HIGHLIGHT PUISI

Bumi sebagai Rumah dan Nafas

21 Apr 2017 | 18:52 Diperbarui : 21 Apr 2017 | 19:24 Dibaca : Komentar : Nilai :
Bumi sedang sakit. Foto dok. M. Ramos

Tak salah, itu sah-sah saja terkait untuk apa bumi diciptakan sebagai rumah segaligus nafas

Tempat berdiam segenap (segala yang bernyawa) dan tak bernyawa

Semua perlu bumi sebagai tempat berpijak, berkembang biak dan bernafas

Dari awal hingga belum tahu akhir, namun yang pasti usia bumi sudah semakin tu.

Sang Pencipta mencipta jua menitip kepada generasi ke generasi bahwa bumi sebagai rumah dan nafas adalah sebagai titipan bukan warisan

Dari masa ke masa, diusianya yang semakin renta bumi selalu sabar menampung dirumahnya yang semakin rapuh dan rusak karena guratan sekaligus juga goresan dari tingkah polah manusia menantang

Panas terik tak lagi terhalang atap melainkan terang benderang menghadang langsung pada segenap isi bumi dan penjuru kota serta hutan

Tanda penanda realita gerah gelisah terang benderang sang surya kian dan tak kentara merajalela menebus batas kesabaran hingga memakan korban jiwa karena suhu diambang batas sekaligus cobaan yang selalu dan siap menghadang

Gedung-gedung bertingkat semakin merajai menggunakan kipas peyejuk ruangan sebagai penuh jiwa sekaligus jua penyibak mentari untuk semakin menghangat begitu keliahatan

Panas menyengat, dingin menusuk merenda memperbaiki bumi sebagai rumah untuk memperlambat laju si nasib bumi tua

Merenovasi karena hendak hati memperbaiki yang memeranggas rebah tak berdaya, bersisir berjejer rapi acap kali termakan api, menutup lubang-lubang menganga ditepian

Kisah sedih tak jarang terjadi karena hantaman badai yang tiba-tiba ataupun siklus yang kian menerjang, pintu sebagai penghalang sudah sering tak mempan dan tak bergun.


Derai tangis air mata tak jarang menuba para penjaga rumah bumi yang tak berdosa dikesunyian sepi menanti dinanti memperoleh arti para petinggi

Raung suara pendera sudah semakin terdengar mendera mengalahkan dan mengusir para isi rimba raya

Mengaharap berharap menanti ada tindak sekaligus merenovasi bumi sebagai rumah untuk penyejuk jiwa dari para sukarela  

Berkehendak menjaga agar bumi bisa terawat agar anak cucu merasa lega hingga senang ceria hingga nanti

Agar tak lagi terjerat, terjebak terjerembab kawat berduri karena pengaruh dari sakit penyakit bumi   

Menginginkan rasa seiya-sekata sebagai satu kesatuan untuk tidak berdusta pada rumah yang bernama bumi ini

Tak sedikit tugas dari semua segala mencari kemurnian jiwa dan keikhlasan untuk merubah pola lama merawat bumi dengan memilihara tidak nanti tetapi hari ini

Luka lama bumi harus dibalut dengan cara yang sederhana yang tak mewah melimpah namun sedari hati yang murni.


Untuk Hari Bumi, besok 22 April 2017

Ketapang, Kalbar

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Petrus Kanisius

/pit_kanisius

TERVERIFIKASI

Belajar menulis dan suka membaca tentang fakta dan realita
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.