PUISI

Dari Sang Ayah

22 Apr 2017 | 05:57 Diperbarui : 22 Apr 2017 | 07:06 Dibaca : Komentar : Nilai :

Lelaki tua itu meneteskan air matanya yang mungkin hanya tersisa beberapa.

Bertanya apakah cinta kepada orang tua sudah menghilang dan terhapus dari dunia.

Walau dia tidak berharap lebih dari satu dua patah kata menyapa. Ayah sehat? Ayah tidak apa apa?


Dia menghela nafas seolah udara terasa menyakitkan di dada.

Seolah jantungnya hanya terbuat dari batu bata.

Seolah paru parunya bekerja hanya sebagai kewajiban saja.

Hatinya meneteskan darah yang bukan lagi merah.

Mulutnya terasa kering bukan karena amarah.

Merasa kehilangan kasih sayang buah hatinya karena gerusan jaman.

Dan cukup luka akibat tumpul tajamnya peradaban.


Lelaki tua itu tidak jadi meneteskan air mata. Disimpannya untuk saat saat terakhir saja.

Yaitu ketika semua sisa air mata, ditumpahkan untuk perlambang kasih sayang kepada anak anaknya. Yang tak pernah ada tamat pada akhirnya.

Walaupun kelak, hanya makam tua yang akan menjadi saksinya.

Mim Yudiarto

/mim


Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.