HIGHLIGHT CERPEN

Perempuan Pengunjung Kedai

19 Mar 2017 | 16:12 Diperbarui : 19 Mar 2017 | 16:18 Dibaca : Komentar : Nilai :

Kedai kecil itu dinamakan “Rumah Kopi” tempat biasa orang-orang berteduh mencari kehangatan ketika hujan. Rumah Kopi, buka hampir setiap hari kecuali Selasa. Adapun tatanan tempat duduk di sana sangat rapi, suasana nyaman, serta kebersihan yang terjaga dan terawat. Pelayannya ramah-ramah, tidak seperti kebanyakan kedai di tempat lain yang garang ketika pengunjung hanya sekedar bertanya perihal harga.

“Hampir, hampir tidak ada satupun gol tercetak,” kata seorang pemuda yang mengenakan jerseysalah satu klub sepakbola ternama di Liga Spanyol, Barcelona.

“Wah, payah kali Barca tak bisa kalahkan Madrid di pertandingan semalam,” sindir pemuda lain. Ia tidak mengenakan jerseyklub sepakbola, tapi sudah kutebak bahwa ia penggemar tim rival pemuda Barca itu.

Saling sindir dan pembelaan mulai terjadi di antara mereka berdua dan begitu seterusnya.

Aku duduk di ujung, dekat jendela, sudut yang cukup strategis sehingga tidak heran jika aku banyak tahu sumber riuh para pengunjung kedai ini. Tempat ini sengaja didesain untuk duduk berpasangan, tapi aku hanya seorang diri sehingga bangku di depanku hanya aku pakai untuk meletakan tas ransel sebelum aku berhadapan dengan laptop. Dan jika kedai mulai ramai, aku mempersilakan siapa saja yang mau meminjam bangku tersebut.

Pukul delapan malam, kedai ini masih belum meriah hingga dua jam mendatang. Saat ini hanya riuh lelucon tentang sepakbola yang diprakarsai oleh kedua penggemar tadi. Kini jumlah mereka bertambah dua orang sehingga keriuhan pun semakin menjalar ke semua sudut kedai. Aku berhadapan dengan laptop, masih terpaku pada lembar Word yang kosong. Aku belum bisa menciptakan tulisan apapun pasca kepergian Ima, kekasihku.

“Aku tidak menyangka ada orang yang mau duduk di dekat jendela,” kata seseorang, kedengarannya suara perempuan. Aku tidak mengenal suara itu, bahkan sama sekali tidak. Kalau saja suara itu bukan isyarat yang tertuju padaku rasanya tidak mungkin karena di kedai ini, jendela yang paling ujung hanya ada di dekat tempat di mana aku berada.

Aku menoleh ke kiri.

“Hai, senang bertemu denganmu,” sapa perempuan manis berambut panjang. Aku terpaku sejenak, lalu aku harus segera sadar.

“Yaa...ehmm...ada apa?” jawabku gelisah, seperti grogi tapi bukan itu istilah yang meggambarkanku saat ini.

“Boleh saya duduk?” dia tersenyum, sangat manis.

“Oh..boleh boleh...,” aku segera mengambil ranselku yang terduduk di bangku itu untuk segera diduduki oleh perempuan ini, “senang juga bertemu denganmu,” sambungku.

“Aku Nada,” katanya singkat.

Perkenalan yang bagus tapi aku tidak dapat mendengar jelas siapa namanya sehingga aku hanya memasang muka bingung.

“Nadayuki,” katanya lagi. Aku tersenyum, dia membalasnya dengan baik.

“Dirimu asli Bali?”

Nada mengangguk, “Yup, bagaimana denganmu?”

“Bagaimana denganku apa?”

“Nama, asalmu dari mana, atau tentangmu...,”

Aku hanya tersenyum. “Rafa,”

Pukul sembilan, kedai ini mulai dipenuhi pengunjung. Aroma kopi yang sedang diracik para baristamembuat harum udara, serta irama musik jazzmembuat suasana menjadi lebih menarik.

***

Bali, 29 Maret 2000

Malam ini menjadi malam yang paling indah seumur hidupku. Kencan pertama bersama dengan Ima aku anggap berhasil. Meskipun hampir lima bulan aku mengenalnya, tapi baru malam ini aku berhasil mengungkapkan rasa yang terpendam. Kini aku berhasil menggandeng perempuan berdarah Bali itu.

“Bagaimana malam ini, Raf?” tanya Bonar, teman satu apartemenku.

“Ya begitulah, rasanya seperti reinkarnasi,” jawabku terus terang.

“Saya bisa menebak dari raut wajahmu sedari tadi, ha...ha....ha...,” candanya.

Aku hanya tertawa kecil, malu dilihat teman karena sedang kasmaran. Bonar, sudah lama ia menjadi rekan kerjaku di RaditTV, salah satu televisi swasta yang cukup terkenal di Bali. Hampir dua tahun kami dikontrak di perusahaan yang sama, selama itulah kedekatan kami semakin erat. Ditambah lagi kami berada di divisi yang sama, yaitu Departement of Production. Dan karena Bonar aku sekarang menjabat sebagai manajer di divisi tersebut.

Satu bulan aku dikejar deadlineuntuk membuat program acara di RaditTV, jika programku berhasil di-accoleh pak Andre, direktur utama, maka kontrakku akan diperpanjang selama lima tahun. Jika tidak, aku akan dipindah ke salah satu stasiun televisi di Jakarta.

“Apakah program ini tidak menyinggung masyarakat?” tanya pak Andre serius, sedikit resah setelah membaca scriptperencanaan programku.

“Menyinggung bagaimana maksudnya, Pak?” balasku.

“Apa kamu tidak sadar? Program yang kau rencanakan ini akan banyak menuai celoteh dari masyarakat. Televisi, tidak hanya kita yang menonton, Raf. Tidak hanya orang Bali saja, tapi jangkauan siaran kita sudah sampai di Lombok dan sekitarnya. Jadi sangat riskan untuk menayangkan program berbasis pada etnis dan ras, apalagi agama,” jawab pria muda berkumis tipis itu dengan tegas.

Aku terdiam.

Aku rasa tidak ada salahnya membuat program TV terkait dengan perbedaan etnis, ras maupun agama. Memang sedikit bersinggungan dengan kaidah yang ada, tapi sekarang banyak orang yang sedang mengalami krisis moral terkait dengan hal-hal tersebut. Krisis moral yang melahirkan intoleransi sehingga keberagaman yang ada hanya sebagai wajah karakter yang semu.

“Saya beri kamu waktu dua minggu untuk merevisi, atau bahkan membuat perencanaan program yang baru. Jika Anda masih mengangkat program yang sama, aku terpaksa memindahkan Anda ke Jakarta,”

Restoran ini tidak seperti biasanya, ada nuansa yang mengganjal ketika aku sedang makan malam bersama Ima. Menu favorit yang telah tersaji tidak kunjung aku santap dengan lahap. Aku hanya memainkan makanan menggunakan garpu, sedangkan pisau di tangan kananku masih bersih. Ima, gadis manis dengan senyum di wajah menanyai keadaanku yang tidak biasa. Hampir sebulan kita menjalin hubungan sebagai pasangan kekasih, tapi aku tidak pernah bisa menguraikan permasalahanku di tempat kerja.

“Dikejar deadline?” tanya Ima sambil menyuapkan nasi ke mulutku.

Aku menyanggupi untuk menerima nasi masuk ke mulutku. Tapi, hanya anggukan kecil yang mampu kulakukan untuk mengiyakan pertanyaan Ima. Hanya sebatas itu, aku tidak berani untuk bercerita lebih terkait program yang akan aku buat.

“Bagaimana usahamu, lancar?” balasku mengalihkan arah pembicaraan.

“Tentu saja baik, karyawanku bertambah dan aku juga menambah desain untuk produk batik,” jawabnya dengan senang hati, “bagaimana denganmu?” sambung Ima.

“Aku sedang....ehm...,” aku ragu melanjutkan jawaban,” produksiku baik, akan baik-baik saja,” timpalku.

Ima tersenyum saja seolah ia tahu apa yang aku alami. Tapi aku pikir dia tahu, atau pura-pura tidak tahu.

Remang-remang malam ini membawa suasana hampa dalam diriku sepulang dari rumah Ima. Aku mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi karena rencana program TV-ku harus segera aku revisi. Aku tidak habis pikir bahwa Pak Andre sangat takut dengan program TV yang aku rancang, padahal beliau cenderung paling berani mengambil resiko. Tapi, tidak untuk rancangan yang aku buat. Aku ingat bagaimana beliau menjelaskan bahwa rancangan program TV milikku sangat riskan terhadap para konsumen. Aku mungkin sedikit menyetujui statementitu, tapi aku harus membuat program apa yang sekiranya mampu mengkritisi problematika di negeri ini?

Tepat pukul sebelas malam aku sudah berada di depan pintu apartemen. Kusisipkan kunci di lubang pintu lalu aku segera masuk dan meraih laptop. Bonar sudah terlelap, TV masih menyiarkan siaran sepakbola antara Barca dan Madrid dengan skor kacamata di menit ke empat puluh babak pertama. Malam ini menjadi sangat panjang, beberapa kali Ima mencoba untuk menghubungiku tapi ia hanya meninggalkan pesan untukku. Aku pikir Ima mengerti keadaanku malam ini karena pesan yang disampaikan melalui telepon cukup singkat.

Jam waker-ku berderingku pukul enam. Aku bergegas mandi dan siap-siap pergi ke kantor. Tidak lupa aku mengecek hasil revisi semalam, aku memasukkan laptopku ke ransel dan bergegas pergi. Sementara Bonar masih setengah terlelap di tempat tidur, aku sedang buru-buru sehingga tak sempat aku membuatnya benar-benar bangun.

“Aku pergi, Bon. Jangan lupa kunci pintu kalau kau keluar nanti,” ujarku berlalu.

Aku mengemudikan mobil dengan kecepatan tinggi sehingga aku hanya menempuh lima belas menit perjalanan untuk sampai ke kantor. Kurapikan bajuku lalu bergegas pergi ke ruangan pak Andre. Di sana, pak Andre sudah menantiku.

“Jadi, bagaimana rancangan programmu yang baru?” tanya pak Andre.

“Sudah saya coba perbaiki, saya harap Anda lebih tertarik dengan yang ini, Pak,” jawabku tenang.

Aku mengeluarkan laptop, dan segera aku perlihatkan pada atasanku itu. Pak Andre mengernyitkan dahi, seperti akan marah.

Pak Andre menghela nafas. Diseduhnya secangkir kopi yang sedari tadi ada di tengah meja. Beliau belum siap berkata-kata sebelum puas menyeduh kopinya. Bahkan pria berkumis tipis itu sanggup menghabiskan secangkir kopi dalam satu kali tenggak. Mungkin inilah pamali bahwa beliau akan murka padaku.

“Anda sudah menikah?” tanya pak Andre datar.

Aku diam.

“Saya bertanya, apakah Anda sudah menikah?”

“Belum,”

“Kalau begitu, Anda punya kekasih?”

Aku mengangguk. Pak Andre menyerahkan laptopku ke tanganku.

“Berapa lama kamu menjalin hubungan?”

“Hampir....enam bu...lan,” jawabku sedikit canggung. Ini mungkin intermezzodi luar konteks pembicaraan.

Pak Andre mengambil bingkai yang ternyata berisi foto mendiang istrinya yang meninggal lima tahun lalu. Beliau memperlihatkan foto itu padaku. Aku tidak mengerti apa sebenarnya yang beliau maksud. Menghabiskan secangkir kopi dalam satu kali tenggak, menanyakan hubungan asmaraku lalu memperlihatkan foto istrinya kepadaku.

“Anda membuatku ingat pada istri saya,” ujarnya tersenyum. “kini, aku tidak tahu bagaimana nasibnya, di mana ia ditempatkan pun saya sama sekali tak tahu,”

“Saya benar-benar tidak mengerti,”

Pak Andre menghela nafas lagi, ”Selama enam bulan Anda menjalin hubungan asmara, apakah kekasih Anda mempermasalahkan ras, etnis maupun agama Anda?”

Aku menggeleng.

“Saya kira itu sudah cukup menjelaskan,”

“Menjelaskan apa?”

“Menjelaskan bahwa hal-hal seperti itu bersifat pribadi,” beliau meletakan kembali bingkai yang berisi foto mendiang istrinya kembali ke tempat semula,” Istri saya meninggal karena serangan jantung, dia keturunan Tionghoa, dan dia Hindu. Meskipun saya seorang Muslim, saya sangat percaya dengan kepercayaan umat Hindu bahwa seseorang yang telah meninggal akan mengalami reinkarnasi. Suatu saat saya akan menemukan orang yang sangat identik dengan istri saya, dan saya percaya bahwa itu adalah dia,”

“Maksud Anda?”

“Kritis terhadap isu permasalahan terkait kebhinekaan memang tidak dilarang. Kita semua mengharapkan persatuan, kan? Urusan ras, etnis maupun agama itu sudah ditentukan oleh Pencipta. Kita tinggal menjalankan saja. Dan saya rasa program Anda kurang tepat untuk saya setujui, politik kita sedang memanas. Saya tidak mau problematika terkait ketiga hal tersebut menjadi perdebatan yang panjang di TV saya,”

***

Aku masih di kedai bersama Nada. Kuseduh kembali kopi untuk menenangkan pikiran. Di hadapan Nada, aku seolah teringat seseorang. Seseorang yang selalu menyediakan waktu untuk menyejukan hati kekasihnya. Seseorang yang tidak langsung memberi hukuman saat harapannya dilanggar.

“Hei...jangan melamun,” kata Nada sambil menyuapkan nasi ke mulutku.

Aku menyambutnya dengan membuka mulut, membiarkan sesuap nasi kucerna dengan nikmat.

“Kamu belum cerita satu hal,” tanya Nada tersenyum. “Bagaimana kau bisa terdampar di Jakarta ini?” sambungnya.

“Oh... aku diundang untuk bergabung di Net. TV tepat setelah kontrak kerjaku di Radit TV habis,” jawabku singkat.

“Bagaimana dengan kekasihmu? Kau belum memberitahuku dia seperti apa,”

“Ehm....dia mirip dengan...kamu karena kebetulan dia orang asli Bali,” jawabku canggung.

“Benarkah? Apa dia ikut bersamamu ke sini?”

Sejenak suasana menjadi hening. Aku terbayang wajah Ima melalui suara Nada yang menyenangkan.

“Dia mengalami kecelakaan tepat setelah aku tiba di Jakarta,” jawabku singkat.

“Oh, maafkan aku. Ehm...apa dia Hindu?” tanya Nada serius.

Sambil termangu aku mengangguk untuk mengiyakan pertanyaan Nada.

“Apa kau percaya reinkarnasi?”

Aku diam.

Raditya Andreas

/senyumradit


Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.