CERPEN

Apa Itu Cinta?

20 Mar 2017 | 20:24 Diperbarui : 20 Mar 2017 | 21:17 Dibaca : Komentar : Nilai :

Cerpen Karangan : Robby Kurniawan

Manusia, apa kau ingat siapa dirimu?
 Apa kau ingat tugas yang diberikan padamu di dunia ini?
 Apa kau ingat apa tujuan hidupmu?
 Manusia, kau nodai dunia dengan minimnya akhlakmu
 Kau lukai dunia dengan keserakahanmu
 Kau hancurkan dunia dengan ambisimu
 Seperti inikah yang disebut makhluk paling mulia dan sempurna?

Aku terpana oleh setiap kata yang keluar dari mulutnya. Terdengar sarkastik, namun pesannya mampu menembus hati. Tak ada yang pernah menyangka cewek sepertinya mampu menyampaikan kata penuh makna di hadapan seluruh penghuni kelas.

Dia adalah Riska, teman sekelasku. Sudah dua tahun aku berada di kelas yang sama dengannya, dan sudah dua tahun juga aku tak kunjung memiliki kesempatan untuk dekat dengannya. Riska itu siswi yang paling cuek dan pendiam di kelas. Namun dibalik sifat cuek dan diamnya itu, dia menyembunyikan banyak fakta menarik. Yang pertama, ternyata dia adalah seorang fangirl. Kedua, dia juga seorang Otaku dan Fujoshi. Ketiga, dia siswi yang cukup cerdas. Keempat, dia memiliki kemampuan menulis yang luar biasa. Dia mampu merangkai kata-kata sehingga memiliki makna dan pesan yang sangat berarti, dan dia mampu menyampaikannya hingga terdengar indah di telinga pendengarnya.

“Manusia, dunia itu ibarat permainan. Dimana para pemainnya berlomba agar menempati level teratas, hanya demi harta dan tahta. Namun dunia tidak bisa semudah itu kita miliki, karena hanya ada dua pilihan untuk menghadapinya. Yaitu membunuh, atau dibunuh. Terima kasih.”

Seisi kelas terpaku mendengar kata terakhir dari puisi yang Riska bacakan. Tak ada satu pun ucapan selamat atau tepuk tangan untuknya. Aku sendiri ikut kaget mendengar kata-kata janggal itu, kata-kata yang seperti menyerukan peperangan. Tapi entah kenapa aku yakin, ada arti dan makna tertentu dibalik kata-kata tersebut. Aku yakin Riska tidak bermaksud menyerukan hal tidak baik, jadi aku pun berdiri; bertepuk tangan untuk Riska.
 “Huuuh, hebat! Riska emang the best!” seruku tanpa mempedulikan pandangan teman-teman yang memandangku dengan penuh tanya. Namun kemudian, semuanya ikut bertepuk tangan untuk Riska, mengikuti seruanku yang membanggakan dirinya. Dan Riska pun kembali ke tempat duduknya.

Aku tertarik padanya, aku menyukainya. Entah sejak kapan, mungkin semenjak aku tahu dia tipe cewek yang tak banyak tingkah tapi menyimpan segudang keistimewaan. Yang jelas, aku tak dapat melepaskan pandanganku darinya.

“Hey, hey! Yang merasa Tim Kreatif, ayo kesini!” Bel istirahat baru saja berbunyi ketika tiba-tiba Deni berteriak di depan kelas. “Ayo cepet, gue mau bagi-bagi job desk, nih.” lanjutnya.
 Aku yang merupakan anggota Tim Kreatif untuk Drama Musikal kelas kami pun menghampiri Deni, diikuti oleh teman-teman Tim Kreatif lainnya. Kami duduk membentuk lingkaran di atas lantai di depan kelas, dan aku duduk tepat di seberang Riska berada.
 “Oke, gue langsung ngomong aja, ya. Soalnya kalau lama kasian, kita kan belum istirahat,” ucap Deni.
 “Ya udah, Den. Gak usah basa-basi, lapar nih.” sahut Jeje.
 “Iya, bawel.”
 Deni membolak-balik kertas yang ada di tangannya, membaca dan mencoba menyampaikan apa yang tertulis di sana. “Jadi gini, teman-teman. Kita kan kebagian tema Kisah Kasih di Sekolah, otomatis Drama yang nanti harus kita pentaskan itu tentang cinta-cinta gitu. Nah, gue mau yang urus naskah dramanya itu Riska. Karena gue yakin Riska bisa, Riska pinter merangkai kata-kata puitis nan dramatis. Lo sanggup kan, Ris?”
 Riska mengangguk. “Oke, sanggup.”
 “Riska mah pasti sanggup, pasti bilang iya. Riska kan lempeng,” komentar Iqbal, dan langsung mendapatkan tatapan tajam dari Riska.
 Aku tersenyum melihat ekspresinya. “Enggak, Bal. Riska tuh the best, jadinya dia sanggup lah, karena dia the best.” ucapku kemudian, membuat Riska tersenyum padaku.
 “Ssst, Boy.” Deni memanggil namaku.
 “Iya, bro?”
 “Lo juga bantu Riska ya, nyusun naskah Dramanya.” jawab Deni.
 Aku terkejut. “Kok gue?”
 Deni mengangguk.
 Aku menggaruk dan menatap ke arah Riska, yang memberikan tatapan datarnya padaku. Kemudian aku tersenyum lebar. “Ya udah, gak apa-apa. Selama ada Riska, gue juga sanggup, kok.”
 Semuanya tertawa mendengar aku kembali membanggakan Riska, dan Riska ikut tertawa. Aku yakin dia hanya menganggap perkataanku sebagai candaan semata, padahal sebenarnya aku memang tertarik padanya.

Setelah Deri selesai membagikan job desk pada anggota kami, semuanya pun bubar dan berbondong-bondong pergi ke kantin. Sudah tak ada lagi yang dapat menahan rasa lapar yang sudah dari tadi mengerogoti perut. Termasuk diriku, dan juga Riska.
 “Hey, Ris.” Aku mendekati Riska dan mengiringi langkahnya.
 “Apaan?” tanyanya.
 “Minta pin BBM lo, dong. Kira-kira kita mau mulai nulis naskahnya kapan?”
 “Ehm, secepatnya. Nanti janjian aja,” jawabnya sambil memberikan pin BBM-nya padaku.
 Aku tersenyum lebar. “Oke.”

“Ck, arrgh!” Riska mengerang untuk kesekian kalinya, sambil terus mengusap dahi dan menatap layar laptopnya. “Duh, Boy… bantuin, dong. Gue bingung nih mau nulis apa lagi.”
 Aku ikut menatap layar laptop, membaca setiap kata yang telah Riska tulis di halaman Word. “Gue juga bingung, Ris. Lagi buntu banget, nih. Lo mau nulis narasi lagi?”’ tanyaku.
 “Bukan, gue mau nulis dialog antar pemeran utamanya. Udah tinggal beberapa scene lagi padahal.”
 “Emang ceritanya mereka lagi ngobrolin apaan?”
 Riska menghela nafas. “Jadi gini, gue mau nulis scene dimana si cowok dan cewek pemeran utamanya membicarakan tentang cinta. Ya pokoknya, mereka membicarakan apa sih cinta itu. Dan apa definisi cinta menurut mereka berdua. Nah, menurut lo sendiri cinta itu apa sih, Boy?”
 “Menurut gue, ya? Cinta itu.. apa? Hmm.. cinta itu apa, ya?” Aku menggaruk kepalaku yang tak gatal, mencoba mencari jawaban yang tepat.
 “Menurut pendapat lo sendiri aja, gak perlu berbelit. Yang penting nanti gue bisa dapet referensi tentang—”
 “Cinta itu… kamu.” ucapku yang memotong perkataan Riska.
 Riska mengerutkan dahinya. “Boy? Maksudnya apaan?” tanyanya.
 “Ya cinta itu… kamu.” Aku kembali mengulang perkataanku, sambil terus menatap lurus; tepat ke arah kedua bola mata Riska.
 “Ehm… gue beneran harus nulis itu di naskah?”
 “Hah, apa?”
 “Gue harus nulis ‘cinta itu kamu’ di naskah Drama kita?” tanyanya lagi.
 Aku memejamkan mataku, lalu mengangguk dengan pelan. “Iya, boleh.. kalau lo mau.”
 “Oh, oke.” Riska kembali menatap layar laptop, tanpa kembali menatapku. Lagi-lagi, dia hanya menganggap perkataanku sebagai candaan.

Aku dan anggota Tim Kreatif lainnya sedang berkumpul di perpustakaan, kembali merapatkan persiapan pementasan Drama Musikal kelas nanti. Kebetulan di jam pelajaran kedua ini Guru Biologi kami tidak masuk, jadi kita memanfaatkan waktu untuk berapat ria di perpustakaan.

Dan disini lah aku, duduk berhadapan dengan Riska tanpa saling berbicara sedikit pun. Sejak tadi yang dia lakukan hanyalah fokus memainkan jari-jarinya di atas keyboard laptop, seperti asik dengan dunianya sendiri.

“Hei, ngobrol, dong.” bisik Deni sambil menyikut lenganku.
 “Ck, apaan sih lo.”
 “Hei, Ris. Ajak Boy ngobrol, dong. Jangan diem-diem aja, ngomong lah.” ucap Deni, yang mampu membuat Riska berhenti memusatkan dirinya dari naskah Drama yang sedang dia kerjakan. “Ayo, ngobrol. Kasian si Boy, kesepian kalo gak diajak ngobrol.”
 Aku menonjok bahu Deni dengan pelan, membuatnya sedikit merintih kesakitan. “Berisik lo, Den. Bisa diem gak, sih?” ancamku kemudian.
 “Iya, iya. Gue paham kok, Boy. Lo gak mau gue ganggu, kan? Oke deh, gue sama yang lain mau ke kantin aja.” ucapnya sambil beranjak. “Kalian yang harmonis ya ngerjain naskahnya, haha..” Dengan penuh tertawa  jahil, Deni mengajak teman-teman lain untuk meninggalkan diriku bersama Riska seorang. Deni memang menyebalkan, tapi mau bagaimana lagi. Riska saja masih terdiam terpaku, sibuk dengan laptopnya. Jadi tak mungkin juga aku meninggalkann Riska sendirian di perpustakaan, sedangkan hari ini aku belum membantunya dalam melanjutkan naskah sama sekali.

Aku menghela nafas. “Ris..” ucapku kemudian, dan Riska pun menatapku.
 “Ya, kenapa?” tanyanya.
 “Gue mau nanya sesuatu sama lo.” Jawabku dengan ragu.
 Riska mengangguk pelan. “Ya, tanya aja.”
 “Ehm…” aku menelan ludah. “Kalau yang gue bilang kemaren itu ternyata serius, gimana?”
 “Yang kemaren yang mana emangnya?” Dahi Riska berkerut, dirinya belum peka dengan maksud ucapanku.
 “Yang waktu lo tanya definisi cinta menurut gue, Ris. Dan gue jawab kalau cinta itu, kamu. Nah, sebenernya jawaban gue itu gak mengarah ke naskah drama kita. Melainkan mengarah ke… kamu.”
 Riska terdiam, masih dengan dahi berkerut. “Gue masih gak paham, Boy.”
 “Ya cinta itu kamu. Cinta itu kamu… Riska…” jelasku padanya. Aku menatapnya dengan serius, aku ingin menunjukan padanya kalau yang aku katakan bukanlah suatu candaan.
 “Kok bisa?” tanyanya.
 “Ya karena… aku cinta kamu, Ris. Gue suka sama lo, udah lama banget.”
 Riska terkekeh, matanya menatap ke sekitar; seperti memastikan bahwa tak ada orang lain yang mendengar ucapan konyolku barusan. “Lo jangan bercanda, Boy. Gue tau lo gimana, lo kan udah sering banget deket sama cewek. Dan yang terakhir gue tau, lo kan pacaran sama Chece.”
 “Siapa bilang gue pacaran sama dia? Cuma sekedar deket, gak sampe pacaran.”
 “Ya gak sampe pacaran, tapi kalian deketnya udah kayak orang pacaran, kan. Terus tiba-tiba katanya lo PHP-in dia, bla bla bla… Dan sekarang, lo mau mengincar gue, nih?” Pertanyaan Riska begitu sarkastik, entah kenapa rasanya sakit jika Riska memandangku dengan negatif. Sejahat itukah diriku? Seingatku, aku tak pernah berniat menyakiti siapa pun. Semua terjadi karena ada penyebabnya, dan tak selamanya diriku yang salah.

“Gue serius suka sama lo, Ris. Hubungan gue sama Chece mungkin terlihat begitu di mata lo, tapi lo gak tau apa yang terjadi. Gak selamanya gue yang salah, dan belum tentu juga gue yang jahat, kan. Semua ada penyebabnya, Ris.” Aku kembali meyakinkan Riska. “Lagipula, what the hell about my past. Yang gue tau sekarang, gue suka sama lo. Dan kalau pun lo mau gue berubah demi lo, gue pasti akan memperjuangkan itu.”
 Riska tersenyum sinis padaku. “Ya, mungkin gue emang gak tau apa yang terjadi antara lo dan cewek-cewek di masa lalu lo. Dan mungkin aja sih lo bisa berubah, tapi cinta gak semudah itu, Boy. Lo bilang lo suka gue, gak bisa secepat itu lo mengartikan kalau lo cinta gue.”
 “Ya terus gimana sih, Ris?”
 “Hei… kadar rasa suka sama rasa cinta aja tuh udah beda, Boy…”
 Aku menggaruk kepalaku yang tak gatal, otakku seperti sedang dibabat habis oleh semua kata-kata Riska. Aku tak menyangka akan sesulit ini untuk meyakinkan seorang Riska. “Duh, Ris. Emang lo gak pernah rasain yang namanya jatuh cinta apa? Coba, nih. Apa definisi cinta menurut lo? Apa?” tanyaku padanya.
 “Cinta itu… salah satu dari sekian banyak rintangan yang terdapat di sebuah permainan yang bernama dunia. Cinta sama sulitnya dengan dunia ini, karena cinta ibarat rintangan yang harus dihadapai para pemain saat berada di level yang tinggi. Cinta itu—“
 “Ah, Ris!” aku memotong perkataan Riska. “Gue saat ini gak peduli dengan teori puitis nan sarkastik lo itu. Pokoknya gue suka sama lo, Ris. Gue sayang lo, seriusan.” lanjutku yang mulai kehabisan kesabaran.
 Riska tak bergeming, dirinya kini ikut menatapku dengan serius. Aku yakin dia terkejut melihat reaksiku. Aku sendiri pun tak mengerti kenapa bisa bersikap seperti ini di hadapannya. Hatiku gemetar, jantungku berdetak kencang, rasanya ingin sekali meluapkan semua perasaanku padanya. Tapi dia tak kunjung mempercayai perasaanku, mungkin itu alasannya.

“Hmm… terus lo mau gue gimana kalau lo suka sama gue?”
 Aku kembali menghela nafas. “Lo… harus cari jawaban dari pertanyaan ‘lo mau gak terima perasaan gue, dan jadi pacar gue’. Itu tugas lo yang pertama,” jawabku.
 Riska mengangguk. “Oke, kasih gue waktu buat cari jawaban itu. Tapi kalau agak lama gak apa-apa, ya. Lagipula, seiring berjalannya waktu lo juga akan bosan menunggu gue.”
 “Liat aja nanti,” ucapku seraya tersenyum sinis padanya. “Kita liat siapa yang kata-katanya terbukti benar.”
 Riska mengangguk.

Sudah lebih dari 3 minggu Riska tak kunjung menjawab dan membalas perasaanku. Namun selama ini aku tak pernah berhenti mengejarnya, aku terus menghubunginya setiap hari, sekedar membuatnya ingat kalau aku masih setia menunggunya.

Hari ini adalah hari dimana sekolah kami mengadakan Pentas Seni, itu berarti ini saatnya kelas kami beserta kelas lainnya menampilkan sebuah Drama Musikal yang tengah dilombakan. Aku berdiri di depan panggung, untuk berjaga-jaga kalau peserta sebelum kelas kami sudah selesai tampil. Sedangkan Riska sedang sibuk membantu para pemain untuk mengingat naskah mereka.
 Aku memandanginya dari kejauhan. Berharap dirinya tersadar, bahwa aku tak pernah melepaskan pandanganku darinya. Selama apa pun dia membuatku menunggu jawaban darinya, atau seburuk apa pun jawaban itu.

“Makasih ya, Ris.” ujar Tere.
 “Iya, sama-sama. Kalian siap-siap, ya. Gue mau nonton kalian di depan panggung.” Setelah selesai berbicara dengan Tere, Riska menatap ke arahku, lalu berjalan menghampiriku. “Sekarang giliran kelas kita yang tampil,” gumamnya.
 Aku mengangguk.

Kami berdua memfokuskan pandangan ke arah panggung, melihat teman-teman menampilkan sebuah Drama Musikal romantis ala anak SMA. Aku tak menyangka cewek cuek dan sarkastik seperti Riska dapat menulis naskah seromantis ini, yang saking romantisnya sampai membuatku iri. Kenapa aku tak dapat merasakan momen romantis seperti yang ditulis di naskah? Padahal orang yang kusuka adalah si penulis naskah itu sendiri.

“Kenapa kamu tertarik sama aku?” ucap Tere dengan lantang dari atas panggung, membuat mataku melebar saat menyadari kalau pertunjukan Drama tersebut sudah berada di puncak adegan.
 “Kenapa kamu tertarik sama aku?” gumam Riska yang mengulang perkataan Tere.
 Aku meliriknya dengan heran. “Hah?” tanyaku.
 “Kenapa? Kenapa kamu tertarik sama aku?” Riska balik bertanya padaku.
 “Ya karena… aku cinta kamu.” jawabku. Tanpa kami sadari, kami baru saja mengatakan kata yang sama persis dengan apa yang ditulis di dalam naskah Drama.
 Riska tersenyum tipis. “Emangnya kamu tau cinta itu apa?”
 “Cinta itu… kamu. Karena aku gak bisa mengalihkan pandanganku dari kamu, aku suka setiap tingkah laku kamu, aku gak bisa berhenti ikut tersenyum saat kamu tersenyum. Pokoknya, semuanya selalu tentang kamu.” jawabku sambil tersenyum lebar pada Riska. “Kalau menurut kamu sendiri, cinta itu apa?”
 “Ehm… cinta itu kita. Kita bersama, kita saling menjaga, kita saling menghargai, kita saling mengerti, kita saling menyayangi. Lalu kita tertawa, dan kita bahagia.” Riska ikut tersenyum.
 “Ris, kayaknya yang lo bilang barusan gak ada di naskah, deh.”
 Riska tertawa. “Emang iya.”
 “Terus lo ngapain? Bukannya lo lagi ikutin kata-kata yang ada di dialog Drama, ya?”
 “Itu bukan naskah Drama, Boy. Itu gak ada hubungannya sama Drama, itu buat lo.”
 Aku tak begitu menangkap maksud perkataan Riska. “Apa sih, gue masih gak ngerti sumpah.”
 “Itu jawaban dari gue, Boy. Gak usah pura-pura gak ngerti…” Riska menggerutu.
 “Cinta itu… kita. Kita bersama, jadi… kita bersama, nih?” gumamku dengan pelan, membuat Riska terkekeh. “Kita… kita bersama, Ris? Kita jadian, Ris? Lo nerima gue, Ris?” tanyaku dengan penuh semangat.
 Riska mengangguk.
 “Serius? Alhamdulillah…” aku mengusap wajahku dengan kedua tangan. “Jadi.. cinta itu apa tadi, Ris?”
 “Kita…” jawab Riska dengan sedikit malas karena malu melihat tingkah anehku.
 “Hhhmmm….. makasih ya  Ris. Aku janji gak akan buat lo kecewa Ris. Aku cinta kamu, Ris.”

Semua yang terjadi hari ini tak akan pernah aku lupakan. Walau sempat hampir menyerah, ternyata perjuanganku tak sia-sia. Aku telah memenangkan hati Riska, cewek yang menurutku berbeda dengan cewek lainnya. Mungkin itu terdengar klise, tapi itulah cinta. Cinta itu… kita. Kita bersama. Ya, kita sekarang bersama. Aku, dan juga Riska.

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.