HIGHLIGHT HEADLINE PUISI

Filosofi Menunggu

18 Apr 2017 | 13:58 Diperbarui : 18 Apr 2017 | 18:30 Dibaca : Komentar : Nilai :
Ilustrasi/Kompasiana (Shutterstock)

Seperti dedaunan yang mulai menguning kemudian jatuh pelan-pelan dari dahannya dan tangkai-tangkai pohon yang mulai rapuh; mereka tidak pernah jenuh menunggu datangnya musim semi.

Seperti meja, kursi, dan vas bunga yang berserakan di ruang tamu; kepingan pecahan piring dan gelas memenuhi lantai dapur; pakaian dan buku yang berhamburan keluar dari lemari kamar tidur; debu yang mengendap dengan tebal di jendela halaman belakang; dan sarang laba-laba yang menempati tiap-tiap sudut plafon di seluruh ruangan: rumah masih menunggu tuannya untuk pulang.

Seperti kursi-kursi di kedai kopi yang tidak terisi dan pelayan kafe yang sibuk mondar-mandir merapikan meja; mereka masih menunggu pengunjung yang akan datang untuk sekadar memesan segelas kopi atau teh sambil menulis beberapa baris puisiā€”atau mungkin hanya sekadar berbincang dengan kesunyian.

Seperti ayah yang pulang kantor di malam hari dan ibu yang setiap pagi menyapu halaman rumah; mereka tidak pernah berhenti mengirim doa di sepertiga malamnya untuk anak-anak yang berada di tanah rantau dan tetap setia menunggu tukang pos yang akan datang membawa sepucuk kabar.

Seperti isi kepalaku yang semakin hari semakin dipenuhi dengan warna-warni baju yang sering kau kenakan, wangi parfum yang biasa kau pakai, dan suaramu yang khas berdengung di telingaku membawaku kembali ke masa-masa di mana bahuku selalu menjadi sandaranmu untuk beristirahat dari segala kepenatan hidup; aku masih menunggumu pulang.




Makassar, 18 April 2017

Selvy Annesa Putri

/puputannesa

Poems, old songs, and a sky full of stars.
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.