PUISI

Para Penyembah Berhala

17 Feb 2017 | 16:49 Diperbarui : 17 Feb 2017 | 17:32 Dibaca : Komentar : Nilai :
sumber: republika.co.id


Puja-puji ke langit berpeluh

Di depan ada manusia penghulu

Tak mencuri, kerja dan kerja baik melulu

Tak mungkin cacat, pasti benar, walau tingkah dan lisan kasar, menghunjam tanpa ragu


Lalu ada yang taat, berkumpul, bergerak

Di depan ada manusia berbaju putih, berdiri tegak

Penghafal kitab, pengucap ayat, dengan pentung siap mengampak

Tak mungkin salah, pasti suci, lisan keras dengan benci memekak


Sejuta memuji, sejuta juga  patuh

Sejuta memuja, sejuta pula taat

Kepada siapa? Puja-puji, patuh dan taat beralamat?

Hingga tak henti fitnah, debat dan hujat?


Wahai penikmat karya, duhai pengharap surga

Bukankah mereka ini juga dari tiada?

Bukankah mereka ini juga seperti kita?

Tak wakili Pencipta karya dan Pemilik surga?


Dari Pencipta diberi hati

Dari Pemilik surga diberi akal bersih

Mengapa tutup nurani, mengapa tidak berpikir jernih?

Tidakkah kau lihat darah mulai mengalir di bibir negeri?


Kelompok satu masih memuja-muji

Rombongan lain taat buta, patuh mencaci maki

Memborong benar, menebar aroma daging terbakar

Bau busuk di setiap ujar, angkara murka yang terus menjalar


Tergiring, jatuh terbelah, beda yang makin mengangah

Menampik benar dan lurus, angkuh nan jumawa

Penikmat karya dan pengharap surga

Dua kumpulan berbeda, tapi sama saja. Para penyembah berhala


Jakarta, 17 Desember 2017

Suripman

/ripman

TERVERIFIKASI

Rakyat biasa, yang mencoba melihat kehidupan bangsa dari sebuah sudut negeri tercinta. Tanpa prasangka, tanpa memihak, mengalir apa adanya.
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.