HIGHLIGHT CERPEN

Rhin, Jangan Bunuh Diri

21 Mar 2017 | 11:23 Diperbarui : 21 Mar 2017 | 11:40 Dibaca : Komentar : Nilai :
www.gettingimage.com

Perempuan itu mengaku bernama Rhin. Kami bertemu di sebuah pos ronda, sore itu, saat berteduh dari derasnya hujan. 

Entah mengapa, Rhin percaya begitu saja padaku. Tanpa sungkan ia menceritakan kisah hidupnya. Tentang rumah tangganya yang tak lagi harmonis. 

Saat bercerita itulah, air matanya sesekali mengambang. Aku berkali menyodorkan tisu ke arahnya. 

"Aku terlalu sering dibohongi, Mbak. Suamiku berkali berkhianat. Ia selalu berselingkuh di belakangku."

Mendengar tuturnya aku terdiam.

"Awal-awal aku mencoba bertahan menghadapi kenakalan suamiku. Tapi lama-lama hatiku tak kuat juga," ia terisak kembali. kali ini agak lama. 

Aku ingin mengatakan sesuatu tapi urung.

"Jangan bilang aku mesti sabar ya, Mbak. Stok sabarku sudah habis," ujarnya seolah tahu apa yang hendak kukatakan. Sesaat kuperhatikan perempuan muda yang duduk bersebelahan denganku itu. Ia memiliki paras yang manis. Tutur katanya lembut. Menunjukkan bahwa ia perempuan yang terpelajar.

"Aku sudah mencoba bermacam usaha Mbak. Mengajak Mas Pram, suamiku itu, bicara dari hati ke hati. Tapi bukannya sembuh atau sadar, ia malah semakin menjadi.  Aku malu pada keluarga besarku. Dulu aku mati-matian menunjukkan pada keluargaku, bahwa pilihanku adalah lelaki yang terbaik."

Aku mendengarkan keluh kesahnya sembari menatap butiran hujan yang mulai menipis.

"Kalau bukan karena anak-anak, ingin rasanya aku mengakhiri hidupku," Rhin menyeka ujung hidungnya sejenak. Iba hatiku melihat keadaannya. Ia tampak begitu menderita dan putus asa.

"Mbak, apakah ada tempat yang nyaman untuk bunuh diri?" bisiknya mengagetkanku. 

"Kita jalan-jalan, saja, yuk! Hujan sudah reda. Aku tahu tempat yang bagus, mm, maksudku tempat yang indah panoramanya untuk dinikmati. Tapi bukan untuk bunuh diri, loh!" aku menggamit lengannya. "Ayolah! Kita bersenang-senang sejenak. Melupakan segala keruwetan."

Rhin menatapku ragu. Tapi akhirnya ia mengangguk juga.

Kami pergi menggunakan motor milik Rhin menuju timur. Aku yang berlaku sebagai penunjuk arah. Rhin yang memboncengku. 

Sepanjang perjalanan ia tak banyak bicara. Rhin hanya membisu meski aku menceritakan hal-hal lucu untuk menghiburnya. Kukira hatinya yang lembut sudah mulai membeku. 

Jalanan kian menanjak. Kami sampai di daerah perbukitan yang asri. Hari masih belum terlalu petang. Pemandangan alam yang menakjubkan masih bisa kami nikmati dengan mata telanjang.

Rhin berjalan menuju sebuah jembatan tua. Jembatan itu terdiri dari jajaran bambu yang diikat dengan akar pepohonan. Kanan kiri jembatan diberi tali temali memanjang dimaksudkan sebagai pegangan untuk pengaman. 

Aku menatap Rhin dari jauh. Kubiarkan ia menyendiri, merenungkan perjalanan hidupnya. Dan aku berharap ia membuang saja semua masalah yang menimpanya jauh ke bawah sana. Biarlah masalah-masalah itu hanyut terbawa arus sungai yang deras.

"Mbak!" ia memanggilku. Memintaku untuk mendekat. Aku bergegas melangkahkan kaki. Oh, tidak, lebih tepatnya aku--- terbang! 

Melihat aku melayang, wajah Rhin seketika memucat. Tubuhnya gemetaran. "Mbak? Kau...."

"Iya, Rhin. Mbak sebenarnya sudah mati..." ujarku seraya mengambang di sampingnya. Tangan Rhin mencengkeram erat-tali jembatan, membuat jembatan bambu itu berayun-ayun.

"Kau...sudah ma-ti, Mbak?" 

Aku mengangguk.

"Kau mau mendengar ceritaku, kan, Rhin?" aku membisikinya. Rhin tak bereaksi. Barangkali ia masih shock melihat keadaanku.

"Aku mati karena cinta, Rhin," desahku.

"A-pa yang terjadi padamu?" bibir Rhin bergetar. Ketakutan masih membayangi wajahnya yang manis.

"Pengkhianatan, Rhin. Laki-laki. Aku sangat mencintainya. Tapi ia pergi meninggalkanku. Meninggalkan luka yang teramat dalam. Mirip dengan kisahmu, bukan?"  

"Jadi, Mbak juga...?" Rhin beringsut. Ia mulai bisa menguasai diri. Aku mengangguk.

"Iya, Rhin. Terlalu cinta kadang membuat hati kita buta."

"Lalu Mbak nekad... bunuh diri?" tebak Rhin sembari menatapku. Aku mengangguk lagi.

"Sama seperti yang ada di dalam kepalamu, Rhin. Aku sempat berfikir, bunuh diri adalah cara terbaik untuk menyelesaikan masalah. Tapi setelah aku melakukannya, aku benar-benar menyesal."

"Maksud, Mbak?" tubuh Rhin sedikit terlonjak.

"Ternyata pilihanku untuk mati membuat sedih banyak orang. Terutama anak-anakku." Aku menelan ludah. Tenggorokanku terasa kering.

"Dan yang lebih menyakitkan Rhin, laki-laki yang kucintai itu sama sekali tidak sedih atau merasa kehilangan dengan kematianku. Ia malah bersenang-senang dan segera menikah dengan perempuan selingkuhannya, bahkan sebelum tanah pekuburanku kering."

"Bagaimana dengan anak-anak?" suara Rhin tercekat.

"Anak-anak diasuh oleh ibuku yang sudah sepuh."

Air mataku mengambang. Terbayang wajah anak-anakku yang murung. Rhin perlahan mendekatiku.

"Mbak..." ia mengulurkan tangannya. Berusaha memelukku. Tapi tentu saja tidak terasa apa-apa bagiku, karena alam kami berbeda.

"Itulah mengapa aku mengajakmu ke sini, Rhin." 

"Mbak ingin menunjukkan..." ia menghentikan kalimatnya.

"Ya, Rhin, di sinilah, di jembatan ini aku melakukan bunuh diri." 

Tanganku terlentang. Jemariku menunjuk ke sebuah batu di bawah jembatan.

"Tepatnya di sana, Rhin. Kepalaku ditemukan hancur berkeping setelah terjun dari ketinggian jembatan ini."

Rhin bergidik. 

"Apakah kau masih berkeinginan untuk bunuh diri sepertiku, Rhin? Jangan! Ruhmu tidak akan tenang. Ia akan gentayangan karena tidak mendapat tempat."

Rhin tidak menyahut. Ia menelungkuplan kedua tangan pada wajahnya.

"Astagfirullah hal adzim..." ia beristigfar.

"Sekarang pulanglah, Rhin. Peluk anak-anakmu. Biarkan cerita hidupmu mengalir sesuai dengan skenarioNya. Jangan membuat takdir sendiri dengan memilih jalan pintas. Tetaplah tegar menghadapi semua cobaan demi anak-anakmu. Kau berjanji, kan, Rhin?"

Rhin mengangguk. Perlahan ia berjalan meninggalkan jembatan menuju motor yang terparkir di bawah pohon. Sebentar kemudian kulihat Rhin meluncur hati-hati menuruni jalanan sekitar perbukitan menuju arah pulang.

Selepas kepergian Rhin aku termenung. Sendirian di atas jembatan. Menatap arus sungai yang gemericik sembari bergumam, "Ah, dalam satu minggu ini aku telah menyelamatkan empat perempuan yang mencoba bunuh diri. Padahal aku sangat kesepian dan butuh seorang teman...."

***

Malang, 21 Maret 2017

Lilik Fatimah Azzahra 

Lilik Fatimah Azzahra

/elfat67

TERVERIFIKASI

Seorang ibu yang suka membaca dan menulis
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.