CERPEN

Lingkaran Waktu

20 Mar 2017 | 10:51 Diperbarui : 20 Mar 2017 | 11:25 Dibaca : Komentar : Nilai :

Lingkaran Waktu

Lembayung senja menerpa seisi jagat yang kutapaki, ku silangkan kedua tanganku karena silau akan sinarnya. Dari kejauhan aku melihat seorang gadis manis yang asik bermain di bawah pohon rimbun di atas bukit kecil. Mataku mengarah ke sebuah rumah yang tak jauh dari bukit itu, kakiku pun terus berjalan meski menerjang rimbunnya ilalang. Aku rasa ada medan magnet yang kuat sehingga menarik perhatianku untuk kesana. Sebuah rumah berarsitektur klasik yang sarat akan seni mulai terlihat ketika aku memasuki halaman depan, dipagari kayu mahoni yang terukir dengan rapi.

Melihat halaman depan yang dipenuhi oleh tanaman obat-obatan mengingatkanku akan cerita dari ayah, bahwa buyut ayah dulunya adalah seorang peracik obat yang handal pula. Tidak hanya itu, ada bunga yang pernah aku lihat di mimpi yang kini aku lihat ada di tempat ini, tanpa pikir panjang ku petik setangkai bunga unik itu berbentuk menyerupai mawar namun tak berduri dengan warna biru muda keunguan di tiap kelopaknya.

Tampak cerobong asap mengepul dari atas rumah, rupanya di dalam nya sedang ada penghuni yang sedang melakukan aktifitas. Aku mengintip lewat jendela bagaikan agen mata-mata di film Sherlock Holmes, benar saja ada sepasang suami istri di dalam rumah itu. Entah apa yang sedang mereka bicarakan namun dari ekspresi serta raut mukanya aku bisa menduga bahwa mereka sedang membicarakan sesuatu yang serius.

Suara burung beo sempat mengagetkanku, tanpa kusadari sebelumnya ternyata tepat diatasku ada sangkar burung yang terbuat dari besi berwarna coklat tua, tampak mulai berkarat karena terus di terpa cuaca yang berubah-ubah. Burung beo itu seakan ingin bercerita dan sangat akrab denganku layaknya aku ini majikannya yang sebenarnya. Burung beo itu terus menatapku seperti tatapan yang penuh akan seribu cerita yang siap dikisahkan kepadaku.

Kudengar nyanyian anak kecil yang semakin mendekat, benar saja ketika ku toleh kebelakang ada seorang gadis kecil yang memasuki halaman depan. Rupanya gadis itu adalah gadis manis yang tadi kulihat bermain di bukit kecil. Rok selutut yang ia kenakan terlihat sangat cocok dengan postur tubuhnya yang semampai, berwarna merah jambu yang senada dengan pita rambutnya. Dengan wajah yang sumringah gadis itu masuk ke dalam rumah. Kembali ku intip lewat jendela, benar firasatku bahwa sepasang sumi istri itu adalah orang tua dari si gadis.

Eh... Gek Ratih sudah pulang, sini sayang. Main dimana saja tadi Gek?” tanya ibunya

“ Gek main di bukit kecil Ibu, yg dekat pohon beringin itu”

“ Ya sudah mari duduk, minum teh hijau racikan Ibu.”

“ Iya Ibu”

Mereka terlihat seperti keluarga yang sangat harmonis. aku begitu bahagia melihatnya, padahal aku tidak kenal dengan mereka. Entah mengapa meski aku tidak pernah berkenalan langsung aku merasa tidak asing dengan mereka. Senyum yang mengembang dari bibirku bisa kulihat dari kaca jendela, tapi itu tidak bertahan lama setelah ada hal ganjal lain yang kulihat.

Tiba-tiba saja datang sekawanan laki-laki yang bertubuh besar dan bermuka garang. Aku tidak tahu ada perlu apa mereka mendatangi rumah ini. Berpakaian serba hitam yang sedikit menakutkan, ditambah lagi banyak luka codet di muka nya. Sebilah belati terlihat terselip di saku celana kanan salah satu dari mereka, mungkin dia adalah pemimpin dari sekawanan laki-laki itu.

 “ Apa yang kalian lakukan disini?” ucap Bapak Ratih

“ Apa kau bilang? Kau masih bertanya alasan kami kemari, jangan pura-pura tidak tahu”

Disudut lain aku melihat Ratih bersembunyi di pojok dekat lemari, karena takutnya melihat laki-laki itu. Kemudian ibunya segera medekatinya.

“ Gek Ratih masuk ke dalam kamar, cepat masuk sayang, cepat” kata ibunya dengan nafas yang sudah tidak teratur karena khawatirnya.

“ Baik ibu, tapi ibu temani Ratih ya?”

“ Iya sayang, tapi kamu masuk dulu, cepat Gek. Jangan lupa kunci pintu kamar” suruh sang ibu

“ Baik bu” turutnya.

Aku melihat segala kejadiannya dimana keluarga Ratih dibantai oleh orang- orang yang tidak mempunyai hati itu, aku berada di sana merasa begitu sakit. Aku hanya mematung tak mampu untuk melakukan apa-apa. Dari dalam rumah terdengar suara gelas pecah, beling bertebaran dimana-mana. Tidak tahan akan tingkah semena-mena yang di lakukan oleh sekawanan laki-laki itu membuatku geram namun tetap tidak bisa berbuat apa.

Ku teriakkan berulang kali kepada si pembantai agar berhenti melakukan tingkah anarkisnya itu, namun seolah semu, segala yang aku teriakan tidak terngiang di telinga mereka. Aku tidak mengerti kenapa bisa mereka tidak menghiraukanku padahal sekarang aku jelas-jelas ada di hadapannya. Tingkahnya semakin menjadi, semua barang di lempar hingga membuat kacau seisi rumah.

“ Cukup, cukup. Sudahi semua ini, apa yang kau lakukan” teriakku dengan suara parau.

Mereka semakin tidak terkendali dan akhirnya sebilah belati itu tertancap di perut ayah Ratih. Darah segar banjiri lantai ruang tamu bernuansa 1600-an itu.  Emosi, kaget, dan amarah meluap dalam diriku namun aku tidak dapat melakukan apa-apa. Aku merasa begitu bersalah karena tidak dapat menolongnya. Setelah apa yang telah pembantai bengis itu lakukan mereka langsung pergi begitu saja, meninggalkan raga ayah Ratih yang meregang nyawa atas tindakan mereka. Ibu Ratih menangis sejadi-jadinya. Ingin aku menenangkannya namun apa daya tidak ada yang menyadari keberadaanku. Aku seolah berada di era lampau yang dimana aku hanya bisa menjadi penonton tanpa bisa ikut terlibat kedalam peristiwa yang sedang berlangsung.

Aku teringat Ratih masih di kamar, kudobrak pintu kamarnya dan kemudian kudapati dia sedang menangis di pojok kasur dekat meja kayu. Hatiku bagaikan tersayat belati ketika melihat wajah manisnya yang di hujani tangisan cemas dan takut. Aku terus mendekatinya, semakin dekat sehingga membuat aku dan dirinya tidak berjarak. Ada hal ganjal ketika aku memperhatikan lehernya, kalung berliontin batu ukir berwarna merah delima persis seperti dengan liontin yang aku punya. Apa benar ini hanya kebetulan semata, sedangkan ayah berkata bahwa kalung berliontin yang aku pakai adalah kalung turun temurun dari keluarga.

Suara gemuruh guntur dan kilatan petir membuat suasana kian mencekam, membuatku menyingkirkan kebingunganku yang sesaat. Akhirnya hujan turun dari liang-liang atap dan basahi rerumputan yang hampir tidak tampak oleh gelapnya malam. Ku dekap Ratih dengan lembut seperti mendekap diriku sendiri, mungkin itu yang aku rasakan saat ini. Ratih memang tidak menyadari kehadiranku tapi setidaknya dia bisa merasakan dekapanku.

Cahaya yang terang tiba-tiba masuk ke dalam kamar melalui celah kaca di samping kananku, tanpa aku sadari aku tiba-tiba sudah berdiri di depan lukisan yang belum pernah aku lihat sebelumnya, tapi aku tidak merasa asing dengan sosok gadis kecil yang ada di dalam lukisan itu.

“Gek Mas, kamu kenapa?” tanya ayah

“ Tidak kenapa Yah, aku hanya bingung rasanya barusan aku sedang berada di sebuah tempat seperti era 1600-an, bagai menyusuri ruang waktu yang seolah-olah pernah aku alami.”

“ Mungkin kamu hanya berkhayal, makanya lain kali jangan melamun” sanggah ayah

“ Tidak yah, aku yakin aku tidak sedang berkhayal semuanya seperti nyata. Anak kecil yang aku temui persis dengan anak kecil yang ada di dalam lukisan ini” jawabku sambil menunjuk ke arah lukisan yang tepat berada di depanku.

“ Gadis kecil itu adalah nenek buyut ayah Gek, namanya buyut Ratih”

“ Tetapi ayah tidak pernah menceritakan sebelumnya mengenai hal ini”

“ Sebenernya itu alasan ayah mengajakmu liburan kerumah tua ini, agar kamu bisa tahu lebih banyak mengenai silsilah keluarga kita, meski tidak sama persis seperti keadaannya dulu karena sudah banyak yang di renovasi”

Mendengar semua pernyataan ayah aku jadi semakin bingung, lalu kenapa aku bisa tiba-tiba ada di era 1600-an itu. Hal itu begitu nyata dan aku yakin bukan hanya sekedar ilusi semata. Apabila dia adalah buyut dari ayah lalu kenapa pula aku bisa merasa dirinya seperti cerminan dariku. Ayah menatapku dengan tatapan yang ingin meyakinkanku bahwa semuanya baik-baik saja, namun aku tetap tidak dapat menghilangkan rasa penasaranku. Kulihat tangan kananku dan ini sungguh nyata aku menggenggam bunga yang tadi aku petik di halaman rumah Ratih, ini membuatku semakin dipenuhi seribu pertanyaan dan praduga. Aku yakin inilah yang dinamakan suatu siklus reinkarnasi yang dimana karma tidak akan hilang jiwa meninggalkan raga.

“ Dor, dor, dor...” suara gedoran pintu bak tembakan terdengar dari luar.

Aku dan ayah dikagetkan dengan gedoran pintu yang sangat keras itu, membuat diriku dan ayah menoleh seksama ke pintu utama. Seorang lelaki membawa sebilah belati yang persis dengan belati yang pernah aku lihat ketika pembantaian terjadi di rumah Ratih. Ini begitu mengejutkan seperti sesuatu yang siap terulang. Tanpa kusangka tiba-tiba saja lukisan buyut ayah jatuh dan membuat semua perhatian tertuju ke arah lukisan itu.

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.