NOVEL

Dakon Sang Lorong Waktu, "A Time Tunnel 11"

17 Feb 2017 | 05:55 Diperbarui : 17 Feb 2017 | 06:49 Dibaca : Komentar : Nilai :

Satu..dua.. tiga..empat..lima..persis hitungan ke lima matahari mulai nampak sedikit demi sedikit yang pada akhirnya nampak penuh dengan sinar yang belum menyilaukan mata. Moment demikian yang ditunggu oleh Sunaringsasi, dengan kamera saku yang dilengkapi video berhasil mengabadikan detik detik matahari saat muncul di garis cakrawala sampai terbentuknya bulatan penuh diatas bukit kembar Ranu Kumbolo. Semua yang ada di luar tenda memiliki kepentingan yang sama.

Setelah selesai mengabadikan moment mereka bersamaan mengambil air telaga guna mengisi botol botol mereka, tentu saja hati hati agar air tidak keruh karena mereka mengambil air secara bersamaan dengan riuhnya. Kurang puas mengabadikan matahari terbit jam 06,00 pagi, Sunaringsasi masih mengambil gambar Bukti Kembar Ranu Kumbolo saat jam 07.00 sinar matahari sudah memadai terangnya. Jam 7.15 mereka pada bangun, kemudian duduk melingkar sambil minum susu coklat panas yang sudah disiapkan oleh Sunaringsasi, untuk memecah kesunyian Boy Gatot Prawoto Sunardi :”Gila bener, semalam tidak bangun barang sekejappun karena udara sangat dingin ditambah lelah selama 8 jam non stop mendaki tanpa henti. Tidur benar benar nyenyak seperti dibuai saat masa kecil saja.”

Taat Sugriwo :” Benar Boy semalam akupun tidak terbangun karena udara dingin sekali sementara masuk dalam sleeping bed sungguh hangat. Begitu tertidur tak sekejappun bangun kalau tidak dibangunkan sholat subuh tadi. Benar benar nyenyak.”

Danu : “ Itulah yang aku harapkan, kwalitas tidur kalian berdua bagus, artinya nanti di Tanjakan Cinta pasti kuat tanpa halangan berarti. Tanjakan pertama walaupun dilihat dari bawah tidak nampak terjal, tetapi nanti bisa dibuktikan sendiri, tiap tanjakan pasti membuat nafas kalian ngos ngosan. Sebenarnya yang membuat ngos ngosan bukan tanjakannya, tetapi beban tas carrier ini yang semakin berat saat kita menanjak. Maka persiapkan pagi ini sarapan kalian dengan sereal yang tahan lapar dan jangan lupa setiap orang memiliki air minum sendiri sendiri, 600 ml cukup, lebih dari itu sangat memberati beban kita, juga jangan lupa snack makanan ringan coklat nanti saat mendaki sambil mengunyah sedikit snack, tenaga kita cepat habis terserap Tanjakan Cinta.”

Boy Gatot :” Okey boss siap. Siapa takut naik Tanjakan Cin...mm.” Belum sempat mengatakan kata akhir Cinta mulud Boy sudah dibungkam oleh tangan mungil nan halus berbau harum.

Sunaringsasi :” Ingat kak Boy, jangan takabur ya. Aku hitung sudah beberapa kali mengumpat, mari kita hargai kearifan lokal.”

Boy Gatot :” Maaf maaf aku lupa lagi,” sambil memukul pipinya sendiri.

Taat Sugriwo :” Hahahaha... memang kita harus menghargai kearifan lokal Boy, rupanya tidak hanya gunung Arjuno saja yang menyimpan banyak misteri petilasan raja jaman dahulu, petilasan raja Singasari maupun raja Majapahit ada

disini. Maka sebaiknya jangan takabur.”

Jose Eko Darmawangsa : “ Benar Boy, kita harus menghargai kearifan lokal, tidak boleh sembarangan ditempat yang asing bagi kita. Layaknya peribahasa, masuk kandang kambing mengembik, masuk kandang harimau mengaum, masuk kandang kerbau menguak.”

Danu :” Okey jarum jam sebentar lagi menunjukan angka 10, mari kita berkemas kemas dan tetap harus diingat jangan lupa jas hujan ditaruh ditempat yang mudah dijangkau, sehingga bila hujan kita tidak kalang kabut. Memang pemanasan global dan effek rumah kaca menyebabkan musim tidak menentu,

apalagi di daerah pegunungan cepat sekali cuaca berubah. Lihat Ranu Kumbolo

yang tadi pagi ramai sekarang tinggal puluhan tenda yang tersisa, mereka sudah

banyak meninggalkan Ranu Kumbolo, sebagian besar kembali ke Ranupani dan

sebagian kecil meneruskan pendakian ke Kalimati. Kalau tidak ada halangan Ranu Kumbolo – Kalimati yang berjarak 8 Km kita tempuh dalam 8 jam, artinya rata rata kecepatan kita 1 Km setiap jam. Kalau hujan bisa jam 21.00 kita sampai di pos Kalimati.”

Kira kira 15 menit semua peralatan sudah dimasukkan ke tas carrier mereka

masing masing tanpa ada yang ketinggalan, mereka mempersatukan tangan sambil bertriak “ Yaaa...” tanda seia sekata, berangkat menuju Kalimati.

Boy Gatot :” Sampai ketema lagi Danau Ranu Kumbolo yang indah, beberapa

hari lagi aku akan kembali lagi bermalam beberapa hari disini. Muuuaaaaaah...”

Tepat jam 10,00 mereka berjalan beriringan menuju Pos Oro Oro Ombo

dengan semangat mencapai puncak Mahameru, mereka berjalan mengular dengan Danu di depan layaknya penunjuk jalan sementara Sunaringsasi berada

bersambung....

Karmani Soekarto

/karmanisoekarto

1. Universitas Brawijaya, Malang 2. School of Mnt Labora, Jakarta 3. VICO INDONESIA 1978~2001 4. Semberani Persada Oil 2005~2009
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.