CERPEN

Kuasa Arak

23 Sep 2016 | 22:49 Dibaca : Komentar : Rating :
Ilustrasi Istana (www.boombastis.com)

PAKAIANNYA basah, omongannya menantang. Siapapun mulai tak ditakutinya. Sifat liarnya menguasai ruangan. Siapa saja yang berdialog dengannya akan berujung pada keributan. Akal sehatnya tak lagi membuatnya tenang. Semua wanita diganggunya. Satu wanita hanya bisa mengelus dada melihat tingkah laku lelaki itu.

Itupun masih saja ia menengggak arak langsung dari teko. Ruangan yang hanya diterangi obor-obor temaram semakin membuatnya liar. Bagai angin ribut yang merusak seisi alam, begitulah dia di lokasi itu. Tapi, tak ada orang yang berani melawannya. Semakin ditenggaknya dia semakin saja menyebalkan.

Pemilik warung yang harusnya hanya melayani, kini telah dituangkannya arak disekujur tubuhnya. Basahlah sang pemilik warung. Namun, si pemilik warung hanya bisa menggerutu di belakang pria itu. Siapa berani melawan lelaki yang di kawal ratusan prajurit. Dialah Turchova, Putra Mahkota Kerajaan Kulazar.

Dua hari lalu ia ditetapkan sebagai putra mahkota, kini kelakuannya sudah semakin di luar batas. Perayaan dua hari berturut-turut bukan membuat para koleganya bahagia. Malah kekesalan terjadi pada setiap teman-temannya. Untung saja dia putra mahkota.  Kalau tidak ia bakal mati terbunuh di tempat itu.

“Aku menginginkan gadis tercantik dapat melayaniku malam ini. Carikan aku seorang gadis di sekitar sini,” teriak Turchova. Pada awalnya dia coba ditenangkan, namun tak berhasil. Dia semakin marah jika keinginannya  itu tak terpenuhi. Maka prajuritnya bergegas pergi mencari gadis tercantik di sekitar tempat tersebut.

***

Seorang gadis berkulit pucat dengan rambut bergelombang sedang duduk di dekat perapian. Bersama keluarganya. Ibu dan adiknya dalam tawa  cerita lelucon kerajaan. Matanya biru laut mengenakan gaun . Sungguh gadis itu mempesona,  ditambah ikatan rambutnya yang tipis dibelakang, membuat rambut gelombangnya tertata rapi.

Tiba-tiba, suara langkah kuda terdengar dari kejauhan. Semakin mendekat dan terasa getaran rumah kayu yang di tempati mereka.

“Ashina,” teriak seorang prajurit memanggil nama gadis itu sembari menggedor-gedor pintu rumah. 

“Kau diperintahkan untuk melayani Putra Mahkota malam ini juga,” langsung saja prajurit menyergap dan menarik Ashina ke atas kuda.

“Ashina, jangan dibawa anakku. Jangan dibawa,” teriak ibunya sambil menangis. Namun seluruh prajurit tak menghiraukan. Mereka hanya menjalankan perintah dari Putra Mahkota. Ashina pun telah dilarikan. Ibu Ashina yang mencoba mengejar, sangat tak berimbang dengan lari kuda para prajurit.

***

Di warung itu itu Ashina didandani. Dirias agar wajahnya tak terlihat bersedih.

“Kau begitu cantik nona,” kata penata rias.

“... tolong aku,”

“Apa yang bisa kulakukan. Aku hanyalah budak di kerajaan ini. Sudahlah layani saja lelaki bejat itu.”

Usai di dandani, Ashina di tarik ke dalam warung minuman yang tengah mengadakan pesta itu. Di tolak ia ke dalam agar melayani Putra Mahkota. Ia masuk dengan berjalan perlahan dan takut. Semua mata tertuju padanya. Dialah wanita tercantik di tempat itu.

“Kemarilah menghadap Turchova si Putra Mahkota,” teriak Turchova mengajak Ashina untuk melayaninya. Turchova yang tak sabar dan tak sanggup lagi menahan nafsu birahinya langsung saja menarik Ashina. Ashina meronta, namun pesta dipaksa untuk meriah lagi. Ashina digeranyangi malam itu oleh Turchova.

Beberapa budak Turchova mempersiapkan kamar. Tak lama Ashina diangkat ke dalam kamar oleh Turchova. Dipaksa ia melayani nafsu. Kini Ashina telah acak. Turchova membuat fisiknya sakit. Kini Ashina harus menahan beban besar dalam tindihan Turchova. Tak lagi dia bisa berdaya, tak mampu ia lagi menahan.

Nyatanya tak hanya Turchova yang menikmati Ashina. Beberapa prajurit juga menikmati indahnya tubuh dan menawannya paras Ashina. Ia  yang telah terkulai tak berdaya, dipulangkan dengan keadaan yang mengenaskan.

Sang ibu tak sanggup melihat anak yang sudah direnggut masa depannya. Ia hanya bisa memeluk Ashina dalam trauma yang mungkin akan panjang itu. Kemudian datanglah Akhtar seorang lelaki di kawasan tersebut. Ialah yang memberitahukan pada prajurit tentang gadis cantik Ashina.

“tolong maafkan aku, kufikir pangeran ini mencari pendampingnya. Tapi tak kusangka begini kejadiannya,” kata Akhtar.

“Mulutmu merenggut keceriaan keluarga kami Akh,” kata si Ibu.

“Tolong... maafkan aku,” Akhtar bersujud di kaki si ibu.

“Baiklah, besok pagi antarkan aku ke istana. Aku akan mengungkap semuanya di depan umum. Karena ini adalah kesalahan. Kesalahan yang tak boleh terjadi.”

“Tapi tiada guna kau mempermasalahkan ini. Raja akan selalu membela Putra Mahkota, percuma. Bahkan konsekuensinya kita yang akan dihukum mati,” kata Akhtar.

“Tidak denganku,” jawab ibunya.

***

Pagi hari mereka bertiga datang ke istana. Sangat sulit untuk masuk menjumpai Raja. Terlebih Turchova telah memerintahkan para anak buahnya agar Ashina dan rombongannya tidak memasuki istana. Namun, si ibu sepertinya sangat mengetahui jalan masuk ke istana, hingga sampailah dia pada portal terakhir di ruangan Altar Raja.

Raja tampak terkejut dengan kedatangan sang ibu.

“Prajurit, persilahkan wanita itu masuk,” perintah Raja.

Dengan langkah cepat sembari memegang gaunnya.  Ibu Ashina menghadap ke depan Raja.

“Wahai Cortuis....’’

“Dasar kau perempuan jalang...” teriak seorang menteri mencoba menghunus pedang pada perempuan itu yang hanya memanggil sang Raja dengan sebutan nama.

“.... Jangan,” teriak Raja Cortuis.

“Biarkan dia menghadapku. Apa yang kau inginkan wahai tamu kehormatanku?” kata Raja.

Sontak seisi ruang Altar heboh penuh tanda tanya. Ratu yang berada di samping Raja juga hanya tertunduk.

“Kau tahu, kesalahan besar olehmu dan anakmu...” kata ibu Ashina.

“Aku tak tahu sama sekali,”

“Anakmu telah dinodai oleh anak lelakimu sendiri dan prajurit-prajurit yang mengikutinya.”

“Perilaku bejatnya sudah menodai darah Raja,” kata Ibu. Kini Ashina telah berada di sampingnya bersama Akhtar.

Wajah Raja memerah. Tampak marah besar.

“Perdana menteri, cari prajurit yang telah menodai gadis ini. Beri ia hukuman mati sesegera mungkin,” perintah Raja.

Ratu menangis, seisi ruangan tak mengerti apa yang terjadi. Bahkan Turchova juga mendapatkan hukuman kebiri dan di asingkan di pulau terluar kerajaan.

Ternyata Ashina adalah Putri kandung Raja yang dititipkan pada pelayan kerajaan.  Sebuah ramalan menyebutkan akan terjadi bencana jika Raja membiarkan putri di dalam Istana.

 

 

Sei Rampah 23/9/2016

Fiqih Purnama

/fiqihnews

Penulis Menulis
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.