DONGENG

Nyaris dan Pas

20 Mar 2017 | 12:33 Diperbarui : 20 Mar 2017 | 12:57 Dibaca : Komentar : Nilai :

Baca kalimat status FB mas Agung Soni, itu lalu saya teringat mengenai suatu hal yang sering kita sebut "Nyaris" dan "Pas". Dua situasi dan kondisi terkadang kita jumpai sehari hari, tetapi kita sering tidak menyadarinya.

Ini pengalaman ghaib saya  waktu di Hijr Ismail:

Memang situasi untuk mencapai Hijr Ismail sulit ditembus, kalau kondisi fisik tidak prima. Namun dapat dilakasanakan dengan tawaf lagi secara perlahan mencoba mendekati Hijr Ismail, karena kebanyakan orang ingin mencium Hajar Aswad, sementara posisi sisi kiri Hijr Ismali adalah satu sisi setelah sisi Hajar Aswad dan biasanya ditutup. Sedang sisi kanan Hijr Ismali terbuka sedikit, di sanalah banyak orang untuk bersusaha masuk dan tentu saja pintu ke luar.  

Di dalam Hijr Ismail sudah banyak orang sehingga untuk bisa masuk harus antri dan merayap, bergeser sedikit demi sedikit. Belum terbayang bagaimana nanti caranya ke luar. Karena pintu masuk dan ke luar sama, sempit lagi. Apalagi banyak orang berkerumun untuk masuk dan ke luar.

Alhamdulillah, saya berhasil masuk ke Hijr Ismail dan sholat sunnah serta berdoa di sana, walaupun terhimpit himpit pergerakan orang. Saya mulai mencoba melihat arah gelombang rombongan orang yang akan ke luar dari Hijr Ismail.  Pada saat posisi sudah searah dengan kerumunan rombongan yang menuju pintu ke luar, ada suara minta tolong.

Ketika saya ihat ada dua orang ibu-ibu kelihatannya sulit bergerak dan  terdesak di antara kerumunanan orang rombongan yang hendak ke luar dari Hijr Ismail. Maksud hati saya hendak berusaha menolong ke dua orang ibu ibu tadi, dengan mengulurkan tangan ke arah mereka. Tetapi sungguh di luar dugaan, desakan dari kerumunan rombongan orang orang tadi begitu kuat, saya sampai tidak ingat lagi apa yang sudah terjadi.

Situasi sepertinya menjadi gelap gulita. Dalam kondisi pasrah, berserah diri, istighfar kepada Allah SWT, saya hilang kesadaran.  Kalau dalam kondisi normal, maka tubuh saya akan terinjak injak oleh banyaknya orang.  Namun tiba-tiba saya dibuat sadar oleh teriakan seorang Dewi.

Saya sebut Dewi, karena dalam bayang bayang saya muncul sosok perempuan yang lebih tinggi dan putih wajahnya, berteriak teriak marah. Teriakan itulah yang membangunkan saya.
"Kalau minta tolong itu kepada Allah, bukan berteriak-teriak seperti itu."

Ketika saya mencoba membuka mata, maka di samping saya nampak, dua orang ibu-ibu yang tadi berteriak minta tolong yang saya akan coba menolongnya, sehingga saya kehilangan kesadaran dan hanya merasakan dunia menjadi gelap. Namun ketika daya sudah mulai dapat melihat dengan jelas ke dua orang ibu-ibu tadi, ajaib.

Ternyata kami sudah berada di luar Hjir Ismail. Saya masih mencoba mencari Dewi tadi, tapi sejauh mata memandang sekeliling, Sang Dewi tidak nampak lagi. Saya selamat karena kekuatan ghaib. Suatu misteri yang sampai kini, di luar batas kemampuan untuk dapat dimengerti.

Dalam situasi itu saya merasa pernah "Nyaris" tidak selamat. Beberapa peristiwa lain, juga pernah saya alami situasi dan kondisi "Nyaris". 

Untuk teman teman muda mudi terkadang mungkin sering gagal membina hubungan sampai ke tingkat perkawinan, padahal sudah "Nyaris" jadi. 

Orang orang bilang, kalau itu bukan jodohnya. Gusti Allah mempunyai rencana lain. 

Situasi "Nyaris" terkadang dimaknai ndilallah. 

Jika lepas dari kecelakaan yang "Nyaris" menimpa. Kok ya ndilallah kamu selamat.

Kalau ingin mendapatkan situasi "Nyaris" sebaiknya kita sering suka berbuat baik, beramal sholeh, minimal suka menolong orang lain. Kalau belum mampu dengan materi, empati pun boleh. Banyak senyum. Tapi bukan senyum senyum sendiri.

Selain situasi dan kondisi "Nyaris" juga ada sikon "Pas".

Misalnya pada postingan mbak Dahlia Yustina 

Karena sering menolong neneknya, si Lelaki muda mendapatkan pekerjaan, yang sudah lama didambakannya. 

Ke dua situasi dan kondisi "Nyaris" dan "Pas" itu berkaitan erat dengan konsep ndilallah.

Untuk mendapatkan sikon ndilallah, mari kita berlomba-lomba dalam kebaikan. Insya Allah. Amin.

@penghargaan untuk mas Agung Soni. Baginda Raja Armanda, mas Teguh Gurun Suprayogi

dan tentu mbak Dahlia Yustina

tidak lupa pula kawan rtc

Salam Rumpies.

MJK Riau

/masjokomu

TERVERIFIKASI

Lahir di Jogja, Merantau di Riau
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.