PUISI

Truk Gandeng

22 Apr 2017 | 08:53 Diperbarui : 22 Apr 2017 | 09:02 Dibaca : Komentar : Nilai :

Beriringan membelai aspal jalanan. Berbedak debu, bergincu lumpur bekas hujan. Keriut baut dan as roda menggigit keramaian. Terhuyung huyung angkut beban kehidupan.

Setia membelah dingin malam, lalu meniduri siang.  Berhenti saat haus menghampiri, atau lapar menerjang.  Lebatnya terik menguyup memanggang. Tak dipedulikan, karena begitulah nasib menggantang.

Terpisah sementara hanya saat lelah mencapai derak lutut. Lalu bergandengan lagi memacu angin yang sedang kalut. Menuju tempat berlabuh di sudut sudut. Gudang dan pelabuhan yang carut marut.

Mim Yudiarto

/mim


Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.