CERPEN

Dua Cinta dalam Satu Hati

18 Jun 2017 | 06:13 Diperbarui : 18 Jun 2017 | 06:13 Dibaca : Komentar : Nilai :

https://www.youtube.com/watch?v=_srdtB7M8ZI

**    

"Kita mau kemana, Ayah?" tanya Chelsea disertai wajah innocent-nya.

"Ke makam Grandpa dan Grandma, Sayang." jawab Albert lembut.

Chelsea tersenyum. Menampakkan lesung pipinya yang menggemaskan. Albert membelai kedua pipi putrinya. Lalu menciumnya. Seperti biasa, Chelsea merasakan wangi Albert yang sangat khas: Calvin Klein dan Earl Grey. Bukankah wangi khas dalam diri seseorang membuatnya lebih mudah diingat dan dikenali?

Renna terburu-buru menutup pintu pagar. Masuk ke dalam mobil, lalu tersenyum meminta maaf.

"Sorry...handphoneku ketinggalan. Kamu tahu ketemunya dimana, Albert?" Renna mulai bicara.

"Dimana?"

"Di pinggir bathtub. Untung saja tidak jatuh."

Entah Albert harus tertawa atau bersimpati. Maka ia hanya mengingatkan Renna untuk berhati-hati. Sebenarnya, Renna pun menganggap lucu kecerobohannya sendiri. Mereka sering bercanda soal itu. Berbeda dengan Albert yang perfeksionis dan memiliki ingatan kuat, Renna kerap kali melupakan hal-hal kecil.

Honda Mobilio itu melaju meninggalkan kompleks perumahan. Melintasi ruas jalan raya yang tidak terlalu padat.

"Mudah-mudahan tidak macet ya?" gumam Renna penuh harap. Mengaktifkan GPS di ponselnya.

"Insya Allah tidak, Sayang. Saat arus mudik begini, kepadatan justru terjadi dari arah sebaliknya." kata Albert menenteramkan.

"Nah...itu yang perlu kita siasati saat kembali ke Bandung nanti. Tol Cikampek pasti macet parah."

Sekilas Albert melirik layar handphone Renna. Alisnya terangkat. Buat apa Renna mengaktifkan GPS? Albert tidak membutuhkannya. Pria ber-IQ tinggi dengan pemahaman arah yang sangat baik seperti dirinya tak pernah tersesat. Albert hafal rute perjalanan yang akan ditempuhnya.

"Aku buka GPS untuk mengecek estimasi waktu. Lagi pula, adanya kemacetan atau kecelakaan bisa terpantau. Jadi kita bisa mengantisipasinya." Menyadari arti pandangan Albert, Renna menjelaskan alasannya.

"Kamu benar juga. Ingatan dan pemahaman arah tak cukup untuk menyempurnakan perjalanan kita."

Albert menaikkan kecepatan mobilnya sewaktu memasuki Tol Pasteur. Dua-tiga jam perjalanan akan dilaluinya di jalan lurus bebas hambatan itu.

Renna terbiasa bepergian jarak jauh dengan Albert. Baik itu naik pesawat maupun naik mobil pribadi. Sehingga ia tahu pasti gaya menyetir pria yang telah menjadi pendamping hidupnya selama sembilan tahun itu. Tak butuh waktu lama bagi Albert untuk belajar menyetir. Ia sudah bisa membawa mobil sejak kelas 12 di Al Irsyad IslamicSchool. Gaya menyetirnya cenderung santai dan menikmati. Ia menganggap mobil seperti rumah kedua sekaligus alat transportasi yang sangat nyaman. Tak heran Albert menambahkan kulkas kecil dan beberapa barang pribadi di dalam mobilnya. Jika traffic light menyala hijau dan kendaraan lain di depannya belum jalan, ia takkan membunyikan klakson. Albert cenderung sabar dan tidak pernah emosi. Handphone tak pernah dipegangnya setiap kali mengemudi. Semata demi keselamatan dirinya dan orang-orang yang satu mobil dengannya.

Di ruas Tol Cipularang km97, kecepatan mobil sedikit dikurangi. Kali ini Albert lebih hati-hati. Km97 rawan kecelakaan. Sudah banyak kecelakaan maut terjadi di sini.

"Mau kugantikan menyetirnya, Sayang?" tawar Renna saat mereka melewati km96.

"Aku tidak akan membiarkanmu menyetir, Renna. Aku takut kamu kelelahan." tolak Albert halus.

"Tapi...kalau kamu yang kelelahan?"

"Aku kuat, Renna."

Diserang penyakit Celiac, pernah mengalami gagal ginjal, dan untuk ketiga kalinya divonis kanker tak membuat Albert kehilangan semangat hidupnya. Ia kuat dan yakin akan tetap kuat. Vonis Leukemia yang baru diterimanya beberapa waktu lalu justru makin menguatkan Albert untuk melawan penyakitnya. Sayangnya, hingga kini Renna dan Chelsea belum tahu vonis itu.

Perjalanan berlangsung lancar. Mereka hanya berhenti di Rest Area 3 km88 untuk shalat Ashar. Albert tetap tidak mau digantikan. Ia benar-benar keras kepala. Renna mau tak mau waswas juga. Kekuatan setiap orang pasti ada batasnya. Terlebih Albert mempunyai kondisi kesehatan yang istimewa. Renna tak ingin terjadi sesuatu yang buruk pada belahan jiwanya itu.

**    

Siapa bilang tempat pemakaman itu menyeramkan? Tidak semua tempat pemakaman bernuansa seram dan memprihatinkan. San Diego Hills buktinya.

Berlokasi di Karawang, San Diego Hills menyajikan konsep pemakaman mewah dan eksklusif. Fasilitasnya lengkap di sini. Mulai dari taman, kolam renang, gedung serba guna, Restoran La Collina, danau buatan, kapel, dan tempat ibadah. Bukan hanya keluarga yang boleh berkunjung ke San Diego Hills. Masyarakat umum dibolehkan datang. Mereka bisa berjalan-jalan di taman, danau, makan di restorannya, atau berenang di kolam renang.

"Aku kagum sama penggagas San Diego Hills. Kok bisa ya, mendesain tempat pemakaman sebagus ini? Idenya dari mana coba?" komentar Renna. Wanita cantik keturunan Sunda-Belanda itu tak pernah bosan menemani Albert berziarah ke sini. Setiap bulan mereka selalu menyempatkan waktu mengunjungi makam Tuan Adolf dan Nyonya Anggun.

"Idenya itu dari Mochtar Riadi, CEO Lipo Grup. Awalnya, Pak Mochtar sedih waktu ziarah ke makam orang tuanya di Jawa Timur. Lihat kondisi tempat pemakaman umum yang seram, banyak pengemis, dan jalannya rusak. Lalu Pak Mochtar berpikir untuk membuat konsep taman pemakaman yang mewah, menyenangkan, dan dapat menghapus kesedihan keluarga yang ditinggalkan. So, jadilah San Diego Hills di tahun 2007." Albert bercerita, senang bisa membagi pengetahuan dengan istrinya.

"Oh gitu ceritanya. Kamu tahu banyak hal ya? Jangan-jangan perusahaan kamu pernah kerjasama sama Lipo Grup."

"Belum pernah. Baru sebatas wacana. Seorang pebisnis harus punya wawasan luas."

Mereka melangkah menyusuri areal pemakaman. Areal San Diego Hills terbagi tiga: areal Universal, Muslim, dan Chinese. Khusus areal Muslim menghadap ke arah kiblat.

"Nanti kalau sudah besar, Chelsea mau jadi pengusaha kayak Ayah."  Chelsea menimpali.

"Bagus, Sayang. Chelsea pasti bisa jadi pengusaha sukses." puji Albert seraya mengusap lembut rambut Chelsea. Ia sudah tahu, untuk siapa harus mewariskan perusahaannya.

Di Wisdom Mansion, mereka berhenti. Makam Tuan Adolf dan Nyonya Anggun terletak di sini. Ketiganya berlutut di depan pusara, lalu mulai berdoa. Albert, Renna, dan Chelsea membacakan Surah Yasin. Meletakkan bunga yang mereka bawa.

Di depan makam kedua orang tuanya, Albert ingin menyampaikan sesuatu. Mengadukan kepedihan hatinya. Sejenak menyandarkan hatinya yang rapuh. Vonis kanker untuk ketiga kali sungguh tak mudah. Accute Lymphocytic Leukemia stadium 3B. Mungkin waktunya sudah tak lama lagi.

"Kira-kira, makam di sebelah itu pre need atau bukan ya?" tanya Renna penasaran. Kebanyakan makam yang masih kosong di San Diego Hills telah dipesan.

Albert tak menjawab. Andai saja Renna tahu. Makam yang ditanyakannya sudah dipesan oleh suaminya sendiri.

Pria berdarah Jawa-Jerman-Skotlandia itu sengaja memesan unit makam di San Diego Hills. Bukan bermaksud sombong, tapi karena ia ingin dimakamkan di dekat kedua orang tuanya.

"Bunda, di sini kita nggak boleh foto ya?" tanya Chelsea tiba-tiba. Membuat perhatian Renna teralih seketika.

Saat Renna sibuk menjawab pertanyaan Chelsea, Albert menggeser posisi tubuhnya. Kini ia lebih dekat ke pusara. Mengelus lembut nisan bertuliskan nama Ayah-Bundanya, Albert berbisik.

"Ayah...Bunda, aku kena Cancer lagi."

**     

Seperti asumsi Albert, perjalanan ke Jakarta cukup lancar. Kemacetan parah justru terjadi di arah sebaliknya. Ia memperlihatkan hal itu pada Renna di tengah perjalanan mereka.

"Iya...kali ini kamu benar." Renna membenarkan.

Alhasil, mereka menikmati sisa perjalanan yang terasa lancar itu. Tetap saja Albert tak mau digantikan. Jakarta adalah tujuan mereka selanjutnya. Tidak membuang-buang waktu di jalan, mereka ingin segera sampai di tempat tujuan demi mengejar waktu berbuka puasa.

"Ronny sudah menunggu?" tanya Renna.

"Sudah. Terakhir aku baca chatnya waktu kita meninggalkan San Diego Hills." jawab Albert.

"Kita mau ketemu temannya Ayah sama Bunda ya?" tebak Chelsea. Anak cantik berkulit putih dan berlesung pipi itu duduk di bangku belakang. Memeluk bantal erat-erat, menutup tubuhnya dengan selimut.

"Iya, Chelsea. Namanya Uncle Ronny. Nanti Chelsea juga kenal kok," jelas Renna.

Mereka keluar di Tol Halim. Destinasi mereka semakin dekat. Ronny mengundang mereka di acara grand opening cabang cafenya di Jakarta. Acara itu bertepatan dengan agenda kunjungan mereka ke San Diego Hills. Dengan senang hati, mereka menerima undangan itu. Ronny tetaplah Ronny. Selalu menjaga hubungan baik dengan semua orang, dermawan, dan murah hati.

**    

Nuansa vintage begitu kental. Menu di cafe ini pun lengkap. Mulai dari Western food, Chinese food, sampai Indonesian food. Live music dengan satu set lengkap instrumen musik dan panggung besar di tengah cafe mencerminkan gaya khas Ronny. Bukankah Ronny pecinta musik?

Di pintu cafe, mereka menyalami Ronny. Sang owner terlihat senang melihat antusiasme pengunjung di hari pertama cafenya dibuka. Begitu melihat Albert, sebuah ide terlintas di benaknya.

"Albert, kita duet lagi ya?" ajaknya.

"Boleh. Sudah lama aku tidak bernyanyi bersamamu," sambut Albert senang.

"Oh...jadi, Ayah pernah nyanyi bareng sama Uncle Ronny? Pasti suaranya Uncle Ronny bagus." timpal Chelsea, tak sabar ingin mendengarkan kedua pria tampan di sampingnya ini menyanyi bersama.

Albert tersenyum. Ronny tersenyum pula, lembut membelai rambut Chelsea.

Renna lebih banyak diam. Hanya menjadi pendengar. Entah, sesuatu masih mengganjal perasaannya. Tiap kali bertemu Ronny, Renna selalu teringat program bayi tabung yang gagal. Ingatan itu membuatnya sedih dan tertekan walau kejadiannya sudah lama berlalu.

Ronny mengantar mereka ke salah satu meja. Rupanya mereka menjadi tamu spesial di sini.

"Nanti jangan lupa ya," kata Ronny pada Albert sebelum meninggalkan mereka.

"Kalian mau bawain lagu apa?" bisik Renna penasaran.

Albert tersenyum misterius. "Lihat saja nanti."

45 menit kemudian, Ronny kembali ke meja mereka. Ia memberi kode. Mengajak Albert pergi. Renna dan Chelsea tersenyum kecil mengawasi punggung kedua pria itu yang makin menjauh. Menanti kejutan apa lagi yang akan hadir.

Semua mata tertuju pada mereka. Kehadiran Ronny dan Albert di atas panggung merebut atensi para pengunjung cafe. Siapa yang tak kenal mereka? Arif Albert, pria berdarah Indo mantan psikolog yang mengubah jalan hidupnya sebagai pengusaha. Selain pengusaha, ia memperoleh ketenaran dari side job-nya sebagai broadcaster. Ronny Judawisastra, mantan trader yang beralih memegang tongkat kepemimpinan Judawisastra Group.

Piano berdenting lembut. Intro dimainkan oleh Ronny. Disambuti tepuk tangan para pengunjung cafe. Mula-mula Ronny menyanyikan bar pertama.

Akhirnya kusadari

Bila diri ini

Telah masuk dalam permainanmu...

Albert menyanyikan bar berikutnya.

Kini kusadari

Bukan hanya diriku

Yang telah menjadi sandaran hatimu

Saat Albert bernyanyi, audience tak dapat menahan kekaguman mereka. Suara barithonnya yang lembut, empuk, dan merdu membius mereka dengan pesona. Diimbangi suara bass Ronny dan permainan pianonya.

Di bagian refrein, Albert dan Ronny menyanyikannya bersama-sama.

Dua cinta dalam satu hati

Tak bisa aku terima

Dua cinta dalam satu hati...

Perpaduan yang memikat saat suara bass dan suara barithon dipersatukan. Albert kembali menyanyikan bagiannya. Saat ia bernyanyi sendirian, seisi cafe seakan terbawa keindahan nyanyiannya.

Tak pernah kausadari

Bila dirimu

Telah menghancurkan perasaanku

Bagaimana tidak

Kekasih yang kusayangi

Kulihat bermanja dipeluk yang lain

Beberapa wanita berseru tertahan. Tak tahan dengan aura dan kharisma Albert yang begitu menawan. Suara barithonnya, senyumnya, gesturenya, dan tatapan matanya mencerminkan interpretasi pada lagu yang ia nyanyikan. Albert pintar sekali dalam hal ini.

Entah apa yang terjadi, Ronny menuangkan jiwanya sepenuhnya pada refrein kedua yang ia nyanyikan. Seolah lagu itu bentuk curahan hatinya sendiri.

Dua cinta dalam satu hati

Tak bisa aku terima

Dua cinta dalam satu hati

Kata demi kata mengalir dari jiwa yang letih. Itulah kesan yang ditangkap para pengunjung cafe saat mendengarkan Ronny bernyanyi. Apakah lagu ini merupakan soundtrack kehidupan si pemilik cafe?

Albert pun dapat merasakannya. Intuisinya mulai meraba maksud Ronny memilih lagu sedih ini. Firasat dan ilmu batinnya menyatu, merangkai konklusi. Ronny patah hati. Tapi karena apa? Masihkah karena satu wanita yang sama, Renna? Apakah bertemu Renna lagi membuat luka di hatinya kembali berdarah-darah?

Tiada lagi maaf dariku

Kini ku kan pergi tinggalkanmu

Dua cinta dalam satu hati

Tak bisa aku terima

Dua cinta dalam satu hati (Calvin Jeremy-Dua Cinta Satu Hati).

Di bagian akhir, Ronny dan Albert menyanyikan liriknya bersama-sama. Sekali lagi, Albert menangkap emosi yang kuat dalam diri Ronny. Telah hancurkah perasaannya?

Seorang wanita yang menempati meja di dekat air mancur melompat bangun. Kedua matanya merah. Wajahnya sembap. Ia berlari kecil meninggalkan cafe. Nampaknya ada sesuatu yang membuatnya tak bisa berlama-lama di sana. Wanita berwajah lembut dan berambut bergelombang itu melempar tatapan sedih ke arah panggung sebelum pergi.

**     

Terlalu malam untuk kembali ke Bandung. Praktis Albert, Renna, dan Chelsea menghabiskan satu malam di ibu kota. Menginap di hotel sebelum esoknya kembali ke kota kembang. Awalnya Ronny menawarkan mereka untuk menginap di rumahnya. Namun Albert dan Renna menolaknya dengan halus. Begitulah kebiasaan Albert dan Renna: tiap kali pergi ke luar kota atau ke luar negeri, mereka lebih memilih menginap di hotel meski punya saudara atau kenalan di sana. Bukannya sombong, mereka hanya tak ingin merepotkan orang lain. Selain itu, di hotel mereka bisa leluasa menerima kunjungan orang-orang yang ingin menemui mereka. Berbeda jika mereka menginap di rumah keluarga atau kenalan. Tentunya ada rasa segan dan tidak leluasa.

Di lobi hotel, Albert dan Ronny mengobrol ringan. Renna dan Chelsea sudah tidur. Senang bisa bertemu dan berkomunikasi lagi, kedua pria rupawan itu tak menyia-nyiakan momen.

"Aku senang bisa bertemu kamu lagi. Ternyata upacara pemakaman tidak hanya mengenang dia yang sudah meninggal, melainkan ajang pertemuan antara dua sahabat." ungkap Albert. Teringat pertemuan mereka saat pemakaman Indra.

"Iya. Aku juga tak menyangka bisa bertemu denganmu saat itu. Maaf ya, empat tahun ini pertemanan kita renggang. Bukannya aku ingin menghindarimu. Hanya saja..."

Ronny menggantung kata-katanya. Tak tahu bagaimana harus menjelaskan. Albert menepuk pundaknya pelan.

"Noprob, aku bisa mengerti perasaanmu. Oh ya, kenapa tadi kamu memilih lagu itu? Ada alasan khusus?"

"Ada,"

Albert menanti. Berharap Ronny mau menjawab pertanyaannya lebih lanjut.

Sementara itu, Ronny menghela nafas lalu meneruskan. "Lagu itu untuk mantan istriku."

Tab di tangan Albert hampir jatuh. Ia terbelalak, menatap Ronny tak percaya.

"Iya, dua tahun lalu aku pernah menikah. Hanya demi pelampiasan. Aku berharap bisa move on setelah menikahi Indi, sahabatku sendiri."

"Move on dari Renna, kan?" sela Albert tanpa bisa menahan diri lagi.

Ronny mengangguk. Di depan orang berbakat paranormal seperti Albert, mana mungkin Ronny berkelit?

"Lalu, apa yang terjadi?"

"Istriku sendiri, Indira Agustina, berselingkuh di depan mataku. Dia menduakanku. Kupikir dia setia. Awalnya kucoba sabar dan berpikiran positif. Kumaafkan kesalahannya. Kuharap dia berubah. Tapi dia mengulang kesalahan yang sama. Selama menikah dengan Indi, aku selalu setia. Aku tidak pernah membahas soal Renna. Kubuang semua kenangan tentang Renna. Aku mengurangi intensitasku berinteraksi dengan teman wanita demi menjaga perasaan Indi. Balasannya, dua kali aku diselingkuhi olehnya."

"Ronny, I'm sorry to hear that..." ujar Albert sedih.

"Tidak apa-apa, sudah lama berlalu. Kurasa, hidup tanpa menikah itu lebih baik. Pernikahan hanya akan membuat hidupku lebih menderita."

"Jangan berpikiran begitu, Ronny. Kamu berhak bahagia. Salah satu cara untuk mendapat kebahagiaan adalah menikah. Well, aku sempat berpikir untuk..."

"Untuk apa?"

"Untuk mencari pengganti diriku. Sebagai suami Renna...sebagai ayahnya Chelsea."

Mendengar itu, Ronny terenyak. Setipis itulah harapan Albert untuk sembuh?

"Sebaiknya kamu fokus pada kesembuhanmu, Albert. Kamu harus berobat dan turuti kata kakakku."

"Jika pengobatan tidak membawa hasil dan aku meninggal, maukah kamu menggantikanku?"

Sungguh, ini pertanyaan sulit. Di satu sisi, Ronny masih mencintai Renna. Di sisi lain, ia belajar dari pengalaman dan tidak mau melihat ada luka lagi karena cinta.

"Albert, aku tidak bisa." ucap Ronny akhirnya.

"Hanya boleh ada satu cinta dalam satu hati. Aku yakin, tak ada orang yang mau menerima adanya dua cinta dalam satu hati. Itu sangat menyakitkan. Cinta Renna dan Chelsea hanya untukmu, bukan untukku. Aku mau jadi suami Renna. Aku pun akan berusaha menjadi ayah yang baik untuk Chelsea. Tapi aku sadar siapa aku, siapa Renna. Aku pernah gagal dalam pernikahan karena adanya dua cinta dalam satu hati. Sedangkan Renna tidak bisa menduakanmu. Posisimu takkan terganti, Albert."

Kata-kata Ronny menggelitik perasaannya. Ronny benar. Tidak boleh ada dua cinta dalam satu hati. Hati dan cinta tidak boleh terbagi. Cinta yang setulus-tulusnya, sedalam-dalamnya, adalah cinta yang tidak terbagi. Bukan cinta yang dilukai karena perselingkuhan, atau cinta yang diganti. Tak boleh ada dua cinta dalam satu hati, hanya boleh ada satu cinta dalam satu hati.

Latifah Maurinta

/latifahmaurintawigati

TERVERIFIKASI

9 September 1997. Komunitas Bisa, UPI Student Choir, DJ Arie School. Novel, medical, and psychology. Penyuka lily dan green tea. Contact: l.maurinta.wigati@gmail.com Twitter: @maurinta
Selengkapnya...