HIGHLIGHT CERPEN

Cerpen | Antara Larantuka dan Adonara

20 Mar 2017 | 09:34 Diperbarui : 20 Mar 2017 | 09:48 Dibaca : Komentar : Nilai :
Di Perairan ini, Edo membuktikan cintanya pada Yuli (dok.Pribadi)

Suasana langit diatas laut di muka pelabuhan Larantuka tenang seperti biasanya, tanpa angin yang berhembus kencang. Sementara diatas perahu, diatas permukaan laut tenang itu, ada  perjalanan antara Larantuka dengan pulau Adonara.  

Rasanya, memang laut antara Larantuka dan Adonara selalu tenag.

Kondisi laut yang tenang, birunya laut dan jernihnya air laut hingga berpuluh meter ke dalam laut yang dapat dijangkau mata, menguatkan Edo, untuk membawa Yuli menempuh perjalanan laut ke Adonara.

Masih terbayang di pelupuk mata Edo, bagaimana di muka kapela Tuan Ma kemarin, Yuli bertanya pada dirinya, sambil tangan Yuli sebelah kanan, bergelayut di tangan kiri Edo.

“Pulau apakah itu Do, di depan kita?”

“Itu namanya Pulau Adonara” jawab Edo singkat.

“Rasanya demikian dekatnya….” Gumam Yuli, nyaris tak terdengar. Namun, bagi Edo, itu adalah sebuah permintaan, jika Yuli ingin mengunjunginya.

“Besok kita akan mengunjungi sayang..” demikian bisik Edo di telinga Yuli.

“Akh… Edo..” hanya itu kalimat yang dikeluarkan Yuli, namun cengkeraman tangannya pada tangan Edo semakin kuat, kepala itu, merebah di pundak Edo.

“Kita akan sewa perahu dengan dua awak sekaligus, agar kompartable, agar kita bisa terlayani bagai Ratu dan Raja” bisik Edo ditangan Yuli.

Tak Ada jawaban, hanya cengkeraman tanga itu semakin kuat dirasa Edo.

Kini, diatas perahu besar ini, Yuli dan Edo sedang menyusuri selat antara Larantuka dan Adonara. Agaknya dilaut inilah dulu pemuda Resiona menemui Malaikat suci nan cantik, yang seketika muncul dari dalam laut, sehingga membuat sang pemuda Resiona kaget luar biasa, dan akhirnya pingsan. Ketika sadar, sang pemuda telah berada di pantai dan sang Malaikat cantik yang dijumpainya berubah menjadi patung. Patung itulah yang kini dikenal masyarakat Larantuka sebagai patung Tuan Ma. Dan kapela yang dikunjungi Edoa dan Yuli kemarin, Kapela Tuan Ma.   

Tiba-tiba, angin bertiup kencang, blazer Yuli yang sejak tadi hanya dijinjingnya, terbawa angin kencang, melayang-layang dan akhirnya menyentuh perairan laut selat Adonara.  

Refleks, Edo melompat ke laut, mengejar Blazer Yuli…

Terjadi kepanikan diatas perahu, Blasius segera memutar haluan mengarahkannya  pada posisi Edo, Herman menyediakan tali kapal dan menghubungi penjaga pantai. Sementara Yuli dengan penuh kekhawatiran berdiri dipagar geladak, tak tahu harus berbuat apa.  

*****

Siang belum sepenuhnya tiba, masih sekitar pukul sepuluh WITA, di Jalan Sudirman Larantuka, dimana RSUD Larantuka berada, Edo dan Yuli sedang duduk-duduk di selasar RSUD.

Kejadian  kemarin, di perairan laut selat antara Larantuka dan Adonara, tak membuat Edo cidera. Patroli Polisi yang kebetulan lewat, membuat  semuanya jadi repot. Edo harus dibawa ke RSUD lalu di visum, memastikan semuanya baik, tak kurang suatu apa.

Siang nanti Edo harus kembali lapor ke Kantor Polisi, untuk membuat keterangan tertulis. Tentang apa sesungguhnya yang terjadi kemarin.

“Do…” Yuli, menggeser duduknya, menyajikan secangkir kopi Bajawa hangat pada sang suami.

“Ya, sayang” jawab Edo.

“Kenapa sih, harus nyebur ke laut?”

“hehehe… aku hanya ingin buktikan ke Yuli” jawab Edo.

“Buktiin tentang apa, Do?”

“Kalo hanya Blazer saja, aku bisa menjaganya, apalagi untuk sang pemilik Blazernya..”

“oohhhhh….” Hanya itu kalimat yang keluar dari mulut Yuli. Yuli sangat tersanjung dengan kalimat Edo terakhir.

Selanjutnya, tak dibutuhkan kata-kata. Sepasang pangantin remaja itu hanyut dalam dunianya. Karena, sesunggunya, tak seluruh rasa yang ingin diungkapkan, harus dinyatakan dalam bentuk kata-kata.

Sepasang pengantin baru itu, hanyut dalam pelukan bahagia.  


Iskandar Zulkarnain

/isz.singa

TERVERIFIKASI

coba berbagi pada sesama, pemilik blog http://www.iskandarzulkarnain.com
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.