NOVEL

Novel | Koloni (46)

16 Jun 2017 | 16:38 Diperbarui : 16 Jun 2017 | 16:38 Dibaca : Komentar : Nilai :
Ilustrasi by irvan sjafari



Segmen Empat

Persaudaraan Serangga

EMPAT PULUH ENAM

Lapangan Udara Husein Sastranegara, Bandung, Waktu Tidak Diketahui

Cerita Nanda Ardyas

Seminggu ini  membantu keluarga Alif di pernikahan Frisca. Suaminya  Brata Whardana, seorang staf pengajar di ITB.  Mereka tinggal di tempat kami karena tidak ada siapa-siapa.  Ditambah tugas, aku baru tidur nyenyak kemarin sejak pukul sembilan malam. Subuh dibangunkan dengan ketukan oleh Frisca: ada tugas dari Nana Nugraha:  ke bandara.  Mandi sebentar, lalu aku melesat ke bandara.

Kompi pertama tentara Indonesia yang ditugaskan di perbatasan Thailand tiba di Bandung. Mereka mendarat di Lapangan Udara Husein Sastranegara dari Kuala Lumpur. Mereka pasukan marinir dipimpin Kapten Eduardus Aryono.  Hanya enam puluh personil yang kembali dari seratus dua puluh orang. 

Letnan Kolonel Ahmady memeluk pria yang sudah dianggap adiknya itu.  Hampir sepuluh tahun mereka tidak bertemu.  Komandan pasukan itu sebetulnya Mayor Yudi Sadikin.  Namun dia gugur dalam suatu pertempuran di Pantai Pattaya melawan pasukan "Djengiz Khan" Kaul bersama empat lima tentaranya dan lebih dari dua ratus tentara Thailand dan lima puluh serdadu Malaysia.  Pertempuran yang membuat pasukan Kaul mengundurkan diri.  

Yudi Sadikin dan empat puluh lima anak buahnya dimakamkan di Thailand atas permintaan negara itu dan imbalan keluarga mereka jadi warga kehormatan Thailand,  bebas keluar masuk negeri itu, apalagi hanya untuk keperluan   ziarah.

Kang Ahmady demikian aku memanggilnya mengamati tentara Marinir yang datang.  Dia kini berpangkat Letnan Kolonel. Dia melihat seorang serdadu berambut keriting.

"Kapten Edu, Hendri Sihombing ini pangkatnya masih kopral?"

"Nggak sudah naik jadi Sersan Dua.  Dia berjasa di Patani," ujar Edu.

Yang dipanggil Hendri Sihombing hanya tersenyum.  Dia juga dipeluk rekannya yang jadi ajudannya Ahmady,  Sersan Mayor Iqbal Prayogo.

"Pangkat gue masih lebih tinggi Dri," candanya.  Mereka satu angkatan sebetulnya. Tapi Iqbal melesat.  

Aku tersenyum melihat kedatangan mereka. Sisa pasukan Indonesia masih bertahan di perbatasan Vietnam dan Thailand.  Sekalipun pasukan Kaul sudah jauh berkurang, tetapi masih tetap menjadi ancaman bagi negara-negara ASEAN.

Namun yang aku tunggu ialah seorang pria usia tiga puluh tahunan.  Rambutnya gondrong yang menumpang pesawat angkut militer.  Seorang Indonesia yang punya usaha wisata dan tidak punya pilihan untuk pulang: Gatot Koco.

Aku mengupayakannya lewat jalur Ahmady agar dia langsung ke Bandung, karena menjadi kunci lain menemukan Alif.  Dia membawa seorang putri berusia balita dengan wajah Thailand dan istrinya.

"Nanda? Mungkin ini bisa membantu," katanya. Dia hanya memberikan sebuah majalah wisata yang sudah menguning dan agak rapuh. Aku baca  Plesir dengan cover para penyelam, edisi 2014.  Aku membukanya, di dalamnya hanya ada sebuah memory card.

 

*****

Kantor Swara Priangan Gedebage

Aku hanya sendiri di kantor.  Kawan-kawan sedang di lapangan semua. Setelah menulis soal penyambutan kepulangan tentara di Lanud Husein Sastranegara, aku memeriksa memory card dari handycam milik Gatot Koco puluhan tahun lalu.

Terlihat gambar di dalam kabin pesawat mulai dari kursi belakang hingga depan kelas ekonomi. Dia mencuri wajah masing-masing penumpang.  Di bagian belakang aku melihat wajah seorang perempuan usianya dua puluh tahunan waktu itu.

"Ah ,ini kan Elin Halida, narasumber Alif dulu," gumamku spontan.

Mataku semakin terbelalak melihat Eliza ada di pesawat. Dia duduk  beberapa kursi dari Elin.  Di deretan lain ada dosen dari Belanda Djikstra, serta Alif Muharam duduk dengan seorang pria.

"Benar ini Pandu Husin Pratama memang di sebelah Alif. Mereka sedang bicara apa?"

 Pesawat mengudara. Rupanya rekaman masih berjalan. Walau kadang dimatikan. Kadang dihidupkan lagi.  Iseng sekali Gatot  Koco ini. Gambarnya agak buram karena terlalu lama. Kemudian aku melihat pramugari melayani minuman dan membagikan makanan.  Selang lima menit kemudian, aku menghitung beberapa orang tertidur setelah minum, termasuk Alif dan Pandu.  Sementara yang lain tidak.  Rekaman tidak teratur, rupanya Gatot Koco juga tertidur hingga terbalik. 

 Tetapi aku sempat aku memperhatikan wajah Djikstra dibedaki oleh seorang anak perempuan.  Dosen Belanda itu hanya tertawa. Namun setelah dibedaki dia tertidur.  Delapan orang tertidur.  Di mana Eliza? Mungkin tidak terekam.  Tiba-tiba pesawat menukik dan aku mendengar suara mendarat dan gambar mati.  Mungkin baterai habis.

Pertanyaannya: Apakah pesawat itu benar-benar jatuh? Tetapi di gambar tidak ada tanda-tanda penumpang panik atau air masuk atau ledakan.  Jangan-jangan yang ditemukan Tim SAR kecuali Alif adalah yang tertidur, itu artinya?

Gila! Ada apa di benak Gatot Koco, informasi berharga ini dibuka kepada media atau pemerintah Indonesia?

                                                                            **** 

Bangsal Psikiatri Rumah Sakit Hasan Sadikin, Malam Hari

Aku beruntung Eliza baru saja dijemput keluarganya keluar dari bangsal. Mulanya keluarganya keberatan aku menemuinya. Namun Eliza mau menerima aku.  Dia melihat rekaman yang sudah saya salin  di laptop.

"Ya, Tuhan!" kata Tantenya Ririt Ashari . Kamu benar ada di pesawat itu? Mengapa? Siapa yang memberimu tiket?"

"Pak Edi Muryadi, dia menunggu aku di Singapura.  Mas Gatot dibayar untuk mengawal aku. Namaku di tiket nama palsu, pasporku juga palsu. Dia punya koneksi di Singapura."

"Edi Muryadi pengusaha hotel, mantan lurah yang dipecat Pak Wali Kota dulu?" cetus tantenya. Rupanya ibu itu  juga mengenal nama itu.

Eliza mengangguk. "Aku sudah dapat uang muka lima juta rupiah dan sisanya diberikan di Singapura. Aku direkrut  Pak Alex dan waktu itu aku ingin beli smartphone tiga dimensi."

Polos. Eliza menumpahkan tangisnya ke tubuh tantenya. "Aku pelacur tante. Ini kedua kalinya, sebelumnya Pak Edi mengajak aku jalang-jalan di Bali. Aku bilang bersama teman-teman. Mas Gatot juga menemani aku."

Pantas saja, Gatot Koco bungkam. Dia terlibat jaringan human trafficking secara tak langsung.  Kalau dia buka memang cerita Archipelago Airlines bakal jadi ramai. Tetapi media akan mengusut siapa dia.   

Aku ingin mencari Gatot Koco, tetapi entah di mana dia.  Tiba-tiba aku melihat Kapten Maulana Yusuf membawa Jendera Manggala keluar dari rumah sakit.

"Komunikasi dengan Yogyakarta putus. Pos Padalarang melaporkan ratusan drone berterbangan dan mereka kontak senjata. Kita diserang!" 

Hampir bersamaan ponsel aku berbunyi.  Dari Nana Nugraha. "Siaga!"

Suara ledakan terdengar.  Kami berhamburan ke luar rumah sakit.  Sebuah tank terbakar di jalan depan Rumah Sakit Hasan Sadikin.  Aku melihat asap di berapa tempat. Blietzkriege.

Kapten Maulana menyuruh  aku mengikutinya. Aku langsung menghidupan sepeda motor Ciung Wanara mengikuti jip yang dikawal ketat.   Perintah segera meninggalkan Kota Bandung. Pasukan tidak siap menghadapi pasukan lawan.

Namun aku memilih naik ke atas  Jembatan Pasupati.  

Aku bertemu Sersan Dua Marinir Hendri Sihombing,  Sersan Mayor  Iqbal "che" Prakoso dan Kapten  Eduardus Aryono (Edo)  sedang mengendarai jip bersama teman perempuan mereka  Tuti Utami  melintas di jalan layang Pasteur ketika kami  melihat  puluhan payung mendarat di atas atap rumah sakit Hasan Sadikin dan sebagian lagi berada di atas jembatan layang  mendarat dan melepas tembakan.  

Kami juga melihat pesawat tempur melayang di atas Bandung menuju Lanud Husein Sastranegara. Jip kedua berisi empat prajurit marinir bersiaga bersama Edo stelling.  Aku berlindung di balik sebuah mobil yang penghuninya melarikan diri karena bannya pecah karena tembakan.

Pukul sepuluh malam.   Lanud Husein Sastranegara dihujani bom.  Beberapa pesawat yang parkir berkeping-keping.  Meriam penangkis udara segera bereaksi. Sebuah pesawat kena dan jatuh menimpa perumahan.  Tetapi meriam penangkis itu juga dihancurkan.  Demikian pesan yang masuk ke ponsel aku dari Rahmi.

Tembak menembak terjadi di jalan layang.  Eduardus Aryono berhasil menjatuhkan seorang serdadu payung sebelum dia sendiri tertembak di pahanya.  Iqbal dan Hendri mencoba  menolong, tetapi Edu menyuruh mereka melarikan Tuti dengan jip dan dia memilih steling dengan luka di dada di balik sebuah mobil yang terhenti, karena supirnya tertembak mati.  Tetapi perlawanannya hanya beberapa menit ketika sebuah granat menghancurkan mobil itu.

Aku segera melarikan motor aku di bawah hujanan tembakan. Dari pengaras suara aku mendengar suara dalam Bahasa Indonesia logat Amerika.

" Mulai besok pagi Presiden di negeri ini hanya  Dhimas Harris! Aku Kolonel Luca menanti siapa jago kalian!"

Aku bergerak menuju alun-alun melalui Jalan Braga.  Yang aku tahu  Kang Opik sedang di sana di Gedung Merdeka memberikan ceramah pada para mahasiswa.

Mayor Ahmady dan satu peleton marinir melarikan Taufik Mulyana dengan tiga  buah jip .  Satu peleton lagi mengadakan steling sekitar gang-gang dan atap bangunan di Braga hingga terjadi tembak menembak.   Pasukan Dhimas Eko kehilangan tiga  serdadu di Braga dan Alun-alun dan tiga orang lagi di Wastukencana dan Merdeka.

"Ibu Esti di Pangandaran, Pak Presiden," ujar Ahmady. "Keluarga Anda juga aman.  Sebagian pasukan saya membuat steling di Cicendo di istana gubernuran seolah keluarga di sana. Ibu  Dewi Tania sedang ada di Yogyakarta, tetapi kota itu saya perkirakan juga diserang.  Komunikasi kita putus."

Aku mengikutinya.  Kontak senjata masih terjadi. Aku melihat Rahmi juga merunduk di antara dinding bangunan.  Beberapa serdadu dan orang sipil tampak bergelimpangan di jalan.  Di atas drone menembaki posisi pasukan Ahmady, tetapi seorang serdadu marinir menjatuhkannya.

"Maaf Bang, Kapten Edo gugur," ujar aku terisak.

Letkol Ahmady memeluku. Kemudian menyuruhku mundur.

"Kau pergi menjauh. Mereka akan tembak siapa saja yang menghalangi mereka!"

Di kegelapan aku melihat seorang serdadu bule memberondong seorang serdadu marinir tetapi dia juga ditembak rubuh.

Pesan singkat Kang Nana: Mundur ke Tasikmalaya. Mereka akan bunuh wartawan di pihak kita.

Rahmi merangkul aku. "Kamu ingin bertemu Alif, kan? Ikut aku?"

"Aku nggak mengerti? Jadi kamu tahu selama ini Alif masih hidup!"

"Nggak juga, tapi jejaknya ada di Gedebage Bandung Technopolis."

Rahmi membonceng aku mengendarai motor listrik Ciung Wanara.  Kami melesat di jalan kelalui Jalan Naripan menuju Gedebage Bandung Technopolis.

Bandung Gedebage Tecnopolis, Pagi Hari

Aku terbangun dengan kantuk yang masih bersemayam seolah-olah terus berupaya menahan kelopak mataku untuk tetap menutup.  Rahmi membawaku ke Gedebage Bandung Technopolis dan memintaku tidur di atas bed  tersedia dalam sebuah ruangan.  Hanya dua jam.  Dia memintaku menunggu.

Pukul lima. Aku mengambil air wudhu di kamar mandi di dekat ruangan itu dan salat.  Aku terkejut melihat tas berisi pakaianku sudah tersedia dalam carrier 45 liter.  Rahmi muncul bersama Letkol Ahmady dan lima marinir.

 "Bagaimana situasi?" tanyaku.

"Blietzkrieg. Pasukan lawan begitu banyak membuat pasukan kita terpukul mundur.  Gue dan lima anak buah gue  terkepung dan tiba-tiba ditolong orang-orang Gedebage dibawa kemari.  Yola dan anaknya juga ada di sini."

"Nggak bisa kontak?"

"Blank spot. Menara seluler tersisa sudah dikuasai oleh mereka. Kemungkinan disadap. Kalau kita menghubungi mereka malah mengetahui posisi pasukan," ujar Ahmady.   

Tak lama kemudian Yola datang bersama Dhini anaknya. Dia diantar  seorang perempuan bertubuh mungil  dengan rambut dipotong  pendek masih memakai papan nama di dadanya : Yuyi Namara. Tak lama kemudian muncul Januar Effendy.

"Segera mandi. Kita berangkat satu jam lagi." katanya. "Teteh ditunggu di Aula tak jauh dari ruangan ini."

Masih diliputi tanda tanya aku bergegas untuk mandi. Hal yang biasa bagiku untuk mandi dan berkemas dalam waktu singkat.  Aku tidak tahu apa yang dimaksudnya untuk berangkat. Lagipula ke mana?  Bagaimana pula mereka menyiapkan pakaian aku yang ada di kamar kos di rumah Alif? Lalu mengapa Frisca dan ibunya Alif tidak diajak? Mungkin dia ada suaminya. Lagipula tenaga mereka juga dibutuhkan rezim.

Yuyi Namara dan  Januar Effendy sudah menunggu  kami di aula.  Lalu mereka mengajak kami ke ruangan atas  yang belum pernah saya lihat.  Di sana ada ruangan besar.    Sebuah  kendaraan berbentuk  kumbang raksasa sudah menunggu.  Dua rekan Yuyi juga menunggu di sana.

"Apa ini Dik?"  tanya Ahmady. 

" Iya,ini hasil  karya Kang Karna.  Rancangannya bersama Kang Yunus.  Inspirasinya gambar sahabatmu Alif.  Kami sudah merahasiakan ini sejak dua puluh tahunan lalu.  Prototipe pesawat anti elektromagnetik mampu menembus portal  segitiga Bermuda hingga lokasi tempat kawanmu itu," ujar Januar.

"Subahanallah!  "  ujar Achmady.  "Kok kalian merahasiakannya dari kami?"

" Kalian akan tahu jawabannya.  Saya sudah dapat pesan dari kawan-kawan Kang Karna  untuk membawa kalian ke tempat sahabatmu pada waktunya, yaitu sekarang.  Presiden sudah aman,kan?  Hanya  tempat sahabatmu harapan kita.  Mungkin juga harapan umat manusia."

Mereka memasuki kumbang.   Yuyi dan Januar  berada di cockpit, sementara  Aku, Achmady, Lola,Dhini berada di tengah.  Seorang bintara bernama Chandra Kirana  dan tiga  serdadu anak buah Achmady di belakang, bersama dua staf Yuyi lainnya.

 "Sayang prototype  pertama dirancang  untuk dua belas orang.  Terbang dengan baterai energi matahari.  Kita ke koordinat  tempat itu dan harus turun ke dalam air, karena lokasinya tidak bisa dilalui pesawat karena ada pertahanan anti elektro  magnetik,  persis di Segitiga Bermuda. Pesawat biasa  akan langsung jatuh, bila pertahanan itu dihidupkan dan tak terlacak radar."

Kami menyadari bahwa atap ruangan itu sebuah kubah.  Sekarang? Ada apa?

"Pasukan musuh sudah menerobos Gedebage Bandung Technopolis," kata Yuyi. "Mereka sudah tahu bahwa Kang Opik dan anak-anak Bandung Gedebage Technopolis punya teknologi yang bisa melawan mereka bahkan mengadakan perobahan di dunia.  Selain pesawat kami juga punya drone yang disimpan di tempat Alif berada sekarang."

Pesawat Kumbang itu kemudian melesat meninggalkan Gedebage Technopolis, persis ketika pasukan Mayor Lukas menerobos masuk.  Dia hanya mengamati kumbang itu melesat pesat.  Dia menelepon seseorang.  Tak lama  kemudian dari Jakarta  enam helikopter tempur  mengejar kumbang itu.  Mereka berkejaran  ke arah Kepulauan Riau. 

" Ada yang mengejar kita!"  seru Sersan Chandra Kirana

" Mereka tidak akan menembak kita karena mereka butuh protipe pesawat ini.  Setelah hancurnya pesawat-pesawat tempur dengan bakar bensin, maka  inilah masa depan. Bahkan bisa ke luar angkasa."  ujar Yuyi.

Jantungku berdebar.  Petualangan apa lagi menanti aku.  Tetapi sebuah pertanyaan akan terjawab. Itu pun kalau memang Yuyi benar.

Entah berapa jam  mereka di udara.  Di bagian bawah terlihat laut, tetapi makin lama langit yang tadi cerah  warnanya berubah buram.  Jarum kompas berputar cepat tanpa berhenti. 

" Sialan! Kita hilang!  Persis seperti cerita orang yang hilang dari Segitiga Bermuda!"  gumam Ahmady kagum. 

Kumbang  segera turun ke air yang dangkal dan akhirnya mendarat di sana.  Seketika itu juga langit kembali cerah. Mungkin langit buram itu semacam perisai.  Lalu  dari dalam pesawat perahu karet dikeluarkan, mereka harus basah sedikit.    Yuyi dan Januar bekerja cepat.  Mereka sudah di laut.  Para pengejar terperangah  dua heli tempur  jatuh dengan deras dan meledak di laut karena mereka terlambat untuk terbang rendah.  Sepertinya mereka menabrak perisai yang tak tampak.   Empat heli lainnya oleng  dan mengalami kerusakan. Tetapi  para serdadunya sempat  menurunkan empat  perahu karet sebelum  keempat heli itu meledak.

"Mereka juga tidak bisa kembali dengan mudah," gumam Ahmady. "Tapi jumlah mereka lebih dari empat puluh orang."

 Ada  tiga  rumah penduduk di pantai itu. Tampaknya nelayan.  Kecuali satu orang pria tua yang mengenali Yuyi.

"Kalian ikut ke gerbang! Cepat!" kata orang tua itu.

Dua orang nelayan mengeluarkan senapan api dan menjadikan perahu sebagai tempat berlindung. Jelas bukan nelayan biasa.  Kontak senjata terjadi. 

Seorang serdadu  Ahmady merasa tidak enak.  Dia ikut membantu.

"Saya tahan mereka  Dan! Terus saja ikut mereka Dan!  Bawa orang sipil. Rawe-rawe lantas, malang-malang putung!"

Ahmady terharu mengikuti Bapak Tua itu menuju rimbunan pohon kelapa. Dari kejauhan aku masih melihat kontak senjata. Jelas mereka bertiga tidak akan mampu menahan puluhan serdadu yang kebanyakan tentara bayaran.

"Terima kasih kawan!" ucap Ahmady terharu.

Bapak itu mengajak kami memasuki pepohonan yang ternyata kamuflase dari sebuah gerbang dari lorong dengan dinding bercahaya putih. Entah teknologi apalagi.  Di belakang suara tembakan terdengar. Kami terus berlari. Sekitar sepuluh menit.

"Brengsek! Mereka juga masuk!" kata Bapak tua itu. 

(BERSAMBUNG)

Irvan Sjafari


irvan sjafari

/jurnalgemini

TERVERIFIKASI

Saat ini bekerja di beberapa majalah dan pernah bekerja di sejumlah media sejak 1994. Berminat pada sejarah lokal, lingkungan hidup, film dan kebudayaan populer.
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.