CERPEN

Celengan Kasih Sayang

20 Mar 2017 | 10:41 Diperbarui : 20 Mar 2017 | 10:56 Dibaca : Komentar : Nilai :

Ayya adalah seorang gadis SMA. Dia memiliki seorang adik perempuan, Arra, yang bersekolah di Sekolah Dasar. Orangtua Ayya bukan orang kantoran yang selalu memakai jas dan berdasi saat bekerja, dimana tiap bulannya atau bahkan tiap harinya selalu mendapat gaji yang bisa dibilang lumayan besar. Keluarga Ayya bukanlah sebuah keluarga yang ‘wah’, dimana semua keinginan dapat dibeli.

Meski bisa disebut bahwa kehidupannya cukup terpenuhi, Ayya tidak pernah meminta hal yang muluk-muluk kepada orang tuanya, terutama pada ibunya. Sewaktu kecil, dia selalu menyisihkan uang sakunya untuk ditabung. Walau pada umumnya anak kecil selalu menginginkan ini dan itu, berbeda halnya dengan Ayya yang memiliki pemikiran cukup unik bagi anak seumurannya.

“Ayya, maafkan ibu ya, nak. Ibu tidak bisa mengantar Ayya sekolah,” kata Ibu dengan nada yang sedikit kecewa.

“Tak apa, Bu. Ayya bisa berangkat bersama teman-teman lainnya,” sahut Ayya. “Tak masalah jika Ayya harus jalan kaki,” tambahnya.

Ibu tak pernah lupa untuk memberi uang saku pada Ayya karena takut jika dia tidak mau sekolah seperti anak-anak lainnya. Tidak sedikit anak kecil yang menolak untuk masuk sekolah karena tidak diberi uang saku atau bahkan uang saku yang kurang.

“Meski Ibu tidak bisa mengantarku sekolah, aku harus tetap bersemangat. Karena cita-citaku menjadi dokter, aku harus pintar dan lebih hebat dari Ibu!” seru Ayya dalam hati.

“Ini uang sakunya, ya, Ayya. Ibu akan pulang terlambat sore ini karena ada pelatihan. Ayya jangan kemana-mana, ya. Di rumah saja dengan kakek-nenek,” kata Ibu. “Ibu sudah menambahkan uang jajan Ayya untuk nanti setelah pulang sekolah pada nenek,” tambah Ibu.

"Iya, Bu. Ayya tidak akan bermain keluar rumah hari ini. Ayya juga ingat dengan pesan Ibu untuk tidak membeli mainan menggunakan uang jajan,” tutur Ayya dengan lembut.

Ayya mengamati Ibunya saat pergi bekerja dengan hati yang sedih. Ia berpikir bahwa saat itu jika ia sering menabung, dirinya akan menjadi kaya dan bisa membantu Ibunya mencari uang. Dia tidak ingin melihat Ibunya lelah setiap harinya. Tetapi, Ibu juga selalu mengajarkan untuk tidak menghambur-hamburkan uang karena mencari uang itu tidak mudah. Ayya pernah terpikir bagaimana lelahnya sang Ibu mencari uang untuk membelikan kebutuhan dirinya dan keluarganya.

“Ibu selalu memberiku uang saku sebelum berangkat sekolah. Aku bahkan tidak bisa merasakan lelahnya Ibu dan hanya bisa menerima pemberiannya. Mengapa aku tidak bisa membantu dan meringankan bebannya?” pikir Ayya dengan sedikit kecewa karena dirinya sendiri.

Bahkan seorang anak kecil seperti Ayya bisa berpikir untuk meringankan beban orang tuanya. Ayya tidak ingin melihat orang tuanya kelelahan karena harus memenuhi kebutuhan dirinya dan keluarganya secara bersamaan.

Saat sekolah, Ayya pun memutuskan untuk tidak menjajakan uang sakunya dan lebih memilih untuk menabungnya semua. Meskipun perutnya sesekali berbunyi sebagai tanda bahwa dia merasa lapar, Ayya pun akhirnya meminum air dalam botol yang ia bawa dari rumah setiap hari. Dia lebih memilih untuk melawan rasa laparnya

“Aku tidak boleh menjajakan uangku. Aku harus kuat menahannya sampai pulang sekolah. Semangat, Ayya! Kamu pasti bisa!” seru Ayya pada dirinya sendiri.

Kelas pun berakhir di siang hari. Ayya pun pulang bersama dengan teman-temannya yang lain dengan jalan kaki. Meskipun banyak temannya yang mengira Ayya terlihat lemas, ia pun menyangkal dengan senyuman.

“Ayya, mengapa hari ini dirimu terlihat tidak begitu semangat?”

“Apakah kamu sakit, Ayya?”

"Aku bahkan tidak melihatmu membeli makanan saat di sekolah, Ayya.”

“Aku melihatmu hanya meminum bekal air dalam botol.”

Teman-teman secara bersamaan menanyai Ayya. Mereka takut jika terjadi sesuatu pada Ayya karena sikapnya yang tidak seperti biasa. Anak seusia mereka memang sangat ingin tahu terhadap hal-hal yang menyangkut tentang temannya. Apalagi, Ayya bisa dibilang merupakan salah satu anak yang paling berpengaruh di kelas karena prestasinya.

“Ayya, kau sungguh tidak apa-apa?” tanya salah satu temannya.

“Aku baik-baik saja, teman. Hanya saja aku sedang tidak ingin menjajakan uangku,” jawab Ayya dengan senyuman tipis di wajahnya.

Ayya tidak ingin melihat teman-teman khawatir dan lebih memilih untuk menyembunyikannya dengan senyuman. Padahal, sebenarnya dirinya merasa lemas karena tidak membeli makanan saat di sekolah. Kali ini Ayya memang berniat sungguh-sungguh untuk membantu orang tuanya.

“Assalamu’alaikum… Ayya pulang,” salam Ayya ketika memasuki rumah setelah pulang sekolah.

Ayya pun sudah mengetahui jika kakek dan neneknya pasti sedang mengurus ladang kecil di belakang rumah saat dia pulang sekolah. Akhirnya, dia makan siang sendirian dan langsung menuju kamar. Saat di kamar, pandangan Ayya tertuju pada sebuah celengan miliknya yang sudah terisi penuh. Ia bingung dengan semua uang itu. Ia pun sampai tertidur karena memikirkan tentang uangnya tersebut.

“Assalamu’alaikum…” terdengar suara salam dengan nada yang lirih.

Suara salam itu terdengar oleh Ayya yang sudah terbangun beberapa menit yang lalu. Ia pun langsung bergegas turun dari tempat tidurnya dan menghampiri sumber suara tersebut.

“Ibu sudah pulang?” tanya Ayya dengan antusias namun sedikit khawatir.

“Iya. Ibu sudah pulang, Ayya,” jawab Ibu. “Kemari, duduk di samping Ibu,” pinta Ibu sambil melepas sepatu yang seharian menemani saat bekerja.

Ayya pun lekas duduk setelah Ibu memintanya. Ia ingin bertanya sesuatu kepada Ibu yang membuatnya bertanya-tanya sampai tertidur. Meski Ayya tahu jika Ibu baru saja pulang, tetapi, rasa penasaran membuat dirinya ingin segera menanyakan hal itu pada sang Ibu.

“Bu, bolehkah Ayya bertanya pada Ibu?” tanya Ayya hati-hati.

“Boleh,” jawab Ibu yang berusaha untuk tetap terlihat bersemangat dihadapan Ayya. “Memangnya Ayya mau bertanya apa? Tidak biasanya Ayya terlihat seperti ingin tahu sesuatu dari Ibu,” sambung Ibu sambil sedikit tertawa.

“Apakah Ayya selama ini membuat Ibu merasa lelah? Ibu harus mencari uang demi memenuhi kebutuhan Ayya dan keluarga,” tanya Ayya yang matanya mulai berkaca-kaca.

Seketika, Ibu kaget mendengar pertanyaan Ayya. ‘Bagaimana bisa Ayya memiliki pertanyaan seperti itu?’ Ibu bertanya-tanya dalam hati. Ibu pun sedikit melamun karena bingung harus menjawab apa.

“Mengapa Ayya menanyakan hal seperti itu, Nak?” tanya Ibu yang mencoba untuk tetap tenang.

“Karena selama ini Ayya selalu memperhatikan Ibu yang setiap harinya pulang kerja di sore hari. Saat pulang, Ayya memperhatikan bagaimana raut wajah Ibu,” tutur Ayya.                        “Meskipun Ibu mencoba untuk tetap tersenyum dihadapan Ayya, tetapi Ayya tahu jika sebenarnya Ibu merasa sangat lelah sepulang kerja,” lanjutnya.

“Ibu bekerja mencari uang untuk memenuhi kebutuhan Ayya. Jika Ayya merasa senang, Ibu juga demikian. Namun, jika Ayya merasa sedih, Ibu akan susah karena Ayya tidak bisa menerima kebutuhan yang layak dari seorang Ibu, Nak,” jawab Ibu sambil memeluk Ayya.

“Ayya tahu jika Ibu sangat menyayangi Ayya. Tapi, apakah cara Ibu menyayangi Ayya harus dengan membuat tubuh Ibu sendiri merasa lelah?” tutur Ayya yang sedikit kecewa dengan dirinya sendiri.

“Jika Ayya senang dengan menggunakan uang hasil bekerja Ibu, mengapa tidak? Ibu akan dengan senang hati dalam bekerja demi mendapatkan uang untuk menafkahi Ayya. Meski Ibu harus mandi keringat dan merasa lelah, Ibu akan tetap merasa bahagia jika melihat Ayya senang,” jawab Ibu.

“Baiklah, Bu,” tutur Ayya. “Ayya akan menunggu Ibu sampai selesai. Ibu lekas mandi, ya. Sudah hampir petang. Takutnya nanti Ibu bisa sakit jika mandinya terlalu malam,” sambung Ayya sambil sedikit menghibur dirinya sendiri.

Ibu hanya tersenyum kepada Ayya sambil beranjak dari tempat duduk dan bermaksud untuk segera mandi. Memang benar jika hari ini Ibu merasa sangat lelah karena ada pelatihan di tempat kerjanya.

Ayya pun menunggu di kamar Ibu. Dirinya memegang sebuah benda yang membuatnya merasa bingung sambil melamun di pinggir tempat tidur. Ketika Ibu sudah selesai, Ayya masih melamun.

“Ayya, mengapa melamun, Nak? Apa yang membuatmu sampai melamun seperti itu?” tanya Ibu yang mencoba untuk duduk di samping Ayya.

Ayya hanya diam, namun tatapan matanya tertuju pada sang ibu. Ibu merasa bingung dan khawatir dengan Ayya.

"Ini untuk Ibu. Ayya memberikan ini semua karena Ayya tidak ingin menyusahkan Ibu,” tutur Ayya yang matanya mulai berkaca-kaca.

“Untuk apa kamu memberikan semua ini kepada Ibu, Nak? Kamu lah yang lebih membutuhkan ini, Ayya,” kata Ibu terhadap Ayya yang terlihat mulai menangis.

“Jika Ibu tidak mau menerimanya, Ayya tidak mau bersekolah dan makan,” seru Ayya sambil tersedu-sedu.

Ayya berlari ke kamar tidurnya. Ibu berusaha membujuk Ayya untuk berbicara. Terdengar isakan tangis dari dalam kamar Ayya.

“Ayya… Keluar, Nak. Ibu akan menerimanya jika Ayya mau keluar dari kamar dan berbicara pada Ibu,” ajak Ibu.

Ayya pun membuka pintu kamarnya. Ia terlihat begitu sayu setelah menangis. Dia pun menghampiri Ibu sambil menundukkan kepalanya.

“Begini saja. Ibu akan menerima semuanya jika Ayya bersedia untuk menabungnya di bank. Bagaimana?” tanya Ibu.

“Tetap saja, Bu, uang itu masih menjadi milik Ayya. Ayya tidak mau! Ayya tidak mau jika uang itu tidak digunakan Ibu. Ayya ingin membantu Ibu. Tapi, mengapa Ibu menolak bantuan Ayya?” elak Ayya.

“Ibu dan Ayya membuat tabungan untuk kita berdua. Jadi, Ibu bisa menyimpan uang Ibu dan Ayya juga demikian. Adil, kan? Jadi, uang tabungan itu menjadi milik Ibu dan Ayya,” kata Ibu.

“Tapi, Ibu harus tetap menggunakan uang dari Ayya, ya, Bu?” pinta Ayya.

“Iya. Ibu akan menggunakannya jika memang dibutuhkan, Nak. Jika tidak dibutuhkan, mengapa harus diambil? Ibu selalu mengingatkan Ayya bahwa...” kata Ibu yang terpotong.

 “...kita tidak boleh menghambur-hamburkan uang. Banyak orang yang lebih susah dibandingkan dengan kehidupan Ayya saat ini,” sambung Ayya yang memotong perkataan Ibu.

“Maka dari itu, Ayya tidak boleh merengek lagi pada Ibu tentang pemberian Ayya, ya. Akan lebih baik jika kita menabung uangnya dan sisanya bisa disumbangkan kepada orang-orang yang membutuhkan,” kata Ibu sambil menasehati Ayya.

Dari peristiwa itu, Ayya mulai bisa mengurangi beban orang tuanya. Dia yang memiliki kebiasaan menyisihkan uang jajannya setiap hari lalu menyimpannya dalam celengan, membuat orang tuanya merasa tak mampu untuk mencukupi kebutuhannya. Padahal, Ayya bisa dikatakan sebagai anak dari keluarga yang cukup mampu.

Sejak SMP sampai sekarang, Ayya tidak pernah meminta uang orang tuanya untuk membeli beberapa keperluannya. Bahkan, Ayya pernah memberikan bantuan berupa uang dari hasil menabungnya kepada salah seorang nenek renta di desanya tanpa diketahui oleh orang tuanya.

“Jika kau tidak ingin menjadi beban bagi orang lain, angkatlah beban itu sendiri dan bangkit demi senyum kebahagiaan dari orang yang mencintaimu. Jangan hanya berpangku tangan dan berdiam diri saja. Karena kebahagiaan itu tidak datang menjemputmu. Namun, kebahagiaan itu yang harus kita raih untuk datang kepada diri kita. ” ~Ayya

LaelaNur Fitria

/laenf


Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.