PUISI

Puisi | Tata Berantakan

20 May 2017 | 08:42 Diperbarui : 20 May 2017 | 09:30 Dibaca : Komentar : Nilai :

Orang-orang kaya suntuk merumuskan kemakmuran di depan orang-orang miskin sibuk memunguti butiran beras berjatuhan dari igauan politikus-politikus di kursi goyang mengicau burung-burung kehilangan pijakan direbut para geladangan. Para orang tua masih bertanya-tanya tentang hantu-hantu gentayangan dari media-media warung-warung. Ramai anak-anak belajar Pancasila UUD 1945 pada gawai semarak permainan pukul-pukulan tembak-tembakan di taman banyak ular senduk.

Kota-kota bergegas ke luar negeri. Kampung-kampung mengepung kota-kota. Hutan-hutan terjerumus ke buku-buku. Kebun-kebun mencemplung ke kantung-kantung. Tambang-tambang hengkang ke piring-piring. Sungai-sungai terurai dalam botol plastik. Laut-laut hanyut di perut-perut.

Pohon-pohon tidak sudi menjadi padi-padi. Padi-padi tidak sudi membuah berlian-berlian. berlian-berlian tidak sudi lahir dari rumput-rumput. Rumput-rumput tidak sudi menampung kentut-kentut. Kentut-kentut tidak sudi dipolitisasi mimbar-mimbar. Mimbar-mimbar berlarian ke ruang-ruang terbuka mencari pendengar-pendengar paling menyala. Pendengar-pendengar membakar mesin hitung-mesin hitung. Mesin hitung-mesin hitung menghapus gambar-gambar orang kaya berpolitik miskin-melarat.

*******

Panggung Renung Balikpapan, 20 Mei 2017

Gus Noy

/gusnoy

TERVERIFIKASI

Buku-buku arsitek kelahiran Kampung Sri Pemandang Atas, Sungailiat, Bangka, ini antara lain kumpulan kartun hitam-putih "Potret Diri Oji" (2017, ISBN : 978-602-98452-7-3), kumpulan esai "Siapa Mengontrol Siapa" (2016, ISBN : 978-602-98452-6-6), dan kumpulan puisi "Napak Tilas" (2016, ISBN : 978-602-98452-4-2). Alamat surel : sayagusnoy@yahoo.com.
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.