HEADLINE CERPEN

Mengunyah Angkasa

21 Feb 2016 | 16:51 Diperbarui : 21 Feb 2016 | 18:32 Dibaca : Komentar : Nilai :

 

Ini aneh, Angkasa. Saya sedang mencoba mengikat kamu dengan narasi. Padahal seharusnya kamu bebas lepas di atas langit, langit yang berhujan mimpi dan luka. Anehnya lagi, saya teguk air hujannya setiap hari.

Mereka bilang, sebuah narasi seharusnya diawali dari pengenalan karakter, Angkasa. Bagaimana saya bisa memperkenalkan kamu kalau saya sendiri tidak tahu bahan dasarmu. Karena tiba-tiba saja, kamu sudah tersurat dalam lembaran buku-buku saya, lantas bermetafora dengan dongeng-dongeng kesukaan saya.

Mereka yang sebelumya terbius hendak menyantap kamu dalam narasi kini tersedak. Kamu sesulit itu dikunyah, sesakit itu ditelan.

***

Ada suatu pagi yang tidak bisa dijelaskan, Angkasa. Pagi itu saya berhasil menata warnamu di dalam kotak bekal. Saya memang jarang jajan di luar, saya lebih suka langsung duduk dan makan, daripada menanti dalam antrian untuk membeli makanan,  atau duduk diam menanti pesanan sendirian. Terdiam sendirian tidak lagi semenyenangkan dulu, A. Kala kita berujar dulu, kata-kata Jika Saja jadi terasa jahat. Saya mampu mengurai banyak Jika Saja kini, jika saja saya tidak mengenal kamu, jika saja saya memutuskan untuk memilih jalan yang lain ketika hendak berpapasan dengan kamu untuk pertama kalinya, dan segala perwujudan Jika Saja yang tidak ada habisnya. Namun biar begitu, Jika Saja sekejab menjelma menjadi jahat karena kenyataan kita tetap sama. Mengerti kamu, Angkasa?

Pernah ada satu masa dalam hidup, di mana saya mengurung Jika Saja di dalam stoples. Tidak saya lubangi karena saya biarkan ia tidak bisa bernapas dan mati. Itu adalah saat pertama kali saya mengenal kamu, Angkasa. Sebelum mengenal kamu, Jika Saja begitu penting karena saya kerap kali menghibur diri dalam keadaan yang buruk, saya kerap kali menghibur diri dengan jutaan Jika Saja agar saya dapat bertamasya ke dunia khayal yang menyenangkan. Saya akhirnya membunuhnya karena merasa tidak membutuhkan Jika Saja kala bersamamu kelak. Namun dugaan saya salah, kamu pergi, tetapi Jika Saja sudah terlanjur mati.

Siang itu ketika jam istirahat, tidak ada seorang pun yang mengajak saya memesan makanan. Semua sudah tahu saya selalu makan bekal dari rumah. Biasanya ibu yang masak, namun karena hari itu saya membawa warnamu, saya minta ibu beristirahat saja.

Dengan hati-hati saya membuka kotak bekal saya. Aneh, kosong. Kotak bekal ini benar-benar kosong. Padahal saya ingat telah dengan hati-hati memasukkan warnamu ke dalamnya.

Saya lapar, Angkasa.

***

“Berhenti mencoba mengikatnya dengan narasi, Luana,” sebuah suara yang pernah saya kenal baik terdengar. Saya menoleh, rupanya Jika Saja kembali.

“Kenapa? Saya melakukan ini agar ia dapat dengan mudah saya kenang, agar rupanya tidak hilang begitu saja dalam memori saya.”

Jika Saja menepuk pundak saya pelan, “kamu selalu terlambat menemukan saya, Luana. Saya bukan pengendali waktu. Saya tahu kelak kamu akan membutuhkan saya kala ingin membakar narasi itu. Maka saya datang ke sini lebih awal, agar kamu berhenti melakukan hal bodoh lagi.”

“Hal bodoh apanya?”

“Tadi saya melihat Angkasa sudah terikat dalam narasi yang lain, ia berdiam di dalam sebuah buku dongeng. Seorang gadis kecil memeluk buku itu dengan mata berbinar-binar penuh harap.”

“Siapa gadis kecil itu?”

“Siapa lagi, Luana. Itu kamu yang dulu.”

 

21 Februari 2016, Livia Halim

 

Illustration source: www.markryden.com

 

Livia Halim

/livi

TRUSTED

Surrealism Fiction | Nominator Kompasiana Awards 2016 Kategori Best in Fiction | Faculty of Law, Parahyangan Catholic University | Personal blog: surrealiv.blogspot.com | e-mail: surrealiv@gmail.com | LINE loonylivi | IG livi.livi | Buku-buku antologi: "Katakan Cinta" (https://goo.gl/tpi2Nd), "Ada Sepotong Bulan Tenggelam di Dasar Cangkir Kopi Hitam" (https://goo.gl/toqMVF), "Tentang Laki-Laki, Gema, dan Early Grey" (https://goo.gl/DS789x)
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.