CERPEN

Cerita Salman Al Farisi

18 Jun 2017 | 11:01 Diperbarui : 18 Jun 2017 | 11:01 Dibaca : Komentar : Nilai :

"Aku berasal dari Isfahan, warga suatu desa yang bernama 'Ji'. 


Bapakku seorang bupati di daerah itu dan aku merupakan makhluk Allah yang paling disayanginya. Aku membaktikan diri dalam agama Majusi, hingga diserahi tugas sebagai penjaga api yang bertanggung jawab atas nyalanya dan tidak membiarkannya padam.


Bapakku memiliki sebidang tanah, pada suatu hari aku disuruh ke sana. Dalam perjalanan ke tempat tujuan, aku lewat di sebuah gereja milik kamu Nasrani. Kudengar mereka sedang sembahyang, aku masuk ke dalam untuk melihat apa yang mereka lakukan. Aku kagum melihat cara mereka sembahyang dan kataku dalam hati: 'Ini lebih baik dari apa yang aku anut selama ini!' Aku tidak beranjak dari tempat itu sampai matahari terbenam dan tidak jadi pergi ke tanah milik bapakku serti tidak pula kembali pulang, hingga bapak mengirim orang untuk menyusulku.


Karena agama mereka menarik perhatianku, kutanyakan kepada orang-orang Nasrani dari mana asal-usul agama mereka. 'Dari Syria', ujar mereka.


Ketika telah berada di hadapan bapakku, kukatakan kepadanya: 'Aku lewat pada suatu kaum yang sedang melakukan upacara sembahyang di gereja. Upacara mereka sangat mengagumkanku. Kuliat pula agama mereka lebih baik dari agama kita'. Kami pun berdiskusi dan berakhir dengan dirantainya kakiku dan dipenjarakannya aku.


Kepada orang-orang Nasrani kukirim berita bahwa aku telah menganut agama mereka. Kuminta pula agar bila datang rombongan dari Syria, supaya aku diberi tahu sebelum mereka kembali, karena aku akan ikut bersama mereka ke sana. Permintaanku itu mereka kabulkan, kuputuskan rantai, lalu meloloskan diri dari penjara dan menggabungkan diri kepada rombongan itu menuju Syria.


Sesampainya di sana kutanyakan seorang ahli dalam agama itu, dijawabnya bahwa ia adalah uskup pemilik gereja. Datanglah aku padanya, kuceritakan keadaanku. Akhirnya, tinggallah aku bersamanya sebagai pelayan, melaksanakan ajaran mereka dan belajar. Sayang uskup ini seorang yang tidak baik agamanya, karena dikumpulkannya sedekah dari orang-orang dengan alasan untuk dibagikan, ternyata disimpan untuk dirinya pribadi. Kemudian uskup itu wafat.


Mereka mengangkat orang lain sebagai gantinya. Dan kulihat tak seorang pun yang lebih baik agamanya dibanding uskup baru ini. Aku pun mencintainya sedemikian rupa, hingga hatiku merasa tak seorang pun yang lebih kucintai sebelum itu.


Dan tatkala ajalnya telah dekat, tanyaku padanya: 


'Sebagai anda maklumi, telah dekat saat berlakunya takdir Allah atas diri anda. Apakah yang harus kuperbuat dan siapakah yang sebaiknya harus kuhubungi?' 'Anakku,' ujarnya, 'tak seorang pun menurut pengetahuanku yang sama langkahnya dengan aku, kecuali seorang pemimpin yang tinggal di Mosul'. Lalu tatkala ia wafat aku pun berangkat ke Mosul dan menghubungi pendeta yang disebutkan tadi. Kuceritakan kepadanya pesan dari uskup tadi dan aku tinggal bersamanya selama waktu yang dikehendaki Allah.


Kemudian tatkala ajalnya telah dekat pula, kutanyakan kepadanya siapa yang harus kuturuti. Ditunjukkannyalah orang salih yang tinggal di Nasibin. Aku datang kepadanya dan kuceritakan perihalku, lalu tinggal bersamanya selama waktu yang dikehendaki Allah pula.


Tatkala ia hendak meninggal, kubertanya pula kepadanya. Disuruhnya aku menghubungi seorang pemimpin yang tinggal di Amuria, suatu kota yang termasuk wilayah Romawi. Aku berangkat ke sana dan tinggal bersamanya, sedang sebagai bekal hidup aku beternak sapi dan kambing beberapa ekor banyaknya.


Kemudian dekatlah pula ajalnya, kutanyakan padanya kepada siapa aku dipercayakan. 


Ujarnya: 'Anakku, tak seorang pun yang kukenal serupa dengan kita keadaannya dan dapat kupercayakan engkau kepadanya. Tetapi sekarang telah dekat datangnya masa kebangkitan seorang Nabi yang mengikuti agama Ibrahim secara murni. Ia nanti akan hijrah ke suatu tempat yang ditumbuhi kurma dan terletak di antara dua bidang tanah berbatu-batu hitam. Seandainya kamu dapat pergi ke sana, temuilah dia. Ia mempunyai tanda-tanda yang jelas dan gambling. Ia tidak mau makan sedekah, sebaliknya bersedia menerima hadiah dan di pundaknya ada tanda kenabian yang bila kau melihatnya segeralah kau mengenalinya.'


Kebetulan pada suatu hari lewatlah suatu rombongan berkendaraan, lalu kutanyakan dari mana mereka datang. Tahulah aku bahwa mereka dari jazirah Arab, kataku kepada mereka: 'Maukah kalian membawaku ke negeri kalian, sebagai imbalannya kuberikan kepada kalian sapi-sapi dan kambing-kambingku ini.' 'Baiklah,' ujar mereka.


Demikianlah mereka membawaku serta dalam perjalanan hingga sampai di suatu negeri yang bernama Wadil Qura. Di sana aku mengalami penganiayaan, mereka menjualku kepada seorang Yahudi. Ketika tampak olehku banyak pohon kurma, aku berharap kiranya negeri ini yang disebutkan pendeta kepadaku dulu, yakni yang akan menjadi tempat hijrahnya Nabi yang ditunggu. Ternyata dugaanku meleset.


Mulai saat itu aku tinggal bersama orang yang membeliku, hingga pada suatu hari datang seorang Yahudi Bani Quraidhah yang membeliku darinya. Aku dibawanya ke Madinah dan demi Allah baru saja kulihat negeri itu, aku pun yakin itulah negeri yang disebutkan dulu.


Aku tinggal bersama Yahudi itu dan bekerja di perkebunan kurma milik Bani Quraidhah, hingga datang saat dibangkitkannya Rasulullah yang datang ke Madinah dan singgah pada Bani Amar bin Auf di Quba.


Pada suatu hari, ketika aku berada di puncak pohon kurma sedang majikanku sedang duduk di bawahnya, tiba-tiba datang seorang Yahudi saudara sepupunya yang mengatakan padanya: 'Bani Qilah celaka. Mereka berkerumun mengelilingi seorang laki-laki di Quba yang datang dari Mekkah dan mengaku Nabi.'


Demi Allah, baru saja ia mengucapkan kata-kata itu, tubuhku pun bergetar keras hingga pohon kurma itu bagai bergoncang dan hampir saja aku terjatuh menimpa majikanku. Aku segera turun dan kataku kepada orang tadi: 'Apa kata anda? Ada berita apakah?'


Majikanku mengangkat tangan lalu meninjuku sekuatnya, serta bentaknya: 'Apa urusanmu dengan ini, ayo kembali ke pekerjaanmu!' Aku pun kembalilah bekerja.


Setelah hari petang, kukumpulkan segala yang ada padaku, lalu keluar dan pergi menemui Rasulullah di Quba. Aku masuk kepadanya ketika beliau sedang duduk bersama beberapa orang anggota rombongan. Lalu kataku kepadanya: 'Tuan-tuan adalah perantau yang sedang dalam kebutuhan. Kebetulan aku mempunyai persediaan makanan yang telah kujanjikan untuk sedekah. Dan setelah mendengar keadaan tuan-tuan, menurut hematku, tuan-tuanlah yang lebih layak menerimanya, dan makanan itu kubawa ke sini'. Lalu makanan itu kutaruh di hadapannya.


Makanlah dengan menyebut nama Allah.


Sabda Rasulullah kepada sahabatnya, tetapi beliau tak sedikit pun mengulurkan tangannya menjamah makanan itu. 'Nah, demi Allah!' kataku dalam hati, 'inilah satu dari tanda-tandanya, bahwa ia tak mau memakan harta sedekah'.


Aku kembali pulang, tetapi pagi-pagi keesokan harinya aku kembali menemui Rasulullah sambil membawa makanan, serta kataku kepadanya: 'Kulihat tuan tak hendak makan sedekah, tetapi aku mempunyai sesuatu yang ingin kuserahkan kepada tuan sebagai hadiah,' lalu kutaruh makanan di hadapannya. Bersabdalah ia kepada sahabatnya:


Makanlah dengan menyebut nama Allah.  


Dan beliaupun turut makan bersama mereka. 'Demi Allah!'

kataku dalam hati, 


'inilah tanda yang kedua, bahwa ia bersedia menerima hadiah'.


Aku kembali pulang dan tinggal di tempatku beberapa lama. Kemudian aku pergi mencari Rasulullah dan kutemui beliau di Baqi', sedang mengiringkan jenazah dan dikelilingi oleh sahabat-sahabatnya. Ia memakai dua lembar kain lebar, yang satu dipakainya untuk sarung dan yang satu lagi sebagai baju.


Kuucapkan salam kepadanya dan kutolehkan pandangan hendak melihatnya. Rupanya ia mengerti akan maksudku, disingkapkannya kain burdah dari lehernya hingga Nampak pada pundaknya tanda yang kucari, yaitu tanda kenabian sebagai yang disebut oleh pendeta dulu.


Melihat itu aku meratap dan menciumnya sambil menangis. Lalu aku dipanggil menghadap oleh Rasulullah. Aku duduk di hadapannya, lalu kuceritakan kisahku kepadanya sebagai yang telah kuceritakan tadi.


Kemudian aku masuk Islam dan perbudakan menjadi penghalangku untuk menyertai perang Badar dan Uhud. Lalu pada suatu hari Rasulullah menitahkan padaku:


Mintalah pada majikanmu agar ia bersedia membebaskanmu dengan menerima uang tebusan.


Maka kumintalah kepada majikanku sebagaimana dititahkan Rasulullah, sementara Rasulullah menyuruh sahabat untuk membantuku dalam soal keuangan.


Demikian aku dimerdekakan oleh Allah dan hidup sebagai seorang Muslim yang bebas merdeka.

Reza Nurrohman

/rezanurman

Hanya Orang biasa bukan siapa-siapa
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.