HIGHLIGHT PUISI

Kartini Menggugat

21 Apr 2017 | 22:04 Diperbarui : 21 Apr 2017 | 23:31 Dibaca : Komentar : Nilai :

: Sebuah kado Hari Kartini untuk isteriku, ibuku, sahabat-sahabatku...


Seribu Kartini turun ke jalanan yang penuh lumpur sisa banjir darah seratus tiga puluh tahun lalu  yang dimuncratkan oleh seorang istri pertama namun bukan yang utama,

Seribu Kartini menghambur jalanan membakar ban-ban bekas dari tumpukan seribu dendam pilu sudah lama terpendam,

Seribu Kartini mengungkap kemarahan pada mereka yang pongah melebihi anjing-anjing kudapan yang setiap malam tertidur seperti pistol menadah hujan di bawah tiang listrik kota metropolitan,  

Seribu Kartini mengibaskan asap membubung menjadi reratapan kabut kelabu yang menutup pandangan cukong cukong  di apartemen-apartemen yang berdiri mewah jauh dari bau lumpur hijau sawah-sawah

...........

Dengarlah tangisan setengah berteriak seorang perempuan dari belakang kemudi bis kota meneteki bayi yang sedang ngompol di pelukannya, hanya sekedar untuk mendapatkan kartu yang tak kunjung dipegangnya meskipun sudah berbulan-bulan mengabdi pada negeri ini menjadi sopir di jalanan ibu kota,

Dengarlah sumpah serapah perempuan pemecah batu kali berkerudung nipah yang wajahnya hampir menghitam batubara yang bertarung melawan deras arus sungai, hanya sekedar menuntut harga-harga tak melambung tinggi melebihi bongkah bongkah kerikil di genggamannya,

Dengarlah caci maki riuh perempuan Pakusari yang tiap hari memunguti sesuap nasi dari tong-tong sampah milik para tuan tanah Blambangan, sekedar mimpi anak-anak mereka bisa bersih berseragam semerah putih bendera bangsa kaya raya ini,

Dengarlah kebanggaan semu dari perempuan tukang sayur bertopi putih dari Sempu, yang mengonthel sepeda butut sambil memburu ibu-ibu hamil yang hampir mati memperjuangkan janin suci penerus bangsa ini, sekedar ingin berbagi dan di hargai,

Dengarlah tawa sesosok mayat yang seperti hidup lagi, merangkul mesra teman ngopi di cafe hotel paling tersohor di negeri ini, menyusuri jalanan penuh jurang di ibu pertiwi, hanya sekedar memberi pelajaran tentang cinta pada meja hijau dan toga suci para jaksa pengacara,

Dengarlah  senyum kecut perempuan yang mengajari tunas-tunas kecil yang hampir mati kepanasan mengenal aksara di pedalaman belantara Andalas, tangan suci keihklasannya hanya di hargai selembar kertas, hanya sekedar ingin melihat dinding pembatas dari peradaban kolot anak anak rimba,

Dengarlah ketiak lengan baju robek perempuan pemetik teh yang menambah dolar juragan juragan kaya yang hanya dihargai tiga ratus rupiah setiap keranjang yang ujung anyamannya sudah mulai retas, sekedar anak-anaknya bisa makan gula-gula dan tertawa-tawa bersama teman temannya di pinggir kali Wonosari,

Dengarlah retak tulang tangan punggung delapan belas kuli angkut  bawang merah dan cabe rawit pasar legi milik tengkulak-tengkulak kelas teri yang kadang sok-sokan jadi pialang pasar, hanya sekedar agar pedaringan berasnya tak ikut terbang di bawa angin lereng merapi,

Dengarlah  denguh lembut kulit masa lalu, dendam kesumat Ratu Kalinyamat yang diam telanjang mengucap mantra mantra menyumpahi tangan berlumur darah orang yang dianggap bersih karena merasa hasil didikan seorang susuhunan suci tanah ini, sekedar menangisi mayat suami yang mencumbuinya mesra setiap malam jum’at,

Dengarlah derak-derak daun bambu hutan wilangan yang jadi ngeri mendengar tangis arwah perempuan buruh pabrik rokok yang tubuh dan kehormatannya di cabik-cabik karena minta upah  naik lima ratus lima puluh perak, hanya sekedar agar dia dan teman-temannya bisa hidup layak tak nampak budak,

Dengarlah tangis pertobatan perempuan-perempuan penggoda tepi jalan yang rela menginjeksi bokong dan dada agar mengkal seperti durian sampai akhirnya lepas nyawa di badan, hanya sekedar bersaing dengan kolega agar bisa tidur beralas kertas emas dan dasi-dasi mengkilat dari laki-laki yang kadang bersandiwara jadi pejabat,

Dengarlah serak suara perempuan penjual cilok bakar di trotoar sebuah demo tentang kesetaraan gender di negeri bahari yang terkenal dengan permepuan-perempuan alami sawo matang, yang ketar ketir dagangannya berhamburan di usir bengis wajah penertib kota ini, sekedar agar cilok bakarnya dilirik dan dicicipi ibu menteri,

Dengarlah kebencian turun temurun perempuan dari negeri serambi mekah, yang sejengkal saja tanahnya tak relak di injak-injak belanda laknat, sekedar bukan gambarnya saja yang di tempel di dinding-dinding jamuran sekolah namun perjuangannya kita lupa,

Dengarlah harapan-harapan yang hampir pupus dari perempuan guru-guru honorer berupah sabun dan garam dapur, yang tanpa terasa sedang membebankan harapannya di sanggul-sanggul karatan muridnya yang hari ini berlenggak-lenggok di catwalk paving dan senyum bangga di balik secarik kertas dan piala, sekedar tonggak-tonggak peradaban bangsa ini tak roboh di terpa hedonisme dan pungli-pungli,

Dengarlah tangis tertahan sang ibunda Kartini, yang berkobar-kobar semangatnya membakar seluruh ruang hati perempuan bangsa dan anak-anak jaman ini, dari gelap harumnya sangkar madu yang mengurung pilu, sekedar tak pupus harapan dan terus meyakini agar terlahir kembali seribu Kartini,

Dengarlah kecipak air suci menyadarkan mata sang lelaki yang di cipratkan ibunda Kartini yang marah dalam balut kepantasan, hanya sekedar .... agar engkau mendengar betapa kerasnya ibunda menentang poligami, namun apa daya sedih teramat, harus menyerah jadi isteri keempat,....

...........

Hari ini...

Seribu Kartini mati...

Seribu Kartini hidup lagi..


21 April 2017

Yusuf Hamim

/ncuphh

TERVERIFIKASI

Pokoke Nulis
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.