CERPEN

Pesan dari Hujan

21 Mar 2017 | 08:25 Diperbarui : 21 Mar 2017 | 08:35 Dibaca : Komentar : Nilai :

Hujan lebat menebas malam ini kian sepi. Sekitar pukul 10 malam langkahku kupercepat menuju gang di kampungku. Hampir saja hujan yang lebat ini menghujamku mirip jarum yang menusuk wajah. Lembur akhir bulan di kantor kurampungkan dengan hujanan di jalan sempit ini. Kembali, bayangan sosok lelaki itu berdiri di jendela rumah berlantai dua itu. Kubuka gerbang kecil yang tepat disamping rumah lelaki yang sering hanya muncul dan membuka tirai jendelanya saat hujan.

Sesaat aku masuk ke kamar kos, segera kuganti baju dan menyeka rambutku dengan handuk kering. Kulihat lagi jendela lantai dua itu dari kamarku. Lelaki itu justru mendekatkan tubuh dengan menjulurkan kedua lengannya keluar jeruji jendela yang berulir bunga dan daun. Tubuhnya terlihat basah karena air hujan masuk dan terhempas-hempas angin yang kencang. Ada apa dengan orang itu? Siapa dia?

--o0o—

Hari ini hari Sabtu. Sudah saatnya aku keluar dari kamar karena terik matahari menyorot langsung masuk ke kamar. Sudah siang dan hampir saja adzan Zuhur. Kubergegas ke warung sebelah untuk sarapan. Sabtu itu waktunya untuk bersantai pikirku.

“Mbak Kris, teh manis anget ya seperti biasa”, sapaku pada pemilik warung depan kosku. Rumah yang berlantai dua milik lelaki itu dibawahnya disewakan untuk warung makan.

“Soto seperti biasa juga mas Pam?”, tanya perempuan tengah baya yang masih cantik dengan kuncir satu di atas, tampak cekatan mengambil piring-piring yang sudah ditinggalkan si pembeli. Segera kumengangguk dan menengok kanan kiri. Sudah sepi. Saatnya aku cari tahu perihal lelaki itu.

“Mbak Kris... pemilik warung ini apa ya tinggal disini to?”, jawabku sambil menyeruput teh hangat di meja. Perempuan itu hanya melengos. Hmm, kampret....malah dicuekin.

“nih sotonya.... sarapan dulu baru ngobrol”, sungutnya dengan senyum kecut.

“Cuma pengen tahu. Penasaran dari dulu ngekos disini kagak tahu yang punya ni warung. Barangkali punya anak perawan yang belum laku. Hehe”, candaku sekenanya.

Setelah beberapa waktu kusantap soto daging sapi ini, kembali ketengok perempuan itu, “mbak ....sini to aku serius ni”, tanyaku tanpa basa basi.

“Dulu aku tanya pak RT waktu mau ngontrak ini warung. Trus dia yang menanyakan perihal ongkos dan thethek bengeknya. Kata pak RT , yang punya warung ini agak teganggu mentalnya. Nggak pernah keluar rumah semenjak anaknya yang kecil dibawa Ibunya. Mereka cerai. Namanya pak Harun”, terangnya singkat dan padat. Aku hanya mengangguk-ngangguk.

“Trus...?”

“ya gitu tok....aku juga gak tanya lebih tentang pak Harun. Selama aku disini dia juga gak pernah kebawah beli soto ku. Ya udah”, terangnya lagi sambil membersihkan meja dengan lap mejanya. Hemm, aku hanya mengangguk-angguk.

Itu kali pertama aku menggali informasi tentang lelaki misterius itu. Kembali kulangkahkan kakiku lunglai sehabis pulang kerja. Seharian kerja di bagian admin gudang memang gak pernah ada hentinya. Kadang harus mengecek ulang barang-barang yang baru saja datang.

Biasanya perjumpaanku dengan lelaki itu hanya sekedar saling menatap lalu aku beringsut masuk ke kos. Ada rasa takut ketika dia menatapku tajam dari atas. Seolah-olah ada sesuatu yang berbicara dibalik tatapannya. Yah, malam ini juga. Dia tampak berdiri lagi di depan jendela dengan kaos abu-abu dan seperti menerawang jauh entah kemana . Kulihat .jam tanganku. Tepat jam 7 aku tiba di kos. Kutengok keatas lagi saat kubuka gerbang. Namun tiba-tiba lelaki itu menatapku sambil menodongkan selembar kertas keluar dari jendela. Aku gagap, kikuk. Sejenak kuberhenti dan menutup kembali gerbang yang suara deritannya mengiris telinga. Kulanjutkan langkahku cepat-cepat sambil melirik keatas. Dilepaskannya kertas itu dan melayang diatasku. Aku berhenti. Mendadak aku harus memungut kertas itu yang jatuh agak jauh dari tempatku berdiri. Kuberanikan diri melihat keatas. Tatapannya masih sama. Tanpa ekspresi. Kulanjutkan langkahku sambil memungut kertas itu. Hmm, kuhela napas. Firasatku, ada lakon yang mesti aku rampungkan.

--o0o—

Selembar kertas itu memang benar ada maksudnya, pikirku. Coretan sketsa wajah gadis kecil yang tipis, membuat dugaanku semakin kuat. Apakah benar ini wajah putrinya yang berpisah dengannya? Aku langsung bergegas ke rumah pak RT. Hari Sabtu kumanfaatkan untuk menggali informasi perihal ini. Entah kenapa aku berkemauan keras untuk mengungkap jati diri lelaki itu.

Setelah ngobrol agak lama dengan pak RT, langsung kebergegas ke alamat istri lelaki misterius itu. Kubuat janji singkat agar aku dapat mendapat informasi tentang putrinya. Bagaimanapun caranya aku harus bisa meyakinkan istrinya agar mengijinkan putrinya bertemu dengan bapaknya.

“Maaf bu Rini....”, kucoba membuka pembicaraan saat kutahu perempuan yang menemuiku ini benar istrinya pak Harun. Lelaki yang sering mengganggu pikiranku dengan berbagai macam pertanyaan.

“saya sebenarnya tidak mempunyai hubungan apapun dengan pak Harun. Mengenalnyapun tidak. Tapi rasanya ada sesuatu yang terus ingin dia ungkapkan, entah keinginannya atau mungkin sebenarnya hal yang tidak penting”, mataku melirik padanya yang terus memperhatikan omonganku. Syukurlah ada respon positif darinya.

“maaf bu saya mengganggu dengan masalah ini....”, pintaku maaf padanya karena aku sendiri agak kikuk menggali ingatan seorang perempuan yang mungkin basi baginya.

“saya paham mas....”, tanyanya menggantung.

“Pambudi buk....biasa dipanggil Pam”,

“Oh ya mas Pam....saya sudah lama berpisah dengan bapaknya Dayu, anak semata wayang kami. Mungkin mas Pam sudah tahu dari tetangga sejarah mas Harun....”, kepalaku menggeleng cepat. Ya, memang aku tak tahu. Nol sama sekali.

“Dulunya dia adalah penjaga sekolah di sekolah swasta terkenal. Kemudian ada kasus pencabulan beberapa siswa di sekolah itu. Dan dia didakwa bersalah oleh beberapa pihak. Akhirnya pun dia dijebloskan ke bui.”

“Ibu percaya pak Harun melakukan itu?”

“Entahlah.... yang saya pikir hanya anak perempuan saya. Dia sudah menginjak remaja dan saya ketakutan”

“Dan Ibu tahu kalau sekarang pak Harun terganggu jiwanya?”, dia mengangguk lesu. Matanya sayu. Mata yang basah membuatku berhenti menanyakan macam-macam. Berharap dia mengalirkan ceritanya dengan tanpa intervensi. Ada secuil penyesalan disana. Aku memahaminya. Dan dari aliran ceritanya yang ringan, muncul kata-katanya yang melayang seperti luruhnya daun kering ........“ini dia putriku, Dayu”, wajahnya sumringah mendengar langkah kaki anak SMA masuk ke rumah. Aku mengangguk dan tersenyum. Tak terlihat sama dengan coretan sketsa pak Harun. Namun mata agak sipit itu persis. Gadis kecil itu sudah beranjak dewasa.

Permintaanku segera kuutarakan. Untuk beberapa lama aku menunggu dua orang perempuan itu berembug di dalam. Entah mengapa ada semangat yang membara untuk mempertemukan dua orang, bapak dan anaknya ini....meski aku tidak tahu apakah itu yang diinginkan lelaki itu?

Kutinggalkan rumah itu dengan perasaan bahagia. Kulajukan sepeda motorku dengan pelan sambil membayangkan pertemuan dua orang yang lama tak saling bertemu. Ah tidak, aku tidak tahu bagaimana membayangkannya. Aku yang tidak pernah merasakan bertemu dengan seorang bapak. Mungkin kikuk, lengang, kecewa, atau bahagia? Mungkin hanya saling menatap dan tersenyum, lalu pergi. Karena    kata orang-orang, lelaki ini tidak mau bicara semenjak mengurung diri di kamarnya. Tidak mau berkomunikasi. Entah dengan bahasa apa mereka akan berbicara?

--o0o- -

Kusahut topi hitamku dan berdiri di depan cermin. Hmm, Sherlock Holmes akan beraksi.....bisikku seperti orang tak waras. Kumelangkah keluar dan menemui Dayu dan Ibunya. Kami akan menemui Pak Harun. Dayu mengutarakan kekhawatirannya jika nanti berhadapan dengan Bapaknya. Aku mengangguk .... “ nanti saya temani mbak, tidak akan terjadi apa-apa”, ujarku menenangkannya. Padahal dalam dada rasanya bergemuruh karena tak tahu apa yang musti aku lakukan nanti....

Warung mbak Kris hari ini tutup. Gembok warung sudah aku bawa setelah aku minta ijin pada empunya. Kunaiki tangga pelan-pelan namun tegas agar hentakannya terasa dan lelaki itu merasakan kehadiran kami bertiga. Kumenoleh kebelakang, tangan Dayu tapak mendekap erat lengan ibunya. Jelas tertangkap wajah takutnya. Kuketok pintu kayu yang sudah mengelupas sebagian cat-catnya. Kupanggil namanya agak keras. Sore itu tak hujan. Angin agak keras menghempas gordyn yang melambai di lantai bawah. Barangkali akan turun hujan.

Meski menanti beberapa saat tak ada sahutan dari dalam, kami tetap menunggu. Selang beberapa detik terdengar gagang pintu yang berisik berusaha dibuka karena agak macet. Ada hentakan yang keras setelah akhirnya pintu terbuka separuh.

Kakiku sontak mundur satu langkah. Wajahnya yang muncul tiba-tiba dihadapanku membuat napasku terhenti sesaat. Ohh ini lelaki yang selalu mainan hujan di jendela.... ganti kutatap wajahnya yang kaku dan bermata sipit. Kulit sawo matang. Memakai setelan kaos oblong lorek dan celana training panjang. Segera kusadar diri untuk memperkenalkan diri, meski suara masih serak. Kusodorkan kertas goresan sketsa perempuan kecil. Diterimanya lalu memandangku.

“Gadis kecil itu putri Bapak?”, tanyaku serak menelan ludah.

“lihat ini pak....bukankah gadis kecil pak harun sudah Dewasa?”, harapku berlebih hingga pertemuan ini bakal menyenangkan. Kutarik lengan Dhayu dengan pelan. Kusuruh badannya masuk ke kamar yang luas itu. Ruang itu tampak pengap. Agak gelap, hanya sinar matahari dari satu jendela di sebelah tempat tidur. Terlihat banyak coretan sketsa anak perempuan yang hampir mirip dengan yang kubawa tadi. Ditempel di dinding berjajar berbeda ukuran. Dhayu kah?

Tangannya mulai bergerak ingin meraba, “anak... ku ?”, suaranya coba dikeluarkan dengan serak dan terbata. Matanya mulai membulat. Ada gairah hidup disana. Binar matanya mulai meraba wajah takut si Dhayu. Bu Rini masih bersembunyi di balik pintu, meski wajahnya sesekali menyembul.

“Bapak...Dhayu sudah besar sekarang. Maaf Dhayu nggak pernah jenguk Bapak”, aku tak menyangka Dhayu punya keberanian untuk menyambut Bapaknya yang terlihat tidak terurus. Wajahnya sayu dan keriput di dahi mulai terlihat. Beberapa baju tergeletak di atas sofa lama warna coklat. Hmm, apa tak ada warna bahagia di kamar ini?

Dituntunnya langkah Bapaknya di sofa, dan mulai Dhayu bercerita sendiri. Bercerita perihal dirinya, sekolahnya, dan hidupnya. Pak Harun tampak tersenyum sambil menatap gadis itu. Yah...dimatanya mulai ada semangat. Memang tak mungkin mengembalikan semua kenangan tepat di tempatnya semula. Kita hanya bisa merekam dan menyetelnya berulang. Sekarang saatnya menjalankan roda baru. Harus ada yang berubah.

Kuhampiri Bu Rini sambil tersenyum. Dia mengangguk dan tersenyum. Senyum yang berbeda. “makasih Mas pam...Dhayu masih punya Bapak. Itu yang aku lupakan sejak lama. Kami berterima kasih. Pak Harun akan kami rawat mas....sekali lagi terima kasih”, ucapnya sambil memegang pundakku. Aku pun mengangguk. Diluar sudah mulai hujan. Turun dengan ramai dan berisik. Mungkin, tembok-tembok pak Harun akan  berubah dengan sketsa yang baru. Tidak hanya berkawan hujan. Dan berkelakar dengan sepi. Mungkin juga lelaki itu tak akan mengirim pesan pada hujan.  Ah....tiba-tiba aku kangen Ibu.

-o0o-

Mataku masih terpejam. Pagi buta, suara riuh angin membabi buta. Hujan lebat memang sejak tadi malam turun. Suaranya bergemuruh, mulai merinding. Beberapa teman kosku berkumpul di ruang tengah. Beberapa dari kami mulutnya komat-kamit sambil mata terpejam. Aku bergegas mengintip dari dalam lewat jendela kaca. Dalam hati aku berdoa, semoga tak terjadi apa-apa. Saya wanti-wanti,berharap pohon mahoni samping kos tidak tumbang karena tanah pinggir kali ini labil. Beberapa kali suara berisik entah benda yang melayang menyuara dentuman keras. Mungkin seng atau asbes daerah dapur pikirku sambil melirik ketiga temanku yang langsung tanggap dan melihat keadaan dapur.

“Pam....seng atap dapur melayang, amblas”, teriak Dodit dari belakang. Angin masih kuatnya menderu seperti mesin setum. Drrrrrrrmmm.......derunya menggetarkan nyaliku. Tiba-tiba suara benda berat yang jatuh dari ketinggian menghasilkan suara dentuman yang keras.

“Mas Pam...pohon mahoninya roboh...!”, teriak Andi yang melongo di sisi jendela kaca.

“Pak Harun... Dit, Pohon Mahoninya tepat mengenai kamar Pak Harun”, teriakku  spontan pada Dodit. Beberapa pasang mata saling berpandangan. Doa kami yang sempat terhenti kembali menyeruak dalam hati. Semoga tidak ada korban nyawa subuh ini. Suasana lambat laun mulai terkendali. Hujan yang disertai angin, kini hanya terdengar rintik hujan yang stabil suaranya. Tak pikir panjang langsung kami berempat keluar berhamburan. Ada yang membetulkan keranjang sampah yang mencelat ketepi gerbang. Ada yang membereskan tempat jemuran yang ambruk. Dan aku masih memandang jendela kaca Pak Harun yang pecah dan atap yang roboh sebagian karena tertimpa batang kuat pohon mahoni.

“Ayo segera hubungi warga”, ajakku pada ketiga temanku. Kami bergegas keluar halaman dan sontak banyak warga yang berkerumun didepan warung Mbak Kris. Benar pikirku, Pak Harun dievakuasi warga karena tertimpa batang pohon dan tubuhnya terkena pecahan kaca. Mataku tak berani menyaksikan kejadian tersebut. Spontan langsung kupencet nomor hp Bu Rini. Suara Ambulance masih menjerit dan lambat laun menjauh. Kabar terakhir, Pak Harun kritis. Dan selang beberapa jam kemudian pak RT mengabarkan Pak Harun tidak bisa diselamatkan. Aku masih tertegun di tempatku semula. Memungut sampah-sampah yang berserakan. Lalu kupandang atap lantai dua rumah Pak Harun yang masih tertimpa pohon yang sebagian batangnya di tebas oleh warga. Kutermangu sesaat. Apa demikian, takdir datang seperti tangan yang mencabut batang sampai seakar-akarnya. Kuat, tak disangkal dan ...tiba-tiba.

Langit pagi ini kemudian cerah dan terang. Matahari muncul dengan riangnya. Seperti bocah yang baru saja dibelikan boneka kesukaan. Bencana barusan, seperti sebuah selingan saja. Atau memang mentari terang untuk menenangkan hati yang sempat koyak, agar lekas beranjak lagi. Pesan-pesan yang bergulir dari rintik hujan telah kau sketsa kan Pak Harun...dan pesan itu sudah kusampaikan. Entah... meski belum tuntas benar. Kumasih mencoba membacanya berulang kali.....

SELESAI

CATATAN :

*wanti-wanti = berharap-harap

(Surakarta, maret 2017)

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.