PUISI

Puisi | Kenangan Bulan Lima

20 May 2017 | 02:22 Diperbarui : 20 May 2017 | 03:50 Dibaca : Komentar : Nilai :

Sore hampir jatuh di pelupuk mata,
 udara kemarau membawa kembali ingatan,
 tentang penggalan bait yang tak selesai ditulis,
 sebab perempuan pemilik betis Ken Dedes itu,
 memilih untuk menutup kedua telinga,
 sebelum nada yang ku tata sampai pada penghabisan,
 lalu ia pamit pergi, meninggalkan babak akhir remaja,
 menutup rapat lembar kenangan,
 membuangnya ke selokan depan sekolahan.

 Susunan nada tidak berbahaya, apalagi membunuhmu,
 seperti kalimat peringatan yang tertera dibungkus rokok,
 yang sering kau tirukan untuk menasihatiku
 agar berhenti mencampur oksigen dengan asap tembakau,
 menelannya kedalam paru-paru, lalu menghembuskan sisanya.
 ya, tentunya hanya nasihat basa-basi.
 Bait-bait yang ku kirim juga bukan mantra,
 Ajian Semar mesem yang bisa menyihirmu,
 ia hanya kabar berita yang ingin ku sampaikan,
 catatan yang diolah sedemikian rupa,
 menjadi kebutuhan rohani menyusun ayat-ayat,
 sebab urusan kangen bagiku sama pentingnya dengan berdoa,
 memanjatkan harapan dengan bersajak,
 karena aku yakin Tuhan juga mencintai sastra,
 maka aku memilih berdoa juga bersajak.

 Tiga belas tahun waktu melaju,
 selembar surat cinta pertama untukmu,
 yang dulu ku kirim lewat jendela kelas,
 apakah masih kau simpan sebagai arsip pribadi?
 atau kau buang bersama lembar kertas ulangan.
 Ya, pasti banyak yang berubah diantara kita,
 kehidupan memang tidak selalu sama,
 tapi tentang udara di bulan Mei, bulan ke lima,
 selalu saja sama setiap tahun, membawa muatan kenangan lama,
 cuaca yang mulai cerah, tapi dingin dan lumayan berangin,
 barangkali musim kemarau akan segera datang,
 matahari akan menatap dengan tajam jarang berkedip.

 Dik, bagaimana kabarmu sekarang?
 Apakah radang tenggorokanmu masih sering kambuh?
 Apakah rambutmu masih panjang?
 Apakah berat badanmu turun lagi seperti dulu?
 Apakah Tunggul Ametung yang kau tunggu sudah datang,
 membawa jaminan kehidupan mapan untuk meminangmu?
 Jangan-jangan ia sudah sampai menemuimu,
 sementara Empu Gandring tak ku tahu kemana perginya,
 padahal aku hendak memintanya menempa sebilah keris,
 yang akan ku pakai untuk membunuh Tunggul Ametung

 Dik, di mana kamu berada sekarang?
 Apakah sibuk di ruang kerja ber-AC ?
 Apakah duduk di taman kota menunggu matahari tenggelam?
 Apakah di rumah menghitung hari-hari terakhir usia lajang?
 sambil membalas pesan yang datang di kotak masuk,
 memberitakan hari pernikahan kepada kawan-kawanmu.
 ataukah terlibat dalam sebuah pementasan sepertiku?
 tapi aku yakin yang terakhir tidak.


Surakarta, 19 Mei 2017

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.