani sebabsangat takut dengan hewan pengerat itu. Saking takutnya dia sampai menjerittidak tamat-tamat. 

Cerita yang berhasil membuat saya tertawa geli. Membayangkanseseorang dengan tubuh tinggi—sekitar dua jengkal dari saya, pemilik otot tegasyang terlihat jelas dari balik pakaian yang dikenakan, lelaki yang mempunyairahang kokoh yang membuat mata betah berlama-lama di sana, memerhatikan bibirkeriting yang kerap kali membuat pikiran gentayangan ke mana-mana, lantas bibirsexy itu berteriak hanya karena seekor tikus, membuat tawa saya retak. 

Tawa yang pada akhirnya menyibak perlahan sekat-sekat halus diantara kami. membuat kami yang semula canggung karena saling menjaga kesan baiksatu sama lain, menjadi tidak ragu lagi bercerita tentang apa pun, bahkan kisahpaling pribadi sekalipun, semisal bagaimana menjalin hubungan dengan lawanjenis, dari yang paling umum hingga yang amat intim.

Suatu hari, di balai-balai di bawah singkong karet depanrumah,  saya pernah dia tanyai posisipaling nyaman ketika tidur.

Saya menjawab, “Menyamping, dan Kamu?”

“Sama, sensasinya berbeda dengan tidur gaya konvensional,”respons dia, seolah memancing pembicaraan ke arah sana. 

“Gaya konvensional memangnya seperti apa?” tanya saya sambilsesekali melirik bagian di antara pinggang dia.

“Yang bagaimana lagi memangnya?” tanya lelaki itu, “yang umumlah, seperti orang-orang kebanyakan,” jawab dia lantas tersenyum kecil, tidak susahsaya mengartikan makna di balik senyumannya itu.

“Memangnya orang kebanyakan pakai gaya yang seperti apa?” sayamasih belum menyerah, memaksa lelaki itu mengemukakan ke mana arah pembicaraanyang dia inginkan.

“Ya tidur biasa, menghadap langit-langit, dan bukanmenyamping,” kata dia kemudian tertawa deras. “Kamu pasti mengira yangkonvensional itu kalau laki-laki di atas dan perempuan terlentang, ya, kan? Ayongaku?” tanya dia lantas melanjutkan tawa yang tadi.

Kata-kata dia barusan membuat saya ikut tertawa geli, “Enaksaja!” jawab saya pura-pura malu, sambil kembali mencuri lirik ke tempatsebelumnya. “Hampir lupa, saya belum masak buat nanti malam,” kata sayamemotong pembicaraan, sebab menemukan ada yang berbeda dari objek yang sayalihat barusan. 

 “Takut banget sih, sayanggak bakal maksa kok, kecuali kamu yang minta,” kata dia sambil tertawasemakin lebat. 

“Apaan sih,” kata saya lantas mengarahkan kepalan tangan kepundaknya. 

Belum sampai menyentuh pundak lelaki itu, dia malah menyeka tangansaya dengan tangan kirinya, membuat gerakan saya terhenti. 

Mata kami bertemu, lalu, dengan tangan kiri yang masihmelingkari pergelangan saya, lelaki itu berucap, “Jangan di bagian situ, nantiadik saya bangun. Hahaha.”

Saya menarik tangan sendiri, meninjunya dengan kencang, lantasberlari menuju rumah. Takut keterusan. Bahaya. Bukan cuma kelangsungan kariersaya di tanah rantau ini yang terancam berakhir, melainkan juga kelanjutan hubunganlelaki itu dengan perempuan yang dia nikahi dua tahun lalu di tanahkelahirannya.

Ya. Dia lelaki beristri. Istrinya dua tahun di atas saya dan saatini tinggal bersama mertuanya di kota.

“Nggak tega, kasihan kalau orang kota macam dia harus hidup dihutan seperti ini,” jelas lelaki itu setelah saya tanya mengapa tidak membawaserta istrinya ke sini.

“Lah, namanya istri, kan harusnya ikut suami, Mas?” tanya sayasambil memetik daun bayam di depan kami. Sore hari seperti ini memang rutinkami habiskan untuk bercerita. Kadang sambil memisahkan cabai dengantangkainya, kadang sambil menyiangi kangkung, atau bayam seperti sekarang,kadang pula sambil menyantap kudapan ditemani segelas kopi.

“Ya mau gimana lagi, Mbak, istri saya itu perempuan kota,perlu perawatan salon, aerobik kebugaran, belum lagi dia di sana ada bisnis online. Kalau ikut saya, kan kasihan bisnisnya bisa berhenti. Tahu sendiri disini jaringan kayak apa.”

Saya mengangguk, sedikit paham dengan perkataan lelaki bermatacokelat itu. Sinyal di sini memang menggemaskan. Ibarat perempuan yang tanpasehelai benang di tubuhnya, berdiri di hadapan lelaki yang dicintainya, tetapitidak dapat merasakan sentuhan lelaki itu, sedikit pun. Ada, tapi selalu sajabikin berkelahi, lantaran apa yang diucapkan di balik ponsel sering kali berbedadengan yang terdengar di seberang sana. 

Seperti malam ini, ketika pacar saya menelepon dan saya tidakdapat mendengar perkataannya dengan jelas, saya lantas berujar, “Putus-putus,nih.”

“Oke, kalau kamu maunya kayak gitu, mulai sekarang kita putus,saya juga sudah nggak tahan pacaran jarak jauh kayak gini. Ada pacar tapi nggakbisa dicium.”

Saya menelan ludah. Agak malas menanggapi kata-kata dia. Sebabdengan kondisi jaringan seperti ini, bisa saja membuat dia dan saya tambahemosi. Maka detik itu juga ponsel saya matikan lantas memaki dengan keras,menyalahkan sinyal yang membuat saya putus dengan pacar. 

“Berantem lagi?”

Saya tersedak. Agak kaget dengan suara yang tiba-tiba muncul. Selaluseperti itu. Tiba-tiba ada di sebelah atau di belakang saya. Efek cara berjalanyang serupa melayang. Membuat kehadirannya sering kali tidak saya sadari.Berbeda dengan saya yang kalau ke mana-mana pasti berisik. Minimal bersenandungkecil dan agak fals. 

“Bukan berantem lagi, Mas, putus malahan,” jawab saya ketus.

Dia tertawa. Setelahnya memberi saya nasihat panjang-panjang. 

Di antaranya, “Kalau masih pacaran, sih, nggak apa-apa, Mbak.Cari sebanyak-banyaknya. Terus pilih mana yang paling cocok. Saya juga dulubegitu, sampai akhirnya menikah sama istri.”

“Mau diapa cocok kalau nggak tinggal bareng, Mas,” responssaya dengan nada meledek. “Saya juga sama pacar dulunya cocok banget. Klop.Kayak kancing sama lubangnya. Tapi setelah berjauhan malah seringnya berantemmulu,” kata saya.

“Mungkin karena lubangnya udah di tempat yang jauh kali, Mbak?Hahaha.”

Dia mulai lagi. 

“Lubang apaan emang?” 

“Lubang kancing lah, Mbak, tadi kan ngomongin kacing samalubangnya, memang Mbak mikirnya lubang yang mana?” 

“Ya kali aja yang Mas maksud lubang yang itu?” 

“Yang mana, Mbak?” 

“Nggak jadi.” Lagi-lagi saya kalah. Lebih tepatnya tidakberani menanggapi lebih jauh.

Siran

/shin.ar

TERVERIFIKASI

Penyuka pohon johar, cahaya matahari, dan jalan setapak.
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.