CERPEN

Cinta Austerity

20 Mar 2017 | 20:06 Diperbarui : 20 Mar 2017 | 21:01 Dibaca : Komentar : Nilai :
Dokumen Pribadi

***

Beberapa hari ini Nadia telah mempertimbangkan masalah ini, di atas platformasmara dan konsistensi. Namun Nadia benar-benar merasa gagal paham atas perubahan sikap Dio.

“Kamu sudah tak sama dengan yang dulu lagi,” tuduh Nadia pada kekasihnya.

Dio berbalik memandangnya dengan sabar,” Apanya yang berubah, Na?”

“Kamu di bawah tekanan ekonomi ya.. Tak pernah membelikanku segelas limun lagi. Juga martabak panas langganan di malam Minggu. Dan lebih dari itu kamu jarang berbagi cerita melalui telpon lagi,” rajuk Nadia dramatis.

"Tak berbagi kisah, berarti aku tak bisa berbagi beban," begitu Nadia melanjutkan. "Bukankah curhat bisa melegakan benak?"

Spektrum nada Nadia berwarna-warni. Merah jingga kuning hijau biru nila ungu, haa… Mejikuhibiningu, batin Dio, terasa lucu.

Nadia cemberut seakan tahu bahwa martabatnya atas permintaan martabaknya, ditertawai Dio,

“Sayang…” Dio berusaha menetralisir.

Aku harus menceritakan alasan yang sesungguhnya, batin Dio.

“Aku sedang cari kerja, sedangkan iklim bisnis sedang surut nih. Nampaknya, ini adalah jaman emergensi,” jelas Dio. 

Uang di dompet menipis, tak ada alokasi dana untuk limun, martabak, dan pulsa.

“Aku harap kau mengerti Na, agar problemku tidak semakin multiple. Sabar ya, Na,” ujarnya lagi.

 “Problem yang sistemiknih,” senyum Nadia merekah penuh maklum, senyum dikulum, namun tetap saja tak tertahan.

“Tapi tindak penghematan  ini jangan membuatmu untuk relokasi cinta ya, sayang.," pesan sponsor Dio.

Nadia menggeleng keras. Toh, kini tak ada garis batas syak wasangka lagi. Makanya, Nadia berani membuat janji.

Kebijakan pengiritan ini memang menyeret pada penderitaan sejenak, tetapi ini adalah jalan terbaik.

Austerity is painful, but correct.

“Kalo perlu, besok kita menambang emas, ya ‘yang?” Dio menawarkan solusi.

“Jangan ekstrim,” peluk Nadia manja.

---*****­---

Swasti

/mawar_melati

Hari ini aku belajar dan berlatih merangkai kata, karena aku ingin menjadi seorang penulis kelak.
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.