HIGHLIGHT CERPEN

Bermain

21 Apr 2017 | 21:40 Diperbarui : 22 Apr 2017 | 01:15 Dibaca : Komentar : Nilai :
Bermain - koleksi priabadi

Tahun 1986, hari ini langkahmu mulai berjejak di kampungku. Memuliakan tamu, kusambut kedatanganmu dengan sajian minuman air kelapa muda sambil kita mendengarkan berita di radio, betapa saat ini riuh gempita membahana ke seluruh dunia, karena Maradona menaklukkan Jerman. Semaraknya tiadalah jauh beda dengan delapan tahun lalu, ketika itu Belanda dikalahkan oleh Mario Kempes di final piala dunia 1978, tahun aku datang ke dunia ini. Merapatlah kemari, akan kuperlihatkan sebuah mainan yang kutemukan dalam gundukan rumah kepiting di pinggir sungai. Tapi habiskan dulu air kelapa muda itu.

Tut...tut..tut..tut, jariku bergerak lincah memencet tombol-tombol angka pada mainanan bermesin digital. Di layarnya telah muncul angka 1989. Starting...zuuuuup...kita tersedot dibawa menuju tiga tahun ke depan.

Lihatlah. Kita dan teman-teman berjalan kaki ke masjid di kampung sebelah untuk Shalat Jum’at. Dari kampung kita ini akan terasa sangat jauh jika menyeret sendal menapaki jalan raya. Untuk memperpendek jarak tempuh, kita memilih jalan tikus yang melewati kebun-kebun warga sekitar, belukar, dan rimbunan pohon rumbia.

Sepanjang jalanan, kicauan Burung Cucak Rawa terdengar riuh di atas pucuk pohon ijuk atau aren yang sedang disadap niranya. Kadang-kadang kita berpapasan dengan babi yang badannya penuh lumpur dan ayam hutan berbulu coklat keemasan yang liar lari menghilang bersembunyi ke balik semak dan perdu. Setelah menelusuri jalan setapak di hutan rawa itu, kita jumpai sebuah jembatan yang panjangnya hampir 10 meter. Kita menyebut ‘Titi’ untuk jembatan itu. Titi alakadarnya itu hanyalah sebatang pohon pinang yang direbahkan di atas aliran sungai sebagai jalan pintas ke kampung sebelah. Ketika melangkah di atas pohon pinang yang tak sebesar paha orang dewasa itu, kita harus jalan berkaki ayam dengan sangat hati-hati sambil menenteng sendal dan menjaga keseimbangan tubuh agar tak terjatuh kecebur hingga selamat sampai ke seberang. Selanjutnya sudah tak jauh lagi, tak lebih 300 meter ke depan, mesjid sudah di depan mata.

Di lain waktu. Kita berkumpul di rumah seorang teman. Bermain GameWatch (kita mengucapnya gembot) atau sering pula menonton film Gaban, Sariban, dan Megaloman yang merupakan film favoritnya anak-anak kecil di masa itu. Tentu saja di era itu belum ada kepingan CD, masih kotak petak gulungan pita yang disebut kaset vidio. Pulangnya, saat sudah di rumah, kita menulis ulang cerita dari film itu ke sebuah buku berhalaman 12 lembar tanpa sepengetahuan siapapun.

Sering juga sepulang dari sekolah, kita mencari ikan laga bersama. Mengayuh sepeda BMX sambil membawa sebuah pengki rotan yang akan kita gunakan untuk menangkap ikan-ikan cupang itu di rawa-rawa yang banyak ditumbuhi pohon-pohon Cattail (ekor kucing) atau lilin air atau ada juga yang menyebutnya lidi air yang batang dan daunnya banyak dijadikan anyaman. Kita menyebutnya pohon Api Pon. Bagian buah yang tumbuh di pucuk tanaman rawa itu kita sirami minyak tanah yang kemudian disulut api kita jadikan sebagai mainan obor.

Tut...tut..tut..tut, jariku bergerak lincah memencet tombol-tombol angka pada mesin digital itu lagi. Di layarnya telah muncul angka 1990.

Kita dibawa duduk di atas pohon bakau di pinggir sungai. Kita mendengar orang dewasa menyebut kawasan rawa itu dengan sebutan teluk. Itu hanya beberapa hari saja setelah tanggal 2 Agustus 1990. Ketika Norman Schwarzkopf mulai memburu Saddam Hussein menjadi tontonan yang dinantikan di acara Dunia Dalam Berita yang ditayangkan TVRI jam 21.00 WIB. Ya, peristiwa perang itu dikenal dengan Gulf War atau Perang Teluk. Bisa jadi karena peristiwa besar di Teluk Persia itu menjadi inspirasi penambalan nama teluk di tempat kita bermain dan berenang di sungai ini.

Selain banyak ditumbuhi pohon bakau, pohon kelapa, dan jenis pohon-pohon rawa lainnya yang kita belum tahu apa namanya, ada banyak gundukan—dulu aku menemukan mainanan ini di dalam salah satu tanah gundukan itu—rumah kepiting dari tanah berlumpur yang menumpuk dan berlubang. Kepiting sebesar telapak tangan orang dewasa yang berwarna hitam dan berbulu-bulu di bagian kakinya itu kepiting spesies beracun! Tidak seperti kepiting bakau lainnya yang boleh dikonsumsi. Begitulah berita turun-temurun yang aku dapat dari para leluhur. Tapi kita tidak tahu apakah efek racun itu sebahaya senjata kimia yang katanya dimiliki prajurit-prajurit loyalitas Saddam. Belum ada yang berani menjadi kelinci percobaan untuk menyantap kepiting itu....coba kalau ada, tentu saja akan lain ceritanya.

Di bibir sungai, masih terlihat beberapa nisan berukir yang tingginya sepinggang orang dewasa. Nisan-nisan indah itu ada yang sudah rebah di dasar sungai dan ada juga yang masih menancap miring menunggu waktunya karam, karena tanah yang mulai terkikis air. Aku tidak tahu apakah itu pusara prajurit-prajurit Khilafah Ottoman atau perwira-perwira kerajaan Aceh tempo dulu.

Tut...tut..tut..tut, jariku bergerak lincah memencet tombol-tombol angka di mainanan itu lagi..

Camar -camar laut sesekali menungkik menyelam. Hari ini tahun 1569. Kita telah jauh mundur ke masa silam. Ada keramaian di dermaga, pasukan perang Angkatan Laut ‘Laksamana Kurdoglu Hayreddin Hizir Reis’ datang berlabuh. Anak-anak kecil mulai menarikan tari Ranup Lampuan, tarian menyambut tamu dengan menyuguhkan sirih. Tamu harus dimuliakan, begitulah adat..

Selanjutnya tamu-tamu itu dibawa ke atas bangunan panggung kayu yang sudah disediakan. Itu Rumah Sekolah rupanya. Tamu berwajah tampan mulai mentransfer ilmunya. Ya, alih teknologi. Lalu seiring waktu, anak-anak muda penuntut ilmu itu tidak lagi hanya bisa menggodam besi di bara api, sekarang mereka mulai mendidihkan perunggu di wajan besi. Dan yang tak kalah penting lagi, mereka mempelajari ilmu kimia pula, kini sudah pintar meracik bubuk mesiu. Rupanya, Penanggungjawab anak yatim dan anak terlantar tidak hanya butuh para jago gulat, jago panah, dan pandai berenang saja. Para generasi penerus itu ditraining lagi membidik meriam, bedil, dan senapan putar bergagang, atau ‘bren’ begitulah kita menyebutnya di masa kecil.

Kemudian kapal-kapal perang yang canggih itu pun dibeli tuntas, tak peduli dengan kurs dollar. Dibayar lunas dengan mutiara, berlian dan rubi. Andai giok berton-ton itu sudah ditemukan, aku yakin Kapal Induk super canggih pastilah terbeli juga. Kalau pesawat terbang kecil seperti yang katanya cikal bakal penerbangan nasional itu, ya belum apa-apa itu! Tapi ya apa boleh buat, hingga hari ke depan nantinya, kita semua belum bikin apa-apa, ya? Asyik beliii terusss....

Tut...tut..tut..tut, jariku bergerak lincah memencet tombol-tombol angka pada mainan itu lagi..

Oh, rupanya tahun1874, Belanda melucuti hampir semua meriam dan bedil-bedil itu. Hanya sebagian saja yang dibawa lari ke gunung dan rimba sebagai pengganti bantal guling para gerilya. Kalau gak percaya! Nanti kutunjukan satu lembar kertas kopian koran mingguan bergambar pertama di dunia, ‘The Illustrated London News’ namanya . Didirikan tahun 1842 dan akan berhenti terbit pada 2003 nanti.

Apa! kamu juga mau tahu ada apa di tahun 2000 dan seterusnya? Jangan sekarang! Nanti saja. Sudah sore, kita harus pulang. Besok-besok lagi aja kita bermain dengan mainan mesin waktu ini, kita harus hati-hati nantinya, karena di tahun-tahun itu sering terdengar letusan bedil. Aku takut mainan kita ini bisa rusak kena peluru nyasar. Atau tersiram cairan kimia...

***

Dirman Rohani

/nawripus


Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.