HIGHLIGHT CERPEN

Cerpen Sepak Bola: Im Flamboyan

17 Feb 2017 | 16:26 Diperbarui : 17 Feb 2017 | 16:17 Dibaca : Komentar : Nilai :

Suatu hari, Galang si pria flamboyan itu termenung selepas berlatih sore bersama timnya di pojokan lapangan sepak bola yang mulai mendung. Entah apa yang membuatnya terlihat begitu sedih. Bisa jadi sebabnya adalah cinta, Apalagi kalau bukan persoalan cinta yang bisa membikin pria metroseksual, playboy, don juan, atau apalah yang bisa mendelegasikan kelakuan manusia macam dia bisa termenung seorang diri dipojokan lapangan sepak bola yang mulai mendung. Adakah alasan lain?

“Wanita mana lai yang biking kakak Galang Suryadireja ini resah dipojokan lapangan?”,KataJeki - rekan setim Galang itu menghampiri dengan sedikit pecicilan. “Apa yang membuat Jeki Watimena mengganggu pria yang sedang ingin sendiri?”Galang menimpali dengan nada yang sedikit berat. “Wanita itu masih banyak kakak, seng perlu dipikirkan terlalu berat ‘e!”Jeki sambil meloyor ke ruang ganti pemain.

Sedangkan Galang hanya bisa menggerutu didalam hati, kenapa orang-orang macam Jeki selalu bertendensi menilai dirinya sebagai pria flamboyan, sudah barang tentu lelaki flamboyan itu identik dengan cinta dan gonta-ganti wanita, apalagi flamboyan kerap disematkan kepada orang-orang terkenal yang berfrofesi sebagai public figure.

Galang merasa dirinya tidak berusaha menjadi seorang flamboyan yang mencuri perhatian banyak orang meskipun dirinya merupakan seorang pesepakbola terkenal di daerahnya. Ya boleh dimaklum, walau sebagai pesepakbola yang merumput di divisi 2 Galang punya potensi untuk menjadi bintang masa depan mengingat usianya baru menginjak 18 tahun. Apalagi Ia punya daya tarik yang cukup tinggi. Selain skill bermain bolanya, Ia pun punya paras menawan untuk dijadikan idola bagi kaum hawa.

Dengan paras dan penampilan itulah tidak sedikit orang yang melantiknya sebagai pria paling flamboyan didalam tim Batavia FC.  Kita sudahi dulu perdebatan mengenai Galang pria flamboyan yang tak pernah merasa dirinya flamboyan itu. Karena esok timnya akan mulai bertarung mati-matian di final Divisi 2, pertandingan yang paling ditunggu bagi pemain amatil macam dirinya.

Pelatih kepala tim Batavia FC, Rico Nasution, menghampiri salah satu pemainnya yang masih saja terduduk sendiri ditepian lapangan. “Kau masih disini, boy?” Pelatih asal Binjai itu mengawali percakapan. “Ya coach, lagi cari angin”, Lantas coach Rico tak tinggal diam, dirinya paham betul kalau anak buahnya yang satu ini tengah bermasalah.

“Saya adalah pelatih kepala di tim ini, kalau dianalogikan ke kehidupan di rumah, saya adalah kepala keluarga alias bapak kedua kau. Jadi 23 pemain yang ada disini adalah tanggung jawab saya, saya berhak tahu masalah setiap pemain”.

Besok kita berperang boy, laga final selalu tidak enteng. Saya hanya tak mau melihat satu personel pun berperang dalam kegelisahan. Sekarang kau ceritakan...”  Coach Rico dengan logat khas Medan mencoba membujuk Galang untuk bercerita.

“Apa coach Rico pernah dicaci kemudian dimaki?” dengan nada lugas khas seorang flamboyan. “Dunia sepak bola itu keras. Dulu, ketika saya masih aktif bermain, saya tidak hanya dicaci maki. Dilempari botol air mineral oleh supporter, bahkan diteror oleh orang tak dikenal. Tapi, saya sudah memilih sepak bola sebagai jalan hidup, tidak ada cara lain selain menikmati APAPUN yang terjadi”.

“Saya masih belum bisa menangani tekanan. Bagi saya, pujian adalah racun paling berbahaya. Disebut sebagai seorang flamboyan merupakan caci maki yang paling meresahkan bagi saya..... Entah saya harus menikmati label tersebut atau entah saya harus marah. Saya risih, takut kalau popularitas itu menghentikan karir saya”.

Berkali-kali Galang diberitakan sebagai pria flamboyan oleh pers lokal yang sering meliputnya. Pemberitaan tim justru kalah aktualnya dengan pemberitaan Galang si pria/pemain flamboyan itu. Bahkan, media, pemain lain, masyarakat yang mengenalnya, hingga rekan setimnya ikut menyematkan label tersebut.

Bagi Galang menjadi pesepakbola adalah cita-citanya dari dulu yang tak pernah berubah sedikitpun. Ketika ditanya, Ia selalu menjawab secara konsisten ‘ingin menjadi pemain bola’. Ayahnya seorang pemain tarkam yang tidak pernah dikenali oleh banyak orang. Yang membuat Ridwan Setiawan (ayah Galang, red) tidak pernah mencicipi kompetisi level nasional adalah bukan karena skillnya yang kurang mumpuni namun karena itulah pilihannya.

Menjadi pemain tarkam adalah pilihan. Berkali-kali dipertengahan tahun 1990-an rumahnya didatangi pelatih, tim scouting, hingga agen pemain. Namun, berkali-kali pula Ridwan menolak tawaran menjanjikan para pengendus bakat sepak bola itu.

Sampai Danur Mindo, Indra Thohar, dan Pieter Black memohon kepada kakeknya Galang agar bisa membujuk anaknya untuk bergabung dengan salah satu dari tim mereka. Nyaris, talentanya terdengar hingga seantero nusantara. Namun keukeuh Ridwan terhadap pendiriannya untuk menjadi pemain tarkam. Alasannya sederhana, lebih sederhana dari membuat mie instan. Yakni; tidak ingin jauh dari keluarga dan takut dengan popularitas.

Alasan yang terdengar begitu klasik bagi orang-orang kampung macam keluarga Ridwan Setiawan. Bakat-bakat sepak bola dikampungnya tak jarang jadi bidikan talent scouting dari pelbagai klub nasional. Mungkin, Galang sedikit mendobrak tradisi primitif itu dengan pergi meninggalkan kampung dan keluarganya untuk ikut bergabung dengan salah satu klub populer di Ibu kota. Batavia FC. Ketika usianya belum genap 17 tahun, 15 tahun 45 hari Galang meninggalkan keluarga sekaligus mendobrak tradisi primitif lingkungannya.

24 bulan kemudian, selepas Galang dijemput oleh Karl Pieters salah satu utusan pemandu bakat tim Batavia FC, Ia merenung dipojokan lapangan itu. Percakapan dengan pelatihnya terus berlangsung hingga para pemain lain dalam tim itu bersantai di mess Batavia FC.

“Dibalik popularitas yang kamu resahkan itu justru ada nilai positifnya. Kamu dikenal bukan hanya oleh masyarakat bola tapi juga oleh pelatih-pelatih nasional kelas A. Dan, bukan tidak mungkin dengan bantuan Pers itu suatu hari kamu bisa dipanggil memperkuat tim dengan level yang lebih baik”,Coach Rico mengakhiri percakapan dan mengajak Galang untuk segera mandi sekaligus beristirahat di Mess.

Keesokan harinya, seluruh tim berkumpul di teras, tepat ketika jam dinding di Mess menunjukan pukul 14.30. Tidak ada latihan sore itu, itulah waktunya seluruh awak tim Batavia FC bertarung termasuk striker flamboyan mereka, Galang Suryadireja, bertarung habis-habisan guna menerima tiket gratis untuk lolos ke Primer League alias kompetisi tertinggi di sepakbola negerinya.

Menuju pemberangkatan ke Stadion Tugu, tim terlebih dahulu menerima briefing dari Coach Rico sekaligus berdoa bersama. Namun, wajah muram masih menghiasi Galang, entah karena ia benar-benar gugup untuk menjalani laga final atau karena masih menyembunyikan keresahannya itu.

Ruang ganti tim terasa begitu dingin sore itu, Galang, Jeki, Ummar, Salim, Ricardo, dan seluruh pemain inti mengalami ketengangan yang sulit lagi disembunyikan. “5 menit lagi..!” salah satu panpel memberi pengumuman singkat di ujung pintu loker room.

Coach Rico masih terlibat dalam diskusi serius dengan Assistan-nya sedangkan pemain Batavia mulai berbaris rapih menuju lorong stadion. Galang berada di barisan pertama, menandai bahwa dirinya adalah kapten tim pada sore itu.

Bukan saja karena tensi partai final yang membuat Galang terlihat gugup melainkan juga karena di tribun kehormatan ada sosok penting yang menganalisa permainannya. Pelatih Timnas U-19, Farhan Yunus.

Laga tersebut merupakan laga hidup mati, melawan PS Siak, Pekanbaru, Riau timnya wajib menang karena pada saat itu regulasi masih menggunakan 1 tim juara divisi 2 yang berhak mendapat tiket promosi ke ksta tertinggi karena memang sistemnya masih per-wilayah.

Kitman (pembantu tim, red), Masseur (tukang pijat tim), fisioterapis, hingga tukang baso tahu di Stadion terlihat lebih sibuk dari biasanya. Ribuan supporter sudah memenuhi tribun.

Gemuruh seakan meruntuhkan stadion Tugu tatkala Ricardo pemain sayap Batavia FC dijatuhkan dikotak penalty PS Siak saat melakukan akselerasi meliuk-liuk mengelabui tiga pemain sekaligus.

“Kau Galang, kau yang ambil....!” Coach Rico berteriak dipinggir lapangan. Seperti biasa, Galang melakukan sebuah ritual khusus sebelum mengeksekusi penalty tersebut. seolah-olah dia tengah berdiskusi dengan bola agar benda bulat tersebut menuruti kehendaknya untuk mengoyak jala lawan. Tatapan matanya tajam kearah bola. Kalau tidak masuk, ini akan menjadi laga paling berat Batavia FC mengingat di leg pertama saat bertanding di Riau mereka kalah 2-0. Kini, seisi stadion menginginkan satu gol dari titik putih tersebut demi menjaga asa lolos ke liga utama untuk pertama kalinya dalam sejarah.

Wasit sudah meniupkan peluitnya, pertanda bola sudah boleh di eksekusi. Perlahan kaki Galang bergegas mendekati bola, nyaris seluruh pasang mata menahan nafas tatkala ujung sepatu kapten flamboyant itu menyentuh bola.

Aaaaaaaah siaaaal..! Seakan seluruh yang menyaksikan eksekusi tersebut dikomandoi untuk kecewa secara serempak. Kedua tangan Galang memegangi kepalanya, kekecewaan yang tidak bisa lagi disembunyikan. Semua kecewa, kecuali tim lawan. Mereka berselebrasi seolah sudah yakin timnya akan dengan mudah menerima tiket promosi.

Di pertengahan babak pertama jelang turun minum, Galang terlibat dalam adu jotos antara pemain PS Siak dan Batavia FC. Untung saja Galang masih ditoleransi dengan kartu kuning, padahal Ia kedapatan menghajar pemain lawan dengan sengaja menggunakan sikutnya, beruntung sekali Galang karena seharusnya Ia diusir keluar lapangan, sebuah keberuntungan yang tidak hadir saat tendangan penalty tadi.

Beberapa kali coach Rico terlihat mengernyitkan dahi saat Galang secara bertubi-tubi menerima peluang emas dan tidak berhasil memaksimalkannya. Wasit mengijinkan kedua tim untuk masuk ke loker room dengan cara meniupkan peluit panjangnya.

Di loker room, perasaan setiap pemain sudah tak karuan lagi. Pelatih mendekati Galang sedangkan yang lainnya hanya tediam membisu diantara keheningan yang akut. “Kau. Ada apa?”  Coach Rico kepada Galang dengan nada yang sedikit menyentak.

Galang membisu seperti yang lainnya. Pelatih tak habis pikir dengan apa yang terjadi. Permainan timnya begitu dominan secara keseluruhan hanya Galang saja yang tak bisa memanfaatkan peluang menjadi gol. Seluruh suporter mencaci Galang, cacian yang tak kalah menyakitkan dari pujian. Tapi sang kapten lebih menikmatinya ketimbang mendengar kata flamboyan yang disematkan kepada dirinya.

Tidak ada intruksi khusus dari pelatih kepala, namun mereka berusaha lebih agresif lagi untuk membongkar pertahanan grendel ala PS Siak. Ada 45 menit yang menentukan bagi mereka, menahan perayaan PS Siak menuju promosi, atau merayakan sepenuhnya kemenangan atas PS Siak. Hanya dua pilihan. Terasa getir sekali tekanan yang didapat Batavia FC.

Suara-suara miring yang dialamatkan kepada Galang semakin nyaring terdengar melalui chants dan nyanyian pendukung Batavia FC. Termasuk seruan untuk meminta Galang digantikan. Namun, pelatih masih percaya 100%.

Striker flamboyant itu merasa terbakar untuk menunjukan kemampuannya apalagi Ia mendengar salah satu teriakan dari penontonnya sendiri yang berbunyi “Ganti saja dia, kami tidak butuh si flamboyant, kami butuh tiga gol..!!!”

Dengan semangat yang membara Ia meliuk-liuk mengeluarkan skillnya setelah menerima umpan dari Jeki. Tendangan keras Ia lepaskan ke arah gawang lawan yang kemudian menghasilkan second ball alias bola rebond yang disantap dengan khidmat oleh Ummar. Satu gempuran melalui kaki si Flamboyan yang membuat supporter sedikit lebih tenang. Agregat 2-1.

Lantas tak berselang lama, Galang memberikan gol untuk timnya melalui sundulan hasil dari kemelut yang diciptakan Ummar dan Ricardo di area pertahanan lawan. Ia dengan dingin tanpa selebrasi. Walaupun Ia berhasil menunda kemenangan PS Siak dengan agregat 2-2.

Tanpa diduga, ketika semua orang menganggap laga akan dilanjutkan ke babak adu penalty. Dimenit ke 80 lagi-lagi Galang seakan kesetanan menjebloskan bola ke gawang lawan. Kali ini melalui aksi salto-nya. Ia berlari ke tepi lapangan, berselebrasi, dan sedikit membuka bajunya yang kemudian bertuliskan I’am Flamboyan!

Bukan sekadar pengakuan, melainkan juga sebuah keadaan yang menarasikan bahwa Galang kini mulai bisa menikmati petualangannya bersama popularitasnya. Dengan begitu, Ia siap menjadi populer. Mengubah mindset ayahnya yang tidak jadi pemain nasional karena takut akan popularitas.

Galang memikirkan sejak malam sebelum pertandingan, bahwa popularitas bukan untuk ditakuti tapi dinikmati dan dia tahu cara menikmatinya. Dan Ia sadar betul kalau popularitas atas nama flamboyant itu ditakuti akan hanya mematikan karirnya tak ubahnya cerita masa lalu bapaknya.

Setiap kali media, teman, pelatih, atau siapapun itu yang dekat dengan dirinya menyebut nama Galang dia selalu mengelak dengan mengeluarkan kata; I’m Flamboyan. Bahkan ketika Jeki mengejeknya lagi dengan kata-kata yang melibatkan flamboyan Galang tak marah. Justru Ia pun berteriak Im Flamboyaaan ..!!!  kemudian keduanya tertawa bersama.

Selesai..

Gilang Dejan

/gilang_dejan

Sepakbola adalah permainan improvisasi terbaik di dunia.
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.