HIGHLIGHT CERPEN

Cerpen | Memanggil Kenangan

19 May 2017 | 06:01 Diperbarui : 19 May 2017 | 08:20 Dibaca : Komentar : Nilai :

“Hei Bule...kita main yuk.”

“Iya, Hari Minggu gini enaknya main di taman.”

Di masa kecilnya, Renna mendapat panggilan khas dari teman-temannya. Ia terbiasa dipanggil seperti itu. Kenyataannya, Renna memang berdarah campuran. Darah Sunda mengalir di tubuhnya, diwarisi dari Mummy. Sedangkan darah Belanda menurun dari Daddy. Belum lagi warna mata birunya yang sangat berbeda dari teman-temannya. Membuat mereka punya alasan kuat untuk memanggilnya begitu.

Renna suka segala sesuatu yang tak biasa. Ia senang tampil beda. Ia bahkan mensyukuri bagian dari tubuhnya yang berbeda dari anak-anak perempuan Indonesia seusianya. Perbedaan itu membuat Renna mudah dikenali dan sulit dilupakan. Lebih baik tampil beda dari pada meniru gaya orang lain. Begitu prinsip Renna.

“Ayo kita ke taman...”

Suara-suara itu terdengar dari halaman depan. Renna tak menghiraukannya. Gadis kecil delapan tahun itu berbaring saja di ranjang empuknya. Merapatkan selimut, menahan rasa dingin yang menjalari sekujur tubuhnya.

“Renna? Tumben masih tidur. Ada teman-temanmu di depan.”

Mummy membuka pintu kamar. Tersenyum hangat. Mendekati putri bungsunya, lalu mengecup dahinya.

“Renna pengen istirahat, Mummy.”

“Kamu sakit, Sayang?”

Renna menggelengkan kepalanya. Tak senang dikira sakit. Ia anak yang kuat. Tak mudah sakit.

“Mau ikut ke supermarket? Ada beberapa barang yang harus Mummy beli.”

“Renna di rumah aja.”

“Okey. Renna mau dibeliin apa? Coklat? Es krim? Permen?”

“Nggak usah.”

Firasat Mummy mulai tak enak. Sebagai seorang ibu, ia tahu ada yang aneh dengan putri cantiknya. Tidak biasanya Renna menolak ajakan keluar rumah. Bukankah Renna anak yang aktif dan cepat bosan bila hanya di rumah saja?

“Ya sudah. Mummy pergi dulu ya?”

Sekali lagi diciumnya kening Renna. Langkah kakinya teredam karpet tebal saat ia meninggalkan kamar.

Ditinggalkan sendirian justru membuat Renna sedih. Sepertinya kondisi fisiknya menurun. Mau tak mau Renna mengakui hal itu.

“Mummy...cepat pulang. Renna nggak mau sendirian.” lirihnya.

Hanya Mummy anggota keluarga yang paling dekat dengannya. Selain pada Mummy, pada siapa lagi Renna harus mengeluh dan mengadu? Daddy tak bisa diharapkan. Satu-satunya lelaki di rumah itu terlalu sibuk dengan urusannya sendiri. Workaholic, itulah julukan yang melekat kuat dalam diri Daddy. Tenggelam dalam urusan pekerjaan membuat Daddy jarang mengimami shalat dalam keluarganya sendiri. Monna dan Karin? Renna tak pernah dekat dengan kedua kakaknya. Lagi pula, perbedaan umur mereka terlalu jauh. Monna dan Karin pun sibuk dengan dunianya sendiri. Seakan lupa kalau mereka punya adik.

Satu jam kemudian, terdengar deru mobil memasuki halaman. Itu pasti Mummy, pikirnya senang. Gadis kecil berpiyama pink itu beranjak bangkit dari ranjang. Siap menyambut Mummy-nya dengan senyuman cerah dan pelukan. Itulah yang rutin dilakukannya tiap kali Mummy pulang ke rumah.

Sepasang kaki mungil itu bergerak lincah. Tiga menit kemudian, Renna tiba di ruang tamu. Pintu terbuka. Sosok Mummy-nya muncul di ambang pintu. Detik berikutnya, Renna merasakan hidung dan ujung bibirnya basah. Apa ini? Ada cairan hangat mengalir turun dari lubang hidungnya. Cairan berwarna merah itu...

“Astaghfirulah!” Mummy berseru tertahan. Panik melihat hidung putrinya berdarah.

Menjatuhkan tas-tas belanjanya di lantai, wanita berambut pendek sebahu itu menggendong Renna. Mengabaikan protes lemah yang terlontar dari bibir si kecil. Berteriak memanggil Daddy. Beruntung saat itu Daddy ada di rumah. Cepat-cepat mereka membawa Renna ke rumah sakit.

**    

“Anak Ibu dan Bapak hanya mimisan biasa. Tidak perlu khawatir,” kata sang dokter Pediatri menenangkan.

“Benar Renna tidak apa-apa, Dokter?” tanya Mummy memastikan.

“Benar, Bu. Hanya saja, Renna perlu hati-hati. Jaga kesehatan dan jangan terlalu lelah.”

“Tuh, dengerin kata dokter! Kamu kebanyakan main!” kecam Daddy. Menyikut lengan Renna.

Si gadis kecil diam saja. Sejak dalam perjalanan ke RSHS (Rumah Sakit Hassan Sadikin) sampai sekarang, ia tak berselera untuk bicara. Terlebih ia sempat shock melihat cara Daddy mengemudikan mobil dengan brutal. Seolah nyawanya terancam bahaya, Daddy dan Mummy membawanya secepat mungkin ke rumah sakit.

Mereka pun keluar dari unit Pediatri. Daddy dan Mummy sibuk mengurus administrasi dan menebus resep obat ke bagian farmasi. Renna kembali dirayapi kebosanan. Ia tidak suka terlalu lama diam di satu tempat.

Dilangkahkannya kaki menyusuri koridor demi koridor. Tak peduli pada risiko omelan Daddy dan kepanikan Mummy. Biarlah, sesekali mengerjai mereka boleh juga. Toh selama ini Renna sudah menjadi anak baik.

Ia berbelok ke ruang kemoterapi. Suasana koridor ini jauh lebih muram dibanding koridor di unit-unit lainnya. Kehampaan, kesedihan, dan kesakitan melingkupi tempat ini. Bahkan Renna seolah bisa merasakan sakit para pasien yang melakukan pengobatan kemoterapi di sini. Mengerikan, sebenarnya apa nama tempat ini?

“Halo...kamu mau kemo juga?”

Seorang anak perempuan seusianya mendekat. Menyapanya dengan suara lembut. Renna berpaling, tersenyum ramah pada anak itu.

“Hai. Nggak kok. Aku lagi jalan-jalan aja. Abis bosan nungguin Daddy dan Mummy.” Jawabnya.

Gadis kecil bergaun merah marun itu tersenyum lembut. Renna memperhatikannya lekat. Anak itu cantik sekali. Mirip Rani dan Pudja, dua kawan sekelasnya yang keturunan India.

“Nama kamu siapa?” tanya Renna tiba-tiba. Mengulurkan tangan, menyalami anak itu.

“Muti. Kamu?”

“Renna.”

Itulah kali pertama Renna bertemu Muti. Momen berikutnya takkan terlupakan seumur hidupnya.

“Ya ampun, aku harus ke dalam! Bentar lagi sepupuku mulai kemo!” ujar Muti seraya menepuk dahinya.

“Sepupu kamu sakit?”

“Iya. Sakit kanker darah. Namanya Arif  Albert. Aku ke dalam dulu ya, Renna. Bye.”

Muti berlari kecil memasuki ruang kemoterapi. Nampaknya ia sudah terbiasa di ruangan itu. Tim medis pun memperbolehkannya masuk.

Entah dorongan dari mana, Renna berjingkat mendekati jendela kaca. Ia dapat melihat jelas aktivitas di dalam ruang kemoterapi. Seorang dokter dibantu beberapa suster sibuk menyiapkan obat-obatan kimia yang akan digunakan. Seorang anak laki-laki berwajah tampan dan bermata teduh terbaring di atas ranjang. Ekspresi wajahnya sangat tegar. Hati Renna tersentuh melihatnya. Bukan tersentuh iba, melainkan empati dan pengertian.

Jarum-jarum berisi obat kemoterapi disuntikkan ke lengan kanan. Sesaat anak laki-laki itu seolah tak merasakan apa pun. Namun efeknya segera terasa. Pancaran kesakitan terlihat di mata teduhnya. Seraut wajah tampan itu semakin pias.

Renna menahan nafas. Matanya berkaca-kaca. Pastilah anak bernama Albert itu sangat kesakitan. Tapi ia sangat tegar. Renna percaya, Albert pasti bisa melawan rasa sakitnya. Mengapa ia seyakin itu? Bukankah ia belum mengenal Albert?

Air mata Renna tak berhenti mengalir. Entah mengapa, ia begitu tersentuh melihat Albert. Ingin rasanya ia menggantikan posisi Albert. Memindahkan rasa sakit Albert ke tubuhnya sendiri.

“Ya Allah...sembuhkanlah dia. Angkat rasa sakitnya.” Sebaris doa meluncur dari bibir Renna. Didorong motivasi yang tulus dari hatinya. Renna pun tak mengerti dengan perasaannya sendiri. Mengapa ia tetiba saja ingin mendoakan orang yang belum dikenalnya? Siapa Albert sebenarnya?

Derap langkah berpasang-pasang sepatu mengagetkannya. Dari ujung koridor, muncullah dua puluh anak seumurannya. Sekumpulan anak lelaki dan perempuan yang mengenakan pakaian berlambang Al Irsyad Islamic School. Renna menatapi keduapuluh anak itu penuh tanda tanya. Sebaliknya, mereka pun balas menatap Renna.

“Assalamualaikum,” sapa anak laki-laki berambut ikal yang berdiri paling depan.

“Waalaikumsalam.” balas Renna canggung.

“Kamu mau menengok Albert juga? Saudaranya ya?” selidik anak itu. Sorot mata cerdasnya memandang Renna dari atas sampai bawah.

“Kalian teman-teman Albert?” Renna balik bertanya.

“Iya. Kami mau jenguk Si Bule. Kasihan...sejak dia sakit, kami kehilangan dia. Kelas jadi sepi tanpa Si Bule Albert itu.”

“Semoga si Bule itu cepat sembuh ya?”

“Amin.”

Mendengar itu, Renna terperangah. Bule? Albert punya nama panggilan yang sama dengannya? Mungkinkah...?

“Hei, kamu kenapa sih? Kamu siapa?” desak si anak berambut ikal.

Namun Renna tak menjawab. Ia mengusap air matanya, membalikkan tubuh, lalu berlari meninggalkan koridor. Tingkahnya mengundang tatapan heran dari anak-anak Al Irsyad Islamic School.

**    

Kenangan itu memudar dengan cepat. Terpagut rasa rindu, Renna memanggil kenangan itu kembali ke permukaan. Ia sungguh-sungguh merindukan Albert.

“Kapan kamu kembali dari Malang? Cepatlah kembali...” gumam wanita cantik itu. Memeluk erat foto belahan jiwanya. Menatapi potret itu lama-lama. Menyublim rasa rindunya dalam tatapan.

“Bukankah sudah kukatakan? Lima hari serasa lima tahun bagi orang yang saling mencintai? Aku rindu padamu...dan aku ingin jujur satu hal padamu, Albert.”

Seakan Albert bisa mendengar, seakan Albert bisa menanggapi. Renna terus berbicara.

“Sebenarnya, aku sudah lama melihatmu. Jauh sebelum pertemuan pertama kita saat kamu menjadi MC di acara wisuda itu. Waktu kita masih kecil, aku pernah melihatmu. Menatapmu, ikut merasakan kesakitanmu, dan bersedih atas penderitaanmu. Aku ingin mengatakan kebenaran itu padamu. Cepatlah pulang. Dan jangan pergi lagi.”

Renna terisak. Membiarkan kristal-kristal bening dari pelupuk mata menjatuhi selimutnya. Tak ada sosok rupawan dengan wangi Calvin Klein yang mendekapnya penuh kasih. Tak ada sepasang tangan yang merengkuhnya dengan lembut. Tak ada kiriman sebuket bunga lily kesukaannya minggu ini. Tak ada wangi susu dan Earl Grey yang menyejukkan itu.

Prang!

Pigura foto Albert yang tergantung di dinding jatuh dan pecah. Terburu-buru Renna memunguti pecahannya. Perasaannya mulai kalut. Apakah telah terjadi sesuatu dengan belahan jiwanya?

**    

Aku ingin engkau ada di sini

Menemaniku saat sepi

Menemaniku saat gundah

Berat hidup ini tanpa dirimu

Ku hanya mencintai kamu

Ku hanya memiliki kamu

Aku rindu setengah mati kepadamu

Sungguh kuingin kau tahu

Aku rindu setengah mati

Aku rindu (D`Masiv-Rindu Setengah Mati).

Latifah Maurinta

/latifahmaurintawigati

TERVERIFIKASI

9 September 1997. Komunitas Bisa, UPI Student Choir, DJ Arie School. Novel, medical, and psychology. Penyuka lily dan green tea. Contact: l.maurinta.wigati@gmail.com Twitter: @maurinta
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.