CERPEN

Aku, Duniaku, dan Keanehanku

20 Mar 2017 | 15:55 Diperbarui : 21 Mar 2017 | 08:08 Dibaca : Komentar : Nilai :

Hai! Aku Natani Sierra Gunarsih, biasa dipanggil Sierra. Yah, tidak ada yang spesial dariku, hanya seorang gadis SMA biasa. Mungkin tidak sebiasa yang kamu pikirkan, tapi mari stereotipkan semuanya. Menyamakan semuanya agar tidak ada yang berbeda dan semuanya menjadi normal, atau biasa aku sebut monoton. Sulit rasanya hidup ketika orang sudah tahu siapa diri kita. Ingin rasanya hidup menjadi sebuah misteri berjalan.

Pernahkah kamu merasa ingin menjadi seseorang yang tidak diketahui? Tidak ada yang tahu apapun tentangmu kecuali dirimu dan Tuhan. Kedengaran mustahil bagiku karena aku sudah memberi tahu namaku; walaupun hanya sebatas formalitas saja. Seperti tipikal cerita dimana tokoh utamanya memperkenalkan diri terlebih dahulu. Tipikal? Iya, karena konon katanya, menjadi berbeda, atau biasa disebut aneh, itu tidak baik. Muak rasanya mendengar hal tersebut. Tetapi apa dayaku, hanya orang aneh yang mencoba untuk menjadi dirinya sendiri di tengah dunia yang, dikatakan, normal.

Terkadang aku berpikir sendiri, mengapa kita hidup? Apa alasan dibalik semua teori kehidupan ini? Apa yang akan terjadi ketika bumi sudah punah? Jika surga atau neraka memang ada, apakah aku akan selamanya hidup disana nanti? Konsep dari kekekalan hidup menakutiku. Sebagai manusia biasa, aku hanya bisa berpasrah dan menjalani hidup sesuai yang kumimpikan.

Manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan yang sangat kompleks. Manusia memiliki akal budi untuk berpikir dan menentukan jalan hidup masing-masing. Walaupun takdir tidak bisa diubah, tetapi nasib tetap di dalam tangan perseorangan. Apa yang akan terjadi di dalam hidup sulit untuk ditebak, tetapi masa depan tidak semisterius yang dikira. “Wah, seorang dukun kah kita?” Sayangnya bukan. Tidak usah berpikir ter...

 “Lima menit lagi ya nak.” Ujar guruku.

 ‘Ah, mengganggu ceritaku saja.’ Kataku dalam hati.   

Ruang kelas menjadi sunyi ketika ulangan berlangsung. Setelah selesai mengerjakannya, aku mengosongkan pikiranku. Terkadang juga menghilangkan kesadaranku akan lingkungan sekitar, hanya menikmati senandung lagu yang berputar di pikiranku. Terkadang juga berbicara atau bercerita dengan diri sendiri atau teman imajinerku dalam benakku. Teman imajiner? Iya. Sudah kukatakan, aku aneh.

Tak, tak, tak. Hanya suara sepatuku yang mengisi sunyinya kelas. Bosan menunggu, aku pun menghibur diriku dengan memainkan pulpen di jariku. Beginilah caraku mengisi waktu kosong, apa pun akan kulakukan. Menggerakkan badan, memainkan sebuah barang, menyibukkan atau mengosongkan pikiran, dan yang paling favorit adalah tidur.

~~~

Setelah lama menunggu habisnya waktu, aku pun mengumpulkan kertas ulanganku. Rasanya bebanku sudah terangkat sebagian setelah menyelesaikan ulangannya. Walaupun masih tersisa sedikit rasa gundah di hati akan bagaimana hasilnya nanti. Berharap keberuntungan sedang datang padaku membuat nilaiku cukup untuk lulus.

Waktu istirahat adalah saat yang sangat-sangat dinantikan oleh murid-murid. Waktu untuk membeli makanan di kantin, bertemu teman dari kelas yang berbeda, bermain laptop, dan yang paling sering ditemukan, mendengarkan lagu. Jujur, aku sangat setuju dengan yang terakhir. Mendengarkan lagu membuatku tenang, fokus, dan rileks. Walaupun lagu yang kudengar bergenre pop, hip hop, atau yang sedang terkenal saat ini, Electric Dance Music (EDM). Entah mengapa musik selalu bisa membuatku tenggelam dalam duniaku sendiri.

Salah satu faktor yang membuatku aneh juga adalah kebiasaanku untuk menikmati musik secara fisik. Maksudku adalah selalu menganggukkan kepala, menggerakkan badan, ikut bernyanyi, atau bahkan sedikit menari sambil mendengarkan lagu. Sangat jarang orang menemukan diriku duduk diam sambil mendengarkan lagu. Mungkin banyak yang sering memperhati...

“Ra!”

Eh, Axel.”

 ‘Ah! Ceritaku terpotong lagi.’ Gumamku dalam hati.

“Bagaimana ulangannya? Kamu bisa?”

“Bisa, tidak terlalu susah atau pun mudah. Bagaimana denganmu?”

/Kali kedua... Pada yang sama.../ Ceritaku dipotong lagi. Yah, tidak ada salahnya bersosialisasi dengan orang lain. Aku pun berbincang santai dengan Axel sambil berkeliling sekolah. Axel Reuel, biasa dipanggil Axel. Seperti yang kamu tebak, dia adalah temanku. Tunggu, ada sesuatu yang aku lupa, “temanku”. Akhir-akhir ini aku jarang bertemu dengannya. Walaupun kita saling mengirim pesan setiap hari, ada sebagian diriku yang rindu padanya. Kita berdua sibuk dengan tugas kita masing-masing dan rumah kita pun tidak terlalu dekat. Mengingat betapa seringnya kita bertemu pada semester lalu ketika kita belum sesibuk ini, membuatku semakin rindu padanya. Agak berlebihan, tetapi beginilah remaja yang sedang jatuh cinta.

~~~

Ding, dong, ding, dong. Bunyi bel tanda waktu istirahat telah usai. Dia mengantarku sampai depan kelasku dan kita pun berpisah. Pelajaran setelah ini adalah fisika, pelajaran yang tidak kutunggu-tunggu. Untungnya, guruku sering sekali telat datang ke kelas, termasuk hari ini. Aku pun duduk di tempat dudukku sambil menatap keluar jendela, menikmati indahnya pemandangan pepohonan dari lantai 3. Inilah saatnya aku kembali ke duniaku.

Baru saja kutinggal sebentar, rasanya aku sudah tertinggal banyak dari apa yang sudah terjadi. Agenda harianku sudah cukup banyak yang telah kuselesaikan. Mendengarkan lagu, mengkontemplasikan hidup, ADHD, makan, dan bermain dengan teman imajinerku. Terkejut akan betapa anehnya diriku? Inilah aku. Terima aku apa adanya.

Rasanya ada satu hal yang belum aku jelaskan. ADHD. Mungkin kamu belum tahu apa ADHD itu. Singkatnya, aku memiliki gangguan perkembangan dalam peningkatan aktivitas motorik. Ini juga salah satu faktor yang membuatku terlihat aneh. Tidak menjadi masalah bagiku karena aku pun sadar akan keadaanku yang seperti ini. Belajar menerima perbedaan diri sen...

“Beri salam!”

STRIKE 3!

Marianne Helga Moniaga

/helga_moniaga


Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.