CERPEN

Amnesia 17

02 Dec 2016 | 16:02 Dibaca : Komentar : Rating :



19 November 2015. Sore yang mendung. Gemuruh sesekali terdengar. Perlahan bulir-bulir air langit menjatuh. Ya, hujan sedang melepas rindu pada bumi yang kering dalam penantiannya. Lirih terdengar suara tangis di sekitarku. Beberapa kali samar terdengar menyebut-nyebut Nama “Luna”. Mataku sayup. Perlahan menutup...

***

Usia 17 akan selalu menjadi momen yang indah bagi para gadis pada umumnya. Begitupun denganku, gadis berambut panjang yang baru saja merayakan momen indah di usiaku. Semalam aku merasa anggun dengan gaun berwarna merah muda. Dua anting bermotif bulan sabit di kedua telingaku, matching dengan kalung berliontin bulan sabit yang juga melingkar di leherku.

Hari ini, setelah bermalas-malasan akibat lelah acara ultah semalam, aku memanjakan diri membaca novel di teras kamar. Di tempat itu aku bisa melihat matahari terbenam dari sela-sela pohon rindang. Belum selembar aku membaca, tiba-tiba mengingat sesutu. Aku beranjak menuju kamar untuk mencarinya. Aku membuka pintu kamar. Betapa heran dan kagetnya aku ketika menemukan kamarku dalam gelap gulita di waktu sore.

PPPAAAKKKK…!!!!! Pintu kamarku tertutup sendiri. Aku mulai merasa takut. Beberapa saat kemudian, seberkas cahaya muncul perlahan-lahan dari sudut kanan kamar tempatku selalu sholat dan mengaji, seketika menerangi seluruh sudut kamar. Dinding kamarku dipenuhi oleh jam dinding yang entah dari mana. Berjejer dengan ukuran dan warna yang berbeda. Bibirku komat kamit mohon ampunan Tuhan.

Aku ingin keluar. Namun belum sempat aku membuka pintu, Ting-tong-ting-tong…Jam ke 17 di antara jam-jam itu berdenting. Seketika seluruh jam dalam kamar itu berhenti di pukul 17.00. Dan KREAAAAKKKKK…!!! Ternyata papan yang ku pijak sudah rapuh menyebabkan aku jatuh dari kamar di lantai dua ke lantai dasar rumah. Aku kehilangan kesadaran.

Beberapa menit kemudian, lagi-lagi suara jam itu berdenting dan membuatku terbangun. Aku mulai memperhatikan sekelilingku. Perasaan tadi aku jatuh dari lantai atas, kenapa badanku rasanya biasa aja? Harusnya lecet atau semacamnya. Tapi kok…???Tanyaku dalam hati. Ting-tong-ting-tong…Jam itu berdenting lagi. Aku merasa suara itu tidak asing. Alis kananku terangkat dengan ekspresi heran.

“Hahaha…!!! Tentu saja tidak asing, itu kan suara jamku. Alhamdulillah… Jamku ternyata masih melingkar di tanganku yang kusangka telah hilang.” Aku menepok jidat. Jam itu memang selalu berdenting setiap tiba waktu sholat. Aku lalu tersenyum lega karena telah menyadari apa yang baru saja kualami. Dan ternyata aku baru saja jatuh dari kursi tempatku membaca akibat ketiduran. Aku pun bangun dan masuk kamar untuk siap-siap menunaikan sholat maghrib meski dengan perasaan yang kurang nyaman atas mimpi aneh itu.

Beberapa waktu berlalu. Lelaki 170 cm meneriakiku dari bawah, “Woi Luna! Abang pergi nih..! Jangan ngelamun di atas sana!” Katanya yang kemudian melambaikan tangan dan memberi salam. Malam ini abang kuliah malam. Aku hanya tersenyum dan melambaikan tangan sambil membalas salamnya. Tiba-tiba pikiran nakal muncul dalam kepalaku. Aku lalu berjalan menuju kamar abang. Sudah lama aku penasaran. Tiap kali ingin masuk kamar abang, Luna selalu dilarang. Apa-apaan? Luna kan adiknya! Luna yakin pintunya nggak terkunci. Pikirku.

Tiba di ambang pintu kamar. Benar saja, pintu tidak terkunci. Tentu saja. Wahid sudah yakin dan percaya adiknya tidak akan berani masuk kamarnya. Aku adik yang nurut. Tapi kali ini aku nekad masuk kamar abang tanpa sepengetahuannya.

Dengan pelan aku membuka pintu kamar dan menutupnya kembali setelah aku berada di dalam kamar abang. Aku berusaha menguasai medan. Mataku lalu tertuju pada sebuah kotak di atas meja. Aku memberanikan diri membuka kotak meski aku mulai berdebar-debar karena tahu kalau yang kulakukan adalah salah.

Aku menemukan beberapa poto yang mirip denganku, tapi dia berhijab. Satu lagi poto menarik perhatianku, poto 7 orang dengan gaya pakaian siap mendaki. Di balik poto sebuah tulisan seketika membuatku terguncang.

Akhirnya hari yang ku tunggu datang. Aku, Dian, Rahma, Taslim, Ashar, Alil, Chaerul, hari ini akan mendaki. Rencana yang sekian lama baru bisa terwujud. Menikmati suasana alam diumur 23, See you 19 November esok...  ^_^ ... (Amel, 18 November 2015)

 Aku merasa baru saja terbangun dari tidur panjang. Aku tiba-tiba merasa bahwa perempuan berhijab dalam poto yang kutemukan dalam kotak itu adalah aku.  Lalu gelap, aku pingsan.

***

“Sepertinya ingatan adik Anda sudah kembali.” Suara berat dari seseorang yang berjubah putih terdengar samar. Ia melanjutkan, “6 tahun sudah berlalu. Ini adalah keajaiban.”

“Tidak! Dia Lunaku, dia adikku, apa maksud Dokter  Arman? Ingatan apa?” Seorang pemuda tiba-tiba membentak. Suaranya kedengaran tidak asing bagiku.

“Ini sudah 6 tahun berlalu. Saat itu kamu sudah berjanji untuk mengembalikannya pada keluarganya hanya jika ingatannya kembali. Kamu harus menepati janji itu Nak.”

“Tidak! Waktu itu media memberitakan bahwa dia resmi dinyatakan hilang. Sekarang Dia Lunaku, adikku!”

“Nak, ingatannya sudah kembali. Kamu harus merelakan kepergian Luna 6 tahun lalu. Sudah cukup kamu mempermainkan kehidupan orang lain. Dia bukan adikmu, dia bukan Luna si gadis 17 tahun yang kamu sayang, yang selalu kau beri hadiah bermotif bulan sabit setiap hari ulangtahunnya. Tapi dia Amel, perempuan yang kamu temukan sekarat di hutan 6 tahun lalu. Dan kamu harus menerima kenyataan itu. Tuhan hanya memberikan kesempatan untukmu menolongnya da...” Pemuda itu memotong.

“Aku yang salah. Benda-benda itu seharunya aku buang!”

“Benda?”

“Iya Dok, aku menyimpan semua barang yang dia punya. Benda itu tersimpan rapi dalam tasnya dan aku merahasiakannya. Aku tidak ingin dia dan siapapun tahu tentang itu. Aku tidak ingin ingatannya kembali jika ia melihat benda-benda itu.” Pemuda terisak.

“Maafkan aku Wahid, dia harus kembali. Apa yang kamu lakukan ini tidak benar. Kamu sudah membawanya ke dalam kehidupan yang tidak seharusnnya selama 6 tahun.” Lelaki berjubah putih itu memegang pundak pemuda itu lalu meninggalkan kami. Dia tertunduk, air matanya menetes. Aku lelah, aku menutup mata.

***

19 November 2021. Pagi yang bersahaja. Kicau burung sesekali terdengar. Perlahan bulir-bulir air membasahi dedaunan. Ya, embun sedang membangunkan bumi yang masih terjaga setelah semalam tertidur di taman mimpi. Lirih terdengar suara haru di sekitarku. Beberapa diantaranya samar terdengar menyebut-nyebut nama “Amel”. Mataku sayup. Perlahan terbuka...

~Selesai~


*Pertamakali dipublikasikan dalam buku "Amnesia Vol. 1", Antologi Cerpen, Ellunar Publisher


Izzah Lunetta

/kameriah_saraswati

Bismillah... Mimpi adalah harapan yang tak pernah lelap...
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.