CERPEN

Ah, Pertemuan Itu...

17 Feb 2017 | 08:27 Diperbarui : 17 Feb 2017 | 07:48 Dibaca : Komentar : Rating :

Cuaca hari Minggu yang cerah membawa suasana sejuk di hati. Sudah tiga bulan tidak merasakan momen hari Minggu di Jakarta. Belakangan bisa merasakannya di tengah suasana hutan sepanjang anak Sungai Asahan, pun mengambang di tengah laut Selat Makassar atau syukur-syukur bisa di tengah kota kecil Handil yang cukup ramai. Baru semalam menghirup udara Jakarta kembali, sumpek. Tapi banyak menyimpan kenangan.

Aku berkemas, mengambil sepatu olahraga, menderma sedikit waktu untuk berlari santai di sekitar parkiran luas Kebun Binatang Ragunan yang masih sepi. Rimbunnya pohon masih menjaga udara di sekitarnya tetap segar, meski kadang, hembusan asap kendaraan bis Transjakarta yang lalu lalang di situ sesekali mengusik. Sambil berolahraga, memasang perangkat earphone untuk mendengarkan radio di ponsel adalah kombinasi yang sangat pas. Cukup tiga puluh menit, keringat sudah membasahi seluruh badan. Saatnya untuk menyudahi.

Sejenak duduk di jajaran kursi yang tersedia dekat halte bis Transjakarta, menenangkan nafas, lalu sesekali mengecek jam di ponsel. 

“Ah, masih cukup waktu”, pikirku dalam hati. 

Aku pun beranjak ke kios kumpulan penjaja sarapan. Seperti biasa, nasi uduk dengan lauk perkedel jagung menjadi menu santapanku. Kali ini aku memilih untuk dibungkus saja karena sedang mengejar waktu.

Aku berkemas, menyelesaikan santap pagi dan berangkat menuju halte transjakarta. Hari Minggu keramaian di halte Ragunan berbeda dari biasanya. Umumnya akan dipadati oleh keluarga-keluarga yang ingin berkunjung ke kebun binatang. Hari kerja, halte Ragunan dipadati oleh para pekerja yang akan berangkat ke seputaran Kuningan dan Sudirman. Di dalam bis cukup padat, rupanya ada juga yang ingin bepergian ke Monas dari Ragunan. Jakarta di hari Minggu tetap terasa penuh.

Aku turun di Halte Kuningan, berpindah bis mengambil tujuan ke Pluit. Kendaraan sepanjang jalan Rasuna Said dan Gatot Subroto terlihat lengang. Aku harus melalui jembatan penyeberangan yang cukup panjang untuk bisa mencapai perhentian bus yang akan menuju Pluit. Trayek ini cukup sepi. Aku pun mengambil tempat duduk, meski perjalanan tidak terlalu jauh. Aku turun di halte Semanggi.

Memasuki plaza Semanggi, memang tidak asing bagiku, tapi suasana kali ini cukup berbeda. Ada perasaan girang karena kembali bisa menghirup aroma mall. Dalam hati sejenak tertawa, kehidupan di remote area sudah sempat merasuk ke dalam jiwa. Terasa denyut glamornya hidup di kota yang serba instan dan bergelimangan pitis. Semua ada harganya. Langkahku sempat terhenti ketika aku kembali berpikir destinasi yang akan kutuju. Oh iya, aku harus menuju lift untuk bisa naik ke lantai dua belas.

Aku memasuki ruang ibadah Minggu, hati terasa adem dan bergemuruh sukacita. Momen pertemuan dengan para rekan, berbakti bersama, memang sesuatu. Lama kurindukan. Datangnya cukup tepat kali ini karena ternyata ada beberapa teman yang sudah datang. Duduk bersama satu deretan. Denting piano membawa suasana hati mengiringi syair nyanyian jemaat. Sedikit mendongak untuk melihat ke arah posisi piano. Oh, ternyata dia dibalik harmoni musik yang mengalun.

Setelah rangkaian ibadah Minggu disudahi, jemaat keluar dan saling bertegur sapa. Seperti biasa, telah tersedia makanan kecil dan minuman hangat di luar ruang ibadah. Siapa saja bebas menikmatinya. Teh  tawar hangat dan potonganbrownies menjadi paduan yang pas menemani waktu ramah tamah dengan teman. Saling bertanya kabar, bertukar pengalaman, dan pastinya curhat dengan beban kerjaan masing-masing. Ada yang bangga dengan prestasi kerja, ada pula yang mulai merasa tak nyaman dengan kondisi pekerjaan di kantor, ada yang sedang asyik dengan pedekate, ada pula yang masih bingung dan bimbang dengan masalah pasangan hidup. Jakarta oh Jakarta, penuh banyak cerita.

Ada perasaan tidak konsisten dalam hatiku. Jakarta yang sempat kurindukan meski sekejap saja kutinggalkan, sudah memberikan banyak cerita. Bahkan terasa kurang waktu untuk membicarakannya kalau hanya sekedar nangkring  dengan makanan ringan. Kami berenam pun memutuskan untuk turun ke lantai 3A, lantai yang diperuntukkan untuk penjual makanan dan minuman.

Ketika keluar gedung gereja, tanpa sengaja berpapasan dengan sosok dibalik piano.

“Hey, apa kabar bro? Sudah lama kita nggak jumpa,”sapanya.

Senyum, lalu tertawa kecil, sambil mengulurkan tangan untuk berjabat.

“Hehe, iya! Baik, kabarku begini-begini aja. Selamat hari Minggu!” jawabku.

Lelaki yang ada di sampingnya pun dengan sigap mengulurkan tangan untuk berjabat. Akupun tersenyum.

“Selamat hari Minggu!” ucapnya.

“Selamat hari Minggu!” balasku.

Mereka terlihat ingin bergegas, mungkin ingin makan siang juga ke bawah.

“Kami duluan ya,” ucapnya.

“Oke,” balasku.

Aku lalu sibuk mencari teman-temanku. Ternyata mereka sudah menunggu di depan pintu lift. Ada enam pintu yang disediakan, semuanya sudah dikerumuni orang-orang yang hendak turun ke lantai bawah. Aku pun bergabung dengan teman-temanku dan turun ke lantai 3A.

Perasaan memang punya cara untuk mempengaruhi cara bertindak. Bahkan, untuk hal-hal tak kasat mata alias ekspresi mikro. Setiap orang pasti bisa merasakan bahwa ketika ada sentuhan terhadap perasaan, mood sehari bisa berubah. Pun itu yang terasa dari pertemuan singkat tadi.

“Ah, pertemuan itu!...”

Niko Simamora

/nikosimamora

TERVERIFIKASI

@nikomamora~\r\nnikosimamora.wordpress.com~\r\nniko_smora@live.com\r\n
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.