CERPEN

Cerpen | Bahaya Mencuci di Pagi Hari

20 Mar 2017 | 09:12 Diperbarui : 20 Mar 2017 | 09:18 Dibaca : Komentar : Nilai :

Suatu ketika di hari minggu, tiba-tiba aku terbangun dari tidur malam ku yang sedikit kurang nyenyak. Ku putar kepalaku ke kanan dan ke kiri dengan mulut yang menguap. Rasa-rasa mengantuk masih terasa. Tapi, aku harus bangun dan mengambil air wudhu untuk menunaikan sholat subuh sebagai kewajibanku menjadi seorang muslim. Dengan mata setengah terpejam, aku berjalan menuju kamar mandi. Ku buka pintu kamar mandi dan ku hidupkan tempat air. Tanpa sadar akan hal itu, tiba-tiba air keluar dan menyembur ke kepala dan muka ku. Sontak aku terkejut dan segera mematikannya. Akibatnya sebagian baju dan celana ku basah. Tapi, karena hal itu aku sudah sedikit tidak mengantuk.

Setelah sholat, tak sengaja aku melihat baju kotor ku menumpuk banyak sekali di ember baju. Sempat terpikirkan dalam angan-anganku, akan ku cuci sekarang atau nanti siang. Akhirnya aku putuskan untuk mencuci baju-baju kotor ku sekarang. Aku berjalan menuju ke tempat mencuci, di sana masih terlihat sepi dan semua mesin cuci masih tertata rapi. Tentu, mengapa semua mesin cuci masih tertata rapi? Ya, karena masih belum ada yang memakai di jam segini. Langsung saja kumasukkan semua baju kotor dan kunyalakan mesinnya, aku kembali menuju ke kamar, karena aku merasa sedikit takut sendirian di sana.

Ketika aku sampai ke kamar, ku ambil tugas ku dan kulanjutkan tugas semalam yang belum tuntas dan segera kutuntaskan pada pagi hari itu. Tiba-tiba jam tangan sudah menunjukkan angka 6. Aku masih ingat jika cucianku masih ada di mesin cuci. Tanpa pikir panjang, aku berlari menuju ke tempat cuci dan disana ada Daffa Dilla yang sedang mencuci pakaian juga. Aku biasanya memanggil dia Kak Daffa. Dia memiliki kampung halaman yang sama denganku. Menurutku dia itu orang yang baik, royal ke pada orang lain, dan yang paling utama dia suka bercanda.

Di sana, sambil menyuci kita ngobrol bareng membahas tentang hal-hal yang mungkin kurang penting dan tidak jelas di mata orang lain. Tapi, di mata ku semua itu akan menjadi penting dan termasuk hal yang bisa membuat hidupku lebih penuh dengan cerita. Dia berusaha mencari topik untuk pembicaraan kita.

Tiba-tiba, aku merasa tidak enak. Mengapa suasana berubah menjadi sepi, “Sepertinya ini sudah waktunya makan.” Ujar ku ke dia. Dia bertanya apakah aku membawa jam tangan. Tentu tidak. Buat apa membawa jam tangan ketika mencuci baju. Akhirnya aku putuskan untuk melihat jam di jalan menuju kamar. Belum jadi ku lihat jamnya, aku sudah salah fokus melihat pintu sudah di kunci. Itu tandanya, semua orang yang ada di sini sudah keluar dan aku dengan kak daffa terlambat.

Ketika aku melihat jam dinding yang berada di kiri atas ku, waktu sudah menunjukkan pukul 6.31. Aku lantas kembali ke tempat cuci dengan muka datar, lalu bilang ke kak daffa jika pintu sudah di kunci. Tanggapan yang dia berikan bukanlah terkejut, tapi santai-santai saja. Saat itu aku mulai panik, “Bagaimana ini kak, kita sudah telat dan pintu utama sudah di kunci.” Ucapku kepadanya sambil melanjutkan cucian yang belum selesai. Dia menjawab,”wes, tenang ae to gak usah gopo.”Bahasa jawanya pun keluar yang berarti sudah, tenang saja jangan terburu-buru.

Setelah itu, dia langsung mengajakku untuk keluar dari tempat ini melalui pintu depan kamar 117. Ternyata, kamar itu terkunci. Kami coba satu-persatu dan kami berhasil menemukan kamar yang tidak terkunci. Akhirnya kami mencoba masuk dan keluar lewat sebelah kamar 121. Dengan berjalan perlahan dan berkata,”Ngapunten”yang artinya maaf, kami memasuki kamar tersebut untuk keluar dari gedung ini.

Ketika kita akan membuka pintu kamar untuk keluar, ada satpam di luar. Kulihat muka kak daffa dengan perasaan sedikit resah dan ketika kita mau membuka pintu tiba-tiba satpam mengetahuinya.

Dengan refleksatpam langsung menahan kita untuk tidak keluar sebelum Pak Hendrawan memanggil. Dalam benakku akan ada sesuatu yang terjadi. Kak Daffa menatap wajahku dan tertawa, “Hahaha tenang, tidak usah takut”, Ujarnya. Sehabis itu dia mengajak ku untuk melanjutkan cucian yang belum selesai. Oke, akhirnya aku berjalan menuju ke tempat cuci.

Ketika aku berjalan menuju ke sana, aku mendengar suara misterius. Suara itu adalah suara langkah kaki yang aku tak tahu dimana letaknya. Jangan.. jangan.. itu...  Tidak. Mungkin ada orang lain yang sama nasibnya dengan kami di sini. Gumamku dalam hati tertawa, “Hahaha” akhirnya ada orang lain selain kami.

Tanpa pikir panjang aku berlari ke Kak Daffa dan memberitahunya jika aku mendengar suara langkah kaki berjalan di lantai atas. Aku berpikir singkat pasti ada orang lain yang bernasib sama dengan kita, “Kira-kira siapa ya?” Tanyaku. Dia tidak begitu merespon akan hal itu, dia hanya bilang, “Tunggu saja, nanti juga tahu.”

Suara itu semakin lama semakin kencang dan tiba-tiba, “Jur.. juri.. Bajuri, rene jur!”Teriak Kak Daffa. Orang misterius itu ternyata adalah Kak Bajuri dan akhirnya dia datang ke tempat cuci bersama kita. Aku pikir hanya Kak Bajuri saja yang juga terlambat. Tiba-tiba datang lagi tiga orang temannya menyusul. Di sana aku dan Kak Daffa menertawakannya karena sama-sama terlambat dengan kita.

30 menit kemudian, kami semua di panggil oleh Pak Hendrawan untuk datang ke ruang makan. Dan apa yang terjadi? Kami di suruh makan dengan porsi yang menurut ku itu tiga kali lipat lebih banyak dari biasanya dan hanya dengan sayur. Dalam benak ku berkata, ”Astaghfirullah” Tapi dari hal itu ada makna besar yang bisa aku ambil yaitu kedisiplinan itu penting. Jika kita melanggar aturan dengan apapun alasannya kita harus berani menerima resikonya.

Akhirnya kami mendapat sanksi untuk mengecek kamar dan mematikan lampu selama satu minggu di asrama laki-laki siswa Sampoerna Academy Boarding School.


Cerpen karya Jauharul Arifin X-D

SABS

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.