CERPEN

Status Galau Emak-emak Kacau (Episode Misi Bermain yang Gagal)

17 Feb 2017 | 07:15 Diperbarui : 17 Feb 2017 | 07:27 Dibaca : Komentar : Nilai :
Bermain sepak bola di luar (Dokumen pribadi)

Pada hari minggu bibir suamiku maju. Kerutan terlihat jelas di dahinya. Mumpung lagi asyik nyetrika rasanya ingin kubuat licin juga tuh mukanya, seperti kolor kusut yang sudah tereksekusi sehingga rapi jali.

"Kenapa sih Pa kayak orang yang stres gitu, gajian baru kemarin, kreditan rumah sama spp anak dah lunas, tapi kok keliatan lagi mikir gitu!"

"Banyak tugas nih Ma, pusing, mana dah menjelang dead line semua!"

Dia menjelaskan diantara kerepotannya menjadi kuda bagi anak cikalku, dan jadi badut untuk anak keduaku.
Selagi libur ,maka anak-anak akan bermain bersama bapaknya. Main apapun akan dilayani oleh Bapaknya sebagai kompensasi atas kesibukanya selama seminggu bekerja.

" Ya kerjakan kalau begitu! " saranku simpel sambil membereskan baju yang sudah disetrika.

Kalau suamiku lagi banyak tugas negara begini maka semestinya suasana rumah hening dan tertib agar kondusif untuk bekerja.

Tapi kalau bocah-bocah di rumah maka konsentrasi akan buyar dan pekerjaannya tak akan kelar karena keributan dan kehebohan yang mereka ciptakan. Belum lagi mereka menggoda bapaknya dengan bergelendotan secara bergantian.

Aku sebagai Sang emakpun berinisiatif mengajak kedua bocah bermain di luar. Anak pertamaku kusuruh main sepak bola dengan anak tetangga, sementara adiknya membawa alat memasak mini untuk menarik perhatian teman-temanya. Aku membututi mereka,sebagai pengawas dan penjaga.

Tapi yang namamya beredar di luar ,godaan jajannya itu sungguh tak bisa dihindari. Bagaimana tidak, itu tukang dagang bergantian menawarkan daganganya.

Biar emaknya bergeleng kuat tapi mereka merayu anak-anaknya, berharap anak-anaknya menangis terus dan pertahananpun gagal sehingga emaknyapun terpaksa membelikan.

Belum juga mulai bermain dan kami baru saja keluar , lewatlah tukang es krim . Menggunakan mobil bak terbuka, yang suara mesinnya cukup berisik, ditambah musik back soundnya yang khas. Firasatku berkata, anak -anakku pasti akan tergoda karena teman-temanya sudah berlarian mendekati tukang es krim.

"Pengen es krim! " seru mereka kompak.

Tuuhkan bener. Emaknyapun masuk kerumah untuk mengambil uang.

" Pa, minta uang buat beli es krim !"

Pinta emaknya pada penyandang dana harian sang Bapak. Bapaknya yang tengah asyik di depan lap topnya tanpa banyak cingcong langsung menyodorkan uang.

Merekapun akhirnya menikmati es krim seharga dua ribuan dengan riang.

Belum lumer es krim, tukang pisang keju sudah tebar pesona. Katelnya dia pukul-pukul keras supaya semua sadar akan kehadirannya.

" Pengen pisang keju!! " kembali dua bocah itu berkoar-koar.

Terpaksa emaknya masuk rumah lagi.

"Pa, minta uang lagi! "

Emaknya ini menengadah tangan lagi. Suamiku yang tampak sedang berpikir keras tampak mulai terusik.

"Loh, kan tadi sudah? "

" Tadi buat es krim, sekarang anak-anak pengen pisang keju!"

Tanpa banyak bicara dia merogoh lagi uang dari sakunya. Pisang keju sebanyak 2 porsipun segera mereka nikmati.

Mereka masih belum bermain juga karena masih mengunyah pisang keju.

Seakan tahu bahwa anak-anak jam segini pasti berkeliaran, para tukang dagang datang bergantian. Ah, Jangan-jangan mereka berbagi kabar lewat media sosial . Nyaris semua pedagang tak ada yang luput dari kejaran anak-anak.

Tukang bakso,tukang cingcau tukang tahu bulat sepertinya semua meraup untung karena anak-anak antri untuk membeli.

Akupun harus bolak-balik meminta kucuran dana. Secara suamiku memberi jatahnya hanya pertukang dagang saja.

Sekali minta masih sabar , setelah berkali-kali minta mata suamiku sudah nyaris keluar dari peraduan.

"Jajan mulu sih! "

" Ya habis gimana lagi, kan yang penting anak-anak diluar! " belaku.

Sebenarnya niat membantu mengalihkam perhatian anak-anak agar tak mengganggu bapaknya dengan jajan tak sepenuhnya murni, karena aku tahu si bungsu jajanannya tak pernah habis, yang artinya tugas emaknyalah yang menyapu bersih jajananya ,lumayankan hihihi..

Dan ketika tukang cilok lewat dan berteriak, tiba-tiba pintu rumah terbuka. Aku sempat terperangah dan menyangka ada angin besar yang membuat pintu terbuka.

Tak lama terlihat sosok suamiku dengan muka garang. Ternyata teriakan tukang cilok membuat suamiku keluat dari sarangnya. Tak lama dia berseru.

"Anak-anak, Masuk! "

Daripada jebol uang jajan,sepertinya dia memilih membiarkan mereka ribut dirumah saja.

Emaknya yang gagal jadi agen penjaga anak hanya bisa nyengir kuda.

Irma Tri Handayani

/langitmiyu

Ibunya Lalaki Langit dan Miyuni Kembang
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.