NOVEL

Dari Elegi ke Kota Impian

17 Feb 2017 | 12:41 Diperbarui : 17 Feb 2017 | 12:50 Dibaca : Komentar : Nilai :

BAGIAN 1

Perkenalkan namaku Elisa. Sejak umur 2 tahun, aku tinggal di kampung Elegi. Aku terlahir sendiri tanpa saudara dan hanyalah seorang anak wanita yang terlahir dari keluarga yang sangat jauh dari kata harmonis. Namun walaupun aku hanyalah anak satu-satunya, banyak sanak saudara dari keluarga ayah yang silih berganti menumpang hidup dan tinggal bersama kami di rumah. Sehingga beban ibu sebagai tulang punggung keluarga bertambah berat. Ayah hanya seorang supir angkutan umum yang kerja tak kerja. Waktunya hanya digunakan untuk bermain judi di kedai tuak Buzer.

Ibuku merupakan wonder women yang menopang beban hidup keluarga yang sangat berat. Ibu menanggung beban keluarga dengan menjual sayuran di pasar dengan menggunakan sepeda. Setiap pagi ibu telah siap mengikat sayuran yang akan di jualnya di pasar. Sebelum berangkat kepasar, ibu tidak lupa mencium kening ku ketika aku terlelap tidur. Bila sayuran yang dibawa ibu terlalu banyak, ia tidak akan menaiki sepedanya, namun menuntun sepedanya dengan berjalan kaki sampai ke pasar. Jarak rumah dan pasar letaknya sangat jauh kira-kira 6km. hingga suatu ketika ibu terlambat pulang kerumah karena ban sepedanya bocor, sehingga ia harus menuntun sepedanya ke tukang bengkel terdekat.

Sesampainya di rumah aku berlari memeluk ibu dan menciumnya karena rindu padanya. Namun aya menarikku dan mengurungku di dalam kamar dan mengunci pintunya dari luar. Ayah mengambil pisau besar dan meremukkan sepeda ibu sampai berkeping-keping. Tak puas sampai di situ, ayah juga mendaratkan pukulan demi pukulan ke tubuh ibu hingga keluar darah dari kelopak mata ibu. Ibu hanya meraung menangis menahan sakit. Aku juga ikut menangis dari dalam kamar dan menendang-nendang pintu dari dalam karena tidak sabar memastikan keadaan ibu setelah disiksa oleh ayah. Akhirnya sekian lama aku berteriak-teriak dari kamar, yang ku lihat para tetangga telah berkumpul di rumah dan membukakan pintu kamar yang dikunci oleh ayah. Tanpa memperdulikan seorang pun, aku langsung memeluk ibu dan menangis melihat apa yang terjadi pada ibu. Ibu juga membalas palukanku dan segera membuat tubuhnya seakan-akan tidak terjadi apa-apa dihadapanku.

Ayah tak lagi terlihat di ruangan tersebut. Ia pergi entah kamana, dan aku tak memperdulikannya. Para tetangga yang telah berkumpul menyaksikan kejadian malam itu membawa ibu dan aku ke klinik terdekat dan sebahagian lagi membereskan puing-puing sepeda ibu yang telah di rusak ayah dan barang-barang yang berserakan yang digunakan ayah melempar tubuh ibu. Namun ibu memaafkan perbuatan ayah tersebut dengan hati yang tulus.

Tak kalah herannya aku ketika aku melihat pintu kamar keluarga pak Kardopa yaitu kakak dari ayah  yang saat itu tinggal serumah bersama kami tidak tergubris sedikitpun. Dengan damainya mereka tertidur lelap tanpa adanya gangguan kegaduhan yang terjadi karena kelakuan ayah.

Dikampung Elegi juga banyak kisah yang terukir. Masa kecil yang tak kan terlupakan. Teman yang selalu menemaniku dalam masa-masa kecil yang tidak suram-suram amat yaitu Roy, Helen, dan Tio. Kami berteman sama seperti anak-anak lain bermain menghabiskan waktu yang tak kami hiraukan hilang begitu saja tanpa kami mengerti apa yang terjadi di sekitar kami.

Kampung Elegi kebetulan terletak di pinggiran jembatan. Setiap sore kami bisa melihat balapan motor ilegal yang diselenggarakan di jembatan tersebut. Dan setiap ada razia polisi maka komplotan pembalap akan lari pontang panting seperti maling. Hampir setiap hari juga kami melihat korban jiwa yang meregang nyawa di tempat itu. Darah yang mengalir sudah terlihat biasa di tempat itu. Setiap ada korban yang kecelakaan di areal balap itu, maka akan di perlakukan layaknya sampah yang mengganggu pemandangan, hanya disingkirkan keluar dari areal tersebut. Bagi orang memenangkan lomba balap motor maka berhak mengambil motor milik orang yang kalah di permainan itu.

Kebetulan di atas jembatan tersebut, ada kak Anisa yang menjual jagung bakar dan sekaligus langganan kami ketika menonton pertunjukan balap yang menegangkan urat saraf.

Saat pertunjukan tersebut akan mulai, maka kami akan naik ke atas jembatan dan mengambil posisi di kedai kak Anisa. Saat gas motor para pembalap telah beradu itu pertanda pertandingan akan dimulai. Kami juga mulai menandai jagoan kami dalam pertandingan itu. Aku dan Roy mendukung pembalap motor berwarna merah, sedangkan Helen dan Tio mendukung pembalap motor yang berwarna biru.

Kami berteriak sekuat-kuatnya untuk mendukung pembalap yang telah kami sepakati. Namun pembalap biru yang merupakan jagoan Helen dan Tio jatuh terpental dan menabrak trotoar. Ia terkapar tak berdaya namun seorang pun seperti tak menghiraukannya. Kami pun tak bisa berbuat apa-apa untuk menolongnya karena mobil polisi telah mendekat dan kami pun ikut lari pontang-panting menyelamatkan diri seperti para pembalap itu.

Sepanjang jalan Helen hanya bergumam, “andai saja tadi jagoan ku tidak jatuh, ia pasti bisa memenangkan pertandingan itu” katanya. Dalam hatiku hanya bertanya, apakah ini pantas? Dan mengapa ketika pembalap tadi jatuh terkapar, tak seorang pun diperbolehkan untuk menolongnya?

Sesampainya di rumah, ayah telah berada di rumah sambil marah-marah kepada ibu. Pemandangan tersebut juga telah terasa biasa bagiku. Terkadang ayah memukul dan menampar ibu sampai lebam. Permasalahan yang sepele  juga di buat ayah sebagai kesempatan untuk memukul ibu sampai babak belur. Hingga suatu ketika, ayah pulang dalam keadaan mabuk. Ibu hanya bisa memasak telur karena ibu hanya tidak dapat menjual sayur yang ia bawa seluruhnya di pasar karena tidak laku. Musim hujan di siang hari juga berpengaruh terhadap warna sayur yang akan di jual ibu. Ketika hujan turun siang hari di campur terik matahari menimbulkan bercak kuning di daun sayur. Para pelanggan hanya akan membeli sayur yang hijau dan segar.

Saat ayah membuka pinggan saji, ia melihat telur yang digoreng dengan garam saja. Kemudian ia melemparkan telur tersebut ke wajah ibu. Dan membuat ibu sebagai sasaran kemarahannya. Kebiasaan ayah ringan tangan kepada ibu juga tak pernah hilang ketika ada suatu permasalahan di rumah. Ibu juga dikejar-kejar hingga ke kolong tempat ridur tetngga dan di seret secara paksa dari sana. Orang-orang hanya bisa berteriak untuk menghentikan kebiadapan ayah pada waktu itu. Namun teriakan orang-orang tidak di gubris sedikitpun oleh ayah.

Sesampainya dirumah, setelah ayah memukuli ibu sampai babak belur, ayah mengusir ibu dari rumah dan ingin memisahkan aku dari ibu. Namun ibu tidak mau tidak mau berpisah jauh dari aku. Ibu mencari akal untuk tetap tinggal berdekatan denganku. Di belakang rumah terdapat sebuah kandang yang digunakan untuk tempat kandang ayam. Dikandang itu, ada sebuah meja kecil yang berukuran 170 sentimeter. Dimeja itu ibu berusaha tidur walaupun dengan melipat kakinya, menahan gigitan nyamuk di sekujur tubuhnya, dan tanpa lampu yang menerangi tempat itu. Tempat memasak nasi yang digunakan ibu hanya panci kecil yang sudah rusak dan bocor. Dengan segala cara ibu berhasil menambal panci itu dan menggunakannya untuk menanak nasi.

Bila ayah sedang tidak berada di rumah, aku sangat senang karena bisa makan, tertawa, dan tidur dengan ibu di kandang ayam itu. Bau yang menyengat, nasi yang gosong di bawah dan lembek diatas seperti bubur, dan nyamuk yang banyak juga tidak terasa saat ibu memelukku. Semua terasa hangat saat ibu ada di sisiku. Itu terjadi hingga berbulan-bulan lamanya.

Saat ayah datang dan melihat kami tidur di kandang ayam itu, ia sangat marah kepada ibu dan kembali memukuli ibu. Dan mengusirnya lagi dari kandang ayam itu. Dengan tidak berdaya ibu pergi dan melepaskanku hidup bersama ayah. Ibu tidur di ladang orang dan tidur tanpa alas di tanah. Karena ibu tidak tahan lagi dengan serangan nyamuk yang sangat banyak, ibu mulai belajar menghisap rokok dan menghembuskan asapnya kearah nyamuk yang menggigit badannya.  Keadaan ini membuat ibu kecanduan terhadap rokok.

Keesokan harinya, ayah langsung membawa aku pergi ke luar kota. Kami tinggal di sebuah kota besar ssKami tinggal di rumah sebuah keluarga tepatnya di rumah paman. Paman dan bibi termasuk orang yang berekonomi bawah. Dengan dua orang anaknya laki-laki, mereka hidup dengan keadaan yang pas-pasan. Paman bekerja sebagai seorang pengantar kayu pesanan pembeli di toko Mahyong dan bibi hanya sebagai ibu rumah tangga yang hanya bisa ngobrol dengan para tetangga seharian. Rumah yang kotor dan berantakan tak kan mengganggu mereka untuk saling beradu gosip yang di dapat. Mereka membicarakan tetangga seberang yang membeli mobil baru, ada yang membeli gelang, baju baru, hingga pembicaraan yang tidak penting  pun ikut di perbincangkan. Bibi tidak pernah memperhatikan anak-anaknya bahkan aku yang hanya menumpang di rumah itu. Karena mereka tidak mau terbeban oleh kedatangan ayah dan aku ke rumah mereka, mereka mengatakan kepada ayah untuk segera mencari pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan kami.

Ayah ikut bekerja dengan paman ditoko Mahyong untuk mengantarkan kayu-kayu pesanan pelanggan.

Selama tinggal di sana, hidupku terasa tak berdaya. Aku berjalan melintasi keramaian kota, berjalan kaki sendiri. Aku seperti anak gelandangan yang kehilangan akal. Perasaan kehilangan sesuatu yang menjadi kekuatan hidupku. Ketika itu usiaku baru berumur 3 tahun 11 bulan. Sebagai seorang anak yang polos dan hanya mengikuti perasaan, aku menjalani jalanan yang ramai tanpa takut apa pun yang akan terjadi.

Ketika aku menjalani jalan raya tersebut, tiba-tiba ayah dan paman lewat saat sedang mengantarkan pesanan kayu. Ayah melihat ku berjalan di seberang jalan raya tersebut. Tanpa ragu aya menerobos lalu-lalang mobil yang ramai. Ayah dan paman lalu membawaku pulang kerumah, dengan nada suara yang marah ayah membentak bibi karena tidak menjaga ku dan membiarkanku berjalan lepas di jalanan.

Setelah hampir 2 minggu kami tinggal di sana, aku terserang sakit demam dan kejang-kejang hingga keadaanku menjadi sangat kritis. Akhirnya karena ayah tidak tahu berbuat apa lagi, ayah menyurati ibu untuk segera datang ke Jakarta dan untuk melihatku terakhir kalinya. Karena kata Dokter harapanku untuk hidup sudah tipis dan tidak akan bisa bertahan untuk hidup.

Dengan secepatnya ibu meminta pinjaman uang dari orang-orang agar bisa menyusul ke Jakarta. Dalam waktu 2 hari 3 malam ibu datang ke Jakarta dengan menaiki kapal laut. Sampai di Jakarta, ia langsung kerumah sakit tempat aku di rawat. Sepenjang jalan ibu hanya menangis dan tak sabar untuk bisa memelukku. Sesampainya di rumah sakit, tepatnya diruangan tempat aku terbaring lemah dan tersambung dengan segala selang dan peralatan medis untuk pertahanan nafasku yang kata dokter tak lama lagi, ibu langsung memelukku dan menangis sekuat-kuatnya.

Suaranya terdengar olehku sayup-sayup seakan memanggil rohku untuk kembali. Suatu kekuatan tiba-tiba melekat di tubuhku hingga ku rasakan hawa nafas hidupku. Yah, aku kembali hidup di dunia. Aku terbebas dari koma yang membelengguku selama satu setengah bulan lamanya.

Kami juga memiliki areal permainan yaitu di areal kampus keguruan. Di kampus yang luasnya 1 hektar itu kami dapat bebas bermain karena di halaman kampus tersebut disediakan alat-alat permainan anak-anak yang digunakan oleh para calon guru SD untuk bekal mengajar sesungguhnya di sekolah.

Setelah para calon guru tersebut menggunakan fasilitas permainan tersebut, kami dapat menggunakannya dengan sebebas-bebasnya.

BERSAMBUNG………

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.