CERPEN

Kekompakan

20 Mar 2017 | 20:49 Diperbarui : 20 Mar 2017 | 21:27 Dibaca : Komentar : Nilai :

Rara adalah seorang mahasiswi di salah satu kampus di Malang. Ia adalah seorang anak yang pandai. Ia berasal dari keluarga sederhana. Dalam keluarganya, ia harus bertanggung jawab kepada seluruh adik-adiknya yang masih sekolah. Tuntutan ekonomi membuatnya berinisiatif untuk berjualan di kampus. Semuanya bisa dipakai untuk berbisnis. Dari menjual gorengan, brownis, buku, tas rajut, jajanan ringan, dan lain sebagainya ia jual. Untuk membantu ekonomi keluarganya.

Suatu pagi yang cerah, ketika matahari akan terbit ia bersiap-siap untuk kuliah. Sebelum bersiap untuk kuliah, Rara biasa mengikuti kegiatan di pondoknya. Karena Rara tinggal dipondok, Rara harus bisa membagi waktunya untuk kuliah, mengerjakan tugas, dan kegiatan dipondok. Untung saja Rara sudah terbiasa dengan kegiatan tersebut.

Rara berangkat kuliah dengan hati gembira. Ia merasa beruntung, karena ia dapat menempuh kuliah walaupun ekonomi keluarga pas-pasan. Apalagi setelah lolos masuk kampus negeri, ia semakin beruntung. Ia berharap, ketika lulus nanti ia dapat membantu perekonomian keluarganya.

Rara memasuki kelas, dan bertemu teman-temannya. Rara senang bertemu dan bercerita dengan teman-temannya. Ia asyik bercengkrama hingga akhirnya kuliah dimulai. Dosen mulai menjelaskan materi kepada mahasiswa. Tak terasa, kuliah pun akhirnya selesai. Rara pun mampir ke kosnya teman untuk mengerjakan sesuaru.  Karena Rara sudah janji sebelumnya.

“Rara, jadi kan ke kosku?” tanya Farah

“Iya, jadi Farah. Ayo...” jawab Rara

Rara ke kosnya Farah untuk mampir dan sekaligus berbisnis. Rara dan Farah bekerjasama bisnis tas rajut. Tas rajut yang dijual terbuat dari tali kur. Farah pandai merajut, dan mengajarinya pada Rara. Dan mengajak Rara untuk bekerjasama berbisnis tas. Akhirnya, mereka asyik membuat tas sambil berbincang-bincang. Mereka membicarakan teman sekelasnya yang belum bisa kompak.

“Eh, Farah... ngomong-ngomong kenapa teman sekelas kita kok tidak bisa kompak?” kata Rara

“Iya nih, dari dulu kan kita sudah berusaha untuk menyatukan mereka. Tapi sampai sekarang kok belum bisa kompak ya?” kata Farah

“Berbagai macam cara sudah dicoba, aku sampai menyuruh mereka menulis evaluasi pribadi masing-masing di kertas. Tapi sepertinya tidak ada dampak positif, malah mereka salah paham dan sedih dengan komentar di kertas. Menurutmu, kenapa ya kok kelas kita tidak bisa kompak?” kata Rara bingung

“Menurutku ra, teman-teman itu terlalu sensitif. Dan selalu berpikir negatif jika kita bersikap atau berkata-kata. Padahal, kan belum tentu niat kita jelek. Bisa saja, kita hanya bercanda. Tapi, mereka mengira kalau kita serius. Itu masalahnya ra. Mungkin karena karakter masing-masing kita yang berbeda.” Kata Farah menjelaskan

“Iya Farah, kamu benar. Aku sudah tidak tau lagi cara menyatukan mereka semua.” Kata Rara

Setelah itu, mereka terdiam. Sibuk dengan tas yang mereka buat. Hingga pada suatu hari, salah satu teman sekelas Rara ada yang akan menikah. Teman satu kelas Rara berdiskusi tentang pernikahan temannya yang bernama Nana . Kecuali Nana, ia tidak diikutkan berdiskusi karena ia yang akan menikah. Dan teman Rara juga membuat grup Whatsapp kecuali Nana tidak dimasukkan dalam grup tersebut.

Mereka berdiskusi tentang hadiah yang akan diberikan, hingga kendaraan yang akan dinaiki untuk menghadiri acara pernikahan tersebut. Semua sudah ditentukan jauh-jauh hari, dan semua sepakat dan  setuju dengan keputusan tersebut. Tapi, tiba-tiba keputusan itu berubah 4 hari sebelum hari H pernikahan. Ada Tono yang harus menyetir mobil, untuk mengantar dosen ke acara tersebut. Dan ada salah satu teman, yang tidak bisa membonceng untuk menghadiri acara itu. Padahal, ia mempunyai motor. Ia berencana langsung pulang setelah acara pernikahan bersama temannya ke kampung halamannya. Sehingga, ia bisa membonceng salah satu dari teman sekelasnya untuk pergi ke acara itu. Sontak, teman-teman sekelas marah dengannya. Terjadilah perdebatan di grup Whatsapp.

“Teman-teman, maaf aku tidak bisa bawa motor. Soalnya, aku mau pulang langsung setelah acara sama temanku.” Kata Gesa

“Loh, gimana sih. Kemarin bukannya sudah fix kamu bawa motor Ges?” kata Mita kesal

“Iya, tapi aku baru kepikiran ini tadi. Aku mau pulang, tapi nggak dibolehin orang tua kalau sendirian. Harus sama teman.” Kata Gesa lagi

“Tapi mana tanggung jawabmu kalau seperti itu? Kita masih kurang kendaraan untuk kesana. Kemarin katanya bisa. Tiba-tiba nggak bisa. Kamu mikir nggak gimana dengan teman-temanmu yang lain?” kata Mita

“Kurang 3 anak yang belum dapat boncengan dan nggak bisa naik motor. Mereka kan juga pengen ikut hadir di acara pernikahan itu. Coba kalian bayangin, seandainya kalian nikah. Terus, ada teman sekelasnya nikanggak datang. Gimana perasaan kalian saat itu? Cobalah mengerti, jangan mikirkan diri sendiri” Kata Ena menimpali

“Aku juga paham kok, kalau orang tua khawatir kalau anaknya pulang sendirian. Tapi kan waktunya nggak tepat. Masak nggak mau sih diundur satu hari aja...” kata Mita

“Masak tega sih sama teman seperti itu. Padahal, yang biasanya menolong kamu ya teman kamu sendiri. Cobalah mengerti. Jangan memikirkan diri sendiri.” Kata Farah ikut menimpali

Chat di grup Whatsapp semakin rumit pembicaraannya. Semua kesal dengan Gesa. Namun, pada akhirnya Gesa pun lelah dengan marahan teman-temannya. Ia pun meminta maaf kepada teman-temannya di grup Whatsapp. Dan ia bersedia untuk mengundur jadwal perpulangannya.

“Iya deh, teman-teman. Aku nggak jadi langsung pulang nanti. Aku undur besoknya setelah nikahan. Maaf ya teman-teman...” kata Gesa kemudian

Tidak terasa, datanglah hari pernikahan Nana. Semua teman bergembira. Rara senang sekali, kali ini temannya bisa kompak. Sejak hari itu, teman-teman sekelas menjadi lebih kompak dari sebelumnya. Mereka berusaha untuk mengerti keadaan dan karakter temannya satu persatu.

Kekompakan datang bukan karena diatur oleh orang lain. Akan tetapi, kekompakan itu datang dari pengertian akan kondisi, karakter, dan keadaan sekitarnya. Berusaha seperti apapun kita untuk dapat kompak tidak akan datang. Kecuali dari pengertian diri kita terhadap sekitarnya. Kekompakan sangatlah penting ketika bersosialisasi. Berusahalah kompak, dan tidak berpikir negatif kepada yang lain.

Novida Balqis Fitria Alfiani

/novidabalqis


Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.