DONGENG

Aji Saka Part II (Asal usul Bledug Kuwu)

29 Sep 2011 | 02:08 Dibaca : Komentar : Rating :

Setelah Prabu Dewata Cengkar berubah menjadi bajul putih (buaya putih) di laut kidul, maka Aji Saka lah yang kini memegang kendali kerajaan Medhangkamulan. Sebagai seorang raja, Aji Saka terkenal karena sangat arif, dan bijaksana, serta membela kepentingan rakyatnya. Setiap ada kesempatan, Aji Saka selalu meninjau langsung kehidupan rakyatnya. Hingga suatu hari tatkala dia berjalan di sebuah desa yang tentram, Aji Saka melihat segerombolan gadis yang sedang menumbuk padi dengan menggunakan lesung dan alu. Di antara gerombolan gadis-gadis itu, ada seorang gadis yang sangat cantik rupawan, dan memiliki senyum menawan. Hal itu membuat kalbu Aji Saka bergetar. Saat sedang menumbuk padi itu, tiba-tiba kain jarik yang dipakai sang gadis tersingkap, sehingga nampaklah betis gadis ayu tersebut. Dan melihat pemandangan tersebut, Aji Saka menjadi sangat bernafsu, sehingga (maaf beribu-ribu maaf) meneteslah sepermanya di tanah dan dipatuk oleh seekor ayam jago. Untuk tetap menjaga wibawa, Aji Saka segera kembali ke kerajaan Medhangkamulan. Dan dikisahkan, ayam jago tersebut bertelor dan oleh pemilik ayam (seorang janda tua) telor tersebut dieramkan di lumbung padinya. Setelah beberapa waktu, tiba-tiba desa tersebut menjadi gempar karena telor tersebut menetas, tapi bukan anak ayam melainkan seekor ular yang besar. Di sepanjang badan ular tersebut bertuliskan "putrane Aji Saka" dengan huruf  Jawa. Dan anehnya lagi ular tersebut bisa berbicara layaknya manusia. Karena selalu mencari ayahnya, maka oleh janda tua tersebut si ular diantar ke kerajaan. Bagi Aji Saka sendiri ini benar-benar mengejutkan. Namun sebagai seorang raja yang arif, Aji Saka mau mengakui sang ular puteranya dengan syarat jika sang ular bisa membunuh bajul putih (buaya putih) di laut kidul. Untuk menghindari kehebohan masyarakat, maka sang ular diharuskan lewat dalam bumi (dalam tanah) selama berangkat dan pulang dari laut kidul. Sang ularpun menyanggupi dan segera berangkat ke laut kidul. Perkelahian hebat terjadi antara sang ular dengan bajul putih. Dan dimenangkan oleh sang ular. Saat pulang dari laut kidul menuju Medhangkamulan, sang ular bingung. Ketika dia melongokkan kepala, ternyata baru sampai di Kuwu (wilayah di Kab. Grobogan Jateng).  "Besuk rejane jaman, di daerah ini akan terdapat sumber garam, yang bisa dijadikan untuk mata pencaharian warga di sekitar sini" ujar sang ular. Sang ular pun kembali melanjutkan perjalananya. Dan untuk yang kedua kali sang ular melongokkan kepala di Jono (masih di wilayah Kab. Grobogan Jateng), dan yang ke tiga di Crewek ( Wilayah Kab. Grobogan). Sampai ketiga kalinya belum tepat, snag ular menangis dan meneteslah air matanya. Hingga sekarang di kedua tempat tersebut juga bisa menghasilkan garam, namun untuk wilayah Crewek garamnya terlihat kemerahan (hal ini diyakini karena air mata sang ular). Akhirnya tibalah sang ular di kerajaan Medhangkamulan, dan dengan besar hati, Aji Saka mengakui ular tersebut puteranya dan diberi nama Jaka Linglung.  Sejak saat itu Jaka Linglung pun tinggal bersama ayahnya di kerajaan Medhangkamulan. Jadi menurut dongeng almarhum Bapak saya, bledug Kuwu (di mana daerah tersebut jauh dari laut), namun airnya mengandung garam karena ada aliran bekas jalannya Jaka Linglung dari laut kidul. Percaya atau tidak, ini hanya sebuah Dongeng ( yang dalam bahasa Jawa Dongeng = dipaidho kengeng = bisa disangkal)

Agoeng Widodo

/gneoga

TERVERIFIKASI

Seseorang yang sedang belajar, dan sangat memimpikan Indonesia yang gemah ripah loh jinawi toto tentrem karto raharjo
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.