CERPEN

Permohonan Terakhir Alif

20 Mar 2017 | 07:09 Diperbarui : 20 Mar 2017 | 08:48 Dibaca : Komentar : Nilai :

Masih teringat saat saat dimana terakhir kali aku melihat dia, menuliskan semua hal yang pernah dia alami dalam hidupnya yang singkat dalam sebuah buku, hingga akupun berusaha tegar dan mencoba membuka lembaran demi lembaran buku yang pernah menjadi bagian dalam hidupnya itu untuk mengingat masa masa dimana aku bersamanya.

*****

Sabtu 12 januari 2005

Ketika semua orang dapat merasakan indahnya pagi hari dengan di sinari cahaya matahari, dia hanya dapat terdiam di dalam sebuah kamar yang tidak pernah terpapar sinar matahari. Walaupun begitu dia tetap senang tinggal dan menghabiskan sisa waktuku di dalam rumah yang hanya ada aku dan ibuku.

Hai namaku alif, alif Ramadhan. Umurku sepuluh tahun, aku adalah anak laki-laki biasa yang hidup di dalam sebuah kamar yang tak pernah terpapar sinar matahari sekalipun. semua itu karena penyakit aneh yang aku derita selama ini yang membuatku tak pernah bisa melihat indahnya langit biru di siang hari ataupun melakukan aktivitas seperti manusia normal, namun semua itu akan baik baik saja selama ada ibu di sisiku.

Di pagi yang cerah itu, ketika aku sedang melakukan aktifitas rutinku yaitu menulis semua hal yang ku alami setiap harinya, terdengar suara ketukan pintu.

Tok tok tok…..

“Alif buka pintunya nak, ini ibu bawakan roti untuk sarapan.” ujar seorang wanita kuat yang selalu setia menemani diriku.

“Iya bu, tunggu sebentar” ujarku, sambil berlari membukakan pintu.

 “apa yang sedang kamu lakukan? Tidak biasanya kamu lama membukakan pintu.” Ujarnya penasaran.

” tidak bu, aku hanya sedang berfikir mengapa tuhan menciptakanku dengan keadaan seperti ini.” Ujarku dengan raut wajh yang sangat sedih.

“nak, ketika tuhan menciptakan sesuatu hal tuhan akan selalu menciptakanya dengan sesuatu kekurangan karena kekurangan itulah yang menyeimbangkan setiap kelebihan.” ujarnya dengan sangat lembut dan perlahan sehingga membuatku hamper menangis.

” namun bu mengapa tuhan tidak memberikan sedikitpun kelebihan kepadaku?” ujarku dengan sedikit kesal.

“semua yang bisa kau lakukan selama ini adalah kelebihanmu nak, jangan pernah membandigkan dirimu dengan orang lain karena setiap manusia di ciptakan dengn kelebihan dn kekurangannya masing masing.” ujarnya, seraya keluar meninggalkan kamarku.

Apa yang harus aku lakukan sedangkan aku tidak tahu apa yang menjadi kelebihanku, haruskah aku pergi keluar demi mencari tahu apa yang harus aku lakukan agar hidupku lebih berguna? atau haruskah aku mati saja agar ibu tidak lagi bersusah payah menghidupiku yang sangat menyusahkannya ini. Sampai pada akhirnya terlintas di benakku tentang sebuah lomba tahfizh yang aku lihat di salah satu majalah anak yang ibu belikan untukku sebagai pembelajaran atas dunia luar yang tak pernah aku lihat dan raskan sebelumnya. Akupun keluar kamar dan menghampiri ibuku di kamarnya.

”ibu bolehkah aku bertanya sesuatu?” ujarku penuh dengan antusias.

“ada apa nak, sepertinya kamu sangat senang” ujar ibuku dengan sangat senang.

 “ibu apa yang akan terjadi jika aku keluar rumah dan terkena sinar matahari? Apakah aku akan terbakar layaknya vampir.” Tanyaku dengan penuh penasaran.

 “ada apa? mengapa tiba-tiba bertanya seperti itu nak?apakah ada yang salah dengan dirimu” ujar ibu dengan penuh kecemasan.

 “tidak bu aku hanya ingin melakukan sesuatu hal yang bisa membuat ibu bangga terhadapku”ujarku tenang.

 “ibu selalu bangga dengan semua yang bisa kamu lakukn selama ini nak, termasuk kemampuanmu dalam menghafal al quran”ujarnya dengan sedikit meneteskan air mata.

 “namun bu, apakah ibu akan mengijinkanku untuk mengikuti lomba tahfiz di luar sana untuk pertama dan terakhir kalinya dalam hidupku.” Ujarku dengan sedikit terbata bata. 

“ibu akn selalu mendukung semua keputusan yang kamu ambil nak, walaupun itu berat bagi ibu.

” Ujarnya seraya memeluku dan menangis di pelukanku. ”terimakasih bu, atas dukungannya semoga doamu selalu menyertai semuanya yang aku lakukan walaupun akhirnya tidak membuatmu bahagia.”

*****

Hari yang ditunggunya pun akhirnya tiba, hari dimana untuk pertama kalinya keluar dari rumah dan melihat indahnya dunia luar yang sebenarnya, walaupun dengan balutan baju dan segala sesuatu benda yang menutupi kulit tubuhku.

 ” bu, doakan aku agar aku bisa membuatmu bangga dengan hasil yang memuaskan” ujarnya seraya mencium tanganku. 

“ibu selalu mendoakan mu nak, cepat bersiap dan tampilkan yang terbaik darimu.” Alifpun pergi menuju panggung dan memulai lombanya.namun di pertengahan lomba aku melihat ada sesuatu yang aneh terjadi pada tubuhnya yang terlihat lemas dan pusing namun alif mencoba bertahan dan melanjutkan lomba hingga ayat terakhir yang dia bawakan. 

“brukk…” diapun terjatuh dan tak sadarkan diri. akupun menemaninya hingga dia tersadar setelah beberapa hari koma di rumah sakit. 

” ibu bolehkah aku meminta sesuatu?” pintanya dengan terbata bata. “ iya nak apapun akaan ibu lakukan untukmu.” Ujarku sambil menahan tangis. 

“tolong bantu aku untuk mengucap kalimat syahadat”ujarnya untuk terakhir kalinya hingga akhirnya dia menghembuskan nafas terakhirnya dalam tuntunan syahadatku.

*****

Tidak terasa sudah tiga tahun berlalu setelah kepergian alif, masih teringat dalam benakku kata kata terakhir yang di ucapkanya kepadaku pada detik terakhir dalam hidupnya yang sangat penuh dengan beban masalah sebuah penyakit yang langka yang belum dapat di temukan obat dan cara menyembuhkanya, namun di saat seperti itulah dia mencoba untuk tegar dan berusaha melakukan hal yang terbaik untuk membahagiakan orang yang sangat di sayanginya untuk terakhirkali dalam hidupnya. Tenang lah di sana anakku doaku selalu menyertaimu agar kau berada tepat di sisinya dan semoga kita dapat berkumpul kembali di sana.

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.