PUISI

Aku Takut

19 May 2017 | 01:54 Diperbarui : 19 May 2017 | 02:01 Dibaca : Komentar : Nilai :

Aku takut memandang wajahmu

Kata orang, cinta pandangan pertama
dan aku orang yang mudah menitipkan rasa, meskipun tak selalu berbalas, aku menikmatinya.

Aku takut melihat mata sayu milikmu

Bukan sebuah kebetulan jika ada peribahasa “dari mata turun ke hati”
bukankah mata adalah pembunuh paling sempurna?
mata jua yang memaksa hati untuk menitipkan asa dan harapan pada insan yang lain.
Saat semua hanya ilusi semu, maka lara hanya hati yang menanggungnya
“sayatan yang sempurna dan rasa sakit yang paripurna” gumam hati dalam sesaknya nestapa.

Aku takut kamu tersenyum padaku

Karna satu senyum berbilang makna, beratus kata yang dirangkum,
beribu makna terselubung,  bahkan sejuta dendam tersembunyi di gelapnya sanubari.

Aku takut kenal kamu

Dengan mengenalmu akan membuatku bertindak jauh
terkesan kebablasan, bahkan sedikit urakan.
Pin BB, nomor hape, hingga ukuran sepatu.

Aku takut untuk “biasa” denganmu

Cinta selalu dimulai dari cita yang biasa, angan yang biasa hadir dalam mimpi, hingga pertemuan biasa yang taksengaja.
Bukan pertemuan yang aku sesalkan,
namun rasa tak biasa di saat tatap muka, rasa tak biasa dan melanglang buana menembus mega dan menelusup ke dalamnya pembuluh vena dan aorta itu menyiksa, Kekasih.

Aku takut kamu kagum dengan kebaikanku, kemurahan hatiku

Karena suatu hari nanti, kamu akan marah dengan sikapku yang tak bisa berkata tidak kepada semuanya.

Aku takut kita pacaran

Nanti kan berujung pertanyaan kapan lamaran, bukannya aku tak ingin memberi kepastian. Kekasih
pengetahuanku berbatas bahwa kepastian adalah Tuhan, dalam Tuhan kepastian hadir, dalam kepastian Tuhan ada.
Jelas bukan, Kekasih? aku mampu bersamamu hari ini, namun entah esok, lusa dan seterusnya, aku fana, tak berdaya dan tua.

Aku takut kita berteman

Teman selalu berujung dekat.
Dekat berakibat melekat, hingga tiada sekat, lalu akan tiba masanya kita saling menghindar, demi menjaga sebuah ikatan yang dinamai “sahabat”.

Aku takut menikahimu

Titah guruku, menikah itu nasib, mencintai itu takdir, kau bisa rencanakan menikah dengan siapa, namun tak bisa rencanakan cintamu untuk siapa.

Aku berencana menikahimu, namun jika saat cinta hadir dan ternyata bukan untukkmu, bajingan kah diriku,  Kekasih?

Lalu kamu menggila, berteriak “bukankah kamu berjanji di hadapan orang tuaku? dihadapan Tuhan? bahwa kita akan bersama?” “kamu menikahiku karna kamu cinta padaku, to? aku milikmu, kamu milikku?”

Ini membuatku khawatir, Kekasih.
Kita akan saling “mendasarkan” segala hal pada “cinta”
aku cinta padamu, maka aku menikah denganmu, jika aku lupa tanggal ulang tahunmu, maka aku tak cinta lagi padamu.

Uang yang kubawa tak cukup untuk beli gincu, aku tak cinta padamu
si sulung menangis minta layangan online, aku tak cinta padamu
bertemu kawan lawas, sedikit lebih lama untuk melepas rindu, itu juga artinya tak cinta padamu.

Aku takut untuk hidup bersamamu, satu atap, satu tempat yang sama

Kamu akan mulai rewel tentang cucian kotor, hujan yang tak berhenti dan parfum baru yang kubeli.

Aku takut menua bersamamu

Akan tiba saatnya kita sama-sama cerewet soal waktu, waktu yang cepat berlalu. Tentang waktu yang tak memberi kita kesempatan menjadi insan yang tak berterimakasih.
Bukankah waktu jua yang membuat kita bertemu, sayang?

Namun...

Aku takkan pernah takut untuk bercerita.
Mendaras puisi, melenggokkan kanvas, hingga memuntahkan monolog yang tentu saja tentang kamu. Kekasih! Cerita tentang kamu yang tak pernah membuatku takut.

Perkara kamu milikku atau tidak
bersamaku atau bersama insan lain
tak jadi soal. Sudah kubilang, cerita tentangmu tak pernah menakutiku.

Imron Fhatoni

/imronfhatoni

Catatan Lainnya bisa dilihat di http://imronfhatoni.blogspot.com
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.